• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Orang Tua yang Mengubah Anaknya

Seorang anak menjenguk ayahnya yang tengah terbaring lemah di rumah sakit. Usia dan peristiwa menghilangkan masa muda dan kekuatannya. Bahkan untuk bernapas pun dia harus menggunakan selang karena paru-parunya tak lagi sanggup menjadi paru-paru yang semestinya.

X: rest well, Da
Y: It’s only when you’re here, son.
X: I’m here.
Y: aku teringat ibumu.
X: aku juga, selalu. Well, bicara soal masa lalu, apa yang paling membuat kalian berdua bahagia, Da?
Y: banyak hal, Son. Hampir semuanya menjadi kebahagiaan jika kami harus melakukan sesuatu bersama. Dan dari semua kebahagiaan itu, ada beberapa yang abadi dan tak mungkin aku lupakan.
X: apa itu, Da? Aku tertarik mendengarnya.
Y: listen, Son. Kami sangat bahagia ketika yang harus kami kerjakan berkaitan dengan kebaikanmu. Kami sangat bahagia ketika untuk pertama kalinya membimbingmu mengucapkan nama Pencipta seluruh alam raya, Allah SWT, kami sangat bahagia ketika mengajarimu mengucapkan nama nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Kami setuju untuk mengajarimu nama-nama itu sebelum yang lainnya.
X: go on, Da
Y: kami selalu bersemangat mengajarimu sholat dan ketika usia sudah siap, aku dan ibumu rebutan untuk mengajakmu sholat berjamaah, kami juga rebutan membangunkanmu untuk  melakukan sholat subuh. Kau tahu, Son, melihatmu sholat subuh membuat hatiku basah dan hidupku terasa sangat berharga.
X: aku tidak pernah meninggalkan sholat, Da. Sejak kecil.
Y: that’s why your mom never worried about you.
X: pasti begitu.
Y: ketika suatu petang kau menunjukkan hafalan surat pendekmu, al-ikhlas, kau membuatku menangis, Son. Dan ibumu tersenyum bangga di belakangmu. Bagiku, senyum itu seakan berkata, hey honey, aku mengalahkanmu. Aku hanya bisa mengangguk dan mengusap air mata.
Aku memutuskan untuk mulai mengajarimu membaca Al-Qur’an, sementara ibumu menambah hafalanmu. Oh, andai kau tahu perdebatan kami waktu itu.
Y: arguing? About what, Da?
X: ibumu bersikeras untuk menjadikan urusan Al-Qur’an sebagai miliknya, membaca dan menghafal. Tentu saja aku tidak setuju. Aku juga ingin mewariskan harta paling berharga bagi hidupmu. Dan akhirnya itulah kesepakatan kami.
X: aku ingat, Da, hehehe, kalian mengajariku dengan cara paling menyenangkan yang mungkin bisa dirasakan seorang bocah
Y: dan kami lebih bahagia lagi dibandingkan siapapun di dunia saat itu.
X: aku beruntung karena masa kecilku tak pernah jauh dari kalian.
Y: itulah mengapa kita tidak membutuhkan televisi, Son. Kami tahu kau lebih bahagia bermain bersama kami dari pada bersama kotak kaca berpendar
X: Da akan menjadi kuda, sedangkan Mom menjadi petani yang menjual apa saja.
Y: termasuk sandal dan piring.
X: hehehe, I miss all those moments
Y: kita merindukan semua yang terbaik dalam hidup kita, Son. Tapi sekarang kau sudah besar, Son. Ibumu sudah tiada, dan akupun tak bisa lagi membangunkanmu untuk sholat subuh
X: don’t worry, Da, don’t worry. Semua yang telah kau ajarkan tidak akan pernah terlupa. Dan, di samping itu, aku selalu menginginkan untuk menjadi ayah seperti dirimu, Da #arulight #aruliterature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: