• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Cara Jitu Meningkatkan Kualitas Tulisan Anda (tips menulis no. 3)

gadis cantik membaca buku
Bagaimana cara memperbaki kualitas tulisan Anda? Beberapa penulis besar telah menuliskan tips-tips bermanfaat untuk menjawab persoalan ini. Berikut saya sajikan kepada Anda:

1. Banyak membaca. Hanya dengan banyak membaca Anda bisa meningkatkan kualitas tulisan Anda karena dari bacaan-bacaan tersebut Anda akan mendapatkan limpahan pengetahuan baru. Bahkan, menurut Stephen King, yang lebih bermanfaat bagi seorang penulis untuk belajar adalah buku jelek, bukannya buku bagus. Mengapa? Karena buku jelek membuat penulis yang membacanya menjadi bersemangat, percaya diri, dan tahu apa yang harus dihindari agar tidak menghasilkan buku yang sama jeleknya. Saya percaya pada beliau ( dalam hal mengambil bahan bacaan, termasuk di dalamnya buku-buku di luar bidang Anda untuk meluaskan wawasan).

2. Perbanyak menulis; menulis apa saja, khususnya

genre yang sudah Anda pilih. Setelah Anda banyak membaca, lanjutkan dengan kegiatan menulis. Menulis dan teruslah menulis. Memangnya apa lagi yang perlu Anda lakukan? Anda seorang penulis, bukan pembunuh bayaran, kan? Bahkan, suatu ketika, ada seorang penulis yang mengisi seminar menulis hanya dengan beberapa kata saja: kalian datang ke sini untuk belajar menulis? Pulang dan mulailah menulis. Sekarang juga!

3. Bergabung dengan grup menulis dan belajarlah dari semua orang di sana. Para penulis senior biasanya akan membagikan tips-tips seputar kepenulisan. Anda bisa meraup demikian banyak ilmu di grup-grup tersebut. Bahkan, sebagain besar gratis.

4. Baca buku panduan menulis, atau browsing artikel menulis di internet.

5. Dapatkan kritik dan saran. Untuk mendapatkan hal ini tentu Anda harus menunjukkan karya Anda pada seseorang / beberapa orang. Karena naskah yang Anda tulis tujuannya untuk dikonsumsi orang lain (pembaca = pembeli), maka penilaian Anda pribadi tidak bisa menjadi jaminan atas kualitas naskah yang Anda tulis sendiri. Anda harus menujukkannya pada orang yang Anda percaya. Dan untuk hal itu pun ada etika yang harus Anda perhatikan: jangan meminta rekan Anda membaca lebih dari tiga bab—sebagian orang membatasi pada tiga puluh halaman. Jika menurut mereka tiga bab—tiga puluh halaman—tersebut bagus, maka Anda punya naskah yang bagus. Selain itu, membaca naskah mentah bukanlah hal yang benar-benar menyenangkan, maka jangan siksa teman Anda dengan terbebani perasaan harus membaca naskah mentah setebal 578 halaman! Berikutnya, jangan membantah orang yang memberi kritik atau saran. Ingat, Anda yang butuh, bukan mereka. Kemudian, tampunglah semua saran tersebut untuk Anda olah guna memperbaiki naskah Anda.

Dan, kalau boleh saya tambahkan dari pengalaman pribadi:

6. Semua tergantung pada Anda. Mungkin ini tips yang konyol di antara semua tips hebat sebelumnya, tapi jujur saja tips nomor 6 adalah yang paling hebat di antara yang lainnya. Perhatikan, sehebat apa pun tips yang Anda dapat, secanggih apa pun saran yang Anda peroleh, sebanyak apa pun motivasi yang Anda reguk, akhirnya semua kembali tergantung pada Anda untuk menjadikannya bermanfaat atau sia-sia. Jika yang Anda lakaukan setelah membaca artikel ini hanya berguling di dipan, main HP, bagi-bagi komentar, cek status orang, cek tweet orang, melototin foto orang, Anda tidak akan pernah menjadi lebih baik dari enam menit sebelumnya. Saya pastikan itu. Maka wujudkan apa yang Anda impikan dalam rupa tindakan nyata.

***

Sekali lagi saya tegaskan, hanya penulis yang bekerja paling keras dalam memperbaiki kualitasnya yang dapat mencapai penerbitan, bahkan mungkin, kesuksesan. Dan jika kesuksesan itu berhasil Anda dapatkan, nikmatilah selagi ia terjadi. Karena mungkin saja kesuksesan itu tidak bertahan lama. Jangan berharap Anda akan selamanya bersinar. Itu tidak terjadi kecuali pada beberapa orang. Bersiap untuk menghadapi hal yang buruk akan lebih bijaksana. Bisa kita lihat siapa saja penulis yang tadinya sangat terkenal, di kemudian hari, dia tenggelam. Tak terdengar.

Untuk lebih memahami dinamika penerbitan, mari kita lihat sebuah contoh sibuknya penerbitan dari benua tetangga kita sebagai perbandingan. Kita akan menonton peristiwa yang terjadi di Australia. Di Benua Kangguru tersebut, setiap penerbit rata-rata mendapatkan kiriman 4000 – 5000 naskah setiap tahunnya. Itu sama dengan sekitar seratus judul per-minggu.

Masalahnya, penerbitan merupakan bisnis yang bersaing ketat sementara labanya tidak seberapa pesat. Dan tidak ada penerbit yang sanggup membayar banyak orang untuk membaca semua naskah sampai tuntas. BAHKAN, beberapa penerbit tidak melirik naskah yang tidak direkomendasikan. Mereka akan langsung mengembalikan naskah-naskah ‘jomblo’ seperti itu jika disertai perangko. Jika tidak ada perangko? Langsung saja disobek. Jadi, naskah macam apakah yang diperhatikan oleh para penrbit di Australia? Hanya naskah-naskah yang disajikan dengan professional dan mendapat rekomendasi.

Anggaplah naskah yang memenuhi syarat hanya separuh dari total naskah yang masuk, itu artinya, hanya sekitar 2500 judul. Dari jumlah tersebut, sekitar 90% ditolak setelah dibaca halaman pertamanya. Dan dari yang lolos seleksi halaman pertama, 98% akan ditolak setelah bab ke tiga rampung. Maka yang tersisa dari 5000 judul buku hanya sekitar 30 – 50 judul saja. Maka hanya merekalah yang TAMPAKNYA akan mendapatkan nasib baik. TAPI, di tahun-tahun yang baik, buku terbit paling hanya sekitar 10 judul. Pada tahun yang buruk, kurang dari lima yang mungkin akan diterbitkan. Dari 5000 naskah, hanya lima sampai sepuluh naskah yang naik cetak dalam setahun. Itu terjadi di Australia. Bagaimana dengan di negara kita?

Pelajaran dari kisah di atas sangat jelas, bahwa jika Anda memang ingin menerbitkan buku Anda, ingat, pastikan tiga bab pertama Anda benar-benar hebat dan memikat! Dan, itu harus dimulai sejak halaman pertama!

Lantas, bagaimana caranya agar naskah Anda bisa terbit? Temui para penerbit secara langsung. Itu cara yang paling baik sekaligus merepotkan. Hahaha. Untuk bertemu langsung dengan penerbit, atau orang-orang yang bisa membawa Anda pada penerbitan buku, Anda harus berkunjung ke book fair, workshop penulisan, bergabung dengan grup fb penerbit, follow twitternya, atau, cara yang selalu kulakukan: LANGSUNG KIRIM KE EMAILNYA. Yup, nekad aja! Seorang kawan suatu hari menasihatiku, lebih baik naskahmu ‘nganggur’ tiga bulan di meja redaksi dari pada tiga bulan yang sama nganggur di komputermu. Dan memang itulah yang kulakukan dengan novel pertamaku. Dengan terlebih dahulu memantapkan hati tidak akan ‘mati’ untuk ditolak lagi, kukirimkan naskah tersebut.

Akhirnya, setelah beberapa penerbit, dia pun mendapatkan jodohnya bersama Gradien Mediatama, Jogja. Hanya saja, kebanyakan penulis baru selalu ragu dan takut-takut untuk mengirimkan naskahnya. Ingat, jika Anda sudah mengetik naskahnya dengan EYD yang benar, ukuran kertas yang tepat, margin yang disyaratkan, dan jumlah halaman sesuai ketentuan, Anda tidak punya lagi alasan untuk dikhawatirkan. Tinggal ikuti saja peraturan pengiriman naskah penerbit yang Anda tuju, kemudian, KIRIMKAN! #aruliterature

Artikel ini disarikan dari situs penulis Ian Irvine

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Baca juga artikel lainnya tentang dunia menulis di sini:

Tips menulis no. 1: Nasihat Penting Bagi Calon Penulis: Tantangan Menunggu Anda

Tips menulis no. 2: Penulis Paling Berhasil adalah Penulis yang Paling Gigih

Tips menulis no. 3: Cara Jitu Meningkatkan Kualitas Tulisan Anda

Tips menulis no. 4: Ketika Naskah Kita Ditolak Penerbit, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Tips menulis no. 5: Beberapa Alasan Penerbit Menolak Sebuah Naskah

Tips menulis no. 6: Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Penulis Ketika Mendapatkan Kontrak Penerbitan Buku?

Tips menulis no. 7: Cara Bijak Mengelola Royalti Buku Anda

Tips menulis no. 8: Cara Tepat Dan Bijak Menghadapi Editor

Tips menulis no. 9: Mengapa Naskah Yang Sudah Diterima Tidak Kunjung Terbit

Tips menulis no. 10: Bisakah Terjadi Naskah Yang Sudah Diterima Ternyata Batal Terbit

Tips menulis no. 11: Bukuku Terbit, Apa Yang Harus Kulakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: