Posted in sastra

Sebagian Pertemuan dan Perjalanan Adalah Pintu Menuju Pernikahan

image

Seberapa besar kemungkinan untukmu memiliki saudara kembar? Tak lebih besar dari kemungkinan kau disambar petir dua kali dalam waktu sepuluh tahun. Dari seribu kelahiran, hanya ada satu yang terlahir kembar. Dan jika kau berada di kota kecil yang jumlah wanita hamilnya tak pernah lebih dari 50 orang, kau hampir tak bisa menemukan bayi kembar dal waktu lima tahun.

Aku Lutfi Fuadi, aku bukan seorang bersaudara kembar, kenyataannya aku tidak punya saudara satu pun. Ayahku pelaut dan saat aku berusia tujuh dia pergi melaut hanya untuk kembali perbekalannya. Sementara ibuku adalah seorang penjahit yang kecintaannya pada fashion sanggup mencukupi cintanya untuk pria lain selain ayahku. Aku pun menjadi anak tunggal abadi. Dan sebagai anak tunggal yang tidak punya saudara untuk diusili, tentu saja aku gemar membaca buku. Arul Chandrana adalah penulis kesukaanku.

Hari itu aku sedang dalam perjalanan ke Surabaya. Aku naik angkot sebelum berganti naik bus di terminal kota. Angkot itu lengang, hanya ada lima penumpang termasuk aku. Di sebelah pak sopir duduk seorang gadis berkerudung hijau yang selalu menundukkan wajahnya. Sesekali dia mengangkat kepala, menggerakkan leher sebentar, kemudian menunduk lagi.

Setibanya di terminal kami semua turun tergesa-gesa dari angkot dan lebih tergesa-gesa lagi saat menuju bis yang siap berangkat. Aku naik ke dalam bis hampir bertubrukan dengan si kerudung hijau. Dan kami pun hampir berebutan kursi yang sama. Aku sedikit mengalah untuknya. Apa kau tahu apa itu yang dimaksud dengan sedikit mengalah di dalam bis? Dia kupersilakan duduk di dekat jendela sementara aku duduk di sebelahnya. Itulah yang dimaksud dengan sedikit mengalah.

Bis pun berjalan. Mesinnya menggerung kasar. Meninggalkan terminal yang kepanasan. Aku dan si kerudung hijau masih melanjutkan kebisuan sejak dari angkot. Baru setelah hampir lima belas menit kemudian, gadis itu membuka tas pundaknya, merogoh sesuatu dan mengeluarkan sebuah buku: Sang Penakluk Kutukan.

Astaga! Sang Penakluk Kutukan! Itu kan novel terbaru karya penulis favoritku. Rupanya itu alasan mengapa dia selalu menunduk selama perjalanan di angkot. Sebelum gadis itu melanjutkan bacaannya, aku dengan semangat bergegas menyapa.

“Hey, kau membaca Ranti juga?” kataku. Ranti adalah nama tokoh utama novel Sang Penakluk Kutukan.
Gadis itu menatapku, matanya berbinar. “Kau tahu buku ini?” dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Tangannya mengayunkan Ranti sekilas.
“Tentu saja! Aku sangat suka buku itu. Kisah persahabatan yang luar biasa. Sebenarnya, aku membaca semua karya Arul, lho.”
“Benarkah?” gadis itu takjub, senyumnya terkembang dan lesung pipit mungil mengintip dari pipi kiri. “kau membaca semua buku Arul Chandrana?”
“Semuanya,” jawabku mantap. “kalau kamu?”
“Tentu saja. Aku punya Pemburu Rembulan bertanda tangan.” Gadis itu tersenyum bangga.
“Astaga, kau luar biasa!” aku berdecak kagum. Lalu kujulurkan tangan kananku, mengajaknya bersalaman dan berkenalan, “Lutfi Fuadi.”
Sebagai jawaban, gadis itu menarik badannya ke belakang dan menatapku tak senang. “Dari mana kau tahu?”
“Apa?” tanyaku heran.
“Namaku. Lutfi Fuadi.” Gadis itu menatapku penuh selidik. Dan aku pun terbelalak, lalu tertawa kencang.
“Hey, itu namaku. Aku Lutfi Fuadi.”
“Tidak mungkin…” Gadis itu menutup mulutnya dengan buku yang ia pegang. Lalu ia turunkan perlahan. “Namaku Lutfi Fuadi.”
Kemudian, kami tertawa bersama. Tak peduli hampir semua penumpang menolehkan wajahnya.

“Well, kalau begitu, mari kita ulangi perkenalannya. Aku Lutfi Fuadi. Aku laki-laki.”
“Aku Lutfi Fuadi, aku perempuan.”
Lalu kami berjabat tangan. Untuk beberapa detik lamanya pandangan kami bertautan.
“Kau tahu, apa saja kebetulan hari ini selain bahwa kita punya nama yang sama?” tanyaku tanpa melepas genggaman.
“Nama kita ada di dalam buku pertama Arul Chandrana.”jawab gadis itu dengan pijar mata yang mempesona.
“Dan kita Sama-sama penggemarnya.” aku menambahkan.

Kami tertawa lagi. Perlahan jabat tangan kami mengendur dan lepas. Kami bersandar di kursi masing-masing, diam tapi masih berhias senyum ketakjuban.
“oh ya, kau mau kemana?” gadis itu bertanya.
“Surabaya.” jawabku. Dan gadis itu tiba-tiba terkikik. “Jangan bilang kamu juga mau ke Surabaya!”
Senyum lesung pipitnya menjawab keherananku.

Hari itu, aku, seorang anak tunggal, penggemar Arul Chandrana, sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. Namaku Lutfi Fuadi, dan di bis aku tanpa sengaja bertemu dengan… Lutfi Fuadi #aruliterature

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s