Posted in ehon, sastra, think

Penulis yang berkata, “perpocong dengan semua itu!”

image

“SEORANG penulis disebut penulis bukan karena dia bisa menulis dengan baik dan lancar, atau karena dia punya bakat yang menakjubkan, atau karena apapun yang dia tulis akan menjadi luar biasa. Seorang penulis disebut penulis karena dia tetap menulis walau tidak ada harapan samasekali untuknya, bahkan ketika setiap yang dia tulis tidak menjanjikan apapun untuknya.”
—Junot Diaz; Profesor of Writing, peraih Penghargaan Pulitzer untuk fiksi
***
Aku masih sekolah dasar waktu itu. Mengumpulkan uang jajan selama beberapa minggu dan setelah terkumpul lima ribu rupiah, aku membeli buku tebal hardcover yang pertama dalam hidupku. Lalu dengan bangga kutuntaskan rencanaku yang sudah kusimpan berbulan-bulan sebelumnya: menulis semua cerita dan puisiku di buku tersebut. Dan sebagai penghargaan untuk kerja kreatif tersebut, ibu dan kakak perempuanku memarahiku. Hahaha, tentu saja. Saat itu sebuah buku—apa lagi yang hardcover dan tebal—adalah barang mewah yang harus kau gunakan untuk sesuatu yang berguna, seperti menjadi buku pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, IPA, dan semacamnya. Cerpen dan puisi? Jelas tidak masuk kategori tersebut. Kau tidak bisa masuk lima besar di kelas dengan menghasilkan satu buku cerpen dan puisi.

Walaupun akhirnya kakak perempuan dan ibuku menjadi orang yang sangat amat mendukungku dalam dunia tulis menulis, tapi pengalaman masa kecil itu tak pernah kulupakan. Di samping sebagai pelajaran bagiku saat nanti dengan sengaja punya anak, juga karena kenangan itu selalu terasa menyenangkan untuk diingat saat ini. Ya, semua kenangan pasti terasa manis setelah melewati masa sepuluh tahun.

Aku sudah suka dan melakukan kegiatan menulis sejak SD. Tidak ada yang menyuruhku, tidak ada yang memotivasiku, tidak ada yang mengarahkanku. Semuanya muncul begitu saja sebagaimana kita tak pernah menyuruh ayam jantan berkokok tiap pukul tiga pagi. Tapi begitulah mereka selalu berkokok. Hobi menulis ini diawali dengan hobi membaca. Sejak kelas empat aku sudah gemar membaca. Membaca apa saja termasuk pelajaran SMP kakakku. Aku bahkan bisa menghabiskan buku setebal lima ratus halaman dalam tiga hari! Tapi yang paling kusuka adalah cerita petualangan, horror dan komedi; semua jenis cerita yang hampir tidak bisa kutemukan di perpustakaan SD waktu itu. Dari masa itu, buku cerita yang selalu kuingat diantaranya Regu Garuda Berkemah, serial Jiwa Patriot karya Moerwanto, Pak Gangsir Juru Ramal Istana, kisah horror sekelompok maling yang menyamar jadi pocong dan menakut-nakuti seluruh desa, juga sebuah buku terjemahan kisah petualangan Marco Polo yang diceritakan melalui sudut pandang pendamping setianya Tonio Tumba (semoga aku tidak salah menyebut nama yang sudah bertahun-tahun itu). Selain semua buku itu, aku lebih banyak lagi membaca buku cerita yang sudah tua bahkan tak sedikit masih menggunakan bahasa Indonesia lama yang lebih terasa Melayu-nya daripada Indonesia-nya. Aku membaca semua itu karena jika tidak, aku terpaksa harus membaca kembali buku pelajaran kakak-kakakku untuk ke delapan kalinya dan itu melelahkan.

Jika kau hobi membaca, ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi sebagai efek domino: pertama kau akan menjadi kolektor buku, kedua  kau akan punya keinginan menjadi penulis, dan ketiga kau sebaiknya sering pergi ke dokter mata. Karena waktu itu di tempatku tidak ada toko buku dan tidak ada cukup uang untuk membeli apapun selain yang super penting, aku tidak menjadi kolektor buku. Sebagai anak kecil normal yang pasti takut pada dokter, aku tidak pernah mengunjungi dokter mata. Selain itu, memang di tempatku tidak ada dokter mata—bahkan sampai hari ini. Maka hanya ada pilihan nomor dua untukku: ingin menjadi penulis. Dan aku pun mewujudkannya.

Kebanyakan buku tulis sekolahku adalah buku bekas kakak perempuan atau kakak sepupuku. Lantas di mana aku menulis semua ceritaku sebelum membeli buku hardcover spektakuler itu? aku menulisnya di buku bekasnya buku bekas. Aku benar-benar gila menulis saat itu sampai-sampai pada waktu tertentu aku membatasi diriku untuk hanya menulis lima puisi sehari. Tidak boleh lebih. Jika tidak, maka buku bekas ini akan habis terlalu cepat dan aku akan kebingungan di mana harus menulis selanjutnya.

Itu masa-masa yang menyenangkan dan penuh gairah. Diam-diam aku mulai membangun gambaran-gambaran acakadut mengenai masa depan hobiku ini: suatu hari nanti… aku akan menjadi penulis terkenal… bukuku akan dibaca ribuan orang… lebih hebat dari kisah pocong palsu peneror kampung… dan… dan… semua catatan masa kecil ini akan diburu orang… harganya bisa sampai ratusan juta! Hahaha, itu khayalan yang menakjubkan. aku yakin tidak ada satu pun di antara teman kelasku, atau di antara semua siswa di sekolahku, atau bahkan semua orang di kampungku, punya khayalan serupa milikku. Aku yakin saat itu akulah satu-satunya anak SD yang hobi membaca, dan satu-satunya anak kecil yang hobi menulis di seluruh kampung. Yah, memang pernyataan ini tidak bisa dibuktikan tapi bukankah sekarang kau sedang membaca kisah dari sudut pandangku? Jadi, hey, percaya saja apa yang kuceritakan!

Tidak pernah membaca buku tips menulis, tidak pernah diajari cara menulis (mengarang), dan tidak punya teman untuk berbagi tulisan, itu kulalui sampai lulus SMA. Apakah itu masalah? Samasekali tidak. Memang terkadang itu membuatku kesepian, tapi justru kesepian itu kupiting, lalu kubanting, kutarik lubang hidungnya dan mengubahnya menjadi tulisan-tulisan yang indah. Aku akan sangat membenarkan pendapat bahwa kesepian adalah salah satu sumber insipirasi besar untuk menulis sesuatu yang, yah, belum tentu menginspirasi. Bagaimanapun, dengan menjadi penulis, setiap keadaan bisa kupandang dengan menyenangkan. Apalagi ketika aku sudah pindah ke Jawa untuk kuliah. Dalam cara tertentu, menulis membuatku sedikit keren dan sedikit terkenal. Hey, jujur saja, mahasiswa mana yang tidak mau keren dan terkenal walau sedikit?

Aku menulis berbagai macam cerita, mulai dari yang horror (Apa yang Terjadi Saat Tengah Malam di Jalan Depan Rumah), kisah komedi (Jika Aurora Berwarna Tiga), atau juga kisah perenungan (Laran Jhubok), dan berbagai macam cerita lainnya. Selain cerita, juga menulis essai, opini, sampai resensi—baru mulai kulakukan belakangan ini. Dan ketika ada yang bertanya, “Mas Arul belajar menulis dari mana?” aku pun seketika sadar bahwa aku seorang otodidak.

Aku memulai menulis dari hobi membaca. Lalu dari situ aku menyadari bahwa ada yang namanya awal cerita, munculnya masalah, penyelesaian masalah. Maka ketika aku mulai menulis ceritaku sendiri, aku memulainya dari peristiwa yang ringan, lalu muncul masalah, masalah semakin merepotkan, masalah diatasi, dan kemudian berakhir: bahagia atau merana. Sesederhana itu. Sejak kelas enam SD sampai entah semester keberapa di bangku kuliah aku melakukan hal itu. Hasilnya? Aku yakin aku melakukannya cukup baik. Karena aku bisa membuat orang ketakutan dengan cerita hororku, membuat tertawa dengan komediku, dan membuat pembaca menarik nafas dalam dengan kisah perenunganku. Sampai kemudian aku berkenalan dengan teori menulis.

Teori menulis, tips menulis, panduan menulis, ASTAGA! Aku baru tahu bahwa kita seharusnya membuat karakter yang lengket dalam ingatan, jangan karakter yang mirip dengan kebanyakan orang sehingga cepat dilupakan. Harus menentukan genre dan plot, bagaimana membuat kalimat efektif, bagaimana membentuk gaya menulis, bagaimana membuat kalimat bertenaga, bagaimana menggunakan kata kerja bukannya kata sifat. Bagaimana menganukan, bagaimana mengitukan, bagaimana…. BAGAIMANAAA! Banyak sekali yang harus dibaca dan diingat sampai membuatku takut. Sungguh, aku tidak bergurau, itu membuatku takut. Semua petunjuk dan tips menulis itu membuatku berpikir apakah selama ini aku sudah menginikan? Mengitukan? Dan menganukan tulisanku? Tapi semua itu diakui sebagai cara untuk membuat tulisan yang lebih baik. Maka dengan gamang dan takut-takut aku pun mulai menulis lagi sambil berusaha mengingat semua teori dan mengaplikasikannya.

Hasilnya? Biasanya aku menyikat habis satu halaman tak sampai sepuluh menit, gara-gara pikiran akan semua teori itu untuk menyelesaikan satu kalimat saja lima menit tidak cukup. Aku selalu merasa salah dan salah dan salah dan KONYOL! Aku tidak bisa menyelesaikan satu halamanku dalam satu hari. Ini membuatku tertawa ngakak. Mengapa justru ketika mau mengaplikasikan teori super untuk menjadi penulis fantastis justru aku mlempem dan menjadi penulis anak bebek? Padahal dulu sebelum semua teori ini masuk otakku aku bisa menulis dengan lancar dan enak. Jadi, apa yang… aha! Aku pun langsung tahu apa yang harus kulakukan. Kutarik kursiku, duduk dengan tenang, bersiap menulis, dan dengan lantang kukatakan, “Perpocong dengan semua itu!” (kalau kamu ketemu pocong, selain berteriak pocoooong, apa lagi yang mungkin menjerit dari tenggorokanmu? Setaaaannnn! Pocong dan setan sinonim, bukan?)
***
Menulislah. Menulislah sesuai cara yang paling kau suka. Menulislah dengan cara yang paling membuatmu bahagia. Menulislah dengan kegembiraan dan kepuasan yang pasti kau dapatkan selama prosesnya.  Jika karena hasrat menerapkan berbagai teori menulis kemudian tulisanmu justru jadi robot kaku dan otakmu epilepsy sementara kegembiraan menguap langsung dari hatimu, hentikan hasrat itu. Lupakan. Menulislah seperti biasanya. Seperti cara yang kau tahu kau menikmatinya.

Lantas bagaimana untuk meningkatkan kualitas tulisan kita? Aku amat sangat banget setuju bahwa belajar teori menulis bisa membantu tulisanmu menjadi lebih bagus-lebih berkualitas. Itu sudah dibuktikan oleh sangat banyak orang. Akan tetapi, itu bukan satu-satunya cara dan tidak semua orang memiliki cara belajar yang sama. Kau bisa dengan banyak membaca dan menyerap gaya menulis dari buku-buku yang kau baca. Temukan satu penulis yang paling ngepas denganmu kemudian menulislah dengan mengcopy habis gayanya menulis. Bersama waktu, akhirnya kau akan mampu menulis dengan gayamu sendiri yang mandiri dan bebas dari gaya penulis favoritmu tadi—ini cara yang kugunakan, sewaktu MTs aku mencopy habis gaya Ziarah karya Iwan Simatupang. Cara berikutnya untuk mengukur seberapa baik perkembanganmu, tunjukkan karyamu pada orang-orang di sekitarmu dan minta pendapat mereka. Jangan malu orang lain membaca karyamu, jangan besar kepala ketika pembaca memujimu, jangan mengencangkan urat leher ketika pembaca mengkritik karyamu. Ambil semua itu sebagai pelajaran dari guru besar kesusasteraan yang akan kau hargai dengan hidup dan semangat menulismu.

Ingat sobat, menjadi penulis tidak berarti kau harus membuat karya yang spektakuler dan dibeli ribuan orang, menjadi penulis tidak juga berarti setiap tulisanmu sanggup menyihir orang dan membuat mereka mabuk kepayang. Menjadi penulis adalah ketika kau terus menulis dan tetap menulis dan tetap menulis bahkan ketika apapun itu yang kau tulis tampaknya tidak dihargai siapapun. Menulis pertama-tama adalah untuk dirimu, jika kau puas, barulah kemudian ia bisa memuaskan orang lain. Dan setiap kali kau kebingungan saat berusaha menerapkan teori menulis dalam tulisanmu, hahaha, jangan segan memekikkan kalimat sakti ini: perpocong dengan semua itu!

BIODATA
ARUL Chandrana besar di Pulau Bawean, sebuah pulau kecil di tengah lautan antara pulau Jawa dan Kalimantan. Mulai mengarang sejak SD dan diam-diam memupuk impinnya untuk menerbitkan buku suatu hari nanti. Impian itu terwujud pada 2011 dengan terbitnya Pemburu Rembulan (Gradien Mediatama, Jogja), novel perdananaya. Karya lainnya adalah Berbagai Keajaiban dalam Hidup (Quanta-Gramedia, Jakarta). Tulisannya juga ada di beberapa antologi. Sekarang Arul tinggal di bagian paling utara Lamongan.
Arul bisa dihubungi di facebook: Arul Chandrana, atau Twitter @arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s