• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Obituary untuk Arul Chandrana

Yang akan Anda baca adalah obituary untuk Arul Chandrana yang ditulis oleh sahabatnya, seorang penulis Amerika, Stephen King. Obituary ini dicetak di beberapa koran negara Eropa, Asia, Afrika dan di sebuah koran terkemuka Amerika yang mana buku-buku Arul beredar di sana. Stephen King mulai berkomunikasi dengan Arul di beberapa tahun akhir kehidupannya.

***

Arul Chandrana meninggal dunia tepat pada hari kematiannya yang telah ditetapkan. Dia meninggalkan kita banyak kenangan berharga dan beberapa puluh buku yang tak terlupa. Tuhan memberiku kesempatan yang tak lama untuk bergaul dengannya, tapi aku telah membaca hampir separuh jumlah bukunya–itu adalah jumlah total karyanya yang telah dibahasa Inggriskan. Andai aku bisa berbahasa Indonesia, aku pasti sudah membaca semuanya.

Sebagaimana kematian banyak orang hebat lainnya, kematian Arul Chandrana sangat mengejutkan. Karena walaupun hari kematian itu sudah ditetapkan, hanya Tuhan yang tahu kapan eksekusinya. Kita semua menyadari itu, bukan? Bagiku, bagaimana pun juga, aku masih merasa Arul hidup di antara kita dan tertawa dengan caranya yang tak biasa. Atau, dia menertawakan apa-apa yang sama sekali tak lucu bagi kita. Oleh karena itu, dengan lancang aku akan membicarakan bukunya, alih-alih meratapi kepergiannya.

Arul Chandrana mewariskan kita buku-buku yang harus dimiliki semua perpustakaan, dan dia tentu saja membawa pergi ratusan judul lainnya bersama kematiannya. Memikirkan itu, memikirkan kehilangan buku-buku hebat itu, barulah membuatku ingin meratapi. Tapi harus kita aku, beberapa buku Arul Chandrana bukanlah buku yang menakjubkan, tapi puluhan lainnya telah mengubah hidup ribuan pembacanya, dan tentu saja menghibur pikiran ratusan ribu lainnya. Atau mungkin jutaan manusia saat ini dan saat mendatang. Seorang penulis mati seperti itu bagiku sama sekali belum mati. Isi kepalanya masih bergentayangan dan dengan rutin mengisi benak kita dengan cara yang indah. Mungkin saja aku akan menangis ketika membaca terjemahan bukunya yang akan datang, tapi aku akan lebih berbahagia untuk itu. Karena pada saat membaca buku itu aku merasakan betapa Arul Chandrana masih hidup di sekitarku.

Aku bisa merasakan kecenderungan sentimentil dalam setiap tulisannya. Hampir setiap karyanya membawa-bawa pulau kecil kesayangannya, Bawean. Dia juga dengan keterlaluan memasukkan namanya sebagai salah satu karakter dalam setiap novelnya. Bagiku, itu sangat nekad karena bahkan aku sendiri tidak cukup percaya diri untuk mencantumkan namaku sebagai pemeran dalam novelku. Bahkan pemeran figuran sekalipun. Tapi tahukah Anda, sebelum dia tenar dia sempat bertekad untuk menamai semua tokoh utamanya dengan namanya sendiri! Astaga, betapa kacau jika dia menamai makhluk luar angkasa pembela galaksi dengan nama Jenderal Arul Chandrana? Mana ada alien bernama Arul Chandrana? Yang benar saja! Hahaha. Ya, begitulah, dia mengakuinya pada suatu sore saat kami menikmati kopi di seberang sebuah toko buku di Paris. Anda tahu, aku bahagia dia berubah pikiran.

Tapi, aku harus menerimanya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, bukan? Atau lebih tepatnya, di dunia ini tidak ada yang benar-benar seperti keinginan kita, bukan? Dan dengan cara itu, Arul Chandrana telah menjadi dirinya sendiri. Maka sosok aneh itulah yang aku kagumi.

Arul Chandrana meninggal dunia tepat pada hari kematiannya yang telah ditetapkan. Dan, memikirkan hal itu, jujur aku merasa ngeri. Aku merasa belum siap. Tapi kengerianku jelas tidak ada gunanya. Seperti yang pernah dikatakan Arul padaku, “kita semua lahir membawa tanggal kematian kita masing-masing, Mr. King. Semakin lama kita hidup, kita semakin mendekati tanggal eksekusi. Takut tidak ada gunanya.” benar sekali, Arul, takut tidak ada gunanya. Karena yang menentukan hidup kita bukanlah ketakutan kita pada kematian, melainkan bagaimana cara kita hidup selama tanggal kematian itu belum datang.

Saya, Stephen King, menghaturkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Dan, kerinduan ini akan selalu menyertaimu, Arul. Terima kasih #aruliterature #arulight

Catatan: saat tulisan ini diupload ke Internet, Arul Chandrana masih hidup dan sehat walafiat. Alhamdulillah.

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: