• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Rengginang Bawean: Sebuah Sejarah Singkat

Ketika masih SD, aku menanyakan apa makanan favorit sahabat baikku, Jalil, dia menjawab, ‘rengginang.’ Aku tertawa mendengar jawabannya itu, juga merasa hampir tak percaya. Pada saat itu, ada sebuah snack yang sangat populer di kalangan anak-anak, namanya Tic Tic, dan kukatakan pada Jalil bahwa makanan kesukaanku adalah Tic Tic. ‘masih lebih enak rengginang,’ Jalil berusaha meyakinkanku. Tapi justru aku yang semakin heran padanya, bagaimana bisa ada anak SD yang tidak memfavoritkan Tic Tic? Dan sekarang, 18 tahun kemudian, aku sama sekali tidak merindukan Tic Tic tapi aku meranggas merindukan lezatnya rengginang Bawean.

Rengginang Bawean punya bentuk persegi panjang yang khas. Kalau kubilang sekarang, bentuknya persis seperti Android layar 5′. Ada dua macam rasa dan warna, rengginang gurih berwarna putih, rengginang manis berwarna merah. Dan yang menjadi favorit si Jalil adalah rengginang putih yang gurih. Selain rengginang persegi 5′, ada juga rengginang lainnya dengan bentuk yang luar biasa dan hanya muncul pada saat-saat tertentu.

Ada rengginang bundar gepeng sebesar nampan, juga ada yang kecil seukuran tiga kali koin lima ratus rupiah. Dan yang paling mengesankan adalah rengginang kotak berukuran raksasa yang tak mungkin habis walau disantap empat orang dewasa. Kurang lebih ukurannya sebesar layar televisi 21′. Itu rengginang super yang belum pernah kumakan kecuali cuilan kecil darinya. Sayangnya, rasa dan kerenyahan rengginang raksasa tak semenakjubkan ukurannya. Rengginang itu terlalu liat, bahkan mendekati alot. Rasanya juga agak hambar.

Tic Tic, dibandingkan dengan rengginang, jelas tidak ada apa-apanya. Tic Tic hanyalah jajanan instan yang dibuat massal dengan mesin tanpa sentuhan sejarah dan kesungguhan hati dalam pembuatannya. Tic Tic lahir murni sebagai anak kandung bahan kimia atas dorongan kebutuhan harta. Dia memiliki kelezatan yang kuat tapi tak sanggup memikat. Dalam waktu singkat, anak-anak bosan dan tak lagi menginginkannya. Sementara rengginang, dia adalah makanan yang usianya hampir setua sejarah kemunculan ketan dalam budaya dan kehidupan manusia. Rasa gurih dan manisnya telah menjelajah ratusan generasi manusia. Menciptakan pengetahuan bawah sadar turun temurun akan definisi gurih dan lezat. Seorang bayi yang lahir telah berkenalan dengan rasa rengginang selama dalam kandungan melalui lidah ibu dan semua nenek moyangnya.

Rengginang telah menjadi makanan bagi manusia mulai dari raja hingga rakyat jelata. Rengginang telah menjadi bagian kehidupan tak peduli sudah berapa ratus orang yang membuatnya meninggal dunia. Rengginang telah bertahan menghadapi banyak perubahan sejarah dan peristiwa, dan ia tidak akan lenyap begitu saja dari dunia. Selama manusia masih menanam dan memanen ketan, selama itu rengginang akan bertahan.

Kini semuanya masuk akal mengapa aku merindukan rengginang dan bukannya Tic Tic, jajan favorit masa kecilku itu. Karena bagi rengginang, seleraku hanyalah kisah semenit dibandingkan seribu tahun sejarahnya. Di depan rengginang, lidahku tidak ada apa-apanya #arulight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: