Posted in baweanologi, nebula, think

Kasus Linguistik Bahasa Jawa dan Bahasa Bawean: Jhukok Rencek

image

Orang Jawa menyebutnya ‘iwak layang’, sementara orang Bawean menyebutnya ‘jhukok rencek’. Nah, lalu di sinilah keajaiban bahasa terjadi.

Ternyata, orang Jawa menyebut ikan layang cabe-cabean (ikan layang yang masih abg dan belum mengenal jati dirinya) dengan sebutan ‘iwak rincek’. Nama yang sama dengan sebutan yang dipakai orang Bawean. Pertanyaan linguistik yang menyusul kemudian adalah: siapa yang pertama kali menamai ikan ini?

Jika penemu nama ikan ini adalah orang Bawean, maka kasus ini menunjukkan kepribadian orang Jawa yang suka ketelitian. Mereka tidak puas dengan kosakata yang tidak spesifik. Kita bisa lihat betapa orang Jawa memberi bermacam sebutan untuk objek yang sama hanya karena ukuran berbeda. Anak sapi = pedet, sapi dewasa = sapi. Anak kambing = cempe, kambing dewasa = wedhus. Bocah kecil suka mencuri = tuyul, orang dewasa suka mencuri = politisi. Nah, karena orang Bawean hanya menggunakan satu sebutan untuk ikan layang, jhukok rencek, maka orang Jawa pun mengembangkan kosakata tersebut, “begini saja wahai Mahapatih Gajah Mada, ikan ini yang masih tergolong alay kita sebut rincek, tapi yang sudah matang dan siap kawin kita sebut layang. Seperti filosofi hidup kita, jadilah dewasa dan melayanglah ke seluruh Nusantara.” titah Maharaja Hayam Wuruk.

Di samping itu, kita juga perlu menyimak spekulasi kedua dalam kasus linguistik ini. Jika asal mula nama ikan layang berasal dari bahasa Jawa, maka orang Bawean telah melakukan langkah penyederhanaan yang sukses–sebagaimana yang selalu dengan baik mereka lakukan. Orang Bawean menyebut koruptor dengan sebutan = bojingan, mereka juga menyebut politisi dengan sebutan = bojingan. Sekelompok orang yang merampas harta orang lain disebut = bojingan, satu orang yang merampas kehormatan seorang gadis atau lima gadis plus dua janda juga disebut = bojingan. Orang Bawean menyebut sopir angkot yang semena-mena menaikkan tarif dengan sebutan = bojingan, tapi orang Bawean menyebut politisi yang menaikkan harga bbm dengan semena-mena dengan sebutan = bojingan buccok.

Karena bagi orang Bawean dua nama untuk satu jenis ikan sebesar jempol adalah sesuatu yang sangat berlebihan, lha nama untuk ikan hiu saja hanya satu = kaloju, apalagi hanya untuk ikan layang yang ukurannya hanya sebesar kotoran ikan hiu. Maka, dengan bijaksana dan tak memakan biaya, masyarakat Bawean memutuskan untuk menghapus sebutan layang dan hanya memakai sebutan rincek. “kalau waktu lahir sudah golongan jhukok rencek, mau tua bagaimana pun ya tetap jhukok rencek.” #arulight #arulanguage #baweanologi

Sang Penakluk Kutukan
Cover Sang Penakluk Kutukan

Pembaca yang budiman, untuk pemesanan buku Sang Penakluk Kutukan, Anda bisa mendaftarkan diri dengan mengirim pesan (inbox) ke layanan berikut:
Facebook: Arul Chandrana
Email: archandrana@gmail.com
WhatsApp: 0822 3330 8242
Anda akan terdaftar sebagai pemesan dan mendapatkan pemberitahuan ketika buku ini sudah terbit, termasuk harga buku, ongkos pengiriman, dan nomor rekening pembayaran.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s