Posted in think

“Tohong, tohong, tohong,” Bukan Hantu dan Terancam Punah

image

Masih ingat sahabatku Pak Ustadz Petani Dolgemat? Dia punya sebuah kisah tentang hantu sendang pembunuh manusia yang layak untuk didengarkan, juga tentang pagi dan sore yang hilang di desanya. Saat dia masih kecil, ada orang mati tenggelam di sendang agak jauh di luar desa. Diseret oleh kalap, kata orang-orang tua. “kalau ada yang berteriak minta tolong,” nasihat para orang tua di desa, “kamu harus lari. Itu kalap mau menjebak kamu. DAN JANGAN PERNAH MAIN KE SENDANG!”

Tapi, sahabatku Dolgemat dan teman-temannya adalah gerombolan anak kecil yang belum terbiasa menuruti orang tua. Mereka pergi ke sendang dan mandi sepuasnya. Saat itulah, ketika sedang seru-serunya berenang dan salto di air, anak-anak itu mendengar jeritan membelah udara. Di lingkungan hutan yang sepi, dengan pohon-pohon tinggi, jeritan itu terdengar menyedihkan dan menggema menakutkan,” tohong, tohong, tohong!”
“Kalap minta tolonggggg!” jerit seorang bocah yang berdiri di tepi sendang.

Serentak mereka semua diam mendengarkan, dan jeritan menyedihkan itu kembali menggema entah dari mana, “tohong, tohong, tohong,”. Selanjutnya, semua bocah itu bangkit dari air dan lari tunggang-langgang meninggalkan sendang. Mereka tak sempat berpakaian, mereka hanya menyambar tumpukan baju di tepian dan lari begitu saja. Teriakan bocah-bocah menyaingi gema jeritan hantu di hutan yang sepi.

Akan tetapi, sahabatku Dolgemat teringat sesuatu dalam pelariannya, dan dia memanggil teman-temannya untuk berhenti berlari. Mereka sudah cukup jauh dari sendang, mereka yakin kalap penghuni air tidak akan keluar ke darat sejauh itu. Jadi mereka berhenti berlari dan mendengarkan. Suara ‘tohong, tohong,’ masih terdengar sayup-sayup sampai, tapi itu sudah cukup untuk membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. “Itu kan suara merak!” sahabatku Dolgemat berkata di sela tawanya.
***
Ketika masih kecil, sahabatku Pak Ustadz Petani Dolgemat menjadi saksi hidup betapa desanya, desa Benges, dianugerahi Tuhan kekayaan satwa jenis burung yang luar biasa. Saat itu, setiap pagi dan sore Benges akan diramaikan oleh kompetisi menyanyi burung-burung seperti damaran, manyar, puter, juan, podang, celengkintut, jalak dan merak. Burung-burung itu sudah bangun saat hari masih tertutup kabut dan memanggil para petani untuk segera datang ke sawah. Saat petang menjelang, para pengicau yang cantik itu mengingatkan sahabatnya para petani untuk segera pulang sebelum adzan magrib berkumandang. Kehidupan saat itu benar-benar tidak membutuhkan radio, atau MP3, atau televisi untuk mendengarkan musik yang indah.

Tak jarang pula, pada suatu siang yang terik atau ketika mendung bertengger, langit luas di atas Benges ditoreh oleh sayap lebar empat atau lima elang jawa. Mereka terbang berputar dengan jeritannya yang melengking menakuti anak-anak ayam dan burung-burung kecil. Sahabatku Dolgemat pernah sekali waktu melihat elang gagah tersebut menukik dan menyambar mangsanya. Pada saat itu, bukan hal asing pula ketika petani mencangkul di sawah mereka mendengar kokok ayam alas dari hutan di sebelahnya. Ayam liar itu bahkan akan terbang melintas di tepi ladang dan bertengger sejenak sebelum melompat dan menghilang.

Sekarang, kita masih bisa melihat bangau putih (kuntul) di Benges, walaupun jumlahnya sudah sangat sangat jauh berkurang. Dulu, sebelas tahun yang lalu, kita bisa menikmati langit Benges yang memutih tertutup sayap gerombolan bangau putih yang datang dan pergi dari laut. Bukan hanya itu, sebelas tahun lalu kita juga bisa melihat bangau hitam, bangau tongtong.

Bangau tongtong, bangau berwarna hitam yang sering tampak saat petani membajak sawah. Melangkah taktis dengan kaki-kaki mungilnya yang panjang. Mereka suka merenteti pembajak untuk mematuk belut, katak atau ikan yang menggelepar di tanah bajakan.

***

Semua itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, saat sahabatku Pak Ustadz Petani Dolgemat masih anak-anak, saat para burung mengira manusia adalah sahabat mereka, saat alam masih seimbang dan saling melindungi. Kini, kau tak bisa menemukan sebagian besar dari burung-burung itu selain sisa kenangannya. Manusia berkhianat, mereka memerangkap, menjerat dan menembak burung-burung. Sebagian menjadikan peliharaan. Akan tetapi apapun yang dilakukan manusia pada para satwa itu hasilnya sama saja, kematian. Tidak ada orang yang memelihara burung langka kemudian burung itu berkembang biak dan membuat dunia kembali semarak. Yang terjadi, semua hewan itu mati menua dan patah hati di dalam sangkarnya.

Itu menyedihkan. Menyedihkan karena ketika manusia campur tangan, hasilnya kekacauan. Kini hama menjadi lebih ganas dibandingkan sebelas tahun yang lalu. Ulat merambat di ranting dan memakan dedaunan. Tikus berlarian memakan buah dan akar. Manusia menangkap dan membunuh para burung, dan akhirnya manusia membayar dengan menghadapi para hama memangsa tanaman mereka #arulife

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s