• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Riding The Blew Trail (Bersepeda Melintasi Jalur The Blew Trail — Benges – Lembor – Wide)

image

Besok aku akan bersepeda melintasi jalur The Blew Trail bersama seorang rekan biker, Syarif. The Blew Trail adalah sebuah jalur bersepeda yang aku temukan dua tahun lalu bersama biker Muhammad. Jalur ini menebah tiga desa besar, menempuh jarak sekitar 30 KM, dan melintasi medan yang akan membuat pesepeda mana pun trance oleh keragaman dan keseruan yang disajikan sepanjang jalan; pemandangan alam memukau, hamparan sawah sejauh mata memandang, sungai panjang mengular, hutan lindung mengerikan, dan tanjakan serta lereng curam.

Perjalanan dimulai dari desa Jompong. Kita akan berkendara ke barat sampai di jembatan Sedayu Lawas yang entah bagaimana mengingatkan aku pada Sidney dan Opera House. Kemudian kita berbelok ke selatan menyusuri sungai Bengawan Solo yang membentang melampaui batas teritorial desa Benges, Mencorek, dan Plangwot. Ini pintu gerbang petualangan kita, Benges.

Bersepeda di sepanjang aliran Bengawan Solo sungguh pengalaman tak terhingga. Di sebelah kananmu sungai lebar nan panjang mengalir dengan tenang, sementara di sebelah kirimu

hamparan ladang petani mengingatkanmu pada suatu masa yang pernah menjadi napas bagi tanah Nusantara. Perjalananmu diiringi kicau burung yang tak pernah membosankan, sesekali kendaraan bermotor menyalip sepedamu, dan semburat panas matahari dilembutkan oleh hembusan angin tiada henti. Kau seakan bersatu dengan alam, menjadi bagian yang bisa merasakan setiap detak sejarah dan perubahannya.

Kita akan terus mengayuh ke selatan. Setelah melewati jembatan Benges, masih ada tiga jembatan lagi untuk kau lewati (bukan menyeberangi, kecuali pada jembatan ke tiga). Setelah menghabiskan perjalanan bertemankan sungai, menghabiskan teritorial tiga desa, kini kita sampai di areal persawahan yang membentang demikian luas seakan hilang batas. Syukurlah jalannya sudah dipaving. Perjalanan ini terus lurus menuju selatan melintasi area terbuka tanpa pohon untuk berteduh. Kau benar-benar menjadi milik alam, dilumat oleh langit luas dan digilas oleh matahari panas. Selamat datang di area yang tak kutahu apa namanya.

Setelah melewati jalan berpaving di tengah persawahan, kita sampai di jalan besar berdebu yang jauh membentang. Kau tak bisa melihat ujungnya. Matamu silau oleh cahaya terang matahari, dan terhalang oleh jarak yang teramat panjang. Selanjutnya, setelah puluhan menit, kita akan sampai di sebuah masjid megah yang berdiri di timur jalan. Tak jauh dari situ, sebuah jembatan menunggu untuk kau seberangi. Silakan menyeberang, atau mampir dulu sejenak di masjid untuk memulihkan kekuatan, karena perjalanan setelah melewati jembatan bukanlah sebuah perjalanan, melainkan penggilingan yang akan menguji kekuatan, ketabahan dan keberanianmu. Inilah dia, pintu gerbang menuju Lembor. Kabar ‘baiknya’ pintu gerbang itu berupa hutan lindung lebat nan lengang.

Yang kupikirkan saat pertama kali melintasi kawasan hutan ini adalah penyamun. Mereka bisa muncul kapan saja, dari mana saja, dari balik pohon jati, dari balik semak belukar, atau dari tikungan jalan yang tak nampak. Pikiran tentang penyamun bersenjata golok membuat perjalananku semakin dalam memasuki hutan semakin mengerikan. Tambahan lagi, sepanjang jalan aku berpapasan dengan orang-orang bermotor trail dengan menyelempangkan senapan pemburu di punggung. Mereka berwajah garang dan tampak sekali menembak bukanlah pekerjaan baru bagi jari-jari mereka. Tapi tentu saja mereka bukan penjahat seperti yang kukhawatirkan. Berikutnya, yang membuatku merinding adalah kemungkinan munculnya babi hutan dan menghadang di tengah jalan. Tapi tentu saja, alhamdulillah, tidak ada bahaya muncul sepanjang perjalanan. Justru sebaliknya, kejutan yang membuat pikiran segar dan jantung semakin sehat. Kau buktikan saja!

Di hutan ini kebanyakan jalannya menanjak dan rusak, batu-batu sebesar tinju berserakan. Di beberapa tempat ada jalan datar dengan genangan air memenuhi kubangan. Tapi, sebuah kejutan siap membuatmu berteriak girang: sebuah rute menurun dan lurus sepanjang kurang lebih seratus meter. Setelah kau berlelah mengayuh di jalan menanjak berbatu, akhirnya kau bisa menikmati roller-coaster di atas sepedamu.

Selanjutnya, aku lupa tepatnya di mana, setelah lama berkendara menuju ke barat, kita akan berbelok ke selatan. Melewati jalan yang jauh lebih mengerikan, mengingatkanmu pada kuburan yang dilupakan, mengayuh di bawah bongkahan batu sebesar rumah, di bawah kanopi hutan yang membuat matahari hilang, dan tiba-tiba saja, tampak atap rumah di kejauhan. Selamat, kau sekarang sampai di Lembor.

Sampai di sini, well, kau harus banyak berdoa. Bukan karena kita akan sampai di sebuah sumur batu yang angker, atau karena kita akan melintasi desa yang beringas, tapi karena benar-benar lupa jalannya. Hahaha. Ketika sampai di Lembor yang menjadi pemandu jalan adalah temanku. Besok dia tidak ikut bersepeda, maka akulah yang berperan untuk menyesatkan teman baru bersepedaku. Tapi, bukankah bersepeda bersama sahabat akrab dan dibumbui dengan jalan tersesat justru membuat pengalamannya lebih hebat? Hahaha.

Setelah melewati Lembor, tak butuh waktu lama, kita akan sampai ke Wide, wilayah terakhir jalur The Blew Trail sebelum berbalik pulang. Yang paling kuingat dari melintasi desa Wide adalah jalan menurun beraspal mulus menuju utara. Wow, itu sangat luar biasa! Jalannya lurus sempurna, aspalnya mulus tanpa cela, posisinya menurun secukupnya sehingga selama sekitar lima belas menit aku bersepeda tanpa perlu mengayuh–bahkan tanpa memegang stang! Sepanjang jalan aku tergoda untuk bernyanyi, berjoget, bahkan main gitar! Luar biasa, sungguh luar biasa trek menurun di desa Wide (di Google Map kau akan menemukannya dengan nama Sendangharjo). Besok, aku berencana meluncur di trek tersebut sambil baca buku.

***

Kemudian kita sampai di Pertigaan Pambon. Sebenarnya lebih tepat disebut perempatan, tapi sebutan pertigaan sudah ada sejak dahulu kala sehingga tak akan hilang walau ada satu jalan lagi terbentang di sana.

Pertigaan ini menjadi tanda berakhirnya petualangan kita, berakhir The Blew Trail yang menakjubkan. Selanjutnya kita akan berbelok ke timur, mengikuti jalur pantura, dan kembalilah kita ke titik awal perjalanan, rumah #arulife #arulight #aruliterature

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: