• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Nasihat Penting Bagi Calon Penulis: Tantangan yang Menunggu Anda (tips menulis no. 1)

penulis bersedih.jpgSaya akan memulai tulisan ini dengan petikan dari kehidupan seorang penulis perempuan yang sangat-sangat terkenal. Dia menjadi salah satu tokoh sastra Inggris modern. Dibaca dalam puluhan bahasa, diterbitkan ribuan kali dan masih terus dibeli sampai hari ini. Pada suatu hari menjelang akhir hayatnya, dia pergi ke sungai Ouse dan mengisi semua sakunya dengan batu-batu. Kemudian dia melompat ke dalam sungai dan baru muncul lagi sebagai mayat. Dia penulis terkenal bernama Virginia Woolf.

***

Inilah fakta kehidupan penulis yang harus Anda ketahui: kebanyakan orang yang menulis (naskah) novel, naskah tersebut tidak pernah terbit, sedangkan naskah yang berhasil terbit, tidak sampai setengahnya yang berhasil cetak ulang, bahkan, novel yang sudah terpajang di rak-rak toko buku, banyak yang tidak sampai habis terjual. Semua ini menjelaskan pada kita bahwa memilih profesi sebagai penulis tidak seperti memilih profesi yang lain. Peluang menjadi penulis jauh lebih kecil dari pada menjadi pegawai di sebuah perusahaan. Bahkan, jika dibandingkan dengan menjadi guru, peluang menjadi penulis sangat jauh di bawah peluang menjadi guru. Untuk menjadi guru, jika tidak ada satu pun sekolah atau lembaga bimbingan belajar yang mau menerima, Anda masih punya kesempatan untuk membuka kursus di rumah. Tapi penulis, ketika tak ada satu pun penerbit yang mau menerbitkan naskah novelnya, Anda belum menjadi ‘penulis’ walau semenit pun. Jelas, profesi penulis adalah profesi yang tak remeh dan tak mudah dan tak banyak membuka lowongan.

Karena itu, jika Anda berniat untuk menjadi seorang penulis yang dterbitkan naskahnya, ingat, naskah yang

bagus saja tidak cukup. Sangat tidak cukup. Yang Anda butuhkan adalah menghasilkan naskah yang luar biasa. Ada sangat banyak naskah yang buruk di luar sana, naskah yang bagus jumlahnya pun melimpah, sedangkan naskah luar biasa, itu yang tidak semua orang bisa menghasilkannya. Maka jadilah bagian dari orang yang sedikit itu. Mengapa naskah yang bagus saja tidak cukup untuk diterbitkan sebuah penerbit? Karena penerbitan adalah sebuah bisnis. Dan dia adalah bisnis yang keras.

Perhatikan perhitungan kasar ini, jika sebuah buku seharga Rp. 45.000, dengan Rp. 15.000 adalah laba yang didapatkan penerbit, dan Rp. 30.000 adalah biaya yang dikeluarkan penerbit untuk memproduksi buku tersebut, maka untuk menerbitkan 3000 eksemplar saja sebuah penerbit harus menginvestasikan uang sejumlah Rp. 90.000.000. itu bukan jumlah yang kecil, kawan! Dan siapakah di dunia ini yang mau melakukan pertaruhan dengan uang 90.000.000? Naskah yang sekedar bagus saja tak ubahnya dengan melakukan pertaruhan tanpa jaminan. Hanya naskah luar biasa yang diharapkan sebuah penerbit.

Karena penerbitan merupakan sebuah bisnis, maka inilah fakta yang paling mendasar: penerbitan bukanlah tentang adil atau tidak, bagus atau tidaknya sebuah naskah, tapi, layak jual atau tidak sebuah naskah. Anda mungkin akan terheran-heran, bahkan sampai marah menginjak-injak es krim mendapati sebuah buku buuuaaguuus ternyata hanya sekali cetak, selanjutnya hilang dari peredaran. Sementara itu, buku yang lain, dengan kualitas yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tapi naik cetak sampai puluhan kali dan best seller. Mengapa itu terjadi? Apakah penerbit sedang berencana menghancurkan kualitas umat manusia? Bukan, bukan begitu, tapi itulah yng dimaksud dengan bisnis. Produk yang mampu bersaing dan laris di pasar, maka produk itulah yang akan terus beredar dan terjual.

Sebagai contoh, ada beberapa buku yang mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang-orang hebat di negeri ini, tapi buku tersebut justeru tidak diterbitkan di sini. Kata mereka, tidak ada penerbit yang bersedia. Alasan dari semua ini sangat jelas, karena buku-buku tersebut terlalu kontroversial (menyinggung keberagamaan, ras, dll.). Sedangkan buku yang terlalu kontroversial bukanlah buku yang bagus untuk diproduksi. Memangnya siapa yang mau mengelurkan puluhan juta rupiah membayar pekerja, membeli kertas, membeli tinta, bayar listrik, memproduksi buku, jika ujung-ujungnya hanya akan digugat masyarakat dan dicekal oleh pemerintah?

Lantas, kalau begini ceritanya, untuk apa bercita-cita menjadi penulis? Tidakkah ini hanya akan menjadi penyia-nyiaan umur saja? Nah, di sinilah letak pembedanya. Jika Anda menjadi penulis dengan tujuan untuk mendapatkan profit yang besar dan ketenaran, saya ingatkan, hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Dan saya tidak tahu apakah ada jaminan bagi Anda untuk mengikuti jejak mereka. Buktikan saja pernyataan saya ini. Buktikan dengan pergi ke toko buku, baca nama-nama pengarangnya dan hitung hanya berapa nama yang benar-benar dikenal masyarakat. Hitung berapa nama yang benar-benar tidak bekerja selain dengan menulis buku. Hitung berapa nama yang membeli mobil atau rumah dengan hanya menulis buku. Hitunglah dan buat sendiri penilaian Anda. Bandingkan hasil tersebut dengan nama-nama yang selain menulis juga nyambi pekerjaan lain. Manakah yang lebih banyak? Oh ya, omong-omong, kendaraan apa yang kupakai setelah menerbitkan novel pertama? Sebuah sepeda onthel bekas. Aku memakainya untuk berangkat mengajar.

Maka, satu-satunya alasan terbaik bagimu yang ingin menjadi penulis adalah sebuah alasan yang tidak akan membuatmu sakit hati dan putus asa. Apakah itu? anda harus menemukannya untuk diri Anda sendiri. Kalau saya, saya menulis karena menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan, ia adalah kegiatan yang memuaskan, kegiatan yang memberi kesempatan bagi saya untuk mempersembahkan suatu karya yang belum pernah ada sebelumnya dan itu sangat berarti bagi kualitas hidup saya, dan mungkin akan menjadi sangat berarti bagi orang lain yang membacanya. Menulislah bukan untuk mengejar materi, tapi untuk memenuhi dorongan diri yang hanya bisa dicapai dengan menuangkan semua buah pikiran Anda. Jika hal-hal seperti itu yang menjadi dasar kepenulisan Anda, Anda akan terbebas dari sakit hati dan kecewa. Bahkan kalau pun semua penerbit di dunia menolak naskah Anda. Mengapa? Karena pada akhirnya Anda bisa mengubah naskah tersebut ke bentuk pdf dan menyebarnya ke seluruh dunia lewat internet. Berbesar hatilah. #aruliterature

Artikel ini disarikan dari situs penulis Ian Irvine

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Baca juga artikel lainnya tentang dunia menulis di sini:

Tips menulis no. 1: Nasihat Penting Bagi Calon Penulis: Tantangan Menunggu Anda

Tips menulis no. 2: Penulis Paling Berhasil adalah Penulis yang Paling Gigih

Tips menulis no. 3: Cara Jitu Meningkatkan Kualitas Tulisan Anda

Tips menulis no. 4: Ketika Naskah Kita Ditolak Penerbit, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Tips menulis no. 5: Beberapa Alasan Penerbit Menolak Sebuah Naskah

Tips menulis no. 6: Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Penulis Ketika Mendapatkan Kontrak Penerbitan Buku?

Tips menulis no. 7: Cara Bijak Mengelola Royalti Buku Anda

Tips menulis no. 8: Cara Tepat Dan Bijak Menghadapi Editor

Tips menulis no. 9: Mengapa Naskah Yang Sudah Diterima Tidak Kunjung Terbit

Tips menulis no. 10: Bisakah Terjadi Naskah Yang Sudah Diterima Ternyata Batal Terbit

Tips menulis no. 11: Bukuku Terbit, Apa Yang Harus Kulakukan?

Advertisements

5 Responses

  1. Terimakasih. Sangat bermanfaat.
    Saya menulis untuk sebuah sejarah, yang membuktikan bahwa saya pernah hidup/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: