Posted in ehon

Kebakaran Manarul Qur’an Paciran

image

Adzan maghrib baru saja berkumandang, acara santap buka bersama baru saja dimulai. Semua santri ikhwan-akhwat beserta warga sekitar hadir memenuhi aula memeriahkan acara yang rutin digelar Pondok Menaruh Qur’an saban bulan Ramadan. Saat itu aku duduk bersama para asatidz, sedang membuka dan menikmati nasi kotak. Tepat di sebelah kiriku duduk ustadz Aziz. Lalu telepon itu pun datang.

Sementara Ustadz Aziz bertelepon, aku melanjutkan santapku. Memangnya siapa yang harus menguping telepon orang lain? Tapi kalimat Ustadz Aziz berikut ini membuatku berhenti.

“… Apa? Kebakaran? Asrama ikhwan?”

Aku tahu dari ujung timur lokasi buka bersama aku bisa melihat kompleks ikhwan. Jadi aku langsung bangkit, bergegas ke timur, dan… Aku hanya melihat asap, juga warna kemerahan yang menari-nari. Aku mundur, antara percaya dan tidak percaya, kukatakan pada para asatidz di sana.

“Kebakaran… Sepertinya pondok ikhwan kebakaran.”

Lalu semua makanan pun ditinggalkan.

***

Magrib itu, api sudah berkobar besar, melahap satu lantai tempat tinggal santri putra. Dipan, kasur, buku, pakaian, dan lemari kayu mengisi lantai tersebut. Ditambah dengan hembusan angin laut yang kencang, api semakin meradang. Dalam hitungan detik lidah api sudah menyambar keluar lewat jendela.

Kobaran yang besar itu membuat kami menciut: di atas lantai yang terbakar masih ada dua lantai lagi, di bawahnya juga masih dua lantai. Dan tepat di sebelah timur bangunan, hampir tanpa jarak, adalah rumah warga. Jika bunga api diseret angin dan jatuh ke timur, menimpa atap atau daun kering di perumahan yang rapat itu… Aku ngeri membayangkannya.

Para asatidz bersama warga berlarian menuju lokasi kebakaran, sementara semua santri akhwat diamankan oleh para ustadzah. Sebagian dari mereka mulai menangis. Yang kami pikirkan saat itu: apakah ada anak di asrama? Dengan sekuat tenaga kami berusaha mengevakuasi. Kelegaan baru terasa setelah pasti tidak ada satu santri pun yang tertinggal. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Tapi api semakin menggila, dan mobil pemadam kebakaran belum tiba!

Sementara orang-orang mengulurkan selang berusaha menyiram api, tindakan pengamanan dilakukan. Semua santri akhwat diungsikan ke rumah warga yang jauh dari pondok. Mereka berjalan beriring layaknya para pengungsi. Kekhawatiran saru-satunya yang tampak di wajah mereka. Begitu pula dengan santri ikhwan, mereka dikumpulkan dan ditempatkan di rumah yang jauh dari lokasi kebakaran.

“Kalian jangan ada yang turun. Tetap di sini. Biarkan baju dan buku terbakar. Semua di sini!”

Malam mulai gelap, dan api sudah semakin mengamuk. Warna merahnya tinggi membubung ke angkasa. Dari kejauhan terdengar sirene mobil pemadam kebakaran. Kelegaan sedikit meresap ke… Tunggu, kantor SMP! Semua berkas! Semua data!

Itu ingatan yang sangat mengerikan. Dan membuat kewarasan hilang. Aku tidak ingat bahwa antara gedung SMP dan asrama adalah dua gedung terpisah. Yang aku ingat, api sudah sangat sangat besar dengan asap memenuhi udara dan entah bagaimana kantor mungkin saja akan dilahap api juga.

Bersama Ustadz Fikri dan dua santri SMA, kami berlomba menuju kantor SMP. Melucuti CPU, menggotong semuanya menuju gedung yang lebih jauh. Aku ingat saat itu Pak Barik mengingatkan kami bahwa api jauh dari sini, tapi, hey, siapa yang peduli pada Pak Barik jika api yang sangat besar sedang melahap habis satu lantai gedung tepat di sebelahmu?! Tindakan evakuasi itu semakin ‘brutal’ saat kami bertemu Bu TU. Beliau menyebutkan berbagai macam dokumen penting menyangkut sekolah dan siswa. Dengan tambahan tenaga beberapa santri SMA kami menggotong keluar lebih banyak lagi dari kantor SMP.

Kehebohan benar-benar menguasai pondok kami. Para petugas pemadam kebakaran, warga, dan para ustadz berjuang habis-habisan berusaha memadamkan api. Dan itu sama sekali bukan urusan yang mudah.

Letak kebakaran yang tinggi, medan yang sempit, membuat pemadam tidak bisa mencapai titik api dengan maksimal. Angin yang kencang dan api yang menyamba-nyambar mencegah siapa pun untuk mendekat. Sekitar pukul 8 malam, api mulai padam.

***

Ini musibah yang menyedihkan. Tepat pada saat acara buka bersama, dan besok santri akan pulang untuk liburan idul fitri, ternyata Allah memberi ketentuan berbeda. Kebakaran besar terjadi. Para wali murid berdatangan, menjemput putra putri mereka tersayang. Kami berdoa, semoga kebaikan, kesabaran, dan berkah mengiri kami semua seusai tragedi ini.

Kami juga bersyukur tidak ada korban jiwa, kerugian yang diderita adalah: satu lantai asrama putra ludes terbakar. Pakaian, seragam, buku, mushaf, lemari, dan apa pun yang ada di lantai itu habis termakan api. Tidak ada yang tersisa. Kerusakan juga menimpa lantai di bawahnya, walau jauh lebih baik kondisinya dibandingkan lantai kebakaran utama.

Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab tragedi ini, dugaan kuatnya adalah akibat korsleting. Kami segenap keluarga besar Pondok Pesantren Manarul Qur’an, sebuah pondok tahfidz di Paciran, mengharapkan dukungan dari saudara-saudara semua, semoga musibah ini tidak turut menghanguskan semangat kami, melainkan justru menggelorakan semangat berjuang dan mendidik anak negeri. Semoga keridhaan Allah adalah imbalan bagi kita semua, aamiin #arulife #manarul_quran_bertahan

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s