Posted in sastra

Tips Untuk Menghindari Cerita Yang Berantakan

novel motivasi pemburu rembulan 36Cerita yang kacau adalah cerita yang kejadiannya tidak berurut bahkan tidak masuk akal, salah satu contoh cerita kacau adalah ada tokoh cerita yang kenyang dulu baru kemudian makan. Atau mati dulu baru digigit kobra. Itu adalah contoh kekacauan tingkat tinggi yang untungnya belum pernah kutemukan. Tapi bukan hanya itu, cerita kacau bukan hanya soal urutan peristiwa yang tidak sinkron, tapi juga cerita yang berjalan datar gak ada serunya sama sekali. Ada anak berangkat sekolah, naik angkot, sampai di sekolah, turun dari angkot, bayar ke sopir, masuk kelas, ada ulangan, dia menjawab semua soal dengan benar, dapat seratus, lalu pulang lagi angkot. Sudah selesai, tamat. ASTAGA, hoy, ini mau nulis cerita atau kegiatan harian? Jadi ingat, hari ini kita akan belajar membuat cerita yang: tidak kacau logika peristiwanya dan cerita yang tidak hambar jalan ceritanya. Dua hal itu adalah ilmu yang sangat penting dan butuh 28 tahun bagi saya untuk menyadari strukturnya. Dan kalian akan membongkarnya dalam waktu dua jam. Maka bersemangatlah, guys!

Saya akan membuat perumpamaan rumah untuk memberi gambaran pada kalian. Bagaimana alur sebuah rumah? Pertama ada halamannya, kemudian ruang tamu, kemudian ruang keluarga / ruang tengah, kemudian dapur dan terkahir ruang rahasia keluarga. Setidaknya, inilah susunan rumah pada umumnya, dan kalau alur rumahmu ternyata berbeda, hahaha, mungkin ini saatnya kamu pindah kerumahku. Nah, halaman rumah berisi:

tanaman, rumput, pohon buah, dll. Ruang tamu berisi sofa, foto-foto di dinding, akuarium, dll. Selanjutnya kau bayangkan sendiri apa isi masing-masing ruangan. Intinya, kau sudah punya gambara sekarang bahwa sebuah rumah bisa dibagi menjadi lima ruang utama, dan setiap ruang memiliki isi yang berbeda dengan ruang lainnya. Menyalahi aturan ini hanya akan membuat rumahmu cacat dan menjadi headline Jawa Pos: Ada Toilet Di Ruang Tamu Si Novi.

Sekarang tiba saatnya untuk ulangan pertama. Saya akan menyuguhkan sebuah contoh cerita dan tugasmu adalah menganalisis bagian-bagian dari cerita tersebut. Tentu saja kau tidak boleh menggunakan istilah halaman, ruang tamu, ruang keluarga, dll. Tapi gunakanlah istilah yang lazimdipakai untuk mengelompokkan bagian-bagian cerita. Setelah kalian membaca dan menemukan jawabannya, taruh jawabanmu di komentar. Bagaimana jika kau tidak menemukan jawabannya? Tetap berkomentar, beri tahu saya bahwa kau tidak tahu. Karena itulah tugasku hari ini, membuatmu tahu. Yap, ini dia cerita yang akan kalian analisis:

“TAK SEPERTI biasanya, yang mana setiap sehabis kerja pukul 9 malam Tamim akan mampir ngopi di warung pertigaan dan baru pulang menjelang tengah malam, kali ini Tamim langsung pulang. Panggilan teman ngopinya untuk mampir tidak dia gubris, gerimis membuatnya ingin segera sampai rumah. Sesampainya di rumah, Tamim baru tahu dia mendapatkan sebuah SMS dari salah satu teman ngopinya: Mim, lo bonceng cewek langsung lupa teman ya.

Tamim bingung, dia pulang sendirian, tidak membonceng siapapun, bahkan tidak membawa barang apapun. Tamim menduga temannya hanya menggoda.

Berencana ingin menanggapi guyonan kawannya, Tamim ingin menjawab dengan SMS membanggakan diri. Lalu dia mendengar suara itu.

Seseorang bernyanyi kecil di dapur. Lagu sedih, dengan suara yang meratap. Jantung Tamim berdebar kencang. Itu suara Riska. Teman kerjanya di pabrik yang tewas dua hari lalu. Mayatnya masih dia sembunyikan di bawah tumpukan kardus bekas” ‪#‎aruliterature ‪#‎seninseram

Oke, saya beri kalian waktu tujuh menit untuk menjawab. Setelah semua berkomentar (jangan komentari ceritanya, tapi tunjukkan struktur ceritanya) saya akan membuat posting baru yang mengulas hal ini.

(tujuh menit kemudian)

Kisah Tamim di atas bisa kita petakan menjadi: Bagian Awal, Bagian Tengah Dan Bagian Akhir (Disebut Peta Cerita). Yup, gitu doang. Gak usah repot-repot. Bwahahaha. Sangat sederhana memang sehingga saking sederhanya banyak orang yang tidak menyadari hal itu. kata orang bijak, jika sesuatu bisa diselesaikan dengan cara gampang, jangan sekali-kali ambil cara susah.
image

Dari tiga bagian tersebut, masing-masing memiliki komposisi yang berbeda. Berikut ulasannya:

1. Bagian Awal: permulaan cerita berisi perkenalan (tokoh cerita, setting waktu, tempat, dll) serta berisi awal mula konflik cerita. Dalam cerita Tamim, pertama kita dikenalkan bahwa tokoh utama cerita bernama Tamim, dia seorang pekerja, hobi ngopi, selalu pulang malam. Itu adalah tokoh utama kita. Kemudian kita berkenalan dengan setting waktu dan tempat: cerita terjadi pada malam hari, jalan pulang antara tempat kerja sampai rumah, warung kopi tempat tamim biasa nongkrong, dan cuaca malam itu sedang gerimis.

Lantas, di mana awal mula konfliknya? Awal mula konflik ada di kalimat terakhir paragraph pertama, yaitu ketika Tamim membaca SMS dari temannya, Mim, lo bonceng cewek langsung lupa teman ya. Tanpa SMS itu cerita tidak akan masuk ke konfliknya.

2. Bagian Tengah: bagian tengah berisi adegan yang semakin panas hingga sampai puncaknya (klimaks). Ketika memasuki bagian tengah ini cerita tidak lagi sekedar memperkenalkan tokoh atau lingkungan atau lain-lainnya, tapi lebih focus pada menceritakan keadaan yang semakin gawat dan gawat. Semakin mengerikan saja.

Dalam cerita Tamim, keadaan mulai gawat ketika Tamim merasa bingung karena dia tidak membonceng siapapun saat pulang. Dan semakin gawat saat dia akan menjawab SMS tersebut karena tiba-tiba mendengar suara seseorang menyanyi. Itu suara Riska. Temannya kerja di pabrik. Masalahnya, Riska sudah mati.

3. Bagian Akhir: nah, untuk bagian akhir ini, kita punya beberapa gaya yang masing-masing akan membuat cerita berakhir dengan sangat menarik jika digunakan dengan tepat. Berikut beberapa pilihan untuk mengakhiri sebuah cerita:

a—menyelesaikan ketegangan (misteri) satu-persatu, memberikan hukuman terakhir bagi penjahat yang membuatnya tamat selamanya, kebahagian bagi orang-orang baik. (Contoh, Lord of The Ring, Harry Potter, Ayat Ayat Cinta, film Barbie, Disney)

b—menyelesaikan ketegangan (misteri) satu-persatu, memberikan hukuman terakhir bagi penjahat dan membuatnya tamat selamanya. (Contoh, film Terminator, film The Raid, serial Hercule Poirot Agatha Christie, komik Detektif Conan). Bedanya antara gaya A dan B terletak pada akhir cerita. Gaya A memberi penjelasan gamblang pada pembaca (penonton) bahwa tokoh utama selamat dan bahagia. Sedangkan pada gaya kedua cukup menjelaskan bahwa si biang kerok sudah keok dan gak akan muncul lagi. Tamat sudah dan berkahir pula ceritanya. Bagaimana nasib para tokoh utama setelah itu? Tidak ada yang tahu.

c— menyelesaikan ketegangan (misteri) satu-persatu, memberikan hukuman terakhir bagi penjahat, para tokoh utama lega dan bahagia, tapi tiba-tiba di suatu tempat yang tak terduga, muncul lagi si musuh utama. Dan cerita langsung berakhir di sana.

Pernah nonton film tentang monster laut, ketika si monster sudah suda diledakkan, para tokoh utama selamat di sebuah pulau, eh tiba-tiba dari pulau itu terdengar jeritan monster yang lain. Dan film pun tamat. Nah, gaya seperti ini cocok kalau mau bikin seri kedua dari buku yang sedang kau tulis.

Cerita seperti ini biasanya disebut dengan open plot, yaitu akhir dari cerita diserahkan pada imajinasi pembaca. Pembaca dibebaskan menerjemahkan sendiri kira-kira apa yang terjadi selanjutnya pada si tokoh utama. Apakah kebangkitan kembali si penjahat besar sanggup dikalahkan atau justru tokoh utama akan tewas di sini. Yang pasti, tidak ada yang tahu bagaimana kisah ini akan berakhir karena penulis memang tidak membuatnya tamat.

d—menjawab ketegangan (misteri) satu-persatu, dan ketika baru sampai ke jawaban asal-muasal masalah, cerita langsung berakhir. Tanpa ada penjelasan apa yang akan dilakukan penjahat utama dan apa yang akan terjadi pada tokoh utama. Gaya seperti ini pun disebut dengan open plot.

Gaya ini cocok untuk cerita horror / misteri dengan durasi yang pendek. Contoh kisah Tamim di atas menggunakan Bagian Akhir seperti ini. Ketika pembaca kaget karena ada orang asing di rumah Tamim, ketika pembaca semakin kaget karena pemilik suara itu ternyata sudah mati, dan pembaca semakin kaget karena pembunuhnya adalah si tokoh utama itu sendiri—Tamim, tiba-tiba cerita langsung berakhir begitu saja. Tamat. Tidak ada penjelasan apa yang akan dilakukan si hantu, dan bagaimana nasib si Tamim selanjutnya.

Khusus untuk cerita model Tamim begini, ending d adalah yang terbaik. Unsur kejutnya paling kuat dan paling mantap. Cerita itu akan mengakhiri pembaca dalam cekaman rasa ngeri yang terus mengapung dalam pikiran. Jika penulis memberikan penjelasan bertele-tele tentang aksi si hantu dan nasib si Tamim, unsur kejutnya akan hilang hanya berganti dengan rasa ngeri atau sadism berlebihan—yang mana hal itu sering terjadi di perfilman / novel Indonesia.
image

Agar lebih memahami tentang Peta Cerita, saya akan memberikan satu conoth lagi. Contoh kali ini tidak berupa cerita utuh, melainkan bagian-bagian dari sebuah cerita:

1. Bagian Awal:

Pengenalan: Riki Tiki adalah seekor musang. Dia tinggal di sebuah liang bersama orang tuanya. Datang banjir, menyeret Riki keluar dari liangnya. Dia terdampar di bawah pohon di tepi sebuah parit kecil.

Awal mula konflik: seekor ular lapar sedang berkeliaran mencari mangsa. Angin kencang tiba-tiba berhembus, dan ranting pohon di atas tempat Riki terdamar bergoyang keras. Di sana ada sarang burung yang dihuni beberapa burung kecil. Riki Tiki masih lemah di bawah pohon, si ular semakin mendekati pohon, dan angin semakin kencang menggoyang sarang burung. Seekor bayi tampak hampir jatuh.

2. Bagian Tengah.

Keadaan semakin panas: Si ular sampai di tepi parit, dia melihat Riki Tiki yang masih tergeletak, Riki Tiki segera Bangkit dan siaga, tiba-tiba seekor anak burung jatuh dari sarangnya. Jatuh di antara Riki dan ular. Si ular berkata, dia akan memakan anak burung dan Riki akan selamat, tapi Riki menolak, dia bertekad untuk menyelamatkan si anak burung. Mereka pun maju untuk bertarung.

Klimaks: puncaknya, pertarungan pun dimulai! Riki Tiki si musang kecil menghadapi si ular berbisa demi membela anak burung yang tak berdaya. Pertarungan berlangsung seru dan mengerikan.

3. Bagian Akhir

Untuk bagian akhir, kita akan menggunakan model A, “menyelesaikan ketegangan (misteri) satu-persatu, memberikan hukuman terakhir bagi penjahat yang membuatnya tamat selamanya, kebahagian bagi orang-orang baik.” Maka ceritanya akan terjadi seperti ini: Riki berhasil melukai si ular. Riki memberi kesempatan bagi si ular untuk pergi, tapi ular itu membantah. Dia hendak menyerang Tiki lagi tapi naas, ular itu mati di tangan Tiki musang yang baik. Kemudian datanglah induk si burung. Anak burung itu menceritakan perjuangan Riki pada ibunya. Sebagai terimakasih, induk burung membawa Riki terbang dan mengantarkannya pulang ke liangnya. Riki pun kembali berkumpul bersama keluarganya dengan sebuah kisah petualangan yang menakjubkan. HAPPY ENDING!

Oke, demikian dari saya hari ini. Sekarang ulangan yang kedua adalah: “buatlah sebuah Peta Cerita (bukan cerita utuh) untuk karyamu sendiri. Kamu boleh membuat Peta Cerita berdasarkan kisah yang pernah kau buat.” Jika ada pertanyaan, bertanyalah di posting ke tiga.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

5 thoughts on “Tips Untuk Menghindari Cerita Yang Berantakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s