• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Beruang yang Merindukan Surga

image

Aku adalah seekor beruang, aku lahir di sini. Dan hal pertama yang kulihat adalah makhluk yang sama sekali berbeda denganku. Beberapa waktu kemudian aku tahu makhluk-makhluk seperti itu disebut manusia.

Dia membersihkan tubuhku, memberi susu, kemudian memberikan aku pada makhluk besar yang tampak sama persis denganku. Kemudian aku tahu makhluk itu adalah ibuku. Dan hidupku pun dimulai, di sini, di kebun binatang.

Ibu sering bercerita tentang sebuah dunia yang sangat berbeda dengan dunia kami saat ini. Dunia yang hijau, lebat oleh pepohonan rimbun, ada sungai besar membentang, airnya mengalir deras, dan ikan salmon berenang berkelompok dalam jumlah ribuan. Di dunia itu, setiap beruang bebas berkeliaran sejauh puluhan kilometer ke setiap arah yang dia suka. Setiap beruang akan mengenal sekurang-kurangnya 50 ekor beruang yang lain seumur hidupnya. Bahkan, di dunia yang indah itu, setiap beruang bebas mau makan kapan saja. Itu cerita yang sanggup membuatku tercengang. Lalu kata ibu, “tempat itu namanya Surga Hutan. Di sanalah tempat terbaik bagi semua beruang.”

Cerita surga hutan sangat menarik didengarkan saat aku masih kecil, tapi setelah beranjak dewasa, aku mulai berpikir mungkin surga hutan hanyalah khayalan belaka. Tapi ibu masih saja suka menceritakannya, bahkan saat menjelang akhir hidupnya. Ibu meninggal dengan lukisan surga hutan mengapung di bola matanya yang dalam.

Kini, di saat kesendirian memerangkap diriku, dan hanya gerombolan manusia berteriak-teriak di luar jeruji besi tempat tinggalku, aku mulai terpikir soal surga hutan. Aku memang tidak pernah melihat adanya tempat seperti itu, tapi hati kecilku merasakan sebuah panggilan sayup yang kutafsirkan sebagai bisikan surga hutan.

Kuamati tubuhku, tidak mungkin Tuhan menciptakan tangan kuat berkuku tajam hanya untuk menunggu makanan dituangkan dari ember manusia, pasti ia diciptakan untuk menyergap, mencengkeram, dan merobek mangsanya yang bergerak lincah. Tidak mungkin pula Tuhan menciptakan kaki kokoh hanya untuk bergerak sepuluh langkah dan membentur jeruji besi, pastilah ia dimaksudkan untuk berlatih puluhan kilometer, menerjang rintangan, mengejar pengganggu yang harus diusir ketakutan. Pikiran-pikiran seperti itu bermunculan dan mengganggu ketenanganku.

Sesekali, ketika kebun binatang sedang sepi, aku duduk termenung dan dengan keras berusaha mengingat semua cerita ibu tentang surga hutan. Kemudian tiba-tiba aku terlonjak kaget dan berdiri, “tak sewajarnya beruang duduk di kursi!”

***

Mari lindungi hutan kita, keanekaragaman hayati kita, kekayaan alam kita. Kita akan melahirkan anak cucu yang memiliki hak sama sahnya dengan hak kita saat ini untuk menikmati semua itu. []

Ikuti Twitter saya @arulight #aruliterature

2 Responses

  1. Alhamdulillah ad tulisan ini.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: