• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Fishy Sweat, film dokumenter tentang TPI Brondong

image

Part One
Setiap hari, aku menyaksikan kakakku dikejar matahari untuk bergegas naik sepeda reot menuju tempat pelelangan ikan di Brondong. Dan selama enam tahun David terseok-seok menebah kericuhan orang yang bekerja di sana. TPI Brondong adalah sesuatu yang dekat dengan kami dan aromanya selalu kami kenali sejauh apapun ia bersembunyi.

Sudah beberapa tahun yang lalu David mengajakku membuat film dokumenter tentang TPI Brondong dan tidak pernah kami wujudkan. Sampai akhirnya dia mendirikan perusahaan isi suaranya sendiri.

Memiliki suara dalam alami yang hanya membutuhkan sedikit polesan mikrofon agar terdengar ajaib, beberapa waktu lalu David mendirikan deepindovoice.com sebagai wujud keseriusannya mendalami bisnis isi suara. Pesanan pun berdatangan, bukan hanya dari klien dalam negeri, tapi juga dari negeri Paman Sam dan dari negeri Ratu Elizabeth. Dia mengisi suara mulai dari iklan sambal papua, iklan perusahaan MLM, sampai mengisi suara video kedokteran. Suatu hari, dia menunjukkan video-video itu padaku, membayangkan alangkah keren jika suaranya dipakai untuk film bikinan sendiri.

“hey, bukannya kita pernah berencana bikin film tentang TPI Brondong?” lalu mulailah proyek independent tersebut.

Kau tahu, banyak ide hebat di dunia ini gagal melakukan langkah pertama karena

ditunda oleh si penggagas. Faktanya, beberapa naskahku yang terbit adalah yang paling cepat aku kirim tanpa menunda-nunda. Dan begitu pula dengan #fishysweat, begitu aku mengatakan setuju untuk melanjutkan proyek film dokumenter, David mengganggu hariku dengan menanyakan sudah seberapa jauh script kutulis.

“goddamn it, can’t you wait a few days more?”
“I’ve been waiting for four years, for God’s sake!” #aruliterature

Part Two
Jadi, aku pun menulis script #fishysweat.

Sebenarnya menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan, terlebih aku menulis script film ini tanpa sedikit pun ilmu tentang penulisan script film. Ketidaktahuan itu membantuku untuk menulis lancar dan tanpa beban.

“tapi kau jangan keenakan nulis. Setiap kalimat yang kau buat harus bisa divisualisasikan.” David mengingatkan. Sementara aku telah menyelesaikan script tersebut.

“jangan khawatir. Itu sudah kulakukan. Selain itu, bukankah nanti ada editing?”

Setelah script jadi, langkah berikutnya adalah sesuatu yang entah dari mana si David mendapatkan informasinya. Dia malam-malam datang dan mengajakku memetakan adegan.

“kita harus melakukan ini agar besok tidak bingung harus berapa macam adegan di tempat yang sama. Jadi gak akan bolak-balik.” ide yang cemerlang.

Aku lupa berapa tepatnya, kalau tak salah ada 32 take yang kami rencanakan. Terbagi di empat tempat berbeda: TPI, monumen Van der Wijk, jalan raya, dan pasar rakyat.

Pada hari Jumat, lebih siang dari yang kupikirkan, kami berdua turun ke jalan untuk mengambil gambar. Kau tahu, saat itu rasanya sangat keren. Hahaha, merekam video di tempat umum dengan penuh percaya diri bukanlah hal yang bisa kau lakukan setiap waktu. Apa lagi yang kau gunakan adalah kamera hp.

Di dekat kami, polisi lalulintas tua mengamati dengan antusiasme tinggi. Sekarang aku baru terpikirkan, mungkin beliau saat itu pengen juga direkam.

***

Catatan:
-adegan di pasar tradisional tak pernah terwujud. Kami tidak merekam di sana.
-terima kasih untuk Purnomo yang telah meminjamkan hp. Kami mengembalikan dalam keadaan bau amis 56 macam keamisan yang ada di tempat pelelangan ikan #aruliterature

image

Part Three
Aku belum pernah melihat orang memotret sampai tertungging-tungging sampai akhirnya aku bertemu David. Itu artinya, selama hampir 20 tahun kehidupanku aku hanya bertemu orang yang normal-normal saja pikirannya.

Ketika mengambil gambar untuk #fishysweat, si David pun kumat lagi. Itu sebenarnya hal yang bagus agar film ini punya angle yang variatif. Tapi itu juga kurang bagus karena bisa membuat orang mengira aku sedang menjaga orang tak waras agar tak ngamuk.

“berikan orang tak waras kesibukan yang aman, maka dunia pun akan aman.”

Film dokumenter ini pun semarak dengan sajian gambar yang tidak melulu sejajar dengan pandangan mata, tapi juga angle dari permukaan tanah, dari balik pundak, dari tapak kaki, dari bawah, dari atas, dari pojok tikungan, dari seberang jalan, dari balik spanduk toko dompet bajakan, bahkan dari sudut yang sejajar dengan (maaf) pantat orang ngopi. Kau tak usahlah heran, sudah kujelaskan jati diri David sejak di awal tulisan ini.

Kalau kuingat-ingat, mungkin bakat ‘kebangetan’ David ini ada hubungannya dengan peristiwa saat ibunya masih hamil dia sekitar empat bulanan. Waktu itu ibunya sedang jalan di dekat sekolahan ketika tiba-tiba ada kuda mengamuk lepas dari ikatan. Kuda itu berlari kencang di depan wanita hamil itu. Saat David lahir dan mulai menjadi bocah, dia suka berlari ngebut kemana saja pergi tak ubahnya tingkah Forrest Gump setelah kaki lepas dari kruk.

Maka inilah #fishysweat, sebuah film dokumenter dari sutradara mantan kesurupan kuda, dari penulis skenario yang tampan dan berbakat untuk punya pesona. Tiga hari lagi kalian bisa tonton gratis di Internet #aruliterature

Part Four
Ada banyak video yang diambil hari itu, banyak banget. Dan hari itu aku pun mengerti apa fungsi papan ceklek (nama aslinya aku tidak tahu) dalam pembuatan film. Papan ceklek? Itu lho, yang bagian atasnya bisa mengatup dan digerakkan berbarengan dengan teriakan: Actionnnnnnnn!

Ternyata papan ceklek itu berfungsi untuk menandai urutan dari video yang sedang diambil. Contoh ya, dalam film #fishysweat, ada empat adegan yang diambil di jalan raya. Empat adegan itu tersebar di urutan yang berbeda. Nah, agar tidak bolak-balik, empat adegan tersebut langsung diambil bersamaan. Jadi kita punya empat file video jalan raya. Nah, agar kita tidak bingung nanti saat editing, maka papan ceklek tampil duluan di awal video. Lantas, bagaimana caranya papan ceklek bisa membantu menandai urutan video? Karena di papan tersebut dicantumkan nomor urutannya. Bwahahaha.

Tapi tentu saja kami tidak dengan konyol membuang uang hanya untuk papan ceklek, alih-alih, kami membuat kertas ceklek.

“kau lipat saja kertas menjadi empat lipatan, dan tulis angka pada setiap permukaannya. Sama efektifnya dengan papan ceklek.” David memberi instruksi.

Aku terpesona, dari mana ide ajaib ini masuk ke kepala kuda ini? Kemudian aku tertawa ketika ingat salah satu adegan film Dono. Di film itu Dono mau shooting, karena wajahnya terlalu dekat dengan papan ceklek, saat katup atas digerakkan, malah mulut Dono yang dijepit. Dalam film dokumenter kami, tidak ada mulut siapapun yang terjepit #aruliterature

Anda bisa menonton di http://deepindovoice.com/tpi

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: