sastra / think

Ketika Sekolah Justru Mengubah Seorang Anak Menjadi Pribadi Licik dan Curang

THE FILM CLUB
Buku yang akan kita obrolkan adalah The Film Club (Klub Film) karya David Gilmour, seorang penulis Kanada. Untuk memberikan gambaran tentang buku ini, akan aku kutip salah satu bagian kesukaanku guna mengawali tulisan ini: Boleh dibilang, sekolah telah menjadikannya seorang pembohong dan orang yang licik. (hal. 3)

Yap, itulah yang dikatakan tokoh utama novel tersebut tentang sekolah, dan itu pulalah pendapat si penulis buku tersebut–karena buku ini ditulis based on true story of the writer himself. Dengan pemahaman seperti itu, maka tak mengejutkan jika si tokoh utama kemudian mengizinkan anaknya drop out. Dan yang mengejutkan adalah syarat yang dia berikan: kamu boleh berhenti sekolah, asalkan kamu berjanji untuk tidak pakai obat-obatan, tidak bekerja, dan menonton tiga film dalam seminggu bersama ayah.

Jesse, nama si anak, melompat girang mendapatkan tawaran ajaib ayahnya.
Maka dimulailah pendidikan tak wajar itu. David Gilmour yang seorang jurnalis dan kritikus film tentu saja tidak kerepotan untuk menemukan film dengan tema seperti yang dia ingin ajarkan. Hanya saja, jika kau pikir David ingin mengajarkan suatu pendidikan moral tertentu, atau ingin menularkan suatu semangat tertentu, agaknya kau salah. David lebih menekankan pada putranya untuk menyadari momen artistik terbaik dalam film ketimbang pada, “apa pesan moral yang kau tangkap dari film barusan, anakku?”

Bisa dibilang, cerita buku ini begitu-begitu saja, hanya saja, ada sesuatu yang entah bagaimana membuatnya menggiurkan untuk dibaca sampai tamat. Mungkin karena diksi David Gilmour yang mantap gurih macam soto Lamongan, atau, bisa jadi karena berlimpahnya trivia  dunia perfilman–tentu saja, ini kan novel tentang film dan pendidikan anak. Dan aku adalah penggemar berat novel yang di dalamnya banyak terdapat informasi menarik.

Walaupun aku menyukai buku ini, bahkan beberapa bagian bisa bikin mabuk kepayang, tapi jelas sekali aku tidak akan meneladani yang David lakukan pada anaknya. Apa kau sanggup melakukan itu? Mengizinkan anakmu drop out dan sebagai gantinya nonton tiga film seminggu? Selama tiga tahun penuh! Itu sesuatu yang anu sekali. Namun demikian, aku setuju dengan Gilmour untuk satu hal: bahwa pendidikan adalah sesuatu yang seharusnya kau lakukan dengan berbahagia, dengan kesenangan, bukan dengan paksaan, tekanan, dan ketakutan.

Seperti bagian awal tadi, mengapa sekolah telah mengubah Jesse menjadi seorang pembohong licik? Karena rasa takut dan tertekan Jesse telah mendorongnya untuk melakukan banyak kebohongan dan kelicikan berkaitan dengan tugas-tugas sekolah yang dia dapat. Demi mendapatkan nilai bagus, demi menghindari omelan guru, demi menyelamatkan diri dari dipermalukan di depan teman kelas, demi menjauhkan kemarahan orangtua, kecurangan dan kelicikan sering dilakukan Jesse. Bukankah itu hal yang banyak terjadi di sekitar kita?

Gilmour beranggapan, jika sebuah pendidikan sudah dilakukan dengan cara seperti itu, hanya menghadirkan kengerian yang mewariskan kebobrokan, maka itu bukan lagi pendidikan yang layak dipertahankan. Lepas, tinggalkan, cari yang lain. Seseorang harus mendapatkan pendidikan yang melahirkan kebahagiaan, antusiasme, dan kejujuran. Karena Jesse putranya menyukai film, Gilmour menjatuhkan pendidikan-ganti-sekolah dengan pilihan yang paling rasional: nonton film, tiga film seminggu. Tiga tahun penuh.[]

Info buku

Judul: The Film Club

Penulis: David Gilmour

Penerbit: Thomas Allen Publisher / Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit Indonesia: 2011

Tebal buku: 273 halaman
@arulight

Advertisements

3 thoughts on “Ketika Sekolah Justru Mengubah Seorang Anak Menjadi Pribadi Licik dan Curang

  1. Thank you sudah memberikan tulisan ini di kelas novel. Aku jadi bisa tahu sudut pandang peserta lain soal masalah pendidikan. Dan aku lega karena bukan cuma aku yang resah soal ini XD

    And, aku senang juga karena bisa baca beberapa cuplikan kisah pendek soal pondok dari peserta-peserta di sana XD

    • Ti, komentar komentar teman saat itu benar benar ilmu yang mengejutkan buatku. Aku belum pernah tahu dan tidak menduga ada yang seperti itu. Bayangkan, seorang juara kelas bertahun tahun tiba-tiba saja memutuskan out karena… Bosan juara. Itu ajaib!

      Dan yang lebih penting, aku semakin memahami bahwa belajar memang harus dengan kebahagiaan.

      • Bagaimana jika… kita sudah berusaha bahagia dalam prosesnya? Tapi ada saja orang yang nggak suka liat kita bahagia? Mereka lebih ingin melihat kita sakit dan terus-terus-terus mengganggu kita. Boleh gak yang kayak gini dibunuh saja? :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s