Posted in nebula, sastra, think

Mereka Yang Dulu Rajin Mengkritik Sang Raja, Sebenarnya Hanya Pura-pura

image

Pada jaman dahulu di kerajaan Dones, tersebutlah seorang raja bernama Silo. Dia raja bertubuh besar yang selalu dipersalahkan oleh banyak orang. Hampir semua kebijakannya dipandang salah dan dianggap sebagai sumber malapetaka. Ribuan pendekar berbaris rapi dalam kelompok yang secara tabah mengkritik raja Silo.

Hingga akhirnya, akibat siklus bencana lima tahunan, raja Silo pun jatuh dari singgasana. Raja besar secara harfiah itu keluar dari istana dan digantikan oleh raja baru yang lebih kecil secara harfiah, Raja Owi.

Banyak yang memuja Raja Owi, demikian pula banyak yang menghujat. Tapi orang yang berharap padanya jauh lebih banyak daripada kepada raja sebelumnya. Maka memerintahlah Raja Owi dan dengan tabah serta teratur melakukan perbuatan yang sama dengan Raja Silo. Menaikkan harga lilin, membuat berbagai jimat yang kurang berkhasiat, membuat keputusan yang kurang pas dengan rakyat, dan beberapa hal lainnya. Yang paling parah, kepemimpinan Raja Owi tak sanggup menyelamatkan harga menjangan kerajaan Dones, yang semakin terpuruk menghadapi harga rusa dari Alaska.

Tapi ada sesuatu yang ajaib tentang Raja Owi. Dulu, ada banyak pendekar sakti mandraguna yang melemparkan ajian mematikan ke wajah Raja Silo, tapi sekarang, walaupun Raja Owi melakukan perbuatan yang sama, para pendekar itu sama sekali tidak mengeluarkan jurusnya. Mereka anteng saja menikmati kebahagiaannya. Ketika Raja Silo menaikkan harga lilin, para pendekar mencak-mencak tak karuan. Katanya, rakyat akan menderita. Tapi, ketika Raja Owi menaikkan harga lilin dan sangat jelas rakyat menderita karena keputusan tersebut, tak satupun dari para penyerang Raja Silo yang buka jurus kepada Raja Owi. Ini membingungkan bagi para resi dan begawan yang mengamati tingkah para pendekar itu.

Demikian pula selanjutnya. Banyak titah dan ulah Raja Owi yang tak baik untuk rakyat tapi para pendekar itu hanya senyum-senyum saja. Padahal sebelumnya, ketika Raja Silo melakukan hal yang sama, mereka amat sangat rajinnya menertawakan dan menghina. Perubahan sikap para pendekar yang menjadi lembek membuat pimpinan Padepokan Tegal Cabai penasaran dan memulai penelitian. Tiga minggu kemudian, dapatlah beliau mengambil sebuah kesimpulan.

“Inilah hasil penelitian saya selama tiga minggu ini. Mengapa para pendekar gemar menyerang Raja Silo sementara Raja Owi aman-aman saja walau pun tak menunjukkan tindakan yang berbeda dengan raja sebelumnya? Jawabannya, karena selama menjadi penguasa Raja Silo gemar membuat album rekaman. Sementara raja Owi, walaupun beliau penggemar sinden, tapi ia tak pernah membuat album rekaman.

“para pendekar sangat jengkel dengan raja yang gemar menyanyi dan merekam suaranya, dan semua serangan aji sakti berbahaya dari para pendekar pada hakikatnya bukan atas nama rakyat, tapi atas nama kejengkelan mereka pada album lagu sang raja. Saya berkata begini karena bukti. Lihat, Raja Owi pun tak bisa membuat keadaan lebih baik, bahkan lebih parah dari jaman Raja Silo. Tapi karena Raja Owi tidak membuat album rekaman sinden kebangsaan, maka ia selamat dari hinaan, ledekan dan cibiran para pendekar.”

Hasil penelitian sang resi menggemparkan Kerajaan Dones selama dua bulan lebih 29 hari #aruliterature #arulaugh

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s