• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Renungan Hidup: Apakah kalian mengenal buyutmu?

12494834_10205973465357217_6663037398576215626_n

Pada suatu hari, setelah menjelaskan materi kuliah hari itu, professor kami mengajukan beberapa pertanyaan filosfis seperti yanbg biasa beliau lakukan.

“Jawablah pertanyaan ini cukup dengan mengangkat tangan jika jawabanmu YA.” Demikian professor kami memulai.

“Apakah kalian mengenal orangtua kalian?” Semua orang di kelas mengangkat tangannya.

“Bagus. Selanjutnya, apakah kalian mengenal kakek-nenek kalian?” Kini hanya sepertiga siswa yang mengangkat tangan.

“Terakhir, apakah kalian mengenal buyut kalian?” Untuk pertanyaan ini, dari 46 mahasiswa yang hadir hanya empat orang yang mengangkat tangan. Professor menatap kami satu persatu.

“Hmm… dengan ini saya berani taruhan bahwa tidak ada satu pun dari kalian yang mengenal siapa orangtuanya buyut. Benar? Bahkan, kalian tahu gak apa sebutan bagi orangtuanya buyut?” semua mahasiswa tertawa.

Professor kami melangkah ke depan. Menatap semua mahasiswa. “Lihatlah sekeliling kalian, baru dua generasi saja kita sudah kerepotan untuk mengenali siapa buyut kita. Pastinya ada di antara kalian yang punya foto lawas kakek buyut di rumah, atau mungkin ada juga yang tahu satu dua kisah hebat yang pernah dialami kakek buyutnya, tapi apakah kalian tahu seperti apa kehidupan mereka? Apakah kalian tahu apa makanan kesukaan mereka? Apakah kalian tahu apa hobi buyutnya? Apakah kalian tahu bagaimana pemikiran dan sikap mereka? Apakah kalian apa yang membuat buyutmu bangga dan ketakutan? Apa cita-cita mereka? Siapakah di antara kita yang mengenal mereka? Ada yang tahu? Padahal jarak antara kita dan buyut hanya dua generasi. Sungguh jarak yang sangat pendek. Kamu, ayahmu, kakekmu, lalu buyutmu. Tapi mereka sudah terlupakan.” Seluruh kelas hening. Menyimak setiap kata yang diucapkan professor.

“Sekarang, mari kita pikirkan situasi kebalikannya. Dua generasi lagi yang duduk di ruangan kelas ini adalah cicit kalian. Jika pertanyaan yang sama diajukan pada mereka, bagaimana kira-kira jawaban yang mereka berikan? Apakah mereka akan mengenal kalian? Hmm? Pikirkan ini, apa yang akan menjadi warisan kalian? Apa yang akan dikenang dari kalian? Pikirkan baik-baik hal ini, apakah hidup kalian akan dilupakan atau akan menjadi pelajaran bagi semua orang? Apa pun yang akan terjadi nanti, kalian memutuskannya sekarang. Nah, saya pikir cukup untuk hari ini, kelas bubar.”

Tapi kami para mahasiswa masih duduk termenung selama lima menit kemudian [disarikan dari buku Chicken soup for The College soul]

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: