• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

BERSAMA DATANGNYA WAKTU

??????????????????????

Kebohongan. Orang selalu berkata bahwa mulut adalah sumber dari segala kebohongan. Mereka tidak salah. Ketika mulut berbicara, kebohongan apa saja bisa tercipta di sana. Kau hampir tidak bisa memastikan kebenaran dari sebuah mulut yang terlatih mengucapkan kebohongan. Namun demikian, semua orang pun mengatakan bahwa mulut bisa mengucapkan kebenaran, kejujuran. Kubilang, mereka salah. Mulut tidak pernah mengucapkan kebenaran, tapi ia menampilkan kebenaran ketika tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Aku menyadari hal ini ketika masih kecil. Kau tahu kan, orang tua suka mengatakan hal yang tidak sebenanrya untuk membujuk anaknya. Dan semua bocah menggunakan telinganya untuk terpedaya. Aku pun terpedaya, pada awalnya. Aku akan bergegas mandi untuk sebungkus es kri—yang tidak pernah kudapatkan. Aku akan menghabiskan nasiku karena hantu dapur—yang tak pernah muncul. Atau, aku akan memaksa memejamkan mata agar lekas tidur tidur dan selamat dari penculik bocah—yang tak pernah datang. Lalu akhirnya, pada salah satu kesempatan mendengarkan ancaman dan tipuan ini, aku melihat perbedaan tersebut.

Ketika ibu menceritakan atau membujuk atau menakutiku dengan sesuatu, ada perbedaan yang mencolok ketika dia berkata jujur atau hanya menakutiku. Perbedaan itu tampak hanya ketika dia setelah berbicara. Pada garis bibr yang terbentuk dalam kediamannya. Aku bisa membaca kebohongan seseorang dengan mencermati bentuk mulutnya setelah dia selesai berbicara. Kemudian, kemampuan mengamati kebohongan itu membuatku tinggal hanya bersama ibu sejak kelasdua SD. Pada suatu pagi di meja makan ayah mengatakan malam ini akan lembur. Aku tahu dia berbohong dari garis bibir yang terbentuk setelah dia menyelesaikan kalimatnya dan diam. Kediaman itu memberi waktu bagi garis-garis bibirnya untuk mengucapkan dengan lantang kebohongan yang hendak dia sembunyikan. Setelah tinggal kami bedua, ku sampaikan pada ibu apa yang kutahu. Dan ibu, yang sudah empat tahun berpengalaman dengan kemampuanku membogkar kebohongannya, tidak menyia-nyiakan waktu untuk membuntuti ayah. Dan ibu pulang sore harinya dengan wajah kacau dan mata sembab. Setelah itu, hari-hari hanya dipenuhi dengan pertengkaran dan teriakan. Kemudian, setelah dua atau tiga minggu kekacauan, rumah menjadi lebih lengang karena salah satu penghuninya pindah rumah. Dan tak pernah kembali.
***

Membaca kejujuran dalam kediaman sebenarnya tak terlalu sulit, kau tahu. Contoh paling sederhana, jika kau melihat orang ternganga, kau selalu tahu apakah dia menganga karena takut, jijik, terkejut, terpesona atau sama sekali tidak paham atas apa yang kau bicarakan. Ketika seseorang memberimu senyuman, kau bisa tahu apakah itu sebuah senyum mekanis, senyum tulus, senyum pura-pura, senyum senang, senyum untuk membuatmu senang, atau senyum jatuh cinta. Kau bisa membaca garis mulut untuk hampis semua jenis senyuman. Hey, apa kau tahu yang kumaksud dengan ‘senyum mekanis’? Pergilah ke sebuah mini market yang menjamur sampai ke desa-desa, begitu kau membuka pintu dan masuk satu langkah, kau akan mendapatkan sapaan otomatis serta sebuah senyum mekanis. Yang demikian itu tak ubahnya dengan robot yang mengacapkan selamat datang hanya karena sensor di depan pintu menscan dirimu. Jika kau melemparkan kaki kiri boneka kuda dan sensor mendeteksinya, ucapan selamat datang pun tetap akan diberikan seakan kaki boneka itu adalah manusia seutuhnya.

Setiap orang yang diam, setiap orang yang tidak bersuara, aku mengetahui apa yang berkecamuk dalam benaknya. Aku tahu sebuah buku menarik atau tidak dengan melihar bentuk mulut orang yang sedang membacanya. Aku merasakan kegelisahan orang yang kuajak bicara dengan mengamati mulutnya. Aku mengetahui harga yang ditawarkan si penjual terlalu mahal dengan mencermati mulutnya. Pun aku mengerti politisi yang berdusta dengan… tanpa melihat mulutnya kita semua tahu dia politisi yang berdusta. Dan, pada suatu hari ketika aku mulai merasa lelah dengan kemampuan ini, ketika itulah Tuhan menyelamatkanku. Aku menemukan hati yang paling murni dengan melihat kedua bibirnya membentuk garis paling jujur yang pernah kutemukan. Ketulusannya membuatku tak lelah mensyukuri bahwa diriku mengetahuinya. Pertemuan itu, ironisnya, terjadi di salah satu mini market di kotaku. Tempat di mana senyum mekanis berdarah dingin akan selalu kau dapatkan gratis.
***

Saat itu malam tahun baru dan semua orang berkumpul di alun-alun. Rumah kosku tak begitu jauh dari alun-alun dan setiap kembang api yang ditembakkan dari sana nampak jelas dari jendela kamarku. Ini tempat kos yang seratus ribu lebih mahal dari yang di pinggir kota.

Pukul 11.34 dan aku terbangun di atas dipanku dalam kamar yang temaram. Jangan heran, aku pria yang tidak bisa ditembus oleh hysteria massa semacam ini. Aku bahkan sejak SMP sudah mempertanyakan kehebohan malam tahun baru pada teman-temanku yang kegirangan menyambutnya: “hey, kira-kira matahari terbit dari mana besok?” Mereka akan tertawa saat menjawab pertanyaanku, “tentu saja dari timur.” Lalu aku membaca mulutnya. Dia tertawa dan sumringah bukan karena mengetahui jawaban pertanyanku, tentu saja, tapi karena pengaruh dari keceriaan tahun baru. Kemudian aku mengajukan pertanyaan kedua: “kalau demikian, tahun baru tidak ada bedanya kan dengan hari ini? Lantas apa yang bikin kamu senang banget? Kamu gak lucu deh.”

Siapapun yang terlibat dalam percakapan tahun baru denganku, dia tidak menjawab pernyataan terkahirku. Dia hanya diam sebelum memberiku satu tatapan tak senang. Lalu pergi. Tapi, karena dia hanya diam, aku pun tahu apa yang dia pikirkan lebih jelas dari yang bisa dijelaskan oleh mulut manapun: dia membenarkan pendapatku tapi menjadi tersinggung karena ada orang yang tidak seperti dirinya. Lucu bukan, memikirkan bagaimana manusia tbisa memusuhi orang lain yang tidak seperti dirinya.

Jadi, malam tahun baru itu aku terbangun sendirian. Rencana untuk menjalani malam tidur nyenyak baru saja gagal. Bisingnya sepeda-motor-jebol-knalpot meruntuhkan rencana tidur nyenyak di malam tahun baru. Lalu datang kabar yang lebih buruk, aku adalah orang yang tidak bisa dengan mudah kembali tidur jika terbangun di bawah pukul dua belas malam. Setelah itu, aku tahu akan segera datang kabar yang lebih buruk lagi: begitu jam menunjukkan pukul 00, lebih mustahil lagi untuk bisa melanjutkan tidur. Kebisingan luar biasa akan meledak dari alun-alun kota dan jalanan, mengoyak malam ini sampai membuat setiap kaca di jendela, pintu, atau lemari bergetar mau pecah. Jadi aku hanya terbaring begitu saja di atas dipan. Terkepung oleh suara bising mesin dan manusia di luar sana. Termenung menatap langit-langit dalam keremangan yang sesekali buyar oleh cahaya warna-warni kembang api menyusup masuk dari angkasa lewat jendela. Selalu saja ada seseorang yang tidak sabar untuk menyalakan kembang api sebelum waktunya.

11.48, aku semakin terjaga, semakin sadar, dan akhirnya, aku tahu aku lapar. Tidak ada makanan di sini. Hanya air minum yang tingal seleher gallon. Aku akan kelaparan sepanjang sisa malam, kecuali aku menemukan jalan keluar.

Mini market, itu jawaban yang aku dapatkan ketika mencari solusi rasa lapar. Kamar mandi, itu yang muncul di benakku ketika aku berpikir untuk keluar tanpa menampilkan wajah kacau dan rambut jigrak. Berjalan hati-hati, itu yang kuputuskan ketika sudah berdiri di depan pintu dan menatap jalanan: ramai, penuh sesak, tak sabar, saling mendesak. Tengah malam tahun baru tidak jauh beda denan pukul tujuh pagi hari senin. Ramai dan serba tak sabar. Perbedaanya, senin pagi para pengendara merasa gelisah, di malam tahun baru para pengendara menjadi buas.

Aku hampir mencapai mini market terdekat sambil menutup hidung dengan lengan baju ketika terdengar teriakan gegap gempita dari alun-aun kota.

Lima…
Empat…
Tiga…
Dua…
SATUUU…
Tanpa alasan yang jelas—mungkin pengaruh dari pengetahuan purba tentang malam tahun baru yang tertanam sejak kanak-kanak—aku mendongak menatap langit di atas alun-alun. Tak lama kemudian, suara bersiutan mendengking diiringi warna-warna cerah gemerlap melesat ke angkasa. Tiga warna sekaligus. Begitu mencapai ketinggian maksimal, tiga warna itu meledak, membentuk percikan cahaya benderang dan berkemilau. Kemudian, ledakan pertama itu meledak lagi dan membentuk taburan warna yang lebih kemilau dari sebelumnya, membuat langit hitam berkemilau sementara. Ledakannya nyaring menggelegar. Tidak bisa kubayangkan bagaimana jantung orang-orang tua di sekitar tempat ini.

Aku mendesah dan menurunkan wajah, melanjutkan perjalanan menuju mini market. Sama sekali tidak tertarik dengan kehebohan karena tahu pertunjukan selanjutnya tidak akan jauh berbeda. Puluhan kembang api akan ditembakkan ke udara. Menerangi angkasa dan mebentuk bayng-bayang cahaya di permukaan bumi. Diulang lagi dan lagi. Monoton, selalu beigtu, bahkan setelah ratusan tahun.

Aku menginjakkan kaki ke halaman parkir mini market ketika desingan beberapa kembang api memekak telinga. Dari suaranya kau tahu kembang api yang mahal dan besar, lebih menggelegar dan gemerlap dari yang sebelumnya. Sepertinya inilah kembang api yang diperbincangkan banyak orang dua hari belakangan ini. Khusus diimpor dari Cina untuk pertunjukan puncak. Selanjutnya terdengar ledakan membahana. Disusul dengan hujan cahaya warna-warni yang mengubah apa saja di bawah langit berubah warnanya. Seperti pertunjukan warna di lantai disko. Halaman parkir mini market ini berubah menjadi merah – hijau – kuning gemerlapan. Sejenak aku berdiri diam menyaksikan permainan cahya di lantai paving tersebut ketika sebuah suara perempuan terdengar tak jauh dariku.
“Sangat indah, bukan?”
“Oh, iya, seperti pelangi, tapi ini berantakan.” Jawabku sekenanya.
“Bukan, bukan kembang apinya.” Suara itu menanggapi.

Dan jawaban itu berhasil merebut perhatianku. Bukan kembang apinya? Jadi dia tidak sedang menikmati pertunjukan malam tahun baru. Benarkah di dunia ini ada seorang wanita ‘sepertiku’ soal tahun baru? Atau aku barusan berbicara dengan diriku yang lain—tapi mengapa terdengar seperti perempuan? Aku menoleh mencari sumber suara tersebut. Di sebelah kiriku, empat orang berseragam kombinasi warna merah dan putih sedang melonjak-lonjak senang menyaksikan kembang api. Jelas bukan salah satu dari mereka yang bicara. Mereka sangat menikmati pesta cahaya malam ini, mustahil membicarakan selain kembang api, bahkan, jika ada orang masuk diam-diam dan menguras isi mini market tak satupun dari mereka yang bakal tahu.

Aku menoleh ke kanan dan… di sana, seorang gadis, mengenakan seragam serupa dengan mereka yang di sebelah kiri, sedang berdiri tenang menyaksikan bintang-bintang yang berserak di sekitar bulan kecil, cemerlang tapi sesekali tersamarkan, tampak pula nebula berkilau pucat. Benarkah gadis itu yang barusan bicara? jelas sekali dia tidak sedang menikmati pertunjukan malam tahun baru, tapi apa buktinya bahwa dia yang tadi bicara? Gadis itu mengikat rambutnya kebelakang membentuk ekor kuda, ujungnya yang meruncing jatuh lima jari di bawah pundak. Pijar cahaya kembang api yang menimpa membuat rambut itu sesekali tampak berubah warna.

“Kamu yang bicara barusan?” tanyaku.
Gadis itu menoleh, tampak terkejut. “Oh, maaf. Aku sedang berbicara pada… pada diriku sendiri tadi. Maaf, kukira tidak ada orang.” Dia tersipu malu. Wajahnya dan kulitnya putih yang mendekati, mungkin karena terlalu lama bekerja dalam ruangan ber-AC.

“Tadi aku menjawabmu.” Kataku, tak peduli pada rasa sungkannya.
“Benarkah? Maaf, aku suka berbicara sendiri kalau sedang menikmati langit malam. Bulan, bintang, komet, bintang jatuh, bahkan kerlip lampu pesawat di malam hari pun menakjubkan.” Jawab gadis itu. Dia kini benar-benar tampak malu. Dia anggukkan kepalanya samar, lalu diam. Lalu bibirnya membentuk senyum. Lalu pipinya memberiku lesung pipit mungil. Lalu mulutnya menunjukkan garis-garis yang kubaca dengan nafas tertahan dan jantung berdentam. Lalu aku tahu aku belum pernah bertemu gadis seperti itu seumur hidupku.

Dia berkata jujur. Dia menyukai rembulan dan bintang-bintang lebih dari permainan cahaya fatamorgana buatan manusia. Dia berkata jujur, dia meminta maaf karena merasa bersalah telah mengangguku. Dan, dia jujur bahwa dia menunjukkan rasa malu karena ketahuan bebrbicara sendiri. Dan… satu lagi… ada satu hal yang membuatku tak bisa memikirkan hal lain. Dia membuatku kehilangan rasa lapar. Dia membuatku… membuatku ingin membaca garis bibirnya terus dan terus. Jadi, alih-alih berjalan menuju pintu, aku mendatanginya. Karena aku tak bisa melepaskan dari apa yang dia tampilkan dalam kediamannya.

“Kau lebih memilih melihat bintang daripada menyaksikan pertunjukan kembang api?” tanyaku membuka percakapan. Aku menjejerinya dan berdiri di sampingnya. Dia bergeser sedikit, membuat ruang satu langkah antara kami berdua.

Gadis rambut kuncir itu tidak langsung menjawab. Dia melipat kedua tangannya di dada, bukan jenis melipat tangan sebagai bahasa tubuh bahwa seseorang ingin menjaga jarak darimu, tapi sebagai bentuk rasa grogi yang lucu. Dia tersenyum simpul.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Oh, ‘iya’, ya? Kata iya terlalu singkat untuk menunjukkan bahwa kau menyukai sesuatu.” Aku berusaha membuatnya bercerita. Dan gadis itu tertawa kecil.
“Kamu…ehm, kau tahu, rembulan kecil itu seperti seorang ibu.” Jawabnya. Dari dekat, suaranya terdengar agak terlalu kecil untuk seseorang dengan tinggi sepertinya. Itu membuatnya tampak semakin imut.
“Seperti ibu? Hehehe,” aku menggaruk hidungku yang tak gatal. “Bersediakah Bu Guru menjelaskannya padaku?”

Dia tergelak mendengar guyonanku. ”Ibu kita hanya satu, bukan. Dan dia tidak pernah berubah dari menjadi dirinya sendiri. Walau ada begitu banyak wanita di sekitar kita, dengan segala pesona dan kehebatan mereka, tapi tak pernah bisa mengalahkan pesona dan kehebatan ibu kita yang tak pernah berubah. Rembulan, dia memiliki kekuatan seperti itu.”
“Juga bintang-bintang,” ucapku lirih.
“Juga bintang-bintang,” jawabnya.

Aku terpesona mendengar penjelasannya tadi. Aku tahu aku tidak akan mendapat jawaban seperti itu dari lima ratus, atau seribu, wanita yang akan kutemui setelah malam ini. Faktanya, jawaban seperti itu tak pernah kudenganr dari semua wanita yang telah kutemui sebelum ini.

Aku menatapnya, gadis itu memindah posisi kedua tangannya ke belakang punggung. Menyulam jari-jarinya membentuk satu kepalan tangan. Roman mukanya menunjukkan dia sedang grogi. Tapi bagaimana bisa dia bercerita tentang rembulan dengan begitu mudahnya? Kutatap wajahnya, kucari garis bibirnya, dan, sekali lagi, kejujuran itu terbaca dengan begitu terangnya. Aku tahu dia bukan gadis yang bisa kau cari di antara seribu wanita.
“Kau dari mana?” tanyaku penasaran.
“Aku berasal dari salah satu mereka.” Jawabnya sembari menyunggingkan senyum tipis. Lalu tangannya menunjuk pada gugusan bintang jauh di sana. Dia bercanda.
“Hahaha, kau dari sana? Dari luar angkasa?” aku ingin menggodanya.
“Planet Pluto,” katanya.
“Bukannya pluto sudah pensiun sebagai planet?”
“Hahaha, kau tahu juga ya. Mm, kau berbeda.” Jawab si gadis rembulan. dia taruh kembali kedua tangannya di depan dada.
“Berbeda? Apanya?”
“Hampir semua lelaki dewasa yang kujawab seperti tadi, mereka cuma berkata ‘kau bercanda, kan? Mana ada alien. Coba lihat KTP-mu’. Atau kurang lebih seperti itu. Tapi kau berbeda. Tampaknya kau baca buku.” Gadis itu memaparkan.
“Kau salah.” Kataku. Pandanganku berpindah-pindah dari langit dan turun ke wajahnya.
“Salah? Yang mana?” gadis tak mengerti/

Kini ganti aku tersenyum. Dari dialog yang belum sampai lima menit ini, aku tahu aku akan mendapatkan seorang sahabat. “Soal Pluto, aku tidak membaca, aku mendengar. Dari radio, BBC. Mereka yang memberi tahuku kalau Pluto pensiun.”
“BBC siaran pagi?”
“Bulan Juni.”
“Tahun 2006?”
“Ada dua penyiar saat itu. Laki perempuan.”
“Yang membacakan berita itu penyiar yang pria.”
“Dan dia terdengar bersedih membacakan berita itu.” Aku membuat gadis itu terkejut. Lalu, seperti digerakkan oleh kesadaran yang sebelum ini jauh telah terpendam di dalam benak, kami bersamaan membuka mulut dan berkata,
“Karena dia menamai anjingnya pluto.”

Lalu kami tertawa lepas berdua, sementara orang lain bersorak girang menyaksikan kembang api meluncur terbang ke udara dan meledak menjadi pijar cahaya bundar mekar. Lalu kami berpaling dan mendongak, menatap bintang dan rembulan yang tipis agak suram, sementara orang lain melompat girang bermandikan warna-warni cahaya kembang api.

Kamudian aku menurunkan pandanganku dan menatap gadis rembulan. Matanya hampir terpejam. Dia menggerak-gerakkan bibirnya. Membentuk senyum yang samar, kemudian mengembang, lalu kembali samar, dan hilang, tapi kemudian senyum itu datang lagi, dia berusaha menyembunyikan senyum itu, namun justru semakin lebar hingga akhirnya ia menggoyang kepala karena merasa malu. Dan aku berdebar-debar. Satu langkah di sisinya. Menatapnya tanpa berkedip di bawah pancaran lampu jalan, di bawah pantulan kembang api, berdiri dalam heningnya keramaian, aku membaca bibirnya, ia, gadis rembulan itu, mengakui betapa ia bahagia bertemu denganku.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku.
“Kau tahu namaku?” dia balik bertanya.
“Tidak. Kau tahu namaku?”
“Tentu saja aku tidak tahu. Itu artinya kita belum pernah bertemu sebelumnya, bukan?” lalu dia tertawa kecil. Aku ikut tertawa, menertawakan kekonyolanku. “Tapi, hey, mungkin kita pernah bertemu di planet yang lain.”
“Planet yang lain? Haha, kau sering menonton film petualangan luar angkasa ya?” aku menjadi sangat penasaran karena tak biasanya ada perempuan merujuk pada alien dalam perbincangan dengan seorang pria yang baru dikenal, atau setidaknya, itu yang kutahu tentang perempuan. Tidak mungkin karena ini malam tahun baru maka perempuan menjadi berubah cara bercakapnya, bukan?
“Bukankah kita semua seperti makhluk luar angkasa bagi sebagian lainnya? Kita merasa begitu mengenal, kita merasa begitu tahu, tapi sebenarnya kita tak pernah benar-benar tahu. Seperti cara kita mengenal semua benda luar angkasa, mengenalnya hanya dari kejauhan.”
“Aku…” dia membuatku tak bisa berkata-kata.
“Hey, kamu suka bintang-bintang atau hanya karena ingin berdiri di sini lalu ikut menatap bintang?” gadis itu ganti menatapku. Sorot matanya penasaran, garis bibirnya tak sabar.
“Aku suka bintang-bintang, dari kecil aku sering mengamati bintang. Itu rasi Capricorn, kan?”
“Ehm, Capricorn tidak tampak di langit kita. Kau harus ke Eropa.” Jawabnya sambil menahan tawa. “Maksudmu Scorpion?”
“Ah, iya, aku mau bilang itu. Aku salah bicara tadi. Aku suka mengamati kalajengking besar bercahaya itu.” aku berusaha menjaga harga diri di depannya. Tapi, yah, bibirnya mengatakan bahwa tahu aku berbohong. Hahaha.
“Tidakkah aneh menyadari ada banyak orang memercayai formasi bintang bisa mempengaruhi nasib mereka padahal apa yang mereka lihat dari bumi adalah benda yang tak jauh berbeda dari planet yang mereka pijak.”
“Tentu saja aneh.” Aku menjawab dengan antusias. “Itu seperti orang percaya bahwa… bahwa pohon beringin bisa memberi mereka keselamatan. Padahal perabot di rumah mereka pun terbuat dari jenis kayu yang sama.”
“Untuk bintang-bintang, itu sama sekali tidak aneh.”
“Eh?” tentu saja aku terkejut mendengar ternyata gadis ini tidak setuju dengan kesimpulanku terhadap pernyatannya di awal.
“Bintang-bintang berbeda dengan pohon beringin atau gunung-gunung atau semacamnya. Bintang-bintang bergerak, berpindah, pohon dan gunung hanya diam. Kupikir, sesuatu yang sehebat dan semenakjubkan bintang, planet dan bulan, apakah menurutmu hanya bergerak begitu saja tanpa ada makna tertentu di dalamnya? Lalu mengapa mereka harus capek-capek mengantarkan cahayanya ke planet kita jika memang tidak dengan sebuah tujuan?”

Dia terdengar serius dengan kalimatnya barusan. Dan senyumnya membenarkan pendengaranku. “Aku… aku sudah membaca bahwa bintang yang kita lihat saat ini sebenarnya sebagian besar sudah padam jutaan tahun yang lalu/. Jadi, itu sama sekali tidak membawa pengaruh apa-apa pada manusia. Manusia hidup hari ini, tidak dipengaruhi posisi benda jutaan atau miliaran tahun lalu.”
“Hmm,” gadis itu tak menanggapiku. Pandangannya terpaku pada gugus bintang yang untuk beberapa detik memudar tertutup oleh cahaya kembang api. Bahkan terkadang sebuah cahaya membuat cahaya lainnya kehilangan cahayanya. “Sebenarnya, aku sudah merasa akan bertemu seseorang malam ini dari mengamati bintang-bintang.” Gadis itu menggumam tapi cukup keras untuk kudengar dengan jelas.
“Hey, bukannya dengan bekerja di sini kau akan selalu bertemu cowok setiap malam? Hehehe.”
“Bukan cowok seperti itu. Bukan tipe cowok yang tidak tahu kalau Pluto sudan pensiun.”
“Benarkah? Dan bintang-bintang pasti juga bilang kalau cowok tersebut berwajah tampan sekaligus menyenangkan. Hahaha.” Aku terkekeh mengatakan kalimat barusan. Bahkan sejujurnya aku heran bagaimana aku bisa seberani itu. Aku tidak terbiasa memuji diriku sendiri di depan wanita yang masih asing buatku. Atau aku sudah menjadi sahabatnya di planet lain? Ah-ah-ah.
“Tidak, bintang-bintang tidak bilang begitu. Tapi katanya, aku akan bertemu orang yang akan membuatku bahagia.” Dia beralih menatapku dengan matanya yang teduh, dengan senyumnya mengembang. Rona merah menyaput pipinya. Lalu dia kembali menatap langit tahun baru. “Dan aku benar merasa bahagia bertemu denganmu. Malam ini.”
Pada saat itu, sungguh pada saat itu, aku ingin berkata padanya bahwa aku pun senang berjumpa dan berbicara dengannya. Tidak, bukannya senang, tapi, bahagia. Aku bahagia bertemu dengannya. Tapi aku sadar ini akan terlalu cepat jika aku melakukannya. Yang bisa kulakukan, aku hanya terus bedoa semoga dia memiliki keahlian bisa membaca diamnya bibirku. Maka aku pun ikut menoleh dan mendongak. Menatap rembulan dan bintang-bintang. Membiarkan cahayanya yang lembut dan menghantarkan keheningan luar angkasa untuk membasuhi wajahku. Aku berdoa, semoga cahaya rembulan dan semua bintang akan mengabarkan pada gadis di sampingku akan kebahagiaanku. Tapi kau tahu itu tak pernah terjadi.
***

Tiga kali di siang hari, lima kali di malam hari, selama tujuh hari dalam seminggu, aku mencari gadis rembulanku di mini market itu tapi tak menemukannya. Dia menghilang begitu saja. Seakan setelah malam tahun baru berlalu maka dia pun menguap bersama hilangnya tahun lalu. Kutanyakan pada teman-temannya tapi tak ada yang tahu. Dia tidak mengajukan surat izin sakit, tidak juga permintaan cuti, apa lagi pengunduran diri, dia megnhilang begitu saja. Tempat kosnya terkunci. Ketika pemilik kos bersedia dengan merutuk jengkel untuk membukakan pintu kamarnya, ruangan itu telah kosong. Aku hanya punya waktu dua menit untuk melihat seluruh ruangan, berusaha menemukan sebuah tanda atau pesan tersirat kemana perginya. Tapi tidak ada. Dia benar-benar menghilang. Apakah dia menghindariku? Menjauh dariku? Atau kembali ke planetnya?

Pikiran yang tiba-tiba muncul itu membuatku merinding. Mengapa dia harus menjauh dariku? Batinku menentang pikiran bdoh barusan. Dan selain itu, aku tak punya dugaan yang lain. Pada malam yang ke delapan, ketika aku kembali mencarinya di mini market tersebut dengan berpura-pura membeli sebotol air mineral, aku keluar dari sana dengan lesu sementara empat pegawai lainnya berbisik-bisik di belakangku. Salah satu dari mereka terkikik. Kemudian seorang pegawai perempuan terkejut, dan dia segera meninggalkan rekan-rekannya berlari mengejarku.
“Mas, Mas,” panggilnya.
Aku berhenti dan menoleh. Menatap gadis berseragam merah putih yang… bibirnya mengatakan dia gugup dan merasa bersalah menemuiku. Ada apa?
“Maaf Mas. Mm… sebenarnya ada titipan untukmu.” Kata pegawai itu.
Telingaku rasanya tersengat listrik dan membesar mendengar kalimatnya. Aku maju tiga langkah mendekati gadis itu. “Dia menitipkan pesan untukku? Tapi mengapa tidak kau berikan sejak kemarin?!”
“Maaf Mas, maaf.” Jawabnya, kemudian diam. Dia merasa bersalah, bukan rasa bersalah yang dibuat-buat agar tidak mendapt marah, tapi ini jujur. “Awalnya aku tidak yakin kamu yang dimaksud, karena dia pun gak kasih nama. Tapi setelah melihatmu tiga hari mencarinya terus-menerus, aku tahu kamulah cowok yang dia maksud. Tapi… aku lupa menaruh di mana kertas titpannya.” Pegawai itu meremas tepi kaosnya.
“Apa? Kertas pesannya hilang aduh! Mengapa—”
“Sekarang sudah ketemu!” gadis itu buru-buru bicara. Tangannya merogoh saku celana dan mengulurkan selembar kertas. “Aku mencarinya selama empat hari dan akhirnya ketemu. Ini.”

Aku segera mengambil kertas itu. Secarik kertas kecil. Tak mungkin berisi sebuah pesan yang panjang. Mungkin isinya nomor telepon, atau alamat. Setelah mengucapkan terima kasih, aku berpamitan dan dengan tak sabar membuka lipatan kertas kecil itu. “Hai pria rembulan. Aku sangat bahagia malam itu, tapi aku melihat bagaimana kita akan kecewa di masa depan jika kita saling mengenal. Maaf aku harus pergi. Kau tidak akan menemukanku di sini.”

Lalu aku pun sadar, aku pun ingat bahwa malam itu aku telah melakukan dua kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku belum mengatakan padanya bahwa aku pun bahagia seperti dirinya. Itu kesalahan pertamaku. Yang kedua, apa yang kuanggap sebagai ilmu pengetahuan, sebagai informasi ilmiah, telah menutup mataku dari kebenaran yang bisa kubaca dari mulut yang diam. Malam itu, gadis rembulanku berkata jujur. Tentang semuanya.
The end

Arul Chandrana,, pengarang cerpen ini, bisa kau temui di Twitter @arulight. Kau akan membutuhkan akun itu karena aku tahu sampai hari ini kau belum memiliki kendaraan untuk membawamu ke tempat asalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: