• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Sungai Lilin

image

Suatu hari nanti, aku ingin menulis sebuah kisah tentang seorang remaja yang hidup di sebuah desa yang jauh dari kota manapun di seluruh dunia. Namun demikian, dia adalah remaja yang bahagia dengan hidupnya. Dia memiliki orang tau yang mengasuhnya sebaik mungkin sepasang orang tua bisa melakukannya. Dia tidak selalu minum susu saat sarapan, bahkan mungkin dia hanya minum susu saat sakit, dan karena dia jarang sakit, maka dia pun sangat jarang minum susu, tapi itu tidak menganggu perasaannya sama sekali. Dia tidak selalu makan ayam, bahkan sepertinya dia hanya makan ayam setahun sekali. Dan karena peristiwa setahun sekali biasanya hanya terjadi tiga hari dalam setahun, maka dia makan ayam hanya tiga hari dalam 365 hari. Dia tidak pernah merasa dirinya miskin karena semua orang di desanya pun keadaannya seperti dirinya. Kenyataannya, dia hidup di sebuah desa yang sangat tenteram sehingga tidak ada satu orang pun yang merasa lebih miskin dari yang lainnya. Dan remaja itu sama sekali tidak tahu ada sesuatu yang bisa membuat orang lain tidak betah tinggal di desa senyaman desanya.

Remaja itu bersekolah di sekolah yang terdapat di desa lainnya. Memang dia harus menempuh jarak yang jauh tapi itu sama sekali bukan masalah bagi orang desa yang mana berjalan kaki adalah kegiatan sehari-hari. Dia akan selalu bangun pagi-pagi untuk mengisi bak air dengan menimba air di sumur. Dia akan mandi segera setelah semua bak air penuh. kemudian dia akan makan sarapan bersama kedua orang tuanya. Di desanya, setiap rumah menikmati sarapan pagi sekali dan hampir bersamaan. karena setiap orang harus keluar rumah pagi-pagi, untuk bekerja atau sekolah, maka semua sarapan terjadi satu jam sebelum kebanyakan orang di luar desanya baru memasak sarapan. Saat cuaca panas, remaja itu, juga semua temannya satu desa, tidak pernah memakai seragam saat berangkat sekolah. Seragamnya ia simpan dalam tas. Jika dia memakai seragam sekarang, begitu dia sampai sekolah seragam itu akan bau, kisut dan basah punggungnya oleh keringat. Orang luar desa yang bertemu dengan mereka saat berangkat sekolah mungkin akan mengira mereka adalah sekelompok anak nakal bersepatu yang pagi-pagi sekali sudah keluyuran.

Para remaja itu berjalan melewati jalan rusak berbatu, melintasi persawahan, kemudian menyeberangi sungai dengan jembatan bambu yang hanya bisa dilewati satu orang, dilanjutkan dengan melintasi ladang milik warga kampung sebelah, kemudian sampailah mereka di desa tempat sekolah mereka berada. Bagi remaja yang menjadi tokoh utama kisah yang akan kutulis nanti, hal paling menyenangkan dari bersekolah bukanlah saat berlangsungnya pelajaran, tapi saat berjalan menuju dan pulang dari sekolah. Itulah yang paling menyenangkan dan membuatnya selalu ingin berangkat sekolah. Walaupun sebenarnya dia bukan siswa yang bodoh. Dia lumayan pintar untuk bisa menempati juara delapan atau sembilan.
***
Nanti, ketika aku merasa sudah mendapat kesempatan yang baik, aku akan menulis sebuah kisah tentang seorang remaja yang hidup di sebuah desa jauh dari kota manapun di seluruh dunia, dia hidup berbahagia, dia bersekolah di luar desanya, dan, sebagaimana semua remaja lainya di seluruh dunia, aku akan menceritakannya sebagai seseorang yang akhirnya jatuh cinta.  Keputusan ini akan membuatnya menjadi tokoh utama yang jatuh cinta. Apakah kau sadar bahwa ternyata tidak semua cerita tokoh utamanya jatuh cinta? Aku tidak berencana membuat kisah seperti itu. Memangnya, apa gunanya bangun sampai larut malam menulis sebuah cerita yang tokoh utamanya tidak jatuh cinta?

Dalam kisah yang akan kutulis nanti, tunggu, aku terlalu terburu-buru. Sebelum aku memikirkan bagaimana dia jatuh cinta, kepada siapa, dan apa yang dia dapatkan dari cintanya, seharusnya aku menceritakan bagaimana kehidupan persahabatannya. Ah, aku memang orang yang suka terburu-buru. Aku harus memaafkan diriku sendiri untuk hal tidak berguna seperti itu. jadi, aku akan membuatnya sebagai tokoh utama yang memiliki banyak teman.

Dalam kisah tersebut, akan kubuat dia sebagai remaja yang disukai oleh semua anak tetangga karena dia suka menolong semua anak tetangga termasuk juga orang tuanya. Ketika ada anak tetangga yang tidak bisa mengerjakan PR, dia akan membantu anak tetangga tersebut—dan tentu saja dia bisa membantu karena dia adalah juara delapan atau sembilan di sekolahnya, ingat? Ketika ada anak tetangga yang disuruh orang tuanya memperbaiki atap rumah yang bocor, dia akan datang dan ikut naik ke atap rumah untuk membantu si anak tetangga tersebut. Ketika ada anak tetangga yang diperintah menyapu rumahnya, tokoh utamaku tidak akan kubuat datang ke rumahnya dan megambil alih tugas menyapu, tentu saja tidak, itu terlalu konyol untuk seorang tokoh utama. Tapi akan kubuat tokoh utamaku kebetulan lewat dan menyapa si anak tetangga dan memujinya dengan tulus. Dengan demikian anak tetangga tersebut akan merasa tugas menyapu sebagai tugas yang mulia bahkan bagi seseorang yang sudah berusia remaja. Dan ketika ada seorang anak tetangga yang bersedih, neneknya meninggal mungkin, akan kuceritakan tokoh utamaku datang menghiburnya sekaligus membantu pemakaman neneknya. Lalu pada suatu musim hujan yang menyenangkan, di mana hampir semua anak laki-laki pergi ke sungai untuk berenang—pada musim kemarau airnya terlalu kecil untuk dipakai berenang banyak orang—terjadilah peristiwa itu. seorang anak hanyut dan berteriak-teriak minta tolong. Tiga remaja melompat untuk membantunya tapi justru mereka terhempas ke tepi sungai dan tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu tokoh utamaku akan berlari di bantaran sungai, mengejar si bocah yang semakin lemah, kemudian, pada sebuah batu besar yang menjorok ke tengah sungai, dia akan berlari dan melompat terjun dari sana. Akan kugambarkan bagaimana semua orang berteriak dan terpesona melihat adegan itu. lalu tokoh utamaku akan jatuh di air di dekat si bocah yang kini hampir tak sadarkan diri. Lalu tokoh utamaku akan menariknya ke tepian dan, delapan menit kemudian, dia pun berhasil mencapai daratan dan menyelamatakn sebuah nyawa. Ini akan mebuatnya secara wajar layak di sebut sebagai pahwalan tingkat desa, bukan? Dan bukan hanya itu, aku akan mebuat toko utamaku juga berjasa bagai binatang ternak. Pada suatu hari yang berhujan-badai, seorang petani menggemparkan desa karena empat ekor sapinya hilang dari kandang. Tidak ada yang tahu bagaimana atau kemana perginya sapi-sapi itu di cuaca sebutuk ini. Dan ketika keputusasaan sudah mencekal ubun-ubun keluarga pemilik sapi, datanglah tokoh utamaku di bawah guyuran hujan dan berlatarkan sambaran halilintar. Di tangannya, sebuah tali tergenggam erat, menyeret seekor induk sapi yang diikuti tiga anaknya.

Tokoh utamaku tidak akan kau temukan di rumahnya pada hari-hari panen. Tapi kau bisa menemuinya sedang bekerja giat di salah satu ladang di sekitar desa. Bisa jadi itu ladang keluarganya sendiri, atau ladang milik warga desa lainnya. Dengan demikian, aku telah memberi alasan yang kuat mengapa tokoh utamaku memiliki banyak teman dan banyak orang tua yang menyukainya. Teman-temannya akan berkata bahwa mereka tidak akan pernah melupakan kebaikannya. Mereka akan berjaniji bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan kesedihan mengisi hati tokoh utamaku. Dan mereka semua bertekad untuk menjadi sahabat sejatinya. Janji para remaja itu, untuk menjadi sahabat sejati tokoh utamaku, akan membuatku sebagai si pengarang kisah ini merasa lega karena tahu tokoh utamanya akan baik-baik saja hidupnya.

Sekarang mari kita membahas soal jatuh cinta.

Dalam kisah itu, aku harus memilih gadis yang tepat untuk menjadi sosok yang layak dicintai oleh tokoh utama yang baik akhlaknya. Dan kemudian aku harus membuat gadis itu menghancurkan hatinya. Hancur sampai dia harus menangis berurai air mata. Bukan karena gadis itu seseorang yang jahat, tapi karena gadis itu akan kuberi kehormatan membuat kisah hidup sang tokoh utama menjadi lebih berwarna. Dengan cara itu aku akan membuat tokoh utamaku belajar banyak hal untuk menghadapi kehidupan dewasa.

Akan kuhadirkan seorang gadis berasal dari desa yang sama. Seorang gadis dengan rambut panjang yang selalu diikat ekor kuda. Seorang gadis yang ketika berjalan ekor rambutnya akan bergerak seakan dia melompat. Seorang gadis yang memiliki lesung pipit, sebuah gigi taring yang tumbuh di atas gigi lainya, dan ketika tertawa dia akan tertawa seakan itu kewajiban yang mustahil dia tentang. Akan kuceritakan jika gadis itu sangat pintar tapi karena dia bukan dari keluarga yang kaya maka dia tidak pernah lebih tinggi dari juara tiga di sekolahnya. Akan kuceritakan jika dia merasa kesal menghadapi kenyataan tersebut dan lebih kesal lagi karena tidak memiliki satu orang pun yang bisa mendengar keluh kesahnya. Teman-temannya satu desa tidak peduli dengan sekolah sehingga mendapat juara tiga saja sudah luar biasa. Untuk apa lebih tinggi lagi? Pada saat itulah, tokoh utamaku akan datang duduk di samping sang gadis pintar. Dia akan berdehem dua kali dan mengucapkan selamat karena semester ini sekali lagi gadis itu menjadi juara tiga. Lalu gadis itu hanya diam. Tampak jelas kalau dia tak puas. Lalu tokoh utamaku akan berkata seperti ini, “kau tahu, seharusnya kau menjadi juara satu. Aku tahu itu. pasti ada kecurangan yang besar di sekolah ini sehingga kau tidak pernah lebih dari juara tiga.” Maka kalimat itulah yang membuat sang gadis pintar memercayai tokoh utamaku lebih dari siapapun yang dia kenal dalam hidupnya.

Hari ini, di depan komputerku ini, aku bisa membayangkan suatu hari nanti akan menulis sebuah kisah dengan tokoh utama seorang remaja yang bahagia. Aku akan membuatnya jatuh cinta pada si gadis pintar teman kelasnya sekaligus temannya satu desa. Akan kubuat ini menjadi kisah kasih yang klasik dan membuat semua pembaca ingat akan masa mudanya. Jika pembacaku itu pernah tinggal di desa, kisah ini akan mebuatnya ingat tentang cinta lamanya dulu di desa, jika dia tinggal di kota, kisah ini akan membuatnya ingat akan cintanya dulu saat masih di sekolah.

Kini, remaja itu lebih bersemangat dari sekedar bersemangat utuk berangkat sekolah. Dia menjadi lebih mencintai dari sekedar mencintai akan perjalanan menuju dan pulang sekolah.  Dia akan menjadi kurang sabar saat pelajaran berlangsung, dia akan melirik jam di belakang kelas lebih sering dari siswa yang paling malas sekalipun, dan dia akan mencuri pandang pada gadis pintar itu demikian sering sehingga guru mengira dia ingin mencontek. Lalu dia akan menjadi sangat gembira, bahkan sampai bersorak, ketika bel istirahat berbunyi. Teman-temannya satu kelas akan tertawa melihatnya, gurunya akan menggeleng kepala karenanya, dan gadis pintar itu akan terseyum manis untuknya. Lalu mereka berdua akan berjalan beriringan meninggalkan kelas, bukan ke kantin karena mereka tidak ada uang untuk jajan, bukan ke perpustakaan karena mereka sedang tidak ingin membaca, tapi ke samping sekolah di mana sebuah parit kecil mengalir dengan tenang.

Gadis itu akan menceritakan semua isi hatinya pada tokoh utamaku karena memang hanya tokoh utamakulah yang bisa memahami kegelisahannya. Dia akan bercerita betapa dia bosan dengan suasana malam yang di desa yang selalu remang-remang, betapa dia lelah dengan suasana malam di desa yang selalu berisi kesepian, betapa dia merindukan sebuah tempat yang penuh dengan cahaya sehingga malam dan siang tidak terlalu berbeda, betapa dia menginginkan sebuah tempat tinggal yang riuh oleh suara sehingga dia bisa selalu bernyanyi atau tak pernah merasa kesepian. Dia akan membeberkan semua rencana masa depannya untuk tinggal di sebuah kota besar. Akan dia ceritakan semua impiannya untuk bekerja di sebuah toko pakaian. Dan semua hal yang dia ceritakan tidak pernah sedikitpun berhubungan dengan desanya yang damai itu. remaja yang bahagia itu sebenarnya tidak begitu mengerti dengan semua rencana si gadis pintar. Dia tidak bisa mengerti mengapa ada orang yang demikian tidak betah dengan kedamaian. Tapi dia tidak ingin merusak impian gadisnya, dia akan selalu menyediakan kedua telinganya yang setia untuk mendengarkan semua impian yang berkilauan dan penuh musik itu.

Aku sangat ingin membuat kisah yang manis dan selalu bahagia untuk tokoh utamaku ini, si remaja bahagia ini, tapi karena untuk menjadi seorang penulis yang baik kau dituntut untuk berbuat tidak baik pada tokoh utamamu, maka aku harus menjadi penulis antagonis bagi protagonisku. Hey, pernahkah ada yang memikirkan hal ini, tentang betapa dilematis kehidupan penulis? Betapa tidak, untuk menjadi seorang penulis yang baik kau dituntut untuk menjadi orang jahat bagi orang baik dalam ceritamu. Itu sangat menyaktikan, sungguh. Jika ada seorang penulis yang membuat kisah hidup tokoh utamanya berjalan mulus, tidak ada masalah, urusan hidupnya lancar jaya, kisah cintanya indah dan bahaga, menikah dan melahirkan anak-anak yang taat pada orang tua, pekerjaannya ringan dan gajinya besar sekaligus selalu bertambah, sahabat-sahabatnya setia dan selalu rela membantu, jika ada penulis yang mebuat kisah seperti itu, maka serentak semua pembaca di seluruh dunia bahu-membahu mengecamnya sebagai penulis yang buruk. Penulis yang buruk! Akan tetapi, jika ada penulis yang membuat tokoh utamanya menderita, susah, sengsara, terlaknat, teman-temannya berkhianat, istrinya selingkuh dengan sopir taksi, pekerjaannya hancur dan perusahaannya disambar gledek terbakar jadi abu, bupati dan camat seluruh dunia bersekongkol untuk menghancur lumatkan kehidupan sang tokoh utama, maka otomatis seluruh pembaca di dunia betepuk tangan dan memuji penulis jahat seperti itu sebagai penulis yang baik. Renungkan ironi itu. Pertanyaanku, apakah pembaca di seluruh dunia sudah kehilangan hati nuraninya?

Jadi kali ini aku akan menjadi penulis yang jahat agar diakui sebagai penulis yang baik. Maafkan hamba, Tuhan. Pada awalnya, akan kudatangkan berbagai kesempatan yang indah dan berkesan bagi mereka berdua, si remaja bahagia dan gadis pintarnya. Adegan mereka sering mengerjakan PR bersama, kebetulan bertemu di sungai saat mencari ikan, bercanda di sawah saat bersama-sama memanen padi, duduk bersama di teras rumah saat bulan purnama, makan rujak mangga di bawah pokok mangga yang tumbuh di sebelah pohon mangga milik tetangga. Lalu, akan kuakali suatu hari di mana semua siswa dari desanya tidak berangkat sekolah kecuali si remaja bahagia dan si gadis pintar. Mereka akan berjalan bersama melintasi jalan yang buruk rupa, persawahan yang luas terhampar, dan akhirnya sampai di jembatan yang di bawahnya mengalir sungai dengan deras. Akan kutulis bahwa ada banyak batu hitam dan besar menonjol di permukaan sungai agar terasa agak menakutkan. Lalu, tokoh utamaku akan berkata, “I think I love you.”

Gadis pintar itu akan berhenti berjalan. Gadis itu akan berdiri tenang. Gadis itu akan terdiam. Gadis itu akan melahirkan kesunyian yang dalam. Gadis itu akan membuat seluruh alam bungkam. Gadis itu akan membuat tokoh utamaku tercekam. Gadis itu akan mebuat tokoh utamaku tidak mampu mendengar apa-apa selain sunyinya bunyi keheningan. Bahkan gadis itu akan membuat tokoh utamaku ingin kabur saja dari tempat itu saking takutnya. Tapi dia akan melihat gadis itu berbalik. Dia akan melihat gadis itu menaruh kedua tangannya di depan dadanya. Dia akan melihat gadis itu menelengkan kepalanya sehingga rambut ekor kudanya bergoyang ke samping. Lalu tampaklah gadis itu tersenyum, matanya menjadi sipit kalau dia tersenyum. Tokoh utamaku akan berkeringat dan tidak bisa bersuara. Tapi dia akan terkejut ketika mendengar tiba-tiba gadis pintarnya tertawa. Gadis itu tertawa dengan sangat serius. Lalu katanya, “kau tahu, aku berencana untuk hidup di kota besar. Di mana kehidupan penuh dengan cahaya dan suara. Aku tidak akan perduli pada apapun sebelum impianku itu terwujud.”

Lalu gadis pintar itu akan melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Lalu tokoh utamaku akan berteriak bahwa dia sakit perut dan harus pulang. Dua puluh menit kemudian gadis pintar itu sampai di sekolah dan mengabsenkan si remaja bahagia. Pada dua puluh menit yang sama, tokoh utamaku sedang berenang di sungai lengkap menggunakan seragam sekolahnya. Dia tidak akan keluar dari air sebelum dia berhenti meneteskan air mata.
***
Suatu hari nanti, aku akan menulis sebuah kisah tentang seorang remaja yang hidup di sebuah desa jauh dari kota manapun di seluruh dunia. Dia hidup bahagia di desa yang terpencil itu. dia bahagia bersama keluarganya yang sederhana, dia bahagia bersama teman-temannya yang bersahaja dan setia, dia pun tetap bahagia walau cintanya tidak memberinya kebahagiaan. Dia mencintai gadis dari desanya yang juga teman kelasnya yang juga gadis paling pintar yang pernah dia temui dalam hidupnya yang sederhana dan bahagia di sebuah desa yang jauh dari kota manapun di dunia. Remaja bahagia itu pada akhirnya akan kubuat hidupnya penuh dengan duka nestapa. Itu karena aku telah terhasut oleh mereka yang mengatakan bahwa penulis yang baik adalah penulis yang meremukkan kehidupan tokoh utamanya.

Maka sampailah tokoh utamaku dan teman-temannya pada masa akhir sekolah. Mereka telah melaksanakan ujian akhir nasional dan sedang menunggu pengumuman kelulusan serta pembagian ijazah. Pada saat itulah, para remaja yang bermata cemerlang itu mulai berbagi mimpinya untuk sebuah kehidupan yang berbeda. Mereka sama sekali tidak berencana untuk terus hidup di desa kecilnya, mereka berencana untuk pergi dan meninggalkan desa sederhana itu. semua orang saling bertukar cerita. Semua orang saling berbagi koran yang menawarkan lowongan pekerjaan di kota. Semua orang saling mengisi pikiran dengan bayangan akan kota yang gemerlapan dan riuh tak pernah diam. Tokoh utamaku, dia hanya tersenyum menyaksikan semua kegelisahan dan kegaduhan kawan-kawannya. Dia bergerak dari satu gerombolan ke gerombolan lainnya hanya untuk mendengarkan kisah yang sama, kota bercahaya yang serupa, dan hirup pikuk yang senada. Kemudian, ketika dia akhirnya bertemu dengan gadis pintarnya, gadis itu akan berkata, “kau berencana ke kota mana?” tokoh utamaku akan tersenyum sebelum menjawab dengan suara yang rendah, “ceritakan dulu kota yang ingin kau tuju.” Lalu remaja bahagia itu pun duduk hanya untuk memberi kesempatan bagi si gadis pintar sekali lagi menceritakan kota impiannya dan sekali lagi si remaja bahagia mendengarkannya sampai selesai.

Selanjutnya, berita kelulusan pun datang. Semuanya lulus dan sekolah menyelenggarakan acara perpisahan yang mengesankan. Lalu ijazah dibagikan. Lalu semua orang berpelukan dan mengucapkan sampai jumpa lagi. Lalu, satu per satu, tokoh utamaku menyaksikan teman-teman sedesanya berpamitan, meninggalkan orang tua, tetangga, kawan, ladang, kebun dan sawahnya. Desa yang tenang dan sunyi kala malam hari itu kini menjadi semakin sunyi dan sepi dari hari ke hari. Tokoh utamaku akhirnya mengerti, teman-teman yang dulu berjanji untuk menjadi sahabat setia dan tidak pernah meninggalkannya akhirnya kini tiba saatnya untuk membiarkannya menghadapi kehidupan dalam kesunyian. Dia tahu ini kenyataan yang pahit, tapi juga dia sadar bahwa bukan dia orang yang berhak untuk menghentikan langkah para sahabatnya. Dia tahu ada janji yang pasti lekang oleh zaman, dia sadar ada perpisahan yang memang harus dihadapi setiap orang. Maka tokoh utamaku pun hanya bisa memberikan senyum dan jabatan tangan erat untuk setiap sahabat yang menemuinya untuk mengukuhkan perpisahan. Setidaknya, gadis pintarnya masih ada di rumah.

Pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar, dan anak-anak kecil di desa sedang ramai bermain di tanah lapang, remaja bahagia dan gadis pintar itu sedang duduk di tepi sungai kecil tak jauh dari situ. Gadis pintar itu mengambil sebuah lilin kecil berwarna putih dari saku bajunya. Lalu dia memetik sehelai daun yang cukup besar. Dia menyalakan lilinnya dan memberdirikannya di permukaan daun tersebut. Dia menatap lilinnya beberap saat. Menyaksikan bagaiamna angin mempermainkan api kecil itu. Remaja bahagia itu diam saja mengamati semuanya. Lalu gadis itu menaruh daun dan lilinnya ke sungai kecil. Aliran air pun membawa lilin itu hanyut jauh ke hilir.

“Cahaya lilin itu akan menuntun jalanku. Jika ia bisa mengalir sampai jauh, ampai meninggalkan desa ini, maka akan sejauh itu pula perjalananku.” Kata si gadis pintar.
Remaja bahagia tidak menanggapi. Mereka berdua menatap bagaimana lilin itu terus hanyut menjauh, meninggalkan mereka berdua hanya berpenerangan cahaya rembulan. tiba-tiba, angin kencang berhembus dan matilah api kecil pada lilin kecil itu. Gadis pintar itu mendesah melhat apinya padam.
“Nah, apakah itu artinya kau tidak akan pergi ke mana-mana?” Tanya si remaja bahagia, berharap menadaptkan jawaban yang akan menbuatnya tersenyum selamanya.
“Kau tahu, manusia tidak selayaknya menggantungkan masa depannya hanya pada sebuah lilin kecil. Dia harus terus berusaha agar bisa menjadi lebih besar dari dirinya sendiri.” Jawab gadis itu. “Aku akan mengumpulkan semua uangku, aku akan mengemasi pakaianku, aku akan pergi ke kota. Aku akan mewujudkan semua impian yang pernah kuceritakan padamu.”

Seminggu setelah malam itu, apa yang paling ditakuti oleh sang remaja bahagia pun terjadi. Aku yakin para pembacaku pun sudah menduga ini bakal terjadi. Maka aku tak perlu menulis panjang untuk sesuatu yang sudah diketahui. Gadis pintar itu membeli tiket kereta api. Menyiapkan semua bawaannya. Membuat kedua orang tuanya menangis sedih tak terkira. Lalu dia berpamitan pada setiap tetangga juga semua orang di desa. Juga, pada sahabatnya yang paling dekat dengannya, si remaja bahagia. Sebelum berpisah, gadis pintar itu berbisik, “percayalah, cahaya akan membimbing jalanmu. Kau harus meninggalkan desa ini sebelum akhirnya kau meninggalkan dunia ini.”

Tokoh utamaku tidak berkata apa-apa. Tapi kemudian dia pergi berlari mendaki bukit, duduk menunggu sampai matahari tinggi. Lalu dia melihat sebuah kereta api melintas. Mendesis berlari pergi. Jauh meninggalkan desa, meninggalkan sekolah, meninggalkan sawah dan bukit, meninggalkan dirinya. Dia tahu gadis pintar yang duduk di salah satu kursi di kereta itu tidak akan pernah kembali lagi. Dan karena di bukit itu tidak ada sungai untuk menyembunyikan air matanya, maka dia pun membiarkan air mata itu bercucuran bersama tangisnya yang tak tertahankan. Sementara asap kereta perlahan hilang di angkasa.

Dengan demikian, aku telah menjadi seorang penulis yang lebih baik.

Tamat

Nb: cerpen ini terinspirasi dari lagu Neon River, Keane.
Temui penulis cerpen ini di Twitter @arulight, atau tunggu dia di muara Sungai Lilin. Pada akhirnya nanti akan tahu bahwa mustahil bagimu untuk menemukan Sungai Lilin di alam nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: