• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Cara Bijak Mengelola Royalti (Pembayaran) Buku Anda (tips menulis no. 7)

royalti penulis
Mengapa saya menyarankan Anda untuk tidak terlalu memperhitungkan keuntungan material atas buku pertama Anda? Karena, menerbitkan buku perdana dari seorang penulis ‘tanpa nama’ bagi sebuah penerbit sama dengan melakukan ‘perjudian’ yang sangat riskan. Resiko yang harus ditanggung penerbit tampak lebih besar dari pada kemungkinan laba yang mereka dapatkan. Bayangkan, jika Anda seorang penulis baru, menulis buku tentang kisah perjuangan pendidikan dan terbit pada bulan Agustus, TERNYATA, pada bulan yang sama Tere Liye juga menerbitkan buku barunya! Buku Anda dan Tere Liye dipajang di toko buku yang sama tapi di rak berbeda. Kira-kira, pembeli lebih cenderung mendatangi rak penulis yang mana? Nah, itulah yang saya sebut sebagai risiko. Setiap genre novel sudah ada ikon-nya, sedangkan penulis baru adalah makhluk asing yang tak seorang pun tahu kualitasnya. Bagi pembaca, lebih bailk membeli buku penulis yang sudah dia kenal daripada harus gambling membeli karya penulis baru yang tidak dia tahu recordnya. Maka jika Anda mendapatkan tawaran kontrak, itulah rejeki Anda, kesempatan besar Anda, ambil dan rayakan.

Dengan demikian, uang muka yang diberikan penerbit, atau besaran royaltinya, biasanya disesuaikan dengan taksiran penjualan sebuah naskah—namun tak jarang ada pula penerbit yang tidak memberi uang muka. Jika naskah Anda dinilai tidak akan terjual sangat laris—dengan berbagai pertimbangan—maka uang muka dan royalty Anda tidak akan terlalu besar jumlahnya. Tapi, ketika Anda sudah menjadi sosok yang menjual, uang muka yang Anda dapatkan akan mengejutkan semua tetangga Anda yang jadi PNS golongan A sekalipun. Hahaha. Mungkin, ding.

Lantas apa yang harus Anda lakukan dengan pendapatan yang ‘tidak seberapa tadi?’ well, tolong jangan habiskan untuk hal-hal yang kurang berguna. Seperti, dikeluarkan untuk makan-makan, beli pakaian, ganti sepatu, mengecat rambut, dsb. Tapi gunakanlah uang itu untuk PROMOSI BUKU ANDA. Apa? Untuk promosi? Yup, karena tidak ada orang lain yang akan melakukan promo serius bagi buku Anda selain Anda sendiri. Bagaimana dengan penerbit? Tidakkah mereka melakukan promo juga bagi naskah kita? Jangan lupa, penerbit tidak hanya menerbitkan buku Anda, kan? Mereka menerbitkan beberapa pada saat yang sama dan ada banyak yang harus dikerjakan. Bahkan mungkin mereka punya beberapa judul yang harus diurus dengan serius—biasanya itu buku-buku yang menjanjikan. Bahkan, kadang, ada beberapa buku yang dipromosikan penerbitnya hanya selama seminggu! Maka ini tugas Anda untuk membuat buku Anda popular. Anda yang akan menjadikannya dikenal dan dicari masyarakat. Anda orang tua buku tersebut, Anda pula yang akan membesarkannya. Dan, tentu saja, manfaatnya akan kembali kepada Anda.

Alasan lain untuk tidak berharap bayaran yang besar untuk buku perdana adalah: Anda sangat mungkin sekali untuk membangkrutkan penerbit. Hahahaha. Maaf untuk kalimat yang menjengkelkan tapi benar itu.

Perhatikan, sebuah buku yang terbit diharapkan akan terjual laris, tentu saja. Caranya? Dikirimlah buku tersebut ke toko-toko buku konvensional—khususnya di negara kita, pembelian langsung ke toko buku masih lebih popular dari pada pembelian on line. Tapi, jika buku Anda tidak terjual laris, toko buku akan segera mengembalikannya ke penerbit. Ingat, sebuah buku tidak selamanya dipajang di etalase / rak. Paling tidak sebuah buku punya jatah satu bulan untuk nampang. Jika dalam masa pajang tersebut penjualannya tidak baik, dia akan segera di usir bulan depan. Buku yang lain akan segera mengambil tempatnya.

Nah, ketika buku sudah dikembalikan ke penerbit, maka peluang buku tersebut untuk terjual akan menjadi jauuuuuh sangat kecil. Itu artinya, karya Anda telah menjelma menjadi “produk gagal”. Dan jika buku Anda membuat sebuah penerbit bangkrut, bisa dipastikan, Anda akan dijauhi oleh penrbit tersebut. Jika kabar itu menyebar ke penerbit yang lain, ehm, mereka akan ketakutan mendengar nama Anda.

Berbeda dengan pembayaran kecil untuk buku perdana. Jika ternyata buku perdana Anda terjual laris, penerbit akan segera merasakan untungnya. Karena pengeluaran yang diberikan dengan cepat segera tertutupi. Secara naluriah, seseorang akan merasa ia sudah beruntung. Hey, itu artinya buku Anda menempati posisi pembawa keberuntungan. Dan jika ternyata buku tersebut dicetak ulang dan lagi-lagi mendapatkan laba, bisa dipastikan Anda akan dicintai penerbit tersebut dan diminta untuk menulis lagi buatnya. Bukan Anda yang mengajukan naskah ke dua, tapi mereka yang meminta. Selamat, Kawan.

Namun demikian, Anda pun tak boleh menjual naskah Anda terlalu murah. Standar royalty penulis—sejauh yang saya tahu—adalah 8% dari laba. Jika Anda mengatakan pada penerbit bahwa pembayaran 2% saja sudah cukup, itu sama dengan bunuh diri! Maksudnya, semakin kecil pembayaran yang Anda minta, mencerminkan kecilnya rasa percaya diri Anda terhadap naskah Anda sendiri. Jika sebuah penerbit ‘membeli’ buku dengan murah, mereka sama saja tidak mengorbankan apapun, akibatnya, promosi tidak akan maksimal. Karena bagi penerbit, penjualan kecil saja sudah bisa menutupi segala pengeluaran produksi buku murah tersebut. Nasib buku Anda akan diremehkan dan tidak dihargai. Biasanya, semakin mahal sebuah buku dibeli, semakin besar pula promosinya—tapi itu tidak terjadi pada semua orang, jangan lupa itu. Di lain pihak, jika Anda menjual naskah Anda dengan harga biasa, tapi dengan kerja keras Anda berhasil membuat buku itu laku di atas perkiraan penerbit, Anda akan menjadi makhluk yang mereka cintai sepenuh hati. Penerbit menyukai para penulis yang bekerja keras #aruliterature

Artikel ini disarikan dari situs penulis Ian Irvine

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Baca juga artikel lainnya tentang dunia menulis di sini:

Tips menulis no. 1: Nasihat Penting Bagi Calon Penulis: Tantangan Menunggu Anda

Tips menulis no. 2: Penulis Paling Berhasil adalah Penulis yang Paling Gigih

Tips menulis no. 3: Cara Jitu Meningkatkan Kualitas Tulisan Anda

Tips menulis no. 4: Ketika Naskah Kita Ditolak Penerbit, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Tips menulis no. 5: Beberapa Alasan Penerbit Menolak Sebuah Naskah

Tips menulis no. 6: Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Penulis Ketika Mendapatkan Kontrak Penerbitan Buku?

Tips menulis no. 7: Cara Bijak Mengelola Royalti Buku Anda

Tips menulis no. 8: Cara Tepat Dan Bijak Menghadapi Editor

Tips menulis no. 9: Mengapa Naskah Yang Sudah Diterima Tidak Kunjung Terbit

Tips menulis no. 10: Bisakah Terjadi Naskah Yang Sudah Diterima Ternyata Batal Terbit

Tips menulis no. 11: Bukuku Terbit, Apa Yang Harus Kulakukan?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: