• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Tips Bagi Penulis: Temukan Idemu, Lahirkan Bukumu

image

Berikut ini adalah beberapa tips menumbuhkan ide menulis. Faktanya, terkadang kau bahkan tidak perlu mencari ide, atau menunggunya datang sampai berhari-hari, atau menghabiskan banyak uang berkeliaran di muka bumi demi inspirasi. Sering kali ide itu sudah ada di dalam dirimu hanya saja kau belum mengoreknya keluar. Mari periksa cara-cara pemuncul ide di bawah ini:

Pertama, buatlah daftar selengkap-lengkapnya mengenai hal-hal berikut:
1.  Apa saja yang sering kau khayalkan.
2. Kegemaran khusus yang kau punya (sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, perihal suku dayak, gaya kehidupan gaul remaja, mengumpulkan resep masakan, dll)
3. Sesuatu yang kau kuasai dengan baik. Bisa jadi ini berkaitan dengan sesuatu yang khas, mungkin kau ahli sejarah, menguasai teori-teori seputar alien dan UFO, cara memasak, atau mungkin berkaitan dengan sesuatu yang sama sekali tidak unik. Tidak masalah, yang penting kamu sangat menguasainya. Misal, kamu ahli dalam menerbangkan layang-layang. Pokoknya apa saja yang kau kuasai dengan baik.
4. Kegemaranmu saat ini. Untuk menentukan apa yang sedang kau gemari saat ini, kau harus menemukan apa yang (untuk saat ini) bisa kau ulas dengan panjang lebar. Ketika membicarakan hal itu maka kau akan lancar berbicara banyak dan lengkap.
5. Apa saja yang kau sukai sewaktu kecil
6. Apa saja yang kau takuti / khawatirkan
7. Buku / cerita / film yang kau sukai sewaktu kecil
8. Buku / cerita / film yang kau sukai saat ini

Nah, selanjutnya apa? Tulislah penjabaran masing-masing daftar di atas. Tulis dengan detail dan lengkap. Kau tidak harus begadang semalam suntuk untuk mengerjakan semua delapan daftar di atas, bahkan akan sangat baik sekali jika kau menyediakan beberapa malam untuk menuliskan semua daftar tersebut dengan benar-benar lengkap. Tulislah sampai ke hal-hal yang sangat remeh berkaitan setiap poin yang sedang kau ulas.

Contoh, untuk poin pertama, khayalan. Tulisah sebanyak mungkin khayalan yang sering hinggap di pikiranmu. Jika selama ini kau sering mengkhayalkan menjadi seornag penulis terkenal, tulis saja. Tulis dengan detail khayalan tersebut sebagaimana saat kau membayangkannya dalam pikiranmu. Pada saat sedang menulis khayalan tersebut, jika di tengah jalan kau mendapatkan ide baru tentang bagaimana rasanya menjadi penulis terkenal, tulislah ide baru tersebut. Sehingga khayalanmu akan kehidupan sebagai penulis terkenal menjadi semakin matang dan lengkap.

Saat menulis poin ke lima, tuangkan semua kenangan masa kecilmu. Dan jika saat sedang menulis semua kenangan itu kau tiba-tiba merasa sedih dan kehilangan, tulis pula perasaan kehilangan terebut. Jangan ragu. Jika kemudian kau mulai berharap kesenangan-kesangan itu bisa kembali ke masa kini, tulis pula semua harapan-harapan yang muncul di hatimu. Pokoknya, tulis semua yang melintas di benakmu berkaitan poin yang sedang kau garap. Aku tidak akan heran jika kau membutuhkan satu malam untuk setiap poin.

Lantas, kapan akan menemukan ide untuk dijadikan buku? Hey, kau bahkan sedang bermain dengan ide tersebut! Kau masih belum menyadarinya?

Setiap orang adalah unik. Setiap orang memiliki kisahnya sendiri dan sudut pandangnya sendiri. Daftar yang kau suka sewaktu kecil tidak akan sama dengan jutaan orang yang dulunya pernah menjalani masa kecil juga. Dan kalaupun kebetulan sekali ada yang sama persis daftarnya dengan milikmu, kesanmu terhadap setiap hal tersebut pasti berbeda dengan mereka.

Tips di atas baru saja membantumu mengeluarkan ‘buku’ yang sudah sejak puluhan tahun lalu tertanam dalam dirimu. Dengan menuliskan delapan hal di atas, sebenarnya kau sedang menyusun bahan mentah untuk sebuah buku yang menarik dan bisa saja best seller di pasaran. Kabar baiknya, yang kau temukan tadi baru peluang pertama, peluang kedua yang bisa kau dapatkan dengan mengikuti tips di atas justru lebih hebat lagi.

Sebenarnya kegiatan menulis sesuai daftar delapan hal di atas tidak jauh berbeda dengan kegiatan brain storming, di mana kau didorong untuk menuliskan apa saja yang terlintas di benakmu untuk memancing munculnya sebuah ‘aha!’. Kegiatan ini pun memiliki efek serupa. Bisa jadi saat kau sedang mengulas poin tiga, sesuatu yang kau kuasai dengan baik, tiba-tiba terbetik sebuah ide di benakmu. Sebuah ide yang sama sekali tidak berkaitan dengan yang sedang kau tulis tapi entah bagamana justru bisa muncul di benakmu saat itu.

Pada saat ide itu muncul, segera saja kau tidak lanjuti dengan membuat rancangan bukumu. Rumuskan dengan teliti dan persiapkan dengan matang. Nah, kau baru mencapai poin tiga tapi sudah mempunyai sebuah buku, kau masih punya lima cara lain untuk memunculkan ide buku berikutnya. Tapi, apakah ada masalah tertentu untuk menerapkan teknik ini?

Well, menurutku, tantangan terberat untuk menemukan ide menulis buku adalah dirimu sendiri. Yap, dirimu sendiri. Apakah kau cukup gigih atau kau berharap ide akan muncul begitu saja layaknya matahari yang pasti terbit tanpa kau perlu repot-repot mengundnagnya datang? Ide adalah sebuah penemuan, dan penemuan butuh tindakan agar bisa menjadi kenyataan. Buanglah kemalasan di tanganmu, mulailah mencorat-coret kertasmu, dan bergembiralah dalam proses menemukan (kembali) ide yang sudah lama antri untuk kau temukan.

Sesuatu mengenai ‘ide’ yang perlu kau kenal dengan baik adalah kenyataan bahwa kebanyakan ide seringkali datang berupa percikan pikiran yang tidak utuh. Hanya sepotong saja. Walaupun ada juga sih penulis yang ketika mendapatkan sebuah ide pada saat itu juga ide tersebut sudah rampung tersusun sebagai sebuah buku di pikirannya, tapi jumlah orang seperti itu sangat sedirkit. Dan bisa jadi kau bukan salah satunya.

Ketika kau mendapat ide mentah seperti itu, jangan kecewa. Tampung, simpan, dan rawat ide tersebut. Bahkan sesungguhnya, proses menulis dan mengembangkan buku dari sebuah ide yang tak sempurna adalah sebuah proses yang luar biasa. Menyenangkan sekaligus memberkan kepuasan pada setiap temuan baru yang kau dapatkan. Aku seringkali mengalamainya. Ketika sedang berjalan atau membaca tiba-tiba mendapat kilatan gagasan untuk digabung dengan ide kurang lengkap yang sudah ada sebelumnya. Sehingga ide yang awalnya hanya secuil kisah berubah menjadi sebuah cerita yang lengkap dan mendebarkan.

Oh ya, apakah semua ide yang kita dapatkan harus kita rawat dan kembangkan? Mm… aku tidak berpikir demikian. Memang setiap ide itu berharga dan penting, tapi tidak semuanya layak dan tepat. Jika pada saat ini kau mendapat ide untuk menulis buku “Basejam, Grup Band Anak Muda Penuh Pesona”, sayang sekali, kau menemukan ide yang sudah terlambat sepuluh tahun lebih! Itu ide yang bagus tapi tidak tepat waktu. Jadi, ide seperti apa yang harus dikembangkan? Sebelum kujawab, aku ingin memastikan hal ini terlebih dahulu: kita menulis buku untuk diterbitkan dan dibeli orang. Benar?

Maka dari itu, ide yang harus kau kembangkan adalah ide yang akan diterima oleh khalayak. Ide yang akan diserap oleh pembaca dan pasar akan menyukai hal itu. Itulah yang akan mengantarkan bukumu untuk bertengger di rak best seller, dan membuat penerbit berani mencetak ulang karyamu. Kecuali jika kau berencana untuk membuat sendiri ebook dan membagikannya dengan gratis, kau boleh menulis apa saja yang terlintas di benakmu. Mengapa demikian? Karena penerbit adalah perusahaan, untuk menghasilkan sebuah buku perusahaan tersebut harus mengeluarkan uang. Sampai sekarang kertas tidak ada yang gratis, kan? Jika penerbit menerbitkan buku yang tidak dibeli orang, lantas siapa yang akan membayar kerugian yang mereka alami? Nah, maka mulailah menyeleksi ide-ide yang kau dapatkan dan setelah memutuskan satu yang terbaik, segera tulis! Ide itu sudah bertahun-tahun terjebak dalam otakmu, ketika ia keluar, ia layak untuk kau hargai dengan menjadikannya sebuah buku.

Dan jangan lupa, menulis sebuah buku itu butuh waktu. Aduhai, sangat butuh waktu! Waktu paling lama yang kualami untuk menerbitkan sebuah buku adalah sembilan tahun! Paling cepat menyelesaikan sebuah novel selama lima hari enam malam. Tapi butuh beberapa tahun agar buku itu  bisa terbit. Nah, selain itu, di komputerku ada bertumpuk judul novel atau buku nonfiksi yang macet pada halaman puluhan—terkahir kuperiksa ada yang sudah mencapai halaman sembilan puluh satu.

Menulis sangat butuh kesabaran dan ketelatenan. Menulis adalah kerja keras yang terjadi di atas kursi dan meja. Dan kuberitahukan padamu, bahwa kebanyakan orang tidak bisa menerbitkan novelnya bukan hanya karena tidak diterima oleh penerbit, tapi karena mereka tidak sanggup menyelesaikan naskahnya sendiri. Kau bisa saja menjadi salah satunya jika tidak berusaha.

Bagaimana jika sebelum membaca artikel ini kau sudah mulai / terbiasa menulis? Mungkin kau perlu mendengarkan nasihat ini agar tulisanmu yang sudah jadi tidak menganggur selamanya: sebuah buku terbit bukan hanya karena isinya yang bagus, idenya yang menarik, tapi juga karena cara bercerita dan tata bahasanya yang menarik dan benar. Kau sebaiknya menguasai EYD dan struktur kalimat, pembentukan paragraph, membuat dialog, dan semacamnya sebelum mulai menulis cerita. Itu sangat penting. Orang mengendarai mobil bukan hanya soal menginjak gas dan memutar setir, tapi kau harus melengkapi dirimu dengan banyak hal lain yang akan mebuat perjalananmu aman dan selamat sampai tujuan. Menulis, pun seperti itu. ada persiapan teknis yang harus kau miliki terlebih dahulu sebelum mulai menari di atas keyboard.

Berikutnya, kuberitahukan padamu beberapa hal yang akan dengan sangat sukses membuat bukumu gagal, hahaha. Kau harus benar-benar memperhatikan hal-hal ini karena banyak penulis pemula lainnya yang telah membuktikan bahwa mengacuhkan nasihat ini hanya berakibat kegagalan:

1. Jika kau gegabah menggarap ide ceritamu, tanpa melakukan riset atau apa saja agar ide itu lebih matang, kau pasti gagal.
2. Jika kau tidak tahu selera pembaca atau ragam buku yang sedang diminati khalayak, bukumu tidak akan laku
3. Jika kau tidak memiliki ilmu menulis dasar, wahaha, tulisanmu hanya akan menyiksa banyak orang yang membaca dan kau gagal!
4. Jika kau berharap bisa menggarap bukumu dalam waktu singkat, kau akan kecewa
5. Jika kau dengan sombong tidak mengindahkan empat nasihat di atas, kau sedang mengundang Tuan Kecewa datang ke rumahmu—itupun kalau kau punya rumah.

Nah, sekarang giliranmu untuk mulai menulis ceritamu. []

Ikuti saya di Twitter: @arulight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: