• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Resensi buku The Girl on The Train: Pelaku Kejahatan Ada di Sekitarmu, Kau Mengenalnya.

girl on the train
Judul Buku : The Girl On The Train
Penulis : Paula Hawkins
Penerjemah : Inggrid Nempoeno
Penerbit : Noura Books
Tahun terbit : Cetakan 1, Agustus 2015
Jumlah halaman : 430 Halaman
ISBN : 978-602-0989-97-6
Setiap hari kau melakukan perjalanan. Setiap hari kau melewati jalan yang sama, tapi tak selalu bertemu orang yang sama. Setiap hari kau mendapatkan peristiwa membosankan yang sama, tapi tak pernah serupa. Jadi, bagaimana jika dalam perjalananmu itu kau beruntung selalu melihat orang yang sama? Lalu perlahan-lahan kau merasa seakan mengenal dan begitu dekat dengan mereka? Bagaimana jika itu terjadi? Dan inilah salah penyebab utama masalah dalam novel The Girl on The Train.

Adalah Rachel Watson, seorang alkoholik parah, dipecat dari pekerjaannya, hidup dengan kepura-puraan, bercerai dari suaminya, dan beruntung karena masih ada satu orang yang menaruh kasihan padanya—seorang teman yang bersedia menampungnya. Rachel yang tinggal di pinggir kota setiap hari naik kereta pergi ke London dalam usahanya mengecoh sang teman. Dia pergi naik kereta pura-pura bekerja, dia tidak ingin temannya itu tahu kalau dia sudah dipecat.

Dalam perjalanan menuju London, keretanya selalu melewati kawasan bernama Witney. Dari keretanya Rachel bisa melihat jelas jejeran rumah pinggir-rel di jalan Blenheim. Ada dua rumah yang selalu membetot hatinya, rumah nomor lima belas dan rumah nomor dua puluh tiga. Pada rumah nomor lima belas, dia bisa melihat suami istri yang sangat harmonis, penuh kebahagiaan, dan sanggup memantik rasa iri sekaligus simpati.

Setiap hari Rachel punya kesempatan beberpa menit saat kereta berhenti sejenak di lampu merah untuk melihat keharmonisan pasangan di rumah nomor lima belas itu. Rachel yang baru dua tahun bercerai begitu terpesona akan kebahagian pasangan tersebut. Lalu, untuk melengkapi keindahan yang ia bayangkan, Rachel pun memberi nama pada suami istri idolanya itu: Jason dan jess.

Berbeda dengan rumah nomor lima belas, rumah nomor dua puluh tiga adalah faktor penghancur hatinya. Di sana tinggal mantan suaminya beserta istri barunya.

Dalam benaknya, Rachel mulai merekonstruksi karakter, pekerjaan, hobi, perasaan, suara, juga hasrat yang dimiliki Jason dan Jess. Dia membayangkan apa yang mereka lakukan dan apa yang tidak, sehingga sosok nyata-tapi-fiktif tersebut menjadi begitu akrab dengan dirinya. Sampai kemudian, secara kebetulan Rachel membaca berita di koran: KEKHAWATIRAN TERHADAP PEREMPUAN WITNEY YANG HILANG. Itu laporan tentang menghilangnya seorang perempuan penduduk Witney bernama Megan. Foto yang terpasang dalam berita tersebut memampang wajah yang sangat akrab bagi Rachel. Itu wajah Jess. Jess… atau sebenarnya adalah Megan… dan Megan kini menghilang… apa yang terjadi? Penculikan? Pembunuhan? Penyekapan?

Satu hal yang Rachel tahu pasti, pada sore hari, sebelum Megan (atau jess) menghilang pada malam harinya, dari keretanya Rachel melihat Megan berselingkuh. Atau… itu hanya penampakan ngawur akibat pengaruh alkohol? Mungkinkah Megan yang sangat bahagia dan harmonis rumah tangganya tega mengkhianati suami yang sangat setia? Lebih parah lagi, Rachel tidak bisa mengingat peristiwa selanjutnya dengan utuh. Dia mengalami kehilangan memori sesaat sehingga bagian terpenting dalam rangkaian misteri itu justru hilang. Lantas kesaksian apa yang bisa diberikan oleh saksi mata yang lupa peristiwanya?
***

The Girl On The Train adalah novel thriller yang sangat berhasil. Ia bisa menampilkan karakter para tokoh cerita yang masing-masingnya unik dan alami—kau benar-benar merasa sedang membaca biografi manusia sungguhan. Novel ini juga menyajikan cerita yang menawan serta misteri yang tak mudah untuk kau pecahkan. Kau kemungkinan besar akan mencurigai orang yang salah.

Karakter tokoh utama yang alkohoilik dituturkan dengan sangat-sangat meyakinkan. Benar-benar seorang pemabuk parah yang menjengkelkan dan tak terkendali. Saya bahkan sampai berfikir, apakah Paula sendirinya seorang mantan pemabuk? Atau dia pernah berinteraksi sangat intens dengan orang-orang yang kecanduan alcohol? Ana, istri baru mantan suaminya, ditampilkan sebagai sosok ibu muda yang protektif terhadap putrinya. Cara Paula mengembangkan kehidupan Ana dari sempurna-bahagia menuju curiga dan berantakan berjalan dengan demikian naturalnya sehingga kau akan lupa untuk menelisik. Sedangkan Megan, dia seorang istri yang sedang gelisah karena pekerjaannya—dia memiliki galeri seni sebelumnya—harus tutup dan dia membenci kekosongan yang muncul dalam masa pengangguran. Mengapa tiga wanita tadi penting? Karena novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang ketiganya.

Jadi, jika kau tipe pembaca yang suka mengamati kepribadian manusia, ini novel yang bagus buatmu. Kau akan seutuhnya berkenalan dengan seorang janda alkohoilik. Atau, jika kau penyuka bacaan misteri, ini pun novel yang tepat buatmu. Kau akan berlomba untuk membongkar siapa yang telah melenyapkan Megan. Pada akhirnya, kau perlu membaca buku ini untuk menikmati setiap keseruan yang ditawarkannya.

TRIVIA: buku ini sedang dalam proses pembuatan filmnya. Lihat trailernya di link berikut: film Girl on The Train
Selamat membaca []

Anda bisa menemui saya di twitter @arulight. Request penulisan resensi bisa dengan menghubungi email: arulight87@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: