• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Ilung Lanjang: Sebuah Analisis Kritis Mengenai Hakikat dan Keanekaragaman Hantu di Dunia

drakula vampir imut

Hantu bukanlah hantu, hantu adalah kebudayaan. Dan sebagaimana kebudayaan manusia lainnya, ada hantu yang sama di berbagai daerah, ada pula hantu yang hanya dimiliki daerah tertentu saja—persis sama dengan produk budaya berupa makanan atau pakaian.

Drakula adalah produk budaya khas Eropa, Indonesia tak punya. Vampire berpakaian bangsawan adalah produk budaya khas Cina, kita tak punya. Pocong adalah produk budaya hampir di seluruh Indonesia. Hampir semua provinsi dan kabupaten mengenalnya—bahkan sampai ke desa dan kampung-kampung. Pocong adalah hantu yang sangat tersohor. Namun demikian, tak ada satu pun orang Rusia atau Azerbaijan yang pernah bertemu pocong. Sama halnya dengan Ilung Lanjang, hantu yang satu itu adalah produk khas pulau Bawean. Daerah lain mana pun di dunia ini tak punya hantu ilung lanjang. Bahkan Jakarta, Dubai, Beijing, Tokyo, London, Washington pun tak punya!

Pikirkan ini, betapa adaptive hantu dalam penampilan dan perbuatannya. Hantu tidak sekadar menakut-nakuti tapi juga menyesuaikan diri. Hantu telah menunjukkan dengan sukses bahwa untuk bertahan sebuah individu harus sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Jika pocong tampil di Eropa, satu makhluk dengan wajah bersumpal kapas, dibungkus kain putih dari kaki sampai kepala, melompat-lompat dengan canggung, saya khawatir makhluk itu justru akan ditangkap dan diikat di tengah alun-alun kemudian dibakar sebagai tontonan masyarakat—persis seperti yang terjadi di abad pertengahan saat perburuan penyihir sedang marak. Jika vampire Cina muncul di Amerika, lengkap dengan pakaian dan topinya yang mirip mangkuk terbalik, kemungkinan besar dia akan dibawa mobil polisi dan dipulangkan ke Chinatown terdekat. Dan, jika drakula muncul di Indonesia, fyuh, dia bisa jadi artis sinetron dan punya banyak penggemar menyaingi Afghan. Artinya, para hantu tidak berdiri sendiri, dia bukan sebuah entitas yang mandiri, melainkan dia adalah perwujudan kebudayaan masyarakat tempat si hantu beraktifitas—masyarakat yang menciptakannya. Ada lelucon bahwa pocong adalah hantunya orang Islam karena pocong memakai kain kafan dan hanya orang Islam yang dikuburkan dengan kain kafan. Itu lelucon yang lumayan pedas. Pertanyaannya, mengapa pocong hanya ada di Indonesia? Padahal semua umat Islam di seluruh dunia, mulai dari gurun Sahara sampai padang salju Siberia, semuanya dikuburkan dengan kain kafan. Mengapa tidak ada hantu pocong di Turki? Atau di Bosnia? Dengan demikian, pocong telah keluar dari konteks keagamaan, pocong adalah persoalan kebudayaan. Oh ya, ada gak pocong di Papua?

Sebagai pulau yang baru saja meresmikan bandara udaranya, dan peresmian itu dihadiri oleh Menteri Perhubungan yang diidolakan banyak orang, Pak Jonan, pulau Bawean pun menjadi pusat perhatian banyak orang. Sebelumnya pulau Bawean pun ramai dibicarakan karena kunjungan team My Trip My Adventure. Beberapa kali acara jalan-jalan tersebut diputar di televisi dan disusul kemudian dengan banyak liputan berita online. Bawean menjadi demikian menarik untuk dikunjungi dan dikagumi. Tapi, hey, siapa dari semua staff menteri dan para turis itu yang peduli pada aspek budaya kehantu-hantuan? Tidak mungkin ada. Dalam semua acara jalan-jalan, baik dalam kerangka wisata alam maupun wisata budaya, hantu tidak pernah punya tempat untuk dibicarakan. Yang selalu muncul pastilah seputar pantai, gunung, tari-tarian, dan pakaian. Malah, hantu selalu ditempatkan dalam segmen acara untuk menakut-nakuti orang dan erat hubungannya dengan kesyirikan. Belum ada yang berdiri dan bicara bahwa hantu adalah produk budaya. Bahwa hantu adalah konsep bawah sadar yang bermain dalam pikiran manusia dan mewujud ketika ketakutan menyergap benak si individu bersangkutan.

Islam mengajarkan keimanan kepada makhluk gaib, tapi tidak kepada hantu. Makhluk halus (jin) memang ada, dan dia memiliki kemampuan memanipulasi yang sangat luar biasa. Karena itulah kita harus berhati-hati. Kalau kita mengamati terjemah dari doa-doa, baik yang diajarkan oleh Rasul maupun yang dikutip dari Al-Qur’an, untuk menghadapi situasi menakutkan tidak ada satu pun ayat yang memiliki arti: terbakarlah kau setan, pergilah kau pocong, modar kon kuntilanak, jadilah abu kau genderuwo, atau yang semacam itu. tidak ada. Tapi semua doa-doa itu memiliki makna pengagungan kepada Allah, mengingatkan kekuasaan dan kekuatan Allah atas seluruh alam, ajaran agar manusia berlindung kepada Allah, juga jaminan penjagaan dari-Nya. Semua doa itu memiliki kekuatan penyembuh psikologis yang sangat ampuh—ampuh untuk menenangkan jiwa dan menguatkan tekad.

Bagaimana dengan pengakuan jutaan orang yang melihat hantu sungguhan? Saya tidak akan menolak hal itu. karena saya pun pernah mengalaminya. Dan itu tidak mustahil karena memang jin memiliki kemampuan untuk memanipulasi, baik itu memanipulasi wujudnya atau memanipulasi pandangan mata kita. Tapi yang menarik untuk dipahami di sini, mengapa hantu-hantu itu hanya muncul sesuai dengan pemahaman kita akan hantu? Hantu-hantu itu hanya muncul sesuai denan kebudayaan kita, tidak pernah melenceng sedikit pun. Orang Bawean seumur-umur tidak pernah bertemu hantu leak Bali. Orang Aborigin tidak pernah bertemu hantu kuntilanak, orang Eskimo tidak pernah bertemu pocong walaupun mereka menjelajahi tempat paling angker di dunia. Bahkan, yang paling luar biasa, tidak pernah para penambang pasir bertemu suster ngesot di galian pasir! Tidak pernah. Hantu-hantu itu hanya muncul sesuai dengan konteks kebudayaan masing-masing orang. Penggali pasir tidak pernah berpikir akan bertemu suster ngesot di galiannya, bukan?

Jadi, bisa kita tarik kesimpulan bahwa hantu sebenarnya adalah produk budaya—tak ada bedanya dengan lagu-lagu tradisional. Dan ada jutaan macam hantu di dunia ini karena setiap kelompok masyarakat memiliki kebudayaannya masing-masing. Sedangkan penampakan (peristiwa seseorang melihat hantu) pun tidak pernah lepas dari konteks budayanya. Orang dari kebudayaan tertentu hanya melihat hantu yang diwariskan oleh budayanya sendiri. Terlebih, ada kemungkinan besar apa yang disangka hantu itu sebenarnya adalah manipulasi psikologisnya saja. Ketakutan yang merangsang syaraf untuk memunculkan imej-imej menakutkan sesuai konteks budayanya. Lalu ketakutan itu dibawa pulang dan diceritakan pada orang-orang di kampung. Akibatnya, yang awalnya hanya kain putih tersangkut di ranting manga berubah menjadi bukti keberadaan pocong peneror. Wallahua’lam. #aruliterature

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

3 Responses

  1. Ada pocong di Papua? Ohh haha, mungkin tidak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: