• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Tantangan Penulis Era Android, atau, Hey, Ini Kutukan!

image

Jika kau telah memutuskan untuk dengan gagah berani tetap hidup, kau harus membiasakan diri mendapat kabar baik dan kabar buruk. Hidup tak pernah lepas dari kabar-kabar semacam itu.

Contoh, jika kau seorang penulis (atau berencana bekerja sebagai penulis), aku punya kabar buruk. Jaringan toko buku terbesar di Indonesia, TB Gramedia, telah menerapkan kebijakan mengurangi ruang display buku, diganti dengan display stationary atau–seperti yang kulihat di Surabaya–vcd dan peralatan olah raga. Akibatnya, jika sebelumnya toko buku itu bisa memajang 500 eksemplar, sekarang di ruangan yang sama mungkin hanya muat untuk 300 eksemplar. Jika sebelumnya ada 150 penulis yang dipajang bukunya, sekarang mungkin hanya 98 penulis yang mendapat kesempatan tersebut. Well, kau sudah membayangkan buruknya situasi ini?

Dari yang kubaca, kebijakan ini berakibat pada kuota penerbitan buku. Buat apa penerbit menerbitkan banyak buku jika yang bisa dipajang hanya separuh? Tentu produksi buku harus dikurangi. Artinya, semakin sedikit orang yang berkesempatan untuk terbit naskahnya. Artinya, persaingan semakin ketat – panas – menegangkan – sekaligus hwvdyvrychf.

Dampak kedua,jatah tayang buku di rak toko buku akan semakin singkat. Jika sebelumnya buku akan dipajang selama 5 bulan, sekarang, karena banyak yang antri sementara ruang terbatas, mungkin sebuah judul hanya berkesempatan tampil di rak toko hanya selama tiga bulan. Wow, tiga bulan, ehm, itu, itu, ITU BENCANA! Pikirkan, jika sebuah buku dengan popularitas menengah setiap minggu terjual 3 eksemplar, maka dalam tiga bulan hanya terjual…. (mana kalkulator? Manaaaaa?) hanya terjual segitu doang! Dan setelah tiga bulan, judul tersebut terpaksa mengungsi ke… Glek, masuk ke gudang ya?

Masih ada lagi kabar buruknya? Ya! Ada! Dan aku tidak tega menulis di sini karena ini menyangkut implikasi logis terhadap minimnya penjualan harga normal bagi si penulis buku. Kau tahu, jika orang dagangannya hanya terjual dikit, apa yang terjadi pada si penjual? JANGAN JAWAB! Aku sudah tahu, tapi aku ingin tetap dalam keadaan pura-pura tidak tahu. Tolong toleransinya untuk urusan ini, OK?

Sekarang, mari kita berkunjung pada kabar baik. Ehm, kabar baiknya adalah, kabar buruk yang aku tahu hanya segitu. Fyyuuh #aruliterature

Advertisements

2 Responses

  1. Hmmm…
    Tragis ya Bang Arul.

    • Benar Mbak, sekaligus mengerikan. Ini menuntut para penulis menjadi super tangguh: karya dan mental.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: