• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Afifah Afra Berkunjung Ke Bawean Sebelum Orangnya Datang; Itulah Bagaimana Dia Mendapatkan Penggemarnya di Sana

afra
Aku menganggap ini sebagai sebuah kisah romantis antara penulis dan pembacanya. Kisah yang kebanyakan hanya bisa terjadi di film atau dalam novel dan sangat jarang bisa terjadi di alam nyata. Akan tetapi, karena kadang peristiwa yang terjadi dalam kenyataan jauh lebih aneh dari pada kisah khayalan, maka jangan heran jika kisah romantis ini benar-benar terjadi bahkan terjadi padaku—pelaku pertama dalam kisah ini dan sengaja ada di sini untuk menceritakan kisah ini padamu.

Tepatnya aku tak ingat. Mungkin itu di ujung tahun 90-an atau di awal 2000-an, aku bermain ke rumah sahabatkau, Jalil, dan di sana kakaknya—yang saat itu masih sebagai seorang santri di sebuah pondok di Bawean sebelum melanjutkan ke Jawa—menyuguhiku majalah Annida. Bukan hal yang buruk. Maksudku, sejak kecil, selain doyan makan aku juga doyan membaca. Kau beri aku makanan atau bacaan, well, keduanya sama-sama bagus dan aku akan tampak sangat tidak sopan jika menolaknya. Maka aku pun membacanya. Membacanya dengan sangat senang. Aku harus membacanya dan menghabiskannya di rumah sahabatku itu karena kakaknya tidak mengijinkan untuk kubawa pulang. Awalnya aku merasa sikapnya itu menjengkelkan, tapi beberapa tahun kemudian aku bisa memahami mengapa orang bisa merasa berat meminjamkan buku. Para peminjam buku sering kali ‘lupa alamat rumah kita’ ketika tiba saatnya mengembalikan buku yang dipinjam.

Jadi kutelantarkan begitu saja sahabatku Jalil demi menyelesaikan Annida. Kubuka setiap lembarnya, membaca cerpen-cerpennya, tersenyum di komiknya, lalu aku pun bertemu dengan gadis itu (sekarang sudah menjadi ibu-ibu), seorang penulis remaja yang menulis cerpen luar biasa (saat ini akan sangat tidak sopan jika kau menyebutnya remaja yang hanya menulis cerpen luar biasa). Cerpen yang berjudul “Pelangi… apa gitu,” berkisah tentang tentang seorang ibu dengan anak-anaknya yang tinggal jauh. Pada suatu ketika, ibu itu mendapatkan hadiah ayam dari salah satu putrinya. Awalnya hadiah ayam itu dipandang sebelah mata, tapi akhirnya, ayam-ayam itu berhasil mendapatkan kelimpahan cinta setara untuk anak-anaknya. Ketika terjadi kebakaran dan sebagian besar ayamnya meninggal (atau semuanya?), sang ibu merasakan pahitnya kehilangan ayam seakan kehilangan anak-anaknya sendiri. Tokoh utama dalam cepren itu—aku lupa namanya—pun merasakan kepahitan yang sama begitu menyadari bahwa bagi ibunya, hilangnya semua ayam peliharaannya sama dengan kehilangan anak-anak kandungnya—bukan sekedar ayam peliharaan. Gadis remaja penulis cerpen ayam itu adalah Afifah Afra—sekarang beliau adalah seorang ibu dewasa yang tak sekedar menulis cerpen.

Well, apakah saat itu, setelah merampungkan membaca cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu) aku menjalin kontak dengan penulisnya? Tidak (hey, jujur aku bingung untuk menggunakan ‘nya’ atau beliau. Jika ‘nya,’ itu karena aku merujuk pada masa ketika sang penulis masih remaja, tapi masalahnya sekarnag sang penulis sudah bukan remaja lagi. Hahaha).

Apakah setelah merampungkan membaca cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu) aku mengiriminya surat? Tidak. Pada saat itu aku masih anak-anak (sepertinya baru kelas 1 atau 2 MTs) dan tidak pernah membuat surat pribadi selain surat izin sakit sekolah DAN kantor pos letaknya tak terbayang jauhnya dari desaku.

Apakah setelah merampungkan membaca cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu) aku meneleponnya? Aku tak ingat apakah Annida mencantumkan nomor telepon penulis cerpen atau tidak, tapi yang jelas, aku tidak pernah punya hubungan baik dengan telepon pada masa itu. Sewaktu kecil, aku orang yang gagap dan gamang terhadap teknologi. Datang ke wartel dan masuk kebiliknya membuatku gelisah dan tak nyaman. Selain itu, hey, wartel satu-satunya di kecamatanku jaraknya teramat jauh dari desaku, lebih jauh dari kantor pos yang sudah super jauh! Dan, tunggu, para pembaca muda tulisan ini, apa kau tahu makhluk apa WARTEL itu? carilah di Google dan kau akan tahu betapa menggiurkan penemuan manusia yang bernama wartel tersebut. Kau tidak perlu menjadi kelinci untuk bisa menikmati wartel.

Berikutnya, apakah aku mengirim email pada mbak Afra? Tidak, saat itu di pulau Bawean belum ada internet. Internet masih barang langka yang hanya dinikmati John Connor dan Terminator. Lantas, apakah aku mengirim pesan WhatsApp? BBM? KakaoTalk? BeeTalk? Bwahaha, hoy, belum ada android di seluruh dunia pada saat itu dan belum ada HP di Bawean pada masa itu. jadi apa yang kulakukan? Aku tidak melakukan apa-apa karena cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu) telah melakukan tugasnya dengan baik terhadap diriku. Cerpen itu tinggal di sana, dalam memoriku. Tidak beranjak pergi. Aku terus mengingatnya walau semakin lama semakin tak lengkap. Cerpen itu membuatku terus saja mengagumi bahwa sastra islami pun bisa menjadi demikian kuat membekas, tidak menggurui bahkan sangat enak dinikmati. Cerpen itu menempel macam tumor di ingatanku, terus mendekam tak peduli bahwa aku telah melupakan nama penulisnya. Benar, aku masih mengingat cerpen itu walau pun aku sudah melupakan nama penulisnya. Benar-benar lupa! Sampai kemudian terjadilah peristiwa itu, peristiwa yang membuat semua ini menjadi romantis. Romantis luar biasa dengan cara yang tidak membuat orang berdosa.
***
Di benakku, sampai tahun 2013 aku masih menggambarkan penulis cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu) sebagai seorang gadis remaja. Dia kekal sebagai remaja di otakku dan akan tetap begitu andai orang itu tidak merusaknya. Yeaah, orang itu.

Aku menjadi anggota sebuah group menulis online bernama Be A Writer (BAW), satu-satunya grup menulis yang kuikuti dengan aktif. Aku bukan orang yang bisa meluangkan banyak waktu di internet di hari-hari yang tenang—hari sibuk berarti aku sedang promosi atau sedang mencari sesuatu. Selain itu, BAW yang dipimpin oleh penulis Leyla Hana / Leyla Imtichanah selalu penuh dengan kegiatan dan materi yang benar-benar penting dan bermanfaat. Kau ingin belajar menulis online dengan seirus? Bergabunglah dengan grup BAW. Nah, kemudian, setelah dua tahun bergabung dengan BAW datang anggota baru, bernama Yeni Mulati Ahmad, nama asli dari mbak Afifah Afra. Sebelum itu aku sudah membaca bahwa Mbak Afifah adalah penulis senior FLP yang sudah menghasilkan banyak buku dan juga mengelola penerbit Indiva. Aku ingat bagaimana hari-hari pertama kehadiaran beliau di BAW sempat membuat kehebohan.

Kau tahulah, seorang artis yang berkunjung pada gerombolan penggemar, pasti selalu akan meembuat kehebohan. Apa aku ikut heboh juga? Astaga! Hahahaha, aku bukan saja membuat kehebohan tapi benar-benar ingin menjadi orang yang menarik perhatian! Wakaka. Seriously, aku pun berusaha untuk bisa dikenali layaknya Juminten berusaha untuk dikenali oleh Justin Bieber yang berkunjung ke Magelang—gugup, malu-malu, dan tak percaya diri, tapi berusaha untuk unjuk diri. Aku punya motif tersendiri mengapa melakukan hal itu, tapi akhirnya aku tahu aku tak bisa melanjutkan usaha tersebut. Ini pertimbangan logis.

Begini, jika kau hobi menyanyi dan kau percaya mempunyai suara yang bagus, lalu ada Bryan Adam berkunjung ke desamu untuk mandi lumpur, lalu kau punya kesempatan menyanyi di tepi sawah untuk Bryan Adam (pembaca muda, Bryan Adam itu setara dengan Afghan-lah kalau di negara kita), kira-kira apa salah satu harapan yang kau punya? Dipuji dan diajak rekaman ke Kanada oleh sang penyanyi idola? TENTU SAJA! Dan itu pun terjadi di dunia penulis. Seorang pemilik perusahaan penerbitan bisa jadi ikut bergabung ke sebuah grup penulis untuk menemukan bakat muda ‘bertenaga’ luar biasa. Sedangkan para penulis muda yang mendapatkan kesempatan untuk ditemukan, akan berusaha sebaik mungkin agar tampil meyakinkan karena itu termasuk dari bagian ikhtiar mendapat peluang. Ini bukan menjadi orang-orang yang bersahabat karena menyimpan maksud tersembunyi, ini tentang mendapatkan pekerjaan. Ini bukan menjadi penjilat atau semacamnya, karena yang kami lakukan adalah menampilkan tulisan terbaik kami agar bisa beliau baca dan mendapatkan penilaian, bukannya merayu, mengemis atau membujuk yang bersangkutan.

Jadi itulah yang kulakukan, sama seperti penulis muda lainnya di sana (siapapun yang ingin mengkonfrmasi kata ‘muda’ dengan meminta foto KTPku, akan aku tolak dengan membawa linggis dan cangkul). Dalam masa usaha mendapatkan perhatian Mbak Afifah, tiba-tiba kemudian aku ingat bahwa aku menulis cerita siluman, monster, hantu, zombie, hewan pengunyah dengkul dan kisah-kisah orang konyol yang jago tertawa; intinya, aku menulis kisah-kisah yang tidak ditrbitkan penerbitan Mbak Afra. Hahaha, jadi aku pun tertawa dan memutuskan untuk mencukupkan diri menjadi sahabat yang baik saja bagi orang hebat itu.

Nah, pada saat itulah, ketika aku mulai memurnikan niatku yang memang tulus dan suci untuk sekedar menjalin silaturahmi yang islami dan penuh simpati berkualitas tinggi, mbak Afra merontokkan kenangan indahku tentang penulis cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu). Pada suatu kesempatan beliau mendapat jadwal untuk memberi materi menulis buat anggota BAW, kemudian beliau memberi contoh dengan menyebut salah satu cerpen yang ditulus waktu remaja dulu, cerpen Ayam Pelangi itu! Astaganaga! Seketika gambaran gadis remaja bermata sipit, berlesung pipit, berkulit putih, dari Hongkong, tersenyum sipu dengan sorot mata malu-malu, hancur rontok berantakan dari memoriku! APA? Jadi yang menulis cerpen ayam itu adalah mbak Afifah Afra? Afifah Afra yang ini? Bukan seorang gadis remaja berwajah Korea dengan senyum Armenia? Ternyata yang menulis cerpen Pelangi Ayam (atau apa gitu) adalah seorang ibu-ibu? Bagaimana bisa! Mustahil!

Saat itu aku sama sekali lupa bahwa mbak Afra pernah remaja dan menulis cerpen itu memang saat masih remaja.
***

Afifah Afra (bukan versi remaja)

Afifah Afra (bukan versi remaja)


Jadi apa romantisnya? Well, jika ada yang masih menanyakan hal itu, aku jujur meragukan apakah kau masih punya perasaan atau tidak. Pikirkan, aku yang kecil mengagumi sebuah cerpen dan tak bisa melupakannya semenjak belasan tahun yang lalu. Aku lupa siapa penulisnya dan mustahil bisa menemukan orangya. Lalu tiba-tiba saja muncul sang penulis, muncul tepat di depan hidungku (secara harfiah, aku selalau memakai HP di dekat hidung saat sedang online / facebookan, jadi kau bisa menyebutnya ‘sang penulis cerpen ayam pelangi muncul di depan hidung penggemarnya’). Beliau muncul begitu saja seperti balon yang menyembul dari dasar lautan. Ini petemuan yng sama sekali tidak pernah diduga atau dibayangkan. Kau sama sekali tidak bisa memikirkan hal seperti ini bakal terjadi.

Apakah kau punya sebuah lagu kesayangan dari masa kecil yang mana sekarang, baik penyanyi maupun lagunya, sudah tidak beredar lagi? Penyanyi dan lagunya sudah ditelan zaman, tapi lagu itu masih terus bersenandung dalam pikiranmu dan kau tak bisa melupakannya. Lalu, tiba-tiba, saat kau sedang duduk melamun di jendela kereta api dalam sebuah perjalanan, di sebelahmu ada orang menyanyikan lagu masa kecil kesukaanmu itu. kau terkejut. Kau menyapanya. Kau dapatkan dia balik menyapa. Kau sebutkan namamu. Kau dapatkan namanya. Kau beritahukan pekerjaanmu. Lalu kau pingsan untuk tahu bahwa dulu pekerjaan orang itu adalah sebagai penyanyi lagu kesukaanmu. Hal yang tak jauh berbeda terjadi padaku tentang si cerpen Ayam Pelangi dan penulisnya. Tapi, yah, tentu saja aku tidak menujukkan kegiranganku sesuai standar kegirangan Arul Chandrana. Jika aku melakukannya, yah, mungkin hasilnya akan buruk. Hahaha.

Alih-alih, aku hanya menulis komentar panjang di materi yang yang saat itu tengah beliau sajikan. Komentarku panjang, berapi-api, nostalgik, melankolik, namun tidak ada satu anggota grup pun yang menyadari bahwa SAAT ITU sedang berlangsung sebuah pertemuan melintasi waktu dan mengguncang takdir antara penulis dan pembacanya. Hahaha, bahkan mungkin Mbak Afra juga hanya tersenyum biasa saja di rumahnya hari itu. Mungkin beliau sudah terbiasa mengalami pertemuan kejutan seperti ini dengan para pembacanya di seluruh pelosok Nusantara. Dan aku tentu saja tidak ;layak untuk protes mengenai rasa biasa tersebut. Pertemuanku hari itu dengan penulis cerpen idolaku adalah sebuah sejarah, sejarahku pribadi. Nilainya, kehebatannya, maknanya, kejutannya, kelegaannya, semua unsur pembangun dalam pertemuan itu hanya aku yang tahu dan hanya aku yang bisa menikmatinya. Orang lain tentu saja tidak akan bisa merasakan apa yang kurasakan, bahkan penulis cerpen itu sendiri pun tidak akan bisa merasakan betapa aneh dan luar baisanya peristiwa itu, karena pertemuan tak sengaja itu adalah sejarahku pribadi. Hanya aku yang bisa menikmatinya. Dan aku sudah lama belajar bahwa kita tidak bisa memaksakan makna dalam diri kita untuk menjadi makna bagi orang lain (aku belajar hal itu dari tiga penggemar grup music Keane yang kebetulan menjadi temanku. Mereka begitu setia mengagumi setiap personil Keane, tak segan mengungkapkan betapa penting keberadaan grup tersebut bagi mereka, tak peduli apakah grup tersebut merasakan keberadaan tiga orang tadi. Karena makna dari hal itu adalah milik mereka sendiri, tiga orang tersebut. Makna yang indah dan pribadi. Grup music Keane hadir sebagai figure untuk melahirkan makna bagi penggemarnya, dan menjadi privilege para penggemarnya untuk menerjemahkan makna itu ke masing-masing hidup mereka). Aku tahu, pada hari pertemuan tak sengaja itu aku pun menjadi seperti tiga sahabatku penggemar Keane.
***
Setelah pertemuan itu, aku menjadi waspada untuk pertemuan-pertemuan kejutan lainnya. Aku ingat dulu waktu SD membaca sebuah novel anak berjudul Regu Garuda Berkemah, cover dominan warna hijau dengan gambar anak pramuka merangkak di sebuah hutan. Aku membaca buku itu berulang kali dan kagum pada kehebatan penulisnya membangun ketegangan dalam cerita petualangan pramuka. Novel itu bisa mengobatiku terhadap phobia pramuka yang kualami sejak kecil. Dan, tentu saja, aku sama sekali tidak ingat siapa penulisnya! Lalu, aku juga ingt ada penulis bernama Moerwanto yang menulis novel perjuangan kemerdekaan. Novel yang beliau tulis berjudul Jiwa Pelaut, Jiwa Pejuang, dan entah Jiwa apa lagi. Tokoh utama novel itu bernama Anto dan dia menjadi sahabat pahlawan nasional yang meninggal di laut Arafuru, Yos Sudarso. Salah satu adegan berkesan dalam novel itu, selain kisah Pertempuran Lima Hari Semarang, adalah ketika Yos yang Katolik menyuruh Anto yang muslim untuk solat isya dan meminjamkan sarungnya. Setelah beberapa kali menamatkan novel tersebut, aku baru curiga, jangan-jangan Anto ini adalah Moerwanto itu sendiri! Dan jika novel in berdasar kisah pribadi penulisnya—aku yakin tentang itu—maka masih hidupkah pak Moerwanto alias Anto yang menulis novel tersebut?

Selanjutnya akan mucul nama Bastian Tito dalam barisan kejutanku, pengaang serial Wiro Sableng. Sahabatku David mengabariku bahwa Bastian Tito ini adalah ayah dari bintang film Vino G. Bastian. Astaga, bagaimana kira-kira aku bisa menemui sang pencipta Wiro Sableng jika anak laki-lakinya adalah seorang bintang film Vino G. Bastian? Puncaknya, dari semua itu, yang menghantuiku adalah pertemuan dengan Iwan Simatupang. Beliau menulis novel yang, sekali lagi kuproklamirkan, menjadi pembentuk kepenulisanku hari ini, novel Ziarah. Untuk yang satu ini aku yakin aku tidak akan bisa bertemu. Beliau sudah meninggal beberapa decade yang lalu. Mungkin suatu saat nanti aku bisa berkunjung ke pusaranya untuk memberikan penghormatan selayaknya. Atau, jika bisa, mungkin aku akan bertemu dengan salah satu keturunannya. Mungkin salah satu cucu atau cicit beliau, dengan rambut kuncir dan wajah imut gadis Jepang, dia tersenyum dan membuatku kaku begitu menyadari gadis itu adalah anggota JKT48! Maaf, aku ngelantur.

Tapi sungguh, aku tidak akan keberatan untuk bertemu dengan salah satu keluarga penulis Iwan Simatupang, duduk bersama dan membicarakan novel Ziarah. Aku akan berpura-pura menganggapnya sebagai penulis Iwan Simatupang. Aku akan tersenyum dan berkata, ‘Bang Iwan, kau tahu, karakter Opseter pekuburan itu benar-benar luar baisa. Dia sosok yang terjebak dan mengubah dunia dari balik jebakannya! Bang Iwan keren banget!’ lalu orang yang duduk di depanku itu akan menjawab, ‘Maaf Mas, nama saya Linda. Saya cewek, kelas 11 SMA dan tolong jangan panggil saya BANG IWAN!’ Aku akan memaklumi kemarahan bocah SMA itu. karena aku sangat mengagumi kakeknya. Dan aku akan terus memanggilnya Bang Iwan, Bang Iwan, Bang Iwan, karena begitulah caraku mengenali Iwan Simatupang dalam benakku.
***
Perkenalanku dengan penulis Afifah Afra sudah tentu akan kuambil sebagai salah satu keajaiban hidup tahun 2013ku. Beliau adalah contoh yang akan kusebutkan tentang bagaimana seseorang berkembang dan terus berkembang dalam mencapai cita-citanya. Walau aku mustahil bisa menjadi perempuan seperti beliau, tapi aku yakin bisa menjadi sepertinya dalam urusan mencapai cita-cita. Aku tahu aku punya peluang sama besarnya. Pada kenyataannya, semua orang memiliki peluang yang sama dalam urusan mewujudkan cita-citanya.

Mbak Afra yang kukenal sekarang sama sekali tidak sebagai gadis remaja penulis cerpen Ayam, aku juga yakin ketika masih remaja beliau tidak tampak seperti personil JKT48, tapi beliau hari ini adalah orang yang bisa kejadikan contoh untuk murid-muridku dan juga untuk diriku sendiri. Tentang menjadi manusia, tentang memelihara cita-cita, tentang kesulitan dalam perjalanan menuju keberhasilan, dan tentang menjadi sosok yang menebar manfaat. Untuk siswa perempuan, aku bisa mengatakan pada mereka bahwa kalian bisa menjadi muslimah yang terus menjaga kehormatan dan terus-terusan menjadi keren dan mengagumkan. Aku akan menyebut beliau sebagai salah satu contohku. Jujur, aku lebih merasa aman menyarankan siswa SMPku untuk membeli buku beliau daripada membeli buku tulisanku sendiri. Hahaha. Tanpa membaca novelku pun anak SMP sudah punya banyak zombie di kepalanya.

Kini tibalah hal yang paling mendebarkan. Aku telah menerbitkan dua buku, dan tulisan lainnya bercecer di beberapa tempat. Tak lama lagi buku ke tiga, Samudra Novara, akan terbit. Sampai sekarang aku tak tahu sudah sampai kemana saja semua tulisanku. Aku tak tahu siapa saja yang telah membaca tulisan-tulisan itu. Aku pun tak tahu pasti siapa saja yang terharu meneteskan airmata setelah membaca kisah-kisah yang kutulis tersebut. Tapi aku sebaiknya mempersiapkan diri. Sebaiknya aku berjaga-jaga.

Aku akan berusaha utuk selalu siap menghadapi kemungkinan seperti ini, ketika pada suatu pagi yang cerah di alun-alun sebuah kota, aku sedang duduk menikmati es krim corong warna merah muda khas Indonesia. Kemudian, datang seorang gadis (bwakaka, aku tidak akan menuls ‘datang seorang cowok manis bergincu tipis’ agar kau tidak salah paham) dengan sebuah buku dalam dekapannya. Aku tahu itu bukuku dengan sekali lihat dari covernya. Gadis itu tersenyum dan seakan hendak melompat karena saking kuatnya berusaha menahan kegembiraan. Aku akan menyungingkan senyum pula. Lalu gadis itu melangkah maju, takut-takut dan malu-malu. Kemudian dia menyodorkan buku itu, dengan sebuah pena di atasnya. Tanpa kata-kata, aku tahu aku harus memenuhi permintaannya yang diajukan tanpa kata-kata pula. Kuraih buku itu dengan menganggukkan kepala samar. Lalu, ketika kubuka covernya, di halaman pertama kudapati tandanganku dalam versi palsu yang jelek. Aku mendongak, menatap gadis di depanku itu. dia terbeliak menyadari apa yang kulihat. Kedua tangannya menutup mulutnya, matanya berkilau seakan hampir menangis karena tak kuasa menahan malu. Lalu, aku akan melakukan hal terbaik yang bisa kulaukan untuk pembaca mudaku itu. aku akan:
“Bwakakakaka! Hey, ternyata kau juga melakukan apa yang kulakukan!”
Gadis itu akan salah tingkah mendengarnya, dia akan memilin ujung kerudungnya. “Mm, maksud Mas Arul?”
“Untuk buku yang sangat kusukai, aku akan membuat tanda tangan palsu di sana dan menulis nama pengarangnya di bawahnya. Seakan itu buku asli dan hadiah langsung dari si pengarang.”

Lalu gadis itu akan tercengang, dan memekik pelan, lalu tertawa, lalu melompat kecil penuh rasa senang. Dia akan memukul-mukulkan kedua tangannya di depan dada. Dia akan sangat bahagia karena tahu penulis kesukaannya sama gilanya dengan dirinya. Lalu, akan kupersilahkan dia duduk di sisiku dan kulakukan perbuatan yang tak pernah kulakukan sebelumnya pada seorang perempuan. Aku akan mentraktirnya es krim corong khas Indonesia menggunakan uangku sendiri yang berharga. Satu saja. Dan aku tidak akan heran melihatnya menyimpan es krim itu alih-alih memakannya.
“Hey, siapa namamu?” tanyaku penasaran.
“Namaku Nam, aku dari Thailand dan menjadi pemeran utama perempuan di film A Little Thing Called Love.”
Aku jatuh pingsan dan dilarikan ke UGD untuk perawatan jantung.
***

Temui penulis yng sedang sakit ini di rumah sehat Twitter @arulight
Termakasih untuk Mbak Afifah Afra—untuk peristiwa tak terduga yang menunjukkan bahwa, walau kadang kita ragu untuk mengharap datangnya keajaiban, tapi keajaiban adalah urusan Tuhan, maka Dialah yang akan memuwujudkan apa-apa yang tampaknya tak bisa dharapkan.

Advertisements

8 Responses

  1. Ya ampuuuuuuun mas Arul kerennya pengalaman spiritual nan romantismu.
    Hoho panjang tapi tidk membosankan.

    • mbak yunita, ini romantisme pembaca dan penulis yang hampir menyaingi romantisnya film korea, ya. bikin menangis sambil makan kwaci

  2. Astagah panjang sekali???

    Tapi ….. Mbak Afifah Afra, orang ini layak menang.
    Kisah ini romantis sekali 🙂

    • hahahaha, mbak mugniar, terimakasih doanya. aku memang tidak bisa menahan diri untuk menulis kisah panjang jika sedabng menceritakan sesuatu yang membuatku bersemangant

  3. Bingung, mau ketawa terpingkal-pingkal atau menangis terharu. Makasiiih ya, Rul, tulisan yang bagus 🙂

    • sama-sama mbak. saya pun berterimakasih karena jenengan sudah menulis kisah-kisah yang hebat, yang membuat pembacanya selalu punya kenangan yang indah akan kisah yang indah

  4. Regu Garuda Berkemah memang bacaan yang berkesan. Novel tersebut membuat kami yang saat itu duduk di kelas 5 SD (tahun 1989) tergila-gila dengan hal-hal yang berbau petualangan dan detektif 😀
    Tapi saya selalu kesulitan memahami novel-bovel Iwan Simatupang (Kering dan Ziarah).

    • iya Wan, regu garude berkemah memang spesial. petualangannya benar-benar terasa. seakan ikut kemah, membuat api unggun, sal;ing menyerbub merebut setangan merah putih, dan menjelajah alam. yang paling seru ya saat ketemu penjahat di tengah hutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: