Posted in nebula, think

Kalau Agama Sekadar Kebetulan, Beban, dan Kebiasaan

image

Ada orang yang dengan bangga mengakui kekagumannya pada buku karya manusia, tapi risih untuk mengatakan bangga pada Al-Qur’an.
Ada orang yang dengan ringan mengakui ketergantungannya terhadap suatu benda, tergantung pada rokok, pada gadget, pada kendaraan, tapi enggan untuk mengatakan tergantung pada agama.
Ada orang yang dengan bangga merujuk pada pemikiran tokoh-tokoh di luar Islam, seperti Kant, Einstein, Aristotle, Plato, Marx, Freud, tapi pada saat yang sama menolak dengan keras untuk mengutip para pemikir dari agamanya sendiri, seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi, Luqman AL-Hakim, Ibnu Sina, dll.
Ada orang yang demikian tulus memedulikan persoalan dunia, seperti perfilman, musik, olahraga, sastra, tapi demikian acuh untuk memedulikan urusan agamanya.
Ada orang yang marah tak terkira ketika pendapatnya, atau teori yang dia percaya, atau orang yang dikaguminya, mendapatkan kritik pedas dari orang lain. Tapi pada saat yang sama demikian gemar mengeluarkan pendapat yang membuat kacau kemurnian agama.
Dan tidakkah semua itu membuat kita heran?

Mungkin orang-orang tersebut berbuat demikian karena merasa tidak mendapatkan manfaat apapun dari agama. Mungkin mereka merasa agama hanyalah sekumpulan peraturan dan beban. Mungkin mereka menyimpulkan agama hanyalah kebetulan dan kebiasaan karena dia tanpa sengaja lahir di lingkungan Islamnya. Jika demikian, mana mungkin engkau merasakan manfaat agama jika tidak kau beri kesempatan bagi dirimu untuk merasakan manfaatnya? Mana mungkin kau merasakan manfaat agama jika yang selalu kau lakukan adalah menjauhinya? Mana mungkin kau merasa butuh pada agama jika kau tak pernah menggunakannya? Kau membuat dirimu sendiri jauh dari agamamu.

Kau tidak pernah tergantung pada rokok sebelum kau membuat dirimu tergantung padanya. Kau tak pernah terikat pada riuh rendah dunia olahraga sebelum kau membiasakannya. Dan begitu pula untuk setiap urusan yang lainnya. Ketahuilah, Islam TIDAK MELARANG bertanya tentang keyakinan, bahkan Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menyimak alam semesta, bertanya dan bertanya untuk menemukan kebenaran. Ingatlah kisah Nabi Ibrahim, ingatlah kisah beliau dalam mencari kebenaran, ingatlah bagaimana beliau mempertanyakan semua hal untuk bisa sampai pada tauhid. Bahkan kisahnya tercantum dalam Al-Qur’an agar umat Islam tidak takut dalam memantapkan keyakinan melalui pencarian.

Ingat selalu, kau tidak bisa menemukan agamamu jika kau tak memberi kesempatan bagi dirimu untuk merasakan kebenarannya dalam hatimu.

***

Urusan mengarang, aku tidak akan segan mengakui bahwa aku mengagumi Stephen King dan dengan sadar mengunyah On Writing yang ia tulis bertahun-tahun yang lalu. Aku melihatnya sebagai seorang guru. Tapi hal itu tidak sanggup membuatku memalingkan wajah dari Luqman AL-Hakim jika bicara soal nasihat kehidupan dan keimanan. Stephen King punya kursinya sendiri, dan Luqman pun punya podiumnya sendiri #arulight

Anda bisa menemui saya di Twitter @arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s