Posted in nebula, sastra

Cerita Horor Mengerikan: The Furry Collar

Abandoned_house
Susan adalah sahabat baikku. Tapi aku berusaha untuk tidak pernah memikirkannya. Hanya pada malam-malam tertentu, saat aku sendirian di kamar, aku teringat padanya…

Saat itu sedang musim liburan Natal tahun lalu ketika Susan mengajakku menginap di rumahnya. Dia tinggal di sebuah rumah besar yang suram terletak jauh dari jalan. Dan dia tidak ingin sendirian di sana pada malam hari. Orangtuanya sedang pergi mengunjungi beberapa teman dan belum akan kembali sampai sore esok hari. Susan berjanji kita bisa bersenang-senang sementara orangtuanya tidak ada.

Dan kami memang bersenang-senang, malam itu. Pada sekitar pukul 00:00 kami ganti baju dan bersiap untuk tidur. Susan mengenakan gaun malam dari beludru untuk Natal nanti. Sungguh gaun yang mewah dengan kerah berbulu tebal. Gaun tersebut berwarna merah darah dan dengan mengenakannya Susan tampak seperti salah satu tokoh dalam film Drakula. Tadinya kami asyik menonton televisi di ruang tamu. Kami tidak menyadari hal itu sebelumnya, tapi setelah TV kami matikan, kami tiba-tiba merasa jika ruangan tersebut tampak terlalu besar, dan terasa menyeramkan.

Kami pun mulai naik ke lantai atas. Kemudian, tiba-tiba, kami berdua lari kalangkabut menaiki tangga menuju kamar Susan seolah-olah ada sesuatu yang menyusul dari belakang. Setelah kami menutup pintu, kami terbahak menertawakan diri kami sendiri. Memangnya ada siapa? Di rumah ini hanya ada kami berdua. Tapi setelah itu tak satu pun dari kami punya keberanian untuk meninggalkan kamar. Lalu kami duduk dan mulai ngobrol. Pada saat itulah untuk pertama kali kami mendengar suara itu. Kedengarannya seperti seseorang sedang mengasah pisau pada sebuah batu ampelas tua.

Kami seketika berhenti bicara dan saling memandang, ketakutan yang sangat mulai merayap dalam diri kami. Kini yang ada hanya kesunyian yang mencekam. Tiba-tiba, Susan mulai tertawa. Dia berkata dia pernah mendengar suara seperti itu di rumah ini sebelumnya. Menurutnya, mungkin suara itu diakibatkan oleh gesekan jendela atau apalah. Pernyataan itu sungguh membuatku merasa lebih baik dan kami pun mulai ngobrol lagi. Lalu kami mendengar suara itu lagi! SCRRITCH. SCRRITCH. Suara itu membuat gigiku merinding seperti saat kau mendengar suara seseorang menggaruk papan tulis. Tapi yang ini jauh lebih mengerikan. Suara ini berderit dari kegelapan ruangan sepi di bawah kami dan terus naik ke atas. SCRRITCH.

Sorot mata Susan berubah menjadi liar, seolah-olah sesuatu yang mengerikan sedang merasuk kedalam pikirannya. Sebelum aku bisa memahami apa yang terjadi, ia berlari keluar kamar, membanting pintu sampai tertutup dan mematikan lampu. Kemudian aku mendengar langkah kakinya saat ia berlari menuruni anak tangga pertama, lalu dia mendadak berhenti.

Aku meringkuk dalam kegelapan, tersiksa oleh ketakutan. Kupanggil Susan berkali-kali; tapi suaraku hanya dijawab oleh keheningan yang sunyi. Aku tak sanggup tinggal di ruangan gelap ini sendirian, tetapi aku lebih tak sanggup lagi jika harus pergi menuju kegelapan yang lain di luar sana. SCRRITCH. Suara mengasah pisau itu terdengar lagi, membuat perutku melilit dan tenggorokanku tercekat. Lalu aku mendengar derap langkah kaki Susan, bergerak menuruni anak tangga, satu persatu. Gerakannya sangat lambat seakan-akan dia benar-benar tak ingin melakukanya. Tapi akhirnya aku mendengar suaranya mencapai lantai dasar. Aku terdiam di dalam kamar, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi sambil terus bertanya-tanya apa yang sedang Susan lakukan di bawah sana. Kukatakan pada diriku bahwa dia akan baik-baik saja. Terbukti, suara bising itu berhenti tepat setelah aku mendengar Susan mencapai lantai bawah. Setelah itu suara mengerikan tersebut tidak terdengar lagi. Mungkin barusan Susan memperbaiki jendela. Mungkin sebenarnya dia sudah tahu tentang semua ini. Dan dia bertingkah aneh hanya untuk menakut-nakutiku. Bisa saja sekarang dia sedang duduk di tangga sambil menertawakan aku yang menggigil ketakutan. Akan kubalas kau.

Aku pun bangkit dan bergerak menuju pintu untuk menyalakan lampu. Tapi perasaan takut menyergapku dan menahan langkahku seakan sebuah tangan mencengekram tenggorokanku. Lalu aku memutuskan untuk menunggu di tempatku tadi berada sampai Susan kembali. Bahkan, bila perlu aku akan menunggu di sana sampai orangtuanya kembali. Tidak ada yang bisa membuatku meninggalkan kegelapan ini hanya untuk menemui kegelapan tak di kenal di luar sana.

Waktu terus berlalu. Telingaku tegang menunggu datangnya suara dan sarafku merinding membayangkan sosok bayang-bayang yang berkeliaran. Lalu sayu-sayup aku mendengar suara menyeret berasal dari tangga paling bawah. Apakah itu ulah Susan? Pasti begitu. Namun suara tapak kakinya terdengar terlalu berat, seperti dibuat-buat. Jantungku mulai berdebar dan untuk sesaat pikiranku kacau tak karuan. Pikiranku melesat menuju sudut-sudut paling mengerikan dari khayalanku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menggeleng ketakutan.

Kemudian, tiba-tiba aku tahu apa yang harus kulakukan. Gaun malam baru dengan kerah berbulu milik Susan! Aku akan menunggu di balik pintu sampai ada seseorang membukanya, lalu aku akan menjangkau bagian lehernya. Jika aku merasakan kerah berbulu, aku akan tahu kalau itu Susan – dan akan kuseret dia karena berani menakut-nakutiku seperti ini. Tapi jika aku tidak merasakan kerah berbulu … itu artinya, tidak ada yang bisa kulakukan.

Suara langkah terseret itu telah mencapai anak tangga kedua. Kupaksakan kakiku untuk melangkah mendekati pintu kamar. Kurasakan punggungku merinding seiring suara jejak langkah yang terus menapak ke puncak tangga dan sekarang mulai menjejak lorong. Melangkah tertatih menuju kamar tempatku berada. Aku bersiap-siap. Pintu perlahan terbuka dan terdengar suara berderit samar. Lalu kuulurkan tanganku penuh harap.

Jari jemariku terbenam ke dalam bulu-bulu yang tebal di seputar kerah gaun malam Susan. Ketegangan di tubuhku pun menguap berganti dengan rasa lega, syukurlah, ini memang Susan. Lalu kugerakkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Sungguh aku sangat senang ampai-sampai aku tak lagi berminat untuk menakut-nakutinya. Tapi, begitu jari-jariku bergerak meninggalkan bagian kerah yang berbulu, tidak ada apa-apa lagi yang bisa kusentuh.

Hanya batang leher berdarah di mana kepala Susan tadinya berada. #aruliterature []

Cerpen ini diterjemahkan oleh Arul Chandrana dari cerpen karya J. B. Stamper berjudul The Furry Collar.

Anda bisa menghubungi Arul di Twitter @arulight atau melalui akun Facebooknya. Untuk saat ini Arul hanya menerima penerjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

2 thoughts on “Cerita Horor Mengerikan: The Furry Collar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s