• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

NASKAHKU TERBIT! Apa yang harus kulakukan? [tip menulis no. 11]

image

Tidak peduli apakah Anda penulis local atau internasional, apakah Anda pemula atau penulis kawakan, ketika buku Anda sudah terbit dan sejak hari pertama buku tersebut dipajang di toko buku, sejak saat itu pulalah buah karya Anda melakukan persaingan level internasional. Ya, benar, persaingan tingkat internasional, bukan sekedar persaingan tingkat kabupaten.

Pergilah ke tokok buku dan buktikan pernyataan ini. Anda akan menemukan di toko buku mana pun bahwa tidak peduli buku karya penulis local maupun luar semuanya tersaji di tempat yang sama. Semua bersaing di rak yang sama, di meja yang sama, di display yang sama. Seketika saja namamu bersandingan dengan nama Khaleed Hosseini. Dengan cara ini, Anda tidak lagi bersaingan dengan si Otong teman bermain gundu di bawah pohon randu, tapi ada ‘saling sikut’ secara langsung dengan para penulis dunia!

Anda berlomba-lomba dengan Tolkien untuk menarik minat pembeli (baca: pembaca), Anda face to face adu karya dengan John Connolly, Anda balapan

gas pol dengan Dan Brown, Anda dengan terbuka berlomba melawan Lee Child, berseteru secara langsung dengan Orhan Pamuk, saling sikut dengan Paulo Coelho, saling gigit dengan Stephenie Meyer, saling teror dengan Stephen King, saling sihir dengan JK Rowling. Dan tentu saja Anda terang-terangan saling banting dengan Andrea Hirata, Tere Liye, Dee, Kang Abik, Tasaro., dll Astaga, bisakah Anda bayangkan ‘bahaya’ macam apa sebenarnya yang sedang menunggu anak pertama Anda di toko buku? Jika Anda yang disuruh berdiri di sana di salah satu rak toko buku untuk menggantikan buku pertama Anda yang sedang istirahat, apakah Anda berani? Hahaha. Maaf, saya berlebihan. Dan oh ya, keadaan ini bukan hanya dialami penulis pemula, tapi semua penulis! Semuanya.

Kita bisa saja menggunakan sudut pandang terbalik: kapan saja John Connolly, Dan Brown, Lee Child, Paulo Coelho, Stephenie Meyer, atau siapapun itu, menerbitkan buku, maka mereka tak mau harus menghadapi Anda di toko buku! Aha, sepertinya ini terdengar lebih menyenangkan dan penuh harapan dibandingkan yang pertama tadi. Memangnya mereka itu siapa kok harus memaksa Anda menghadapi mereka? Buatlah mereka menghadapi Anda. Hahaha.

Masalahnya, hampir semua genre buku sudah punya ikonnya masing-masing. Urusan kisah fantasi tingkat tinggi orang mengenal nama JRR Tolkien, urusan fiksi ilmiah, orang mengenal nama Jules Verne, urusan kisah petualangan ala detektif bernuansa seni, orang hapal nama Dan Brown, urusan kisah romantic dengan tokoh utama vampire, orang memilih Bu Meyer, urusan cerita sihir-sihiran, orang percaya Mbak Rowling, dan soal cerita horror, Stephen king adalah rajanya. Dan sebagaimana teori perdagangan yang sudah kita kenal sebelumnya, konsumen cenderung mengambil produk dari produsen yang mereka kenal. Pembaca cenderung membaca buku dari penulis yang sudah mereka suka. Oleh karena itu, begitu Anda menjadi penulis yang terbit bukunya, Anda harus tahu bahwa perjuangan Anda justeru akan menjadi lebih berat. Bukannya buku terbit lantas semua beres dan berjalan mulus seperti angin berhembus. Kini Anda tidak hanya melawan rasa malas diri Anda sendiri, atau rasa minder diri Anda sendiri, atau apa saja dari diri sendiri. Anda menghadapi semua orang hebat dari seluruh penjuru bumi. Untuk itu Anda perlu melakukan acrobat memikat agar orang memilih buku Anda. Personal branding! (aku bersyukur sampai sekarang PBB belum menyetujui proposa para penerbit dari planet lain untuk memasarkan bukunya di bumi).

Nah, itulah yang perlu Anda lakukan. Anda harus berusaha untuk membuat pikiran pembaca buku mengingat nama Anda ketika mereka membahas suatu genre. Sebagai contoh, saya akan menyebutkan genre novel islami pembangun jiwa, Anda ingat siapa? Kang Abik! Novel pendidikan berlatar budaya melayu? Andrea Hirata! Novel kocak dan ringan ala remaja? Raditya Dika! Novel bernuansa filsafat? Jostein Gardner! Dan seterusnya, dan seterusnya. Itulah yang perlu Anda lakukan. Ketika nama Anda sudah melekat di sebuah genre tertentu, Anda akan selalu punya pembeli setia. Bagaimana cara melakukan hal itu?

Bisa dengan aktif menulis di sosial media dengan membawa genre Anda—note FB, blogging, status, twit, focus menulis novel dalam satu genre. Dengan begitu orang akan menjadikan genre tersebut sebagai ciri Anda. Dan jangan lupa rumus ini: agar pembaca melekatkan nama Anda di sebuah genre, menulis bagus saja tidak cukup, Anda harus menulis yang hebat! Lakukan riset berkenaan buku yang akan Anda tulis, membaca yang banyak di genre yang Anda pilih, perbaiki skil menulis Anda.

Mengapakah pencitraan diri penting? Karena hal ini berkaitan dengan budaya membeli buku. Budaya membeli para pembaca buku adalah: jika buku perdanamu bagus, orang akan menunggu buku kedua. Lalu, jika pembaca berkenalan dengan karyamu yang ke empat, dan buku tersebut bagus, dia pun akan mencari bukumu yang lama. Mengapa? Karena pembaca lebih memilih novel karya pengarang yang dia ‘kenal’ daripada membeli buku pengarang yang namanya asing di lidah. Bukankah Anda membeli buku juga dengan metode serupa?

Selain itu, diakui atau tidak, nama besar jauh lebih kuat dari pada pujian ataupun cacian. Sebuah novel berjudul The Cuckoo’s Calling karya Robert Galbraith terbit dan penjualannya biasa saja. Akan tetapi, begitu terbongkar rahasia bahwa Robert Galbraith adalah nama samaran JK Rowling, The Cuckoo’s Calling pun langsung meledak menyebru setiap toko buku. Nah, terbukti kan? Padahal kisah yang disajikan tidak berubah, cerita dalam buku itu tidak bertambah atau berkurang, tapi begitu diketahui bahwa penulisnya adalah JK Rowling, sang ibu dari Harry Potter, semua orang pun memburunya. Nah, coba bayangkan, bagaimana jika nama Anda sehebat nama JK Rowling? #aruliterature

Artikel ini disarikan dari situs ian-irvine.com
Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Baca juga artikel lainnya tentang dunia menulis di sini:

Tips menulis no. 1: Nasihat Penting Bagi Calon Penulis: Tantangan Menunggu Anda

Tips menulis no. 2: Penulis Paling Berhasil adalah Penulis yang Paling Gigih

Tips menulis no. 3: Cara Jitu Meningkatkan Kualitas Tulisan Anda

Tips menulis no. 4: Ketika Naskah Kita Ditolak Penerbit, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Tips menulis no. 5: Beberapa Alasan Penerbit Menolak Sebuah Naskah

Tips menulis no. 6: Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Penulis Ketika Mendapatkan Kontrak Penerbitan Buku?

Tips menulis no. 7: Cara Bijak Mengelola Royalti Buku Anda

Tips menulis no. 8: Cara Tepat Dan Bijak Menghadapi Editor

Tips menulis no. 9: Mengapa Naskah Yang Sudah Diterima Tidak Kunjung Terbit

Tips menulis no. 10: Bisakah Terjadi Naskah Yang Sudah Diterima Ternyata Batal Terbit

Tips menulis no. 11: Bukuku Terbit, Apa Yang Harus Kulakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: