• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Mengapa Naskah Yang Sudah Diterima Tidak Kunjung Terbit [tip menulis no. 9]

image

Hoy, naksahku lama banget terbitnya! Kan udah ada di penerbit, udah diterima dan udah diedit. Ada apa ini? Kasus ini benar-benar bisa terjadi, lho. Ah, bukan hanya bisa, tapi sepertinya akan selalu terjadi. Termasuk aku pun mengalaminya. Hahaha. Salah satu naskahku yang lolos ke meja redaksi penerbit dari proses sayembara, ternyata tidak menjamin bahwa ia akan segera diterbitkan. Walaupun semua proses sudah selesai, bahkan cover pun sudah rampung. Penangguhan penerbitan masih menimpa.

Kabar buruknya, Anda belumlah dianggap sebagai ‘penulis sungguhan’ sebelum buku Anda terbit dan Anda bisa memegangnya di tangan Anda. Perlu Anda ketahui dan pahami bahwa perjalanan sebuah buku untuk terbit sungguh amat panjang dan berliku. Ini perlu Anda ketahui agar tidak muncul yang namanya dendam kepada penerbit atau putus asa terhadap cita-cita.

Urusan menerbitkan buku tidak semudah membuat kandang burung merpati, atau mencetak kartu undangan pernikahan. Ada tahapan yang harus dilewati—dan tahapan tersebut tidak hanya satu atau dua—yang mana melibatkan banyak pihak. Akibatnya, proses tersebut cukup memakan waktu dan mustahil selesai dalam hitungan jari. Berikut ini tahapan yang akan dilalui sebuah naskah sebelum akhirnya dia cetak menjadi buku:

1. Desain buku, termasuk di dalamnya desain sampul, layout dan percetakan.
2. Editing, bisa saja melewati beberapa kali pengeditan dan itu memakan waktu yang tidak sebentar. Untuk novel pertama saya, Pemburu Rembulan, aku ingat saya melalui empat atau enam kali editing.
3. Offset dan penyuntingan (proofread) yang bisa saja sampai melewati tiga tahapan.
4. Persiapan sampul. Dalam tahap ini bisa jadi akan disediakan beberapa sampul untuk dipilih mana yang akan dicetak. Jika sebuah sampul ditolak, maka akan diajukan yang lain sampai didapatkan yang pas. Itu artinya harus memberi waktu tambahan bagi sang seniman untuk membuat covernya. Sebagian penerbit memberikan kesempatan bagi penulis untuk ikut merancang covernya. Penerbit yang lain tidak.
5. Rapat-rapat beserta orang-orang yang terkait. Rapat-rapat ini bisa berlangsung beberapa kali dan semakin banyak yang berdebat maka semakin lama pula prosesnya.
6. Penggandaan sampul
7. Persiapan marketing
8. Rapat divisi penjualan
9. Uji sampul dan pencetakan
10. Pencetakan naskah dan penjilidan
11. pengiriman ke gudang-gudang. Biasanya sebulan sebelum tanggal penerbitan.
12. Pengiriman ke toko buku sesuai tanggal terbit yang ditetapkan.
13. Factor non teknis: gejolak ekonomi, naiknya harga kertas, tren belanja musiman masyarakat, perubahan selera mendadak, dll.

Dengan demikian, sangat wajar jika butuh waktu berbulan-bulan bagi sebuah buku untuk lahir ke dunia. Persis seperti kelahiran seorang bayi. Oh ya, perlu juga saya sampaikan bahwa keterangan ini ini saya ambil dari sebuah artikel penulis dari Australia. Artinya, ini proses yang berlaku di Australia. Di Indonesia? Kurang lebih sama.

Di Australia, untuk buku yang mengusung tema sangat hot, semua proses di atas bisa dipangkas dalam waktu dua bulan. Sedangkan untuk penerbitan regular, sebuah buku yang dijadwalkan terbit bulan Oktober prosesnya akan dimulai sejak bulan Januari, sepuluh bulan, kawan!

Tentang cover, penerbit Australia dan Inggris kemungkinan akan melibatkan penulisnya untuk membuat cover. Mereka akan meminta  saran tapi tidak mesti benar-benar mengikuti keinginan sang penulis. Penerbit Amerika, mereka sama sekali tidak akan melibatkan penulis. Sampul murni menjadi urusan mereka. Bahkan, bisa jadi judul akan diganti. Sebagai contoh, di Inggris, Harry Potter seri pertama berjudul: Harry Potter and The Philosopher’s Stone, di Amerika menjadi Harry Potter And The Sorcerer’s Stone.

Di Indonesia, berdasar pada pengalaman saya menggarap tiga buku di tiga penerbit besar berbeda, penerbit melibatkan penulis dalam mendesain cover buku. Untuk buku pertama, Pemburu Rembulan, penerbit mengajukan beberapa contoh cover dan saya pun mengajukan ide saya tentang cover. Kami berdiskusi untuk beberapa saat sampai saya merasa khawatir buku ini akan tunda terbit gara-gara cover. Hahaha. Untunglah, akhirnya Pemburu Rembulan terbit dengan cover murni usulan dari saya. Sedangkan untuk dua buku lainnya, keterlibatan saya hanya sebatas memilih dan menyetujui. Penerbit membuat beberapa pilihan cover, saya memilih yang paling baik menurut saya, lalu diskusi, kemudian deal memilih cover. Baik cara pertama maupun cara kedua, semuanya proses yang menyenangkan dalam menentukan wajah anak kita, apakah cantik atau gagah. Misterius atau lugas. Lucu atau mengintimidasi. Manis atau chubby.

Di lain pihak, saya juga berbicara dengan beberapa teman yang terkejut tiba-tiba saja menemukan sampul bukunya sudah jadi tanpa dia dilibatkan sedikit pun dalam prosesnya. Kesimpulannya, masing-masing penerbit memiliki cara berbeda dalam mengolah cover buku. Yang perlu Anda ingat, penerbit memilih sebuah cover berdasarkan pertimbangan bahwa cover itulah yang akan mendukung penjualan naskah Anda. Cover buku bukan hanya soal memenuhi nilai estetika penulis, tapi lebih dari itu, cover buku bertujuan untuk menarik minat orang lain sehingga dia mau berhenti dan membeli si buku. Dan jangan lupa, penerbit sudah berkali-kali menerbitkan buku, mereka sudah berpengalaman dengan cover dan reaksi pembaca, Anda baru akan pertama kali, bukan? #aruliterature

Artikel ini disarikan dari situs ian-irvine.com
Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Baca juga artikel lainnya tentang dunia menulis di sini:

Tips menulis no. 1: Nasihat Penting Bagi Calon Penulis: Tantangan Menunggu Anda

Tips menulis no. 2: Penulis Paling Berhasil adalah Penulis yang Paling Gigih

Tips menulis no. 3: Cara Jitu Meningkatkan Kualitas Tulisan Anda

Tips menulis no. 4: Ketika Naskah Kita Ditolak Penerbit, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Tips menulis no. 5: Beberapa Alasan Penerbit Menolak Sebuah Naskah

Tips menulis no. 6: Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Penulis Ketika Mendapatkan Kontrak Penerbitan Buku?

Tips menulis no. 7: Cara Bijak Mengelola Royalti Buku Anda

Tips menulis no. 8: Cara Tepat Dan Bijak Menghadapi Editor

Tips menulis no. 9: Mengapa Naskah Yang Sudah Diterima Tidak Kunjung Terbit

Tips menulis no. 10: Bisakah Terjadi Naskah Yang Sudah Diterima Ternyata Batal Terbit

Tips menulis no. 11: Bukuku Terbit, Apa Yang Harus Kulakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: