Posted in baweanologi, ehon, nebula

Selamatan terbang dari kepala 

Desaku di Bawean adalah desa pegunungan, antara satu rumah dengan rumah lainnya dipisah oleh undakan yang tingginya bisa mencapai belasan anak tangga. Lalu, ingatan ini muncul begitu saja.

Sore itu, kakak perempuanku pulang sekolah membawa satu nampan penuh berisi makanan. Pada hari tertentu, almarhum kakek kami akan dipanggil oleh sebagian warga desa untuk membacakan doa selamatan. Biasanya warga menghidangkan senampan penuh penganan sebagai imbalan. Nah, tugas kakak perempuanku adalah membawa nampan makanan tersebut dari rumah warga ke rumah kami. Itulah yang dibawa kakak perempuanku sore itu. Bedanya, kali ini ia menyunggi nampan dengan ukuran luar biasa super besar.

Aku ingat kakakku memanggil namaku sejak ia Continue reading “Selamatan terbang dari kepala “

Advertisements
Posted in baweanologi, think

Lagu Hari Raya dari Bawean

Gudhur gudhur are rajo, negghuk dhudhul kadulajo 
Tabuh bedug hari raya, pegang dodol dua tangan #lagu tradisional Bawean saat hari raya.

Yah, kalau diterjemahkan kedengarannya memang agak angghol (janggal), tapi memang bukan hanya makna itu yang ingin diraih lagu tradisional tadi.

Lagu hari raya tersebut (menurut hemat saya) lebih menekankan pada liriknya yang berirama dan nadanya yang riang gembira. Kau harus dengar sendiri untuk tahu betapa heboh kami menyanyikan lagu tersebut.

Sedangkan dari segi makna lirik, lagu tadi menyiratkan beberapa tradisi hari raya (khususnya idul adha) di Bawean. Pertama, di Bawean hari raya dimeriahkan dengan seni tabuh bedug–selain takbiran. Anak-anak akan bergerombol datang ke masjid, sebagian menyerbu mikrofon (dan hanya untuk dua kali dalam setahun) mendapatkan kebebasan tak terbatas menggunakan mikrofon masjid. Mereka kelompok pelantun takbiran. Sebagian yang lain, lari ke teras masjid, menuju tempat di mana bedug besar kulit sapi digantung gagah. Mereka para penabuh bedug.

Tabuhan bedug hari raya berbeda dengan tabuhan bedug sholat–bahkan sholat lima waktu pun punya variasi bedugnya tersendiri. Tabuhan bedug hari raya memiliki ritme bertalu-talu dan seakan tak memberi kesempatan untuk melamun. Energi, semangat, kegembiraan dan kemerdekaan semuanya mengalir dalam hantaman demi hantaman yang dilesakkan berirama.

Jangan anggap kegiatan menabuh bedug sebagai hal yang remeh. Sebagaimana Continue reading “Lagu Hari Raya dari Bawean”

Posted in baweanologi, novel terbaru, sastra

Resensi Novel: Kapten Bhukal “The Battle of Alas Tua”

kapten-bhukal
Novel Indonesia Terbaru Untuk Perlindungan Satwa dan Hutan
Judul: Kapten Bhukal “The Battle of Alas Tua”
Penerbit: Metamind, Tiga Serangkai
Tahun terbit: Agustus, 2016
Tebal: 381 halaman
Genre: komedi, petualangan, action, fable, man vs nature

SINOPSIS
Kapten Bhukal adalah buku solo ke empat Arul Chandrana. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, kali ini Arul mengangkat tema perlindungan alam.

Novel ini menceritakan kisah seekor simpanse (Kapten Bhukal) yang terdampar di antara kawanan monyet hutan Bawean. Di tempat asing itu Bhukal dianggap aneh, mencurigakan, sekaligus berbahaya. Bhukal tidak bisa pergi ke tempat lain, dia membutuhkan kawanan untuk bertahan hidup. Maka apa yang harus dia lakukan agar diterima kawanan monyet hutan Bawean?

Di lain pihak, hutan Bawean sedang terancam kelestariannya. Para petani sedang gencar Continue reading “Resensi Novel: Kapten Bhukal “The Battle of Alas Tua””

Posted in baweanologi, nebula, think

Kasus Linguistik Bahasa Jawa dan Bahasa Bawean: Jhukok Rencek

image

Orang Jawa menyebutnya ‘iwak layang’, sementara orang Bawean menyebutnya ‘jhukok rencek’. Nah, lalu di sinilah keajaiban bahasa terjadi.

Ternyata, orang Jawa menyebut ikan layang cabe-cabean (ikan layang yang masih abg dan belum mengenal jati dirinya) dengan sebutan ‘iwak rincek’. Nama yang sama dengan sebutan yang dipakai orang Bawean. Pertanyaan linguistik yang menyusul kemudian adalah: siapa yang pertama kali menamai ikan ini?

Jika penemu nama ikan ini adalah orang Continue reading “Kasus Linguistik Bahasa Jawa dan Bahasa Bawean: Jhukok Rencek”

Posted in baweanologi

Kamus Bahasa Bawean Trilingual Paling Lengkap: Bahasa Bawean – Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris (Dilengkapi dengan Contoh Kalimat dalam Bahasa Bawean, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris)

pantai indah pulau bawean, pantai noko selayar
pantai indah pulau bawean, pantai noko selayar

KATA PENGANTAR

Butuh waktu yang sangat lama untuk menyusun Kamus Bahasa Bawean Trilingual ini. Saya telah memulainya pada tahun 2009, tapi kamus tersebut hanya mengandung beberapa kosakata saja—sekitar 24 kosa kata, sungguh jumlah yang sangat menyedihkan untuk bisa disebut sebagai sebuah kamus. Kemudian saya berhenti, tidak menulis entri apa pun selama masa yang panjang. Saya baru memulainya lagi pada 19 Maret 2014. Sayangnya, usaha itu pun tidak bisa berjalan konsisten. Setelah lima halaman, saya berhenti menyusun kamus ini.

Dan berikutnya, pada suatu pagi di bulan April—tepatnya tanggal 3 April 2015, saya berketetapan untuk melanjutkan proyek bahasa ini. Saya merasakan suatu dorongan yang begitu menggelitik untuk melanjutkan proyek yang terbengkalai hampir tujuh tahun lamanya. Seperti yang Anda tahu, bukan sesuatu yang mudah untuk melenyapkan begitu saja ambisi selama tujuh tahun. Maka saya harus kembali mengerjakannya, sebelum bahasa Bawean semakin sulit disusun kamusnya, sebelum saudara-saudara keturunan orang Bawean di luar negeri kehilangan minatnya untuk mempelajari bahasa nenek moyangnya sendiri.

Untuk itu, saya ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman keturunan Bawean di rantau yang menghubungi saya menanyakan tentang Kamus Bahasa Bawean Trilingual ini. Selama ini saya hanya bisa memberi janji kepada mereka, sekarang saya ingin mewujudkan janji tersebut. Sungguh, jika kalian tidak menanyakan tentang kamus tersebut, mungkin saya akan terus-terusan asyik melupakan rencana penyusunannya.

CARA PENGGUNAAN

Kamus ini di susun menggunakan kosa kata Bahasa Bawean sebagai entri awal. Disusul dengan kosa kata Bahasa Indonesia (ditandai menggunakan angka), kemudian kosa kata Bahasa Inggris (ditandai menggunakan huruf). Antara satu makna kata dengan makna kata yang lain dipisahkan menggunakan garis miring ( / ). Contoh kalimat ada di bagian akhir entri setiap kata.

Setiap entri baru akan Continue reading “Kamus Bahasa Bawean Trilingual Paling Lengkap: Bahasa Bawean – Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris (Dilengkapi dengan Contoh Kalimat dalam Bahasa Bawean, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris)”

Posted in baweanologi

Kamus Tiga Bahasa: Bahasa Bawean – Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris (Dilengkapi dengan Contoh Kalimat dalam Tiga Bahasa)

pelajar bawean berangkat sekolah
foto credit: bawean.net

KATA PENGANTAR

Butuh waktu yang sangat lama untuk menyusun kamus Bahasa Bawean ini. Saya telah memulainya pada tahun 2009, tapi kamus tersebut hanya mengandung beberapa kosakata saja—sekitar 24 kosa kata, sungguh jumlah yang sangat menyedihkan untuk bisa disebut sebagai sebuah kamus. Kemudian saya berhenti, tidak menulis entri apa pun selama masa yang panjang. Saya baru memulainya lagi pada 19 Maret 2014. Sayangnya, usaha itu pun tidak bisa berjalan konsisten. Setelah lima halaman, saya berhenti menyusun kamus ini.

Dan berikutnya, pada suatu pagi di bulan April—tepatnya tanggal 3 April 2015, saya berketetapan untuk melanjutkan proyek bahasa ini. Saya merasakan suatu dorongan yang begitu menggelitik untuk melanjutkan proyek yang terbengkelai hampir tujuh tahun lamanya. Seperti yang Anda tahu, bukan sesuatu yang mudah untuk melenyapkan begitu saja ambisi selama tujuh tahun. Maka saya harus kembali mengerjakannya, sebelum bahasa Bawean semakin sulit disusun kamusnya, sebelum saudara-saudara keturunan orang Bawean di luar negeri kehilangan minatnya untuk mempelajari bahasa nenek moyangnya sendiri.

Untuk itu, saya ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman keturunan Bawean di rantau yang menghubungi saya menanyakan tentang kamus ini. Selama ini saya hanya bisa memberi janji kepada mereka, sekarang saya ingin mewujudkan janji tersebut. Sungguh, jika kalian tidak menanyakan tentang kamus tersebut, mungkin saya akan terus-terusan asyik melupakan rencana penyusunannya.

CARA PENGGUNAAN

Kamus ini di susun menggunakan kosa kata Bahasa Bawean sebagai entri awal. Disusul dengan kosa kata Bahasa Indonesia (ditandai menggunakan angka), kemudian kosa kata Bahasa Inggris (ditandai menggunakan huruf). Antara satu makna kata dengan makna kata yang lain dipisahkan menggunakan garis miring ( / ). Contoh kalimat ada di bagian akhir entri setiap kata.

Setiap entri baru akan baca selanjutnya

Posted in baweanologi, novel terbaru, sastra

[Resensi] Sang Penakluk Kutukan: bagaimana jika takdir memilihmu untuk bertemu ‘kutukan’?

Sang Penakluk Kutukan

Setiap kebencian dan permusuhan adalah warisan. Tidak ada manusia yang terlahir membenci orang lain, pun demikian, tidak semua orang sanggup tidak membenci orang lain. Terlebih jika mereka menanggung sebuah kutukan. Jika itu kau yang dipilih untuk bertemu dengan ‘kutukan’, sanggupkah kau untuk tidak membencinya melainkan membaca raut wajahnya?

***

Sampai hari ini, Arul chandrana adalah novelis pertama dan satu-satunya dari Pulau Bawean—sebuah pulau kecil di tengah lautan utara pulau Jawa. Dia telah menerbitkan beberapa buku baik solo maupun antologi. Buku-bukunya adalah Pemburu Rembulan (Gradien Mediatama), Berbagai Keajaiban dalam Hidup (Quanta – Elex Media), Kapten Bhukal (Tiga Serangkai—dalam proses), Samudra Novara (Mizan—dalam proses). Sedangkan buku antologinya adalah Bukan Pangeran Kodok (Penerbit Andi), Jangan Tertawa pada Malam Hari (Dar! Mizan), dan Ramadan in Love (Indiva). Selain menulis buku, Arul juga menulis di blog pribadinya.

Pada dekade 90an ke belakang, di Bawean pengobatan dokter bukanlah pilihan pertama. Hampir semua orang yang sakit akan dibawa ke Continue reading “[Resensi] Sang Penakluk Kutukan: bagaimana jika takdir memilihmu untuk bertemu ‘kutukan’?”

Posted in baweanologi, nebula, think

Ilung Lanjang: Sebuah Analisis Kritis Mengenai Hakikat dan Keanekaragaman Hantu di Dunia

drakula vampir imut

Hantu bukanlah hantu, hantu adalah kebudayaan. Dan sebagaimana kebudayaan manusia lainnya, ada hantu yang sama di berbagai daerah, ada pula hantu yang hanya dimiliki daerah tertentu saja—persis sama dengan produk budaya berupa makanan atau pakaian.

Drakula adalah produk budaya khas Eropa, Indonesia tak punya. Vampire berpakaian bangsawan adalah produk budaya khas Cina, kita tak punya. Pocong adalah produk budaya hampir di seluruh Indonesia. Hampir semua provinsi dan kabupaten mengenalnya—bahkan sampai ke desa dan kampung-kampung. Pocong adalah hantu yang sangat tersohor. Namun demikian, tak ada satu pun orang Rusia atau Azerbaijan yang pernah bertemu pocong. Sama halnya dengan Ilung Lanjang, hantu yang satu itu adalah produk khas pulau Bawean. Daerah lain mana pun di dunia ini tak punya hantu ilung lanjang. Bahkan Jakarta, Dubai, Beijing, Tokyo, London, Washington pun tak punya!

Pikirkan ini, betapa adaptive hantu dalam penampilan dan perbuatannya. Hantu tidak sekadar menakut-nakuti tapi juga menyesuaikan diri. Hantu telah menunjukkan dengan sukses bahwa untuk bertahan sebuah individu harus sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika pocong tampil di Eropa, satu makhluk dengan wajah bersumpal kapas, dibungkus kain putih dari kaki sampai kepala, melompat-lompat dengan canggung, saya khawatir makhluk itu justru akan ditangkap dan diikat di tengah alun-alun kemudian dibakar sebagai tontonan masyarakat—persis seperti yang terjadi di abad pertengahan saat perburuan penyihir sedang marak. Jika vampire Cina muncul di Amerika, lengkap dengan pakaian dan topinya yang mirip mangkuk terbalik, kemungkinan besar dia akan dibawa mobil polisi dan dipulangkan ke Chinatown terdekat. Dan, jika drakula muncul di Indonesia, fyuh, dia bisa jadi Continue reading “Ilung Lanjang: Sebuah Analisis Kritis Mengenai Hakikat dan Keanekaragaman Hantu di Dunia”

Posted in baweanologi, novel terbaru, sastra

#11 Tahukah Anda, Sang Penakluk Kutukan Adalah Novel yang Meramu Beberapa Peristiwa Nyata di Bawean? [part three]

wanita menulisDua hal ini sama benarnya: seorang penulis akan melibatkan sedikit banyak kehidupannya dalam karyanya, seorang penulis akan sepenuhnya menulis kisah yang sama sekali tidak berhubungan dengan kehidupannya. Dua hal itu sama benarnya. Seorang penulis bisa menggunakan pengalaman hidupnya sebagai bahan tulisan, bisa juga ia murni menggunakan imajinasinya untuk menulis kisahnya. Dan bagi saya, kedua hal itu sama-sama tidak ada buruknya. Kewajiban penulis adalah menyampaikan kisah yang bagus, terserah dia mau melibatkan kisah hidupnya atau sama sekali tidak berhubungan dengan kehidupannya, selama kisah itu memikat pembaca, saya tidak keberatan.

Aku melakukan dua hal itu dalam setiap tulisanku.

Aku bisa mencuil-cuil kehidupanku menjadi ratusan fragmen tidak berhubungan dan memungut beberapa butir secara acak untuk
Continue reading “#11 Tahukah Anda, Sang Penakluk Kutukan Adalah Novel yang Meramu Beberapa Peristiwa Nyata di Bawean? [part three]”

Posted in baweanologi, novel terbaru, sastra

#10 Tahukah Anda, Sang Penakluk Kutukan Adalah Novel yang Meramu Beberapa Peristiwa Nyata di Bawean? [part two]

nelayan naik sampan
Ada banyak kisah mengerikan yang terjadi di masa lalu. Sebagian besar tidak pernah terulang lagi—dan kita harus bersyukur atas hal itu. sebagian yang lain, terus berulang dan berulang. Yang akan kuceritakan kali ini adalah sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu dan tak terulang lagi—syukur Alhamdulillah. Peristiwa menakutkan warisan zaman tanpa penerangan yang menjadi salah satu elemen dalam novel Sang Penakluk Kutukan.

Peristiwa ini terjadi jauh sebelum aku lahir, saat ibuku masih SD, dan di Bawean belum ada listrik. Semua rumah hanya menggunakan penerangan lampu teplok. Saat malam tiba, kegelapan berputar-putar dari satu rumah ke rumah yang lain seakan angin yang menebarkan kengerian. Dan memang itulah yang terjadi ketika dua orang bersaudara pergi melaut. Mereka tidak tahu jika itu akan menjadi kebersamaan mereka yang terakhir.

Ketika dua saudara itu Continue reading “#10 Tahukah Anda, Sang Penakluk Kutukan Adalah Novel yang Meramu Beberapa Peristiwa Nyata di Bawean? [part two]”