Posted in 2005 C, ehon

Parajhoka Bawean

arul chandrana
arul chandrana

Pada usia enam tahun, atau di akhir tahun kelima usianya, Arul pindah ke pulau Bawean bersama ibunya. Dan itulah awal dari kesalahan pencatatan yang justru memberinya banyak keuntungan. Seharusnya Arul lahir 17 Juni di Lamongan, tapi kemudian berubah menjadi 17 Mei di Bawean, Gresik. Arul menghabiskan masa kecil dan remajanya di pulau Bawean, lebih tepatnya di kecamatan Sangkapura—kecamatan terbesar di pulau tersebut yang hanya memiliki dua kecamatan—lebih tepatnya lagi di desa kumalasa. Yah, hanya di desa unik itulah Arul berputar-putar hidupnya.

Arul menghabiskan masa Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) yang tak biasa dibanding anak-anak lainnya: sangat suka buku, membaca hampir tiap waktu, dan ikut kakaknya menjaga ladang di gunung. Menghabiskan masa Tsanawiyah (setingkat SMP) yang masih juga tak biasa dengan anak sesusianya: sangat suka buku, membaca hampir tiap waktu, ikut kakaknya menjaga huma di gunung, dan menulis begitu banyak cerita. Kegiatan menulis ini sudah ditekuninya sejak kelas enam Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan pada saat itu, teman-temannya sudah mulai membahas pacaran. Dan, diapun lagi-lagi menghabiskan masa-masa ‘Aliyah (setingkat SMA) yang benar-benar tak biasa dengan teman-temannya saat itu: sangat suka buku, membaca hampir tiap waktu, ikut kakaknya menjaga huma di gunung, menulis begitu banyak cerita hampir tiap kesempatan dan mengirimkannya ke majalah Horison! Ya, mengirimkannya ke majalah sastra Horison itu. Kalau saat itu ada teman sekelasnya, bahkan mungkin teman se-sekolahnya tentang apa itu majalah Horison, pastilah mereka tidak bisa menJawabnya. Mengapa? Apa sehebat itukah si Arul itu? Semengherankan dan seberbeda itukah anak keturunan itu? Bukan, tapi karena di sekolahnya tidak ada majalah Horison, karena sekolah yang sangat dicintainya itu tidak lagi memiliki perpustakaan! Dia mendapat majalah legendaris itu dari sepupunya—Budi—yang bersekolah di SMA Negeri 1 Sangkapura.

Setelah lulus Aliyah, Arul melanjutkan pendidikannya ke Jawa, tepatnya di UNIROW, Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (saat itu masih bernama IKIP PGRI Tuban). Mengenai kisah bagaimana dia bisa ke kampus “misterius” itu dan bagaimana kisahnya di sana, silahkan anda baca cerpen spektakulernya “Bagaimana Aurora Tercipta dan Berkemilau Terang”. Mengapa cerpen itu spektakuler? Karena cerpen itu diwariskan turun temurun kepada mahasiswa-mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kepada teman-teman sekelasnya, adik-adik angkatannya, cerpen itu dibagi-bagikan oleh Arul. Bahkan, dengan koneksi yang banyak, cerpen itupun sampai keluar kampus, dibaca anak-anak SMA dan SMP. Maka terkenallah dia dan teman-temannya. Untuk usahanya yang ambisisus itu, Arul menggunakan uangnya sendiri, mulai dari pengetikan, print, sampai penggandaan dan penyebaran. Nah, ketika uangnya yang tak banyak itu mulai semakin tak banyak, dengan lihai—aku khawatir kata yang tepat adalah dengan kejam—dia meminta teman-teman sekelasnya untuk menyumbang buat menggandakan cerpen itu. Lalu dia sebarkan pada adik-adik kelasnya.

Arul adalah seorang penulis. Dan dia telah melewati apa yang disebut orang sebagai cobaan para penulis untuk itu (bahkan mungkin sedang mengalaminya saat tulisan ini dibuat). Waktu dia masih Madrasah Ibtidaiyah dulu, atau pertengahan kelas satu Tsanawiyah, kakak perempuannya pernah memarahinya karena dia membeli sebuah buku tebal—kalau tidak salah seharaga lima ribu rupiah—hanya untuk menulis cerita-cerita dan puisi-puisinya. Sebelumnya, Arul selalu menggunakan buku sisa pelajaran sekolah miliknya dan kakak atau sepupunya untuk menulis..Tapi Arul bergeming, sekalipun tak ada satu orang jua yang mau mengapresiasi karya-karyanya—atau karena memang tak ada satu orang pun yang tertarik di bidang itu—dia terus melanjutkan kegiatannya menulis dengan tetap berfikir bahwa suatu saat nanti semua itu akan datang saat keberhasilannya. Atau, jika ternyata dia memang harus mati sebelum saat keberhasilan itu datang, dia setidaknya sudah punya sesuatu untuk ditinggalkan. Untuk dikenang. Untuk disedihkan setiap kali tulisannya dibacakan.

david the kampret man
Perubahan besar memang datang saat dia mulai kuliah di Tuban itu. Dia bertemu David, orang pertama yang benar-benar bisa mengerti apa yang sedang diimpikannya dan kekuatan apa yang bersemayam dalam dirinya. David akan tertawa terbahak-bahak tiap kali membaca tulisan konyolnya, tapi juga akan tertegun membaca kekuatan bahasa yang disusunnya, atau terkesan akan keanehan caranya menyusun adegan dalam cerpen-cerpennya. Maka, David pun memulai perannya. Untuk pertama kalinya, Arul menggunakan blog untuk memulai karir penulis profesionalnya, dan yang membuatkannya dalah: ya si David itu. “tulisanmu akan dibaca orang, dank au bisa jadi penulis terkenal! Aku percaya itu. Tulisanmu kuat. Kau berbeda dengan yang lain. Kau memiliki bahasa yang tak bisanya. Dan itu sangat unik. Kau bilang apa itu namanya? Bertenaga? Ya, kau bertenaga!” itu yang dikatakan David saat untuk pertama kalinya Arul mulai ngeblog.

Saat itu, blognya beralamat di http://www.arulchandrana.penulisindonesia.com, sungguh sebuah nama yang panjang. Dan entah bagaimana, setelah tiga atau empat bulan, blognya itu hilang. Berikut domainnya. Lenyap. Tak berbekas. Tanpa sisa di dunia maya. Dan David tertawa terbahak-bahak. Dia bilang, harusnya aku membuatkanmu di tempat yang lebih bertanggung Jawab. Aku tahu itu: wordpress! Tapi untuk blog yang kedua ini. Arul sendiri yang membuatnya. Hanya saja, jika anda bertanya: Arul juga yang membuat tampilan yang indah ini? Jawabannya tentu saja: hahaha, mana mungkin, ini ulah si David! Yah, lagi-lagi David harus bertanggung Jawab untuk semua ini. Thanks bro.

Mengenai nama arul chandrana, itu ada kisahnya sendiri. Kakak perempuannya yang di Malaysia mengiriminya sebuah novel dari seorang penulis India pemenang nobel, v.s. naipul, magic seed. Di situ tokoh utamanya berasal dari keluarga Chandran. Sungguh itu kisah yang pahit dan penuh liku, tapi juga membuat kita berpikir bahwa selalu ada harapan yang bisa kita cari dan kita perjuangkan dalam tiap keadaan yang menekan. Nama itulah yang dipakai Arul. Chandrana. Tapi karena dia agak lupa. Tau mungkin salah tulis, dia menambahkan huruf “a” di akhirnya, sehinga menjadi Chandrana. Lantas, kata arul dari mana? Haha, itu akronim dari Amrullah.

Suatu ketika, David berkata pada Arul, “kau akan menjadi orang paling malang di dunia jika kau tidak sampai menjadi penulis besar. Karena kau bisa melakukannya!” kata itu selalu terngiang dan itulah yang membuatnya begitu tekun menghidupi blognya ini. Anda tahu kan, mungkin sekarang sudah ada seratus ribu pengunjung di blognya. Mungkin sudah lebih. []

Maret 2009

Anda bisa menemui saya di Twitter@arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s