Posted in nebula, sastra, think

MENEMUKAN KEAJAIBAN DALAM SETIAP DETIK KEHIDUPAN

Berbagai Keajaiban dalam Hidup, buku kedua Arul Chandrana
Berbagai Keajaiban dalam Hidup

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki keajaiban, hanya saja tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melihat keajaiban yang dia miliki. Masalah berikutnya, keajaiban setiap orang berbeda dengan keajaiban milik yang lainnya. Ditambah lagi, manusia memiliki kecenderungan yang berlebihan dalam soal ukuran, manusia suka berpendapat bahwa hal-hal yang kecil tidak penting dan hanya yang besar-besarlah yang penting. Pemikiran seperti ini membuat banyak orang merasa kehidupannya hampa tanpa keajaiban. Mereka mengira Tuhan nyuekin mereka, Tuhan pilih kasih, dan jelas mereka salah.

Ada orang yang dipilih menjadi ketua RT di sebuah kampung kecil di kecamatan Solokuro, orang lain dipilih menjadi presiden di Swiss. Ada orang yang menemukan mangga masak di jalanan desa Lembor yang sepi, orang lain menemukan cicin emas tergeletak di trotoar kota Paris. Ada orang yang secara tidak sengaja mengacuhkan kursi basah dan memilih duduk di kursi yang kering, di lain tempat ada orang yang terpaksa membatalkan penerbangannya sementara beberapa saat kemudian pesawat terbang tersebut dilaporkan hilang di tengah lautan. Keajaiban-keajaiban semacam ini terjadi setiap hari, kepada semua orang, dan sayangnya tidak semua orang sanggup mensyukurinya.

Mungkin Anda akan berkata bahwa contoh-contah yang saya sebutkan barusan adalah sebuah kebetulan, bukan keajaiban. Nah, itulah masalah kita, kita suka menyepelakan urusan sehingga tidak menyadari keindahan dibaliknya, keajaiban yang tersembunyi di sana. Besar atau kecil kebaikan yang kita dapatkan, tetap saja semuanya adalah keajaiban. Jika anda sedang duduk menekuri komputer, kemudian Anda berdiri untuk memungut selembar kertas yang terjatuh dari meja, lalu tepat pada saat itu ada kotoran cicak jatuh di tempat Anda duduk barusan, itu sebuah keajaiban. Tuhan telah memberi Anda alasan untuk bergeser dari tempat Anda duduk hanya agar Anda selamat dari kotoran cicak. Bersyukurlah agar kita semakin beruntung.

Itulah yang ingin disampaikan buku Berbagai Keajaiban Dalam Hidup kepada pembacanya. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa untuk merasakan keajaiban, kita tidak perlu menunggu mendapatkan sesuatu yang besar dan menakjubkan, sesungguhnya ada banyak hal sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari yang adalah juga termasuk keajaiban. Anda tidak harus sembuh secara ajaib dari penyakit kanker untuk memahami sebuah keajaiban, cukup dengan sembuh dari flu tanpa minum sebutir obat pun adalah juga sebuah keajaiban. Apakah Anda mendapatkan uang satu juta atau seribu rupiah, keduanya sama-sama uang yang Anda dapatkan, keduanya sama-sama keajaiban.

Selain menguraikan tentang keajaiban dan ajakan untuk bersyukur, buku ini juga berbagi peristiwa-peristiwa bermakna, lucu, atau menggelitik yang dialami penulis kepada pembaca. Salah satu contohnya, adalah kenangan penulis sewaktu masih SD.

Jaman SD dulu, ada seorang guru yang ditakuti sekaligus disayangi oleh penulis dan teman-temannya. Beliau bernama Pak Muslihin. Pak Muslihin adalah guru ajaib, beliau mengajar Qur’an Hadits, Bahasa Indonesia, dan matematika. Ketiganya mata pelajaran yang sama sekali tidak ada hubuangannya tapi bisa beliau kuasai dengan sangat mahirnya. Ketika tiba hari pelajaran Qur’an Hadits, sebagian isi kelas antusias, ketika tiba hari bahasa Indonesia, penulis dan sebagian teman yang lain antusias, tapi ketika tiba hari pelajaran matematika, tidak ada satu pun yang meras senang. Matematika dalah hukuman yang harus diterima setiap anak hanya karena itu kewajiban setiap siswa: masuk sekolah dan belajar.

Lalu, pada suatu hari, ketika tiba pelajaran matematika, penulis mengajak teman-temannya utuk membaca doa, mebaca fatihah dan ayat-ayat Al-Qur’an, membaca shalawat, dan meminta kepada Tuhan agar Pak Muslihin dibuat sakit dan tidak masuk kelas. Semua siswa setuju. Mereka berkumpul melingkar di sekitar bangku penulis dan mulai berdoa. Hasilnya, beberapa menit kemudian, TU sekolah datang mengabarkan bahwa Pak Muslihin izin tidak mengajar karena sakit. Semua anak bersorak girang. Hahaha, doa jahat mereka berhasil. Berikutnya, setiap kali tiba hari pelajaran matematika, anak-anak kembali berkumpul untuk berdoa agar gurunya sakit. Dan trik itu tak pernah berhasil lagi.

Salah satu tulisan yang sulit dilupakan dari buku ini adalah tulisan yang berjudul Minan. Minan adalah nama salah satu murid penulis di sebuah TPA. Minan memiliki penampilan fisik yang tidak bisa dengan mudah mengundang simpati, juga dia tidak memilki pakaian yang bisa membuat orang terkesan. Ditambah lagi dengan sikapnya yang slenge’an. Seringkali Minan menjadi bahan bully teman-temannya. Dan hampir selalu Minan dijadikan kambing hitam atas setiap kekacauan yang terjadi—entah dia memang terlibat atau tidak. Lalu suatu hari, penulis buku ini mengadakan kelas drama sebagai salah satu bagian dari pembelajaran. Dia membagi semua siswa di kelasnya menjadi beberapa kelompok dan, seperti yang mungkin sudah Anda duga, tidak ada kelompok yang mau menerima Minan dengan tangan terbuka. Anda tahu, salah satu kepedihan terberat yang bisa dirasakan anak usia SD adalah ketika tidak ada teman kelas yang bersedia menerimanya sebagai bagian dari kelompok. Beruntung, pada akhirnya Minan mendapatkan kelompok dramanya, kelompok yang mayoritas terdiri dari siswa perempuan, dan Minan diterima di sana hanya karena tidak ada anak perempuan yang bersedia memerankan tokoh penjahat.

Ajaib, bocah Minan yang disepelekan, yang selalu menjadi korban, yang penampilannya menyedihkan dan rambutnya tak pernah disisir apalagi diminyaki, dia sanggup tampil berakting dengan mengagumkan. Minan menjalankan perannnya dengan sepenuh hati dan senang hati. Di kelompokmnya Minan berperan sebagai penjahat dan, astaga, hahaha, dia berhasil memerankan penjahat dengan cara yang sangat baik! Dia sangat baik dalam berperan sebagai penjahat.

Dari pengalaman itu, kita sekali lagi diingatkan oleh penulis bahwa setiap anak meiliki kelebihan dan kelebihan tersebut ada pada bidang yang berbeda. Kita tidak bisa memaksa ikan terhebat sekali pun untuk memanjat pohon, begitu pula, kita tidak bisa memaksa monyet paling cerdas sekali pun untuk menyelam. Setiap makhluk memiliki keunggulannya masing-masing. Sama halnya dengan manusia, setiap orang sudah memiliki kelebihannya masing-masing dan kekurangannya sendiri. Setiap orang akan hebat jika kita beri tugas di bidang yang dia kuasai, dan semua orang akan tampak bodoh jika disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan.

Mungkin, tulisan paling mengusik di buku ini adalah tulisan yang berjudul Pembuat Anak. Tulisan itu mengisahkan pasangan-pasangan suami istri yang terburu-buru menikah dan hanya bisa ‘membuat anak’, dan sama sekali tidak melakukan kewajibannya untuk mendidik dan merawat anaknya. Fenomena ini banyak terjadi di negara kita, di berbagai daerah, berlangsung puluhan generasi, menjadi tradisi dan hanya mewariskan kemelaratan. Dengan tajam tulisan itu mengupas bagaimana ada begitu banyak orang yang menikah dengan tergesa-gesa, lalu punya anak, lalu pergi bekerja dan meninggalkan anaknya pada nenek yang sudah renta di rumah. Setelah itu, pasangan tersebut hanya mengirimkan uang untuk makan si anak. Memang, untuk hidup manusia hanya butuh makan. Tapi untuk hidup dengan baik, manusia butuh kasih sayang dan pendidikan. Orang gila di pinggir jalan adalah manusia hidup, dan mereka hanya butuh makan untuk melanjutkan kehidupannya. Kalau kita ingin memiliki keluarga yang lebih baik dari mereka, kita harus ingat bahwa makan saja tidak bisa membuat orang menjadi hebat.

Pembuat anak menohok dengan keras budaya yang buruk di negeri ini. Tulisan itu diangkat dari peristiwa nyata di sekitar penulis.
***
Seseorang pernah bertanya, “apa sih gunanya masalah?” Lalu dia mendapat jawabannya, “agar kita menyadari setiap kebaikan yang tidak pernah kita sadari.” Sepanjang kita membaca tulisan ini kita telah melakukan respirasi sebanyak ratusan kali. Kita sama sekali tidak menyadari nikmat dan ajaibnya bernafas tanpa perlu repot-repot berpikir dan merencanakan. Lalu, ketika tiba-tiba ada debu masuk lewat hidung, membuat kita terbatuk dan sesak, barulah pada saat itu kita menyadari betapa nikmat dan ajaibnya bernafas tanpa gangguan. Jadi, haruskah kita mendapat masalah terlebih dahulu hanya agar bersyukur dan menyadari keajaiban yang kita miliki setiap hari? []

Paciran, 3 Oktober 2016
Arul chandrana

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s