• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Nah, Tukang Share Berita Hoax Punya Saudara Kembar: Tentang Hebohnya Kasus Tere Liye

12814134_1233180366696680_796341445034975358_n
Suatu ketika, saya berdiskusi dengan seorang kawan tentang wanita tuna susila. Dia mencela saya karena saya menyudutkan pilihan pekerjaan perempuan-perempuan itu. Dia berkata, “Kau tidak boleh menyalahkan mereka sedangkan kamu tidak tahu apa-apa tentang kehidupan mereka. Jangan gampang menghakimi orang.”

Lama berselang setelah peristiwa itu, kudapati kawan tersebut mencela habis-habisan penulis Tere Liye. Bahkan dengan geram dia berujar Tere Liye seharusnya berhenti menulis dan sudah saatnya bagi semua toko buku untuk membuang buku-bukunya dari display.

Iseng aku bertanya, “Kau pernah baca buku Tere Liye? Kau pernah membaca semua statusnya yang lain? Kau pernah menulis sebuah novel? Apa kau pernah menerbitkan satu novel saja? Apa kau tahu susahnya menulis dan menerbitkan buku?”

Kawan tersebut tentu saja menjawab semua pertanyaan saya dengan kata TIDAK. Dia belum pernah berinteraksi dengan apa pun tulisan Tere Liye sebelumnya. Dia secara umum tidak suka dengan karya penulis Indonesia kebanyakan. Tapi dia dengan semangat mencela habis-habisan orang dan karya yang belum ia kenal walau satu hari pun. Bisakah kau melihat kemenclean sifat kawan saya berbincang itu?

Jika sebelumnya dia dengan bijaksana menegur saya yang menyudutkan pelacur karena saya belum pernah tahu kehidupan pelacur, lha mengapa sekarang dia dengan gagah perkosa meledek dan menghina orang yang belum dia kenal (Tere Liye)? Dia juga sama sekali belum pernah menerbitkan buku, buku apa pun. Tulisannya pun tak satu pun ada yang masuk koran—memangnya dia pernah kirim ke koran? Bahkan dia belum pernah membaca satu pun buku Tere Liye! Lantas mengapa dia dengan seenaknya menghina orang yang tidak dia tahu hidupnya? Apa landasan yang dia pakai untuk menghakimi seseorang? Apa yang membuat sifat bijaksananya musnah begitu saja? Apakah seseorang harus menjadi penjaja seks komersial agar dimaklumi perbuatannya?
***

Kemudian, sepertinya saya paham. Kawanku itu marah pada Tere Liye bukan karena memang dia marah pada penulis itu, tapi dia marah karena orang-orang di sekitarnya marah pada si penulis. Dia sebenarnya sama sekali tidak tahu menahu tentang urusan yang dia caci maki, dia sama sekali tidak punya bayangan apa pun. Tapi, karena teman-temannya sedang berang, dia pun ikut-ikutan berang. Kupikir, pendapatnya tentang wanita tuna susila pun sama. Hanya karena teman-temannya membela WTS, maka dia pun ikut-ikutan membela WTS. Orang-orang seperti itu sebenarnya orang-orang yang membabi buta, sama levelnya dengan gerombolan orang yang suka share berita hoax, sama konyolnya, mereka orang-orang yang tidak punya kebenaran. Bagi mereka, kebenaranku adalah kebenaran menurut teman-temanku ‪#‎aruliterature‬

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: