Posted in ehon, think

Dia Pergi Melaut dan Tak Pernah Kembali, Sebuah Kisah Nyata

image

Ini kisah tetanggaku, Pak Muslimin, seorang pelaut dengan dua anak balita dan seorang istri yang sedang hamil tua. Pelaut yang karena desakan kebutuhan rumah tangga memutuskan pergi berlayar di awal-awal bulan Februari tempo hari, pada saat angin dan hujan menerjang pantai utara Jawa bagai bencana, dan bencana memang yang terjadi. Perahu nelayan berpenumpang lima orang itu karam ditikam gelombang. Tiga orang selamat, dua tenggelam dan sampai hari ini masih hilang, Pak Muslimin dan ayah kandungnya.
***

Keluarga Pak Muslimin terdiri dari seorang istri, anak pertama perempuan berusia 5 tahun, dan anak kedua perempuan berusia 2 tahun 3 bulan. Istrinya sendiri sedang hamil 7 bulan.

Sehari-hari, selain sebagai nelayan, Pak Muslimin juga jualan air dan ikut mengurusi musholla yang ada di lingkungan kami. Beliau sering adzan di sana. Beliau juga tak segan memperbaiki apa-apa yang rusak dari musholla kami. Ketika musholla diperbaiki dan diperluas, Pak Muslimin ikut rajin gotong royong membangun musholla.

Para tetangga menyukainya sebagai sahabat yang baik, ayah yang baik, dan pribadi yang bekerja keras. Beliau juga lelaki yang humoris. Terkadang, saat sedang naik motor bersama kedua anaknya dan lewat di depan rumah bibiku yang belum dikaruniai momongan, Pak Muslimin suka berseloroh kepada anak-anaknya, “nak, kamu ikut bulek itu ya, bulek belum punya anak. Bulek banyak uangnya.”
Mendengar seloroh itu bibiku hanya tertawa. Yang sama sekali tidak diduga oleh bibiku adalah bahwa tak lama kemudian… Kedua bocah itu akan menjadi yatim.

Beberapa hari sebelumnya, salah satu tetangga kami menggali peceran (septic tank) untuk rumahnya. Tanah bekas galian menumpuk tak terpakai di dekat lubang. Pak Muslimin pun meminta tetangga yang lain untuk mengusung tanah tersebut buat menguruk halaman musholla yang tak rata.
“Nanti kalau saya sudah dapat uang dari melaut, bapak tak bayar, ya.” begitu janji Pak Muslimin.
Tetangga itu menyetujui dan segera menguruk halaman musholla. Berharap segera mendapat bayaran dari Pak Muslimin.

Sehari menjelang keberangkatan, Pak Muslimin mendatangi banyak orang. Bersilaturahim, meminta maaf, dan menitipkan anak-anaknya.

Kepada guru ngaji putrinya, Pak Muslimin berpesan, “pak, tolong anak saya ini dididik yang baik. Ajari dia mengaji sampai pintar. Bagaimana pun keadaannya, tolong supaya pendidikan anak saya terus berlanjut.”

Malam Minggu tanggal 4 Februari, sejak lepas maghrib Pak Muslimin bermain terus bersama kedua putrinya. Bermain sampai puas dengan segala kebahagiaan yang dia punya. Pernah suatu hari Pak Muslimin berkata pada sang istri, “anak pertama kita ini bakalnya jadi orang pintar, solehah. Dia harus sekolah sampai selesai. Tapi adiknya ini kayanya agak nakal dia. Kamu harus sabar, dik.”
Pukul 9 malam itu, Pak Muslimin pamit keluar pada istrinya. Saat ditanya mau ke mana, beliau menjawab ingin silaturrahim pada sanak keluarga. Silaturrahim pukul 9 malam, seakan tidak ada waktu lain untuk itu.

Hari minggu tanggal 5 Februari. Pukul satu siang, Pak Muslimin, beserta ayah, dan tiga nelayan yang lain berangkat melaut. Sebenarnya salah satu dari mereka sudah meminta untuk membatalkan, tapi karena sudah terlanjur membeli umpan dan menyiapkan bekal, dan sudah berhari-hari tidak mendapat nafkah untuk anak istri, rombongan lima orang itu memutuskan tetap berangkat.
Awan mendung yang menghitam di pucuk langit diacuhkan. Berharap alam akan lebih bersahabat.

Pukul satu siang para nelayan itu meninggalkan rumah, pukul lima sore kabar buruk itu menyebar ke seluruh desa.

Perahu nahas itu masih kelihatan dari pantai. Kecil dan terombang-ambing. Pada suatu momen, ketika perahu kecil itu tak tampak bergerak ke mana-mana, para nelayan yang ada di pantai mengira perahu kawan mereka sedang berbalik kembali pulang. Tapi tidak, mereka tidak sedang menepi, alam sedang menyeret mereka ke dasar lautan.

Lima orang nelayan di sana, dengan perahu digulung gelombang. Masing-masing mereka memegang satu jirigen, tiga selamat, dua tenggelam, Pak Muslimin dan ayahnya. Menurut penuturan nelayan yang selamat, Pak Muslimin berusaha menolong sang ayah. Dia berenang mendekati ayahnya itu tak belum sampai beliau sudah kelelahan.
“Aku gak kuat lagi, Pak. Aku gak kuat.”
Lalu ayahnya menimpali, “kalau kamu sudah tidak kuat, bagaimana ini, Min?”

Hari Minggu 5 Februari itu, dua nelayan telah kembali pada Tuhannya. Lautan yang selama ini menjadi sumber penghidupan, justru menjadi tempat pengakhir kehidupan. Pak Muslimin telah pergi, bersama sang ayah, orang pertama yang mengenalkan beliau pada lautan. Pak Muslimin telah pergi, meninggalkan seorang istri dan bayi yang belum lahir, dua orang putri dan cita-cita yang besar, juga hutang kepada tetangga yang ia minta untuk meratakan tanah musholla. Pak Muslimin telah pergi, dengan semua kebaikan dan kenangannya. Lalu, adakah kehilangan yang lebih perih dari kehilangan yang kita sadari tak kan pernah kembali?
***

Aku tidak menyaksikan sendiri semua kejadian ini. Karena semenjak menikah aku meninggalkan Desa Jompong dan menetap di desa istri, desa Paciran. Tapi ibuku mengikuti semua tragedi. Dari beliaulah aku mendapatkan kisah utuh Pak Muslimin almarhum.

Ibu menceritakan semuanya, utuh dengan kesedihan dan kepahitan. Lalu beliau berpesan, “bantu Pak Muslimin, Rul. Bantu keluarga yang dia tinggalkan. Kasihan istrinya, dia tidak punya kerja selain jualan air. Bagaimana ia akan membiayai sekolah anaknya? Bagaimana ia akan membayar hutangnya? Bagaimana… Bagaimana ia akan membiayai persalinannya? Bayar rumah sakit? Bayar susu anaknya?”

Aku tak tahu apa yang bisa kubantukan selain jumlah rupiah yang tak seberapa. Dan itu hampir tidak ada pengaruhnya. Lalu aku pun teringat peristiwa tahun lalu, ketika pondok kebakaran. Aku menulisnya dan banyak orang mengulurkan bantuan. Aku tahu aku harus melakukan hal yang sama untuk keluarga almarhum.

Sahabat sekalian, jika tidak memberatkan untukmu, ulurkan bantuan untuk keluarga yang ditinggalkan almarhum. Bantuan apa saja. Jika Anda ingin mengirimkan barang untuk keluarga almarhum, kirim ke alamat berikut:

Arul Chandrana
Pondok Manarul Quran, Paciran
Jl. Pasar Lama I, Paciran
Lamongan
Hp./Wa. 0822 3330 8242

Saya akan mengantarkan barang tersebut pada keluarga almarhum.

Bagi yang ingin menyumbang rupiah, silakan kirim ke rekening berikut:

Bank BRI
AN. Catur Amrullah
6300 0101 9501 532

Bagi teman-teman yang transfer, kami mohon dengan sangat untuk konfirmasi dengan mengirimkan foto bukti transfer di inbox fb saya atau ke inbox wa nomor di atas.

Demikian panggilan dari kami, tetangga almarhum Pak Muslimin. Semoga amal kebaikan sahabat sekalian mendapat balasan terbaik dari Allah SWT, Aamiin.

Nb: sampai sekarang jenazah almarhum dan ayahnya belum ditemukan.

Bagi kawan yang membaca ini mohon bantuan share.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s