• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

The Orchid Thief: Resensi Singkat Untuk Sebuah Buku Hebat

url

The Orchid Thief: Resensi Singkat Untuk Sebuah Buku Hebat
Judul Buku: Pencuri Anggrek
Penulis: Susan Orlean
Penerbit: Banana
Tahun Terbit: 2007
Penerjemah: Arief Ash Shiddiq
Tebal: 368 Halaman

“Banyak hal yang ia katakan bisa tampak menakjubkan, mengherankan, gila, atau musykil, tapi tidak satu kali pun mereka tampil membosankan (hal. 43)”

Ini adalah sebuah buku non fiksi tentang anggrek dan sihirnya, Florida dan rawa-rawa serta suku Indian Seminolenya, tentang kasus kriminal tanaman, tentang obsesi dan kegilaan, juga tentang sang pria tokoh utama yang tidak terlalu memenuhi setiap halaman buku. Pria itu bernama John Laroche, pria bukan Indian yang yakin dirinya masih juga keturunan ras Indian.

John Laroche adalah: “benar-benar bocah aneh.” Saat ia berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun, dia mendapat izin dari orang tuanya untuk memiliki hewan peliharaan. Laroche memutuskan untuk memiara kura-kura kecil. Lalu ia meminta sepuluh kura-kura kecil lagi. Lalu dia berkeputusan untuk mengembangbiakkan kura-kura dan mulai menjual pada anak-anak lainnya. Pada saat itu Laroche tidak bisa memikirkan apa-apa selain kura-kura dan yakin hidupnya akan hampa jika tidak dihabiskan untuk mengoleksi semua jenis kura-kura. Termasuk kura-kura Galapagos yang sebesar sofa.

John Laroche adalah pria aneh yang terjebak kasus criminal bunga anggrek langka dan dilindungi pemerintah yang telah menarik wartawati Susan Orlean untuk menulis kisah ini. Sebeum pada usia tiga puluhan dia menjadi penggila bunga anggrek, Laroche telah gila pada banyak ha sebelumnyal dan selalu menjadi obsesi. Dia pernah gila pada fosil jaman es, gila mengkoleksi cermin kuno, gila pada pemolesan permata. Hasratnya itu datang seketika dan memupus seketika pula pada kegemaran sebelumnya. Artinya, pun bisa hilang seketika pula.

Kisah dimulai dengan memeperkenalkan pembaca pada John Laroche, lalu pada persidangan yang memperkarakan Laroche bersama tiga orang Indian Seminole atas tindak pemindahan (= pencurian) anggrek hantu (ya, kau tak salah baca, anggrek hantu, bukan anggrek hutan) yang dilindungi pemerintah negara bagian Florida dari taman nasional Fakahatchee. Dan selanjutnya, buku setebal 368 halaman ini mengajak pembacanya berkelana, tersesat, terpukau, ngeri, dan geram menyaksikan bagaimana kehidupan orang-orang di sekitar anggrek. Pembaca juga akan dibuat tak habis pikir mengetahui betapa tanaman anggrek telah membentuk beberapa bagian dari sejarah dunia.
***

“Sebuah taksiran menyatakan bahwa anggrek mungkin berkembang di tanah yang secara alami teradiasi oleh meteor atau endapan mineral,dan bahwa radiasi itulah yang telah memutasi mereka menjadi ribuan bentuk yang memesona (hal 60)”

Bunga anggrek untuk pertama kalinya kukenali lewat buku ini, sebelumnya aku hanya sekedar pernah melihat. Sewaktu kecil, kakakku membawa sebuah anggrek dari hutan dan menempelkannya pada batang pohon jambu di dekat rumah dengan membungkus akarnya pakai sabut kelapa. Selama sebulan anggrek itu hanya menempel dengan tangkai yang tampak layu dan tak berdaya. Akarnya menjuntai dan kering seperti orang mati yang dilupakan dan tidak dikubur semestinya. Aku dan yang lainnya yakin dia sudah mati. Tapi kakakku bilang begitulah cara hidup anggrek, seperti orang mati dan nanti bangkit lagi. Lalu kami serumah mulai menertawakannya. Akhirnya anggrek itu dia buang ke tempat sampah di belakang rumah. Dan kami pun melupakan semua urusan anggrek itu. Setelah membaca buku The Orchid Thief, sembilan belas tahun kemudian, aku teringat lagi peristiwa itu dan jadi ragu, jangan-jangan memang anggrek itu masih hidup. Jangan-jangan itu anggrek yang laku dijual 500 ribu! Di Amerika, khususnya Florida, kau bisa menemukan anggrek seharga lima puluh dolar sampai yang seharga seratus ribu dolar.

Anggrek berbunga setahun sekali, tapi jika kau memeliharanya dari benih, kau harus menunggu tujuh tahun untuk mendapat bunga pertamanya! Kebanyakan anggrek hidup menempel pada pepohonan, tapi ada juga yang tumbuh di tanah. Anggrek tanah disebut juga epifit. Anggrek berkembang melalui penyerbukan yang dilakukan serangga. Charles Darwin suatu ketika menemukan sebuah anggrek di Madagaskar dengan kelopak bunga yang dalam dan sempit. Tidak mungkin serangga bisa masuk kedalamnya untuk menghisap nectar yang berada sejauh dua belas inci tanpa terjepit dan mati di dalamnya. Dibutuhkan belalai yang bisa memanjang belasan inci bagi serangga untuk menghisap dari anggrek tersebut. Tapi Darwin atau siapapun pada masa itu belum pernah melihat ada serangga bermoncong seperti itu. Darwin tak perlu menemukan serangga tersebut, karena keberadaan anggrek itu adalah bukti keberadaan anggrek aneh seperti itu.

Kini, orang bisa mengembang biakkan angrek di laboratorium. Bahkan para pembiak sengaja memutasi angrek-angrek untuk mendapatkan jenis baru yang eksotis. Anda bisa menemukan ratusan spesies anggrek baru dalam tiap tahunnya. Spesies baru yang menawan maupun yang gagal bergerombol lahir dari tangan manusia.
***

“Anggrek paling kecil tidak kasatmata dan yang paling besar punya rangkuman bunga sebesar bola sepak (hal. 61)”

Hobi mengoleksi anggrek sudah dimulai sejak ratusan tahun silam. Bahkan sebuah buku kesehatan Cina kuno mencantumkan anggrek sebagai salah satu bahan ramuan obat kuat. Pada era Victoria, orang-orang kaya Inggris mengutus para pemburu masuk ke hutan-hutan liar di Afrika, Asia dan Amerika Selatan untuk mencari, menemukan dan membawa pulang anggrek. Pada tahun 1900-an, kegilaan anggrek tidak menurun, malah sebaliknya. Pada era ini, karena harganya yang mahal dan asalnya yang eksotik, anggrek digunakan sebagai bukti kehormatan sebuah keluarga. Semakin mahal, unik dan jauh asal anggrek yang kau pelihara, semakin terpandang keluargamu.

Hal ini memicu memanasnya persaingan antar pengoleksi anggrek, yang tentu saja persaingan tersebut menjangkiti para pemburu yang diutus para kolektor untuk mencarinya. Maka, banyak kematian dalam pencarian anggrek pun tak dapat dihindari. Pembaca akan sangat terkejut mendapati fakta betapa bunga yang cantik ini telah merusak pikiran banyak orang, juga merenggut banyak nyawa.

Susan Orlean menyajikan banyak data mengenai segala peristiwa memilukan yang terjadi di sekitar perburuan anggrek. Mulai dari kematian pemburu bersama timnya akibat ganasnya alam Amerika Selatan dan belahan bumi asing lainnya, para pemburu yang ditangkap suku lokal dan dipanggang hidup-hidup, para pemburu yang masuk hutan dan tidak pernah keluar lagi kecuali kenangannya, para pemburu yang berkano di rawa-rawa dan sungai lembap untuk kemudian mati akibat malaria, atau disentri. Juga tentang para pemburu yang saling mencelakai demi ambisi menjadi satu-satunya penemu anggrek langka di tempat tertentu. Jika kau mengagumi mawar sebagai bunga cantik yang menyimpan kejahatan karena durinya, kau perlu membaca sejarah berdarah bunga anggrek dan akan tetawa terbahak-bahak mendengar bagaimana orang-orang menyanjung mawar dengan terlalu berlebihan.

Dan salah satu kegilaan paling jahanam di antara kegilaan lainnya yang telah diinveksikan anggrek pada manusia adalah bagaimana para orang kaya memerintah para pemburunya—atau inisiatif para pemburu anggrek itu sendiri—untuk membakar habis satu wilayah hutan yang sudah mereka panen anggreknya—tak peduli di hutan itu ada manusianya atau tidak, menjadi tempat tinggal suku tertentu atau tidak. Ini kegilaan yang ketakwarasannya sudah jauh melampaui garis gila yang wajar. Para pemburu itu menghancurkan hutan hanya agar tidak ada pemburu lainnya yang menemukan sesuatu yang terlewat oleh mereka. Hasrat untuk menjadi satu-satunya dalam bidang anggrek telah memudahkan bagi siapapun yang terlibat untuk membunuh atau menghancurkan. Di penghujung abad 21, seorang naturalist mengecam habis para pemburu anggrek yang merusak ekosistem hutan dengan alasan demi menyelamatkan keindahan tanaman.

Di era modern, di mana teknologi pembiakan tanaman semakin canggih dan peraturan perlindungan tanaman langka semakin ketat, kriminalitas di sekitar anggrek pun tak menurun. Pencurian dari rumah pembibitan, pembobolan toko bunga, penyelundupan anggrek langka, sampai transksi haram di perbatasan negara, tak pernah berhenti terjadi karena harga anggrek yang tak pernah pudar—tidak seperti tulip yang sempat melangit beberapa saat pada periode 1630-an dan setelah itu jatuh tak berharga. Di Amerika, sebuah kasus kriminal peranggrekan yang terjadi pada tahun 1994 akn mengejutkanmu setengah mati. Berita menghebohkan itu melibatkan seorang pria muda bernama Harto Kolopaking dan ratusan anggrek terlarang.

Pria berusia 28 tahun itu menyelundupkan 216 anggrek selop nyonya langka seharga hampir tiga belas ribu dolar pada seorang agen Badan Perikanan Dan Tanaman Amerika Serikat yang menyamar. Kolopaking diangkap dan dibawa kepengadilan. Dia mengaku pernah menjual RIBUAN anggrek illegal di Malibu. Pemuda ini tercatat dalam sejarah anggrek Amerika sebagai orang pertama yang dipenjarakan karena penyelundupan anggrek. Sebenarnya Kolopaking ini berasal dari keluarga yang cukup terkenal dalam dunia anggrek, bahkan nama ayahnya menjadi nama salah satu spesies anggrek, Paphiopedilum kolopakingii. Sebagai pekerjaan sehari-hari, keluarga Kolopaking punya sebuah toko tanaman yang terkenal di Jawa Timur.
***

“Tempat-tempat yang seram biasanya penuh dengan yang mati, tetapi Fakahatchee edan dengan makhluk-makhluk hidup. (hal 51)”

Ada sebuah anggrek yang menjadi ‘sosok’ sentral di antara para anggrek lainnya di buku ini: anggrek hantu, Polyrhizza lindenii. Dia adalah jenis anggrek yang paling sulit ditemukan dan rumit dibiakkan. Selama ini belum ada yang berhasil melakukanya dan kemungkinan besar tidak akan ada yang bisa karena membawa anggrek ini keluar dari Taman Nasional Fakahatchee adalah pelanggaran. Para jagawana akan meringkusmu sebelum sempat membawa anggrek langka itu tiga meter keluar dari taman nasional. Di samping itu, memasuki Fakahatchee sendiri bukanlah pekerjaan mudah.

Fakahatchee adalah taman nasional dibawah pengawasan pemerintah Florida yang berada di wilayah tanah ulayat suku Indian Seminole. Taman nasional ini sebagian besar terdiri dari rawa-rawa yang kedalamannya bisa menelan tubuhmu. Atau, kalau bukan karena dalamnya, maka kau akan ditelan oleh buayanya yang jumlah dan besarnya sungguh gila. Saking banyaknya buaya di Fakahatchee—dan Florida pada umumnya, warga sering menelepon polisi melaporkan ada buaya tidur di samping pintu masuk mobilnya.

Susan Orlean menceritakan ganasnya Fakahatchee dan rawa-rawanya benar-benar dengan gaya yang hidup dan menakjubkan. Kau akan merasa basah kakimu, gatal kulitmu, serta lengket tubuhmu karena kelembaban dan kegelisahan lumpur hitam yang mengikat kakikmu. Memakumu sehingga tak bisa menyelamatkan diri dari buaya yang berenang pelan menuju pinggangmu. Untuk mencapai kekuatan deskripsi seperti itu, serta lebih memahami karakter Laroche yang dia tulis, Susan Orlean harus datang ke Fakahatchee lebih dari sekali dan senantiasa terkejut dengan keganasan taman nasional tersebut yang tak pernah sama. Bahkan kesunyian pun tak pernah terasa sama. Tujuan lain Orlean datang berkunjung ke Fakahatchee juga untuk melihat langsung si anggrek hantu. Dan usahanya itu masih terus berlanjut sampai halaman terakhir buku.
***

Karena aku telah memberi judul bahwa ini akan menjadi sebuah tulisan yang singkat, maka aku harus berhenti di sini. Aku tidak bisa melanjutkan menulis tentang buku ini. Dengan kalimat yang lebih jujur, aku menyerah meresensi buku ini. Terlalu sulit. Terlalu kaya. Terlalu banyak yang berebut ingin ditampilkan. Karena semuanya terlalu menarik untuk dilewatkan pembaca.

Buku ini tidak hanya menceritakan sosok Laroche beserta segudang keeksentrikanya, tapi juga tentang kasus penipuan makelar tanah yang kini menjadi wilayah suku Indian Seminole, ia juga bercerita tentang pemberontakan kaum Indian dengan pimpinannya yang legendaris, Osceola—tahukah Anda bahwa secara resmi suku Indian belum berdamai dengan pemerintah Amerika? Karena sampai buku The Orchid Thief ditulis belum ada satu orang Indian pun yang menandatangani perjanjian damai pemerintah dan suku Indian.

Buku ini juga membawa pembacanya untuk mengunjungi pameran Anggrek, penjurian dan kejuaraan anggrek internasional. Berkenalan dengan orang-orang kaya dan terkenal dalam dunia anggek, juga mengunjungi bisnis yang dikelola suku Indian Seminole di reservasi mereka. Tentu juga kisah perburuan anggrek di hutan, pembiakan anggrek di laboratorium dengan radiasi, topan badai yang menghancurkan bisnis angrek, dan banyak lagi dan banyak lagi dan banyak lagi hal seru lainnya. Aku sendiri bingung ingin menulis bagian yang mana. Susan Orlean jelas telah menulis buku yang membuatku keok. Meresensi The Orchid Thief bahkan lebih sulit dari meresensi Baudolino-nya Umberto Eco. Dan kenyataan bahwa The Orchid Thief adalah sebuah buku investigasi, itu memberiku ilham untuk menjadikannya sebagai model andai suatu hari nanti aku menulis sebuah buku investigasi.

Jika kau seseorang yang menyukai gaya bahasa menarik, lincah, cantik, dan kaya, tidak menolak bacaan di luar kebiasaan, berminat membaca non fksi tentang tanaman, dan menyukai tulisan reportase yang ditampilkan seperti sebuah novel, kau harus membeli buku ini begitu bertemu di sebuah toko buku atau di sebuah pameran. Kau harus membelinya karena aku tidak akan menjual buku milikku, atau meminjamkannya padamu. Buku ini terlau hebat untuk keluar dengan utuh dari lemariku. Juga karena ia hadiah dari sahabat baikku, si David, yang kadang kupikir dia itu agak-agak gila, mirip Laroche lah.
***

22 Januari 2015
Temui penulis resensi ini di Taman Nasional Twitter @arulight mumpung dia belum gila (dan sama sekali tidak berencana untuk jadi salah satunya!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: