Posted in sastra

Resensi Novel Gerbang Trinil; Sebuah Gerbang (lebih tepatnya dua buah) Yang Tidak Membawamu (Hanya) Ke Trinil

image

Penulis: Riawani Elyta & Syila Fatar
Penyunting: Dyah Utami
Perancang sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrator: Fahmi Fauzi
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vi + 296 halaman
ISBN: 979-795-874-4

Sebelum kau membaca resensi ini, aku ingatkan beberapa hal terlebih dahulu. Pertama, aku menulis ini dengan menutup layar komputerku. Sebuah kejadian telah menghancurkan kacamataku dan membuatku belum bisa memiliki kacamata  yang baru. Bisa kau bayangkan berapa banyak typo yang akan kau nikmati. Kedua, aku menulis ini dengan terlebih dahulu mengagumi buku ini sebeum membacanya. Jadi mungkin kau akan melihatku banyak memuji. Ketiga, setelah membaca, ternyata aku meutuskan untuk tidak terlalu memuji, itu artinya kau akan membaca resensi yang sedikit lebih objektif—atau setidaknya menurutku akan lebih objektif. Keempat, aku tidak akan menulis poin ke lima dan seterusnya untuk mengawali resensi novel scifi local ini.

Kisah Itu Bermula Dari…
Well, jika aku menuliskan ringkasan separuh dari isi novel ini, apakah kau akan membeli bukunya agar kau mengetahui kisah seutuhnya? Aku sering bertanya-tanya tentnag hal itu setiap kali membaca sebuah resensi buku. Dan karena aku ingin berpikir positif tentangmu, bahwa setelah mengetahui sedikit tentang buku ini kau akan berbesar hati membeli novel utuhnya, maka ini kutuliskan sedikit dari kisah novel hebat ini. Tunggu, masalahnya, hahaha, aku bukan perangkum kisah yang baik! Jadi izinkan aku menulisnya semampuku. Kemungkinan akan ada beberapa detail yang salah—saya harap penulis dan penerbit akan memaafkanku jika itu terjadi.

Syahdan bukan pada jaman dahulu kala, tersebutlah seorang gadis SMA bernama Areta (dan itu nama yang manis, bukan!) yang sangat menyukai dunia purbakala khususnya segala sesuatu tentang pithecanthropus erectus. Pada zaman di mana hampir semua remaja Indonesia (ah, iya, aku lupa memberitahumu bahwa kisah dalam novel ini terjadi di Indonesia) tergilakan oleh artis Korea dan cinta serigala serta sepupunya, cinta monyet, Areta malah jatuh hati pada fosil dan sejarah manusia purba. Dia juga mengagumi salah satu ilmuwan purbakala kesohor asal Belanda, Eugene Dubois. Kekagumannya pada ilmuwan yang telah lama meninggal dunia itu membawanya untuk berkenalan dengan cicit pak Dubois, Harry Dubois yang usianya hampir sama dengan Areta.

Mari kita sedikit mengkhayalkan masa lalu. Tentu kau bisa membayangkan betapa kagetnya orang Indonesia jaman dulu ketika pak Dubois menyatakan bahwa manusia bukan keturunan Adam melainkan masih besan dari monyet. di era modern, keluarga Dubois ternyata belum bosan untuk membuat kejutan soal asal-usul manusia. Keturunan pak Dubois (ayahnya si Harry) menyatakan bahwa teryata, ternyata oh ternyata, bangsa pithecanthropus sebenarnya adalah para alien! Ya, alien! Mereka bukan hanya makhluk berjalan tegak yang dengan nekad tanpa busana masuk hutan berburu makanan, tapi mereka bisa mengendarai pesawat luar angkasa, memiliki portal penembus ruang, dan segala macam teknologi hebat lainnya. Mendengar teori keturunan pak Dubois ini, Tidakkah kau merasakan kekagetan yang sama dengan leluhur kita bangsa Indonesia jaman Belanda dahulu kala? Kau harus!

Dan, yah, tentu saja tidak ada yang percaya dengan teori tersebut. Tapi, karena ini adalah novel untuk membuat telingamu berdiri tegak karena ketegangan, faktanya, memang para pithecanthropus itu adalah para alien. Selanjutnya, Areta yang tergila-gila dengan fosil itu pun terlibat dalam suatu peristiwa berbahaya yang menentukan masa depan bumi, juga masa depan pernikahannya. Hey, apa hubungan masa depan bumi dengan masa depan pernkahan areta? Begini, para pithecanthropus yang puluhan ribu tahun lalu sebagai satu-satunya makhluk cerdas penghuni bumi berencana untuk sekali lagi dgvibsuyftiug68i planet bumi. Nah, Areta harus mengehntikan rencana dgvibsuyftiug68i itu, karena jika tidak maka bumi akan menjadi vhcext3wsrewr. Rencana dgvibsuyftiug68i memang sangat mengerikan sehingga pasti bumi akan menjadi vhcext3wsrewr jika tidak digagalkan. Namun demikian, pada saat yang sama Areta justru dijebak oleh NENEKNYA SENDIRI untuk DIKAWINPAKSAKAN dengan sang raja pithecanthropus erectus! Modar kowe. Pikirkan, betapa malapetaka masa depan yang dihadapi gadis SMA itu. Dia harus menyelamatkan bumi, tapi malah dijebak kawin paksa oleh neneknya, lebih gila lagi, suaminya bukan dari golongan jin atau pun manusia, melainkan dari bangsa manusia purba.

Izinkan aku membuat sedikit daftar perbandingan untuk gadis Areta ini. Aku akan membandingkannya dengan Siti Nurbaya.

1. Areta harus menyelamatkan dunia, itu takdir yang diberikan oleh Riawani Elita dan Syila Fatar, sedangkan Siti Nurbaya tidak harus menyelmatkan Minang atau Indonesia apalagi dunia oleh Mara Rusli
2. Siti Nurbaya dipaksa kawin oleh orang tuanya, orang yang memang berjasa bagi kehidupan Mbak Siti. Areta DIJEBAK KAWINPAKSA oleh neneknya. Perhatikan, pertama-tama, dia dijebak, selanjutnya dia dihantam dengan kawin paksa, oleh orang yang sama sekali tidak berkontribusi untuk kehidupannya sejak kecil sampai SMA.
3. Mbak Siti dipaksa kawin dengan Datuk Maringgi, sosok antagonis yang dikemudian hari justru dipuji oleh para kritikus sastra karena ternyata Datuk Maringgi mewakili para pejuang kemerekaan. Dengan demikian, tanpa sadar, Mbak Siti direncanakan untuk menjadi istri pahlawan oleh Bang Mara Rusli. Tapi Areta, dipaksa kawin dnegan pithecanthropus, makhluk yang tidak pernah kita tahu apakah bisa mencium dan bilang I love you dan sangat jelas terbukti dalam sejarah  bahwa mereka tidak pernah berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya itu, sang pithecanthropus jelas-jelas berdiri sebagai tokoh antagonis yang tidak hanya ingin melumatkan gunung merapi atau gunung slamet, tapi seluruh dunia. Poin penting lainnya, setua apapun Datuk Maringgi, dia adalah seorang manusia laki-laki. Pithecanthropus? Siapa bilang dia laki-laki? Dia itu penjantan!
4. Mbak Siti sudah mengenal cinta bahkan dia punya pacar, dan usianya sudah cukup dewasa. Areta, dia masih anak-anak, di bawah umur, belum kenal cinta,bahkan dia anti cowok! Siapa di dunia ini yang akan mengatakan penderitaan kawin paksa Mbak Siti kebih berat dari penderitaan kawin paksa adik Areta? Siapa? Siapa? Ayo bilang padaku! Aku tidak terima kalau ada yang mengatakan derita Areta biasa-biasa saja.
Sungguh menakjubkan, ternyata—dan aku baru menyadarinya saat menulis resensi ini hari ini—novel Gerbang Trinil yang kubaca lebih dari sekedar novel scifi, melainkan roman sejarah paling mencabik rasa kemanusiaan dan paling garang membetot simpati pembaca. Astaga, kau tidak bisa membayangkan bagaimana horornya menyaksikan calon kamar pengantin ratu manusia purba—dan Areta menyaksikannya.
5. Akhirnya aku mau berkata kalau kau masih saja tidak bersimpati pada nasib adik Areta, mungkin kau masih keturunan manusia purba dan kau secara jujur mendukung rencana pithecanthropus untuk me-dgvibsuyftiug68i dunia. Dan jika kau akhirnya mengakui jatidirimu, kukatakan dengan lantang di sini, aku berdiri membela Areta dan menantangmu untuk duel membuat sambal paling pedas se planet mars.

Sebuah gerbang dari gading gajah purba berdiri tegak di kebun belakang nenek Areta yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Melalui gerbang itulah Areta mengalami—
Tunggu, kubantu dirimu dengan beberapa daftar pertanyaan:

1. Bagaimana hubungan Areta dengan keturunan Harry Dubois yang masih seusia dengannya? Apakah mereka nanti menjadi pasangan kekasih?
2. Karena para pithecanthropus itu sangat hebat, memiliki teknologi yang bisa mengendalikan cuaca dan menimbulkan bencana di muka bumi, bagaimana caranya Areta menghadapi mereka? Bagaimana caranya Areta bisa mencapai tempat tinggal mereka?
3, Bagaimana awalnya muncul kecurigaan bahwa pithecanthropus adalah manusia purba? Eh, amksudku, alien?
4. Apa maksud dari judul Gerbang Trinil bagi novel ini?
5. Banyak yang mengatakan bahwa penulis Riawani Elyta dan Syila Fatar berhasil membuat ending yang keren untuk buku ini, benarkah demikian?
6. Dikisahkan bahwa ada banyak perempuan yang diculik oleh para pithecanthropus, apa tujuan penculikan tersebut? Ada berapa banyak pria yang diculik?
7. Bagaimana nasib pernikahan Areta dengan raja pithecanthropus? Apakah mereka benar-benar menikah? Menghabiskan bulan madu di Hawaii dan berhasil membina keluarga yang jhviuehg7ye? Apakah makhluk piccolo (yang muncul dalam komik dragon ball) sebenarnya adalah keturunan dari Areta dan si manusia purba? Atau semua itu hanya kegilaan penulis resensi yang terganggu penglihatannya?

Nah, kau tahu, hanya ada satu cara untuk menemukan jawaban dari tujuh pertanyaan pembongkar takdir di atas, yaitu, belilah bukunya dan baca sendiri. Baca sendiri dan temukan jawabannya sendiri. Gila banget kalau kau mengira akau akan menjadi tukang bacamu dan dengan agak stress membongkar semua jawaban untuk tujuh pertanyaan di atas. Wahahaha, Hoy, aku bukan manusia purba hoy. Oh ya, jika hatimu sudah terbuka untuk membeli buku ini, kau bisa mendapatkannya dengan memesan langsung pada penulisnya. Akan tetapi jika kau memesan buku ini padaku, well, aku yakin cara pikirmu memang mirip dengan pola pikir pithecanthropus.

Jadi, Apa Pendapatku Tentang Novel Gerbang Trinil?
Pertama, aku harus mengakui bahwa ini buku yang sangat segar. Bahkan aku belumpernah menemukan yang sepertiini dari penulis Indonesia sebelumnya, juga dari penulis luar negeri sekalipun. Ketika membicarakan alien, orang akan menulis bangsa alien sebagai bangsa tersendiri yang memang berasal dari luar angkasa—semua hal yang sudah lumayan akrab bagi kita. Tapi Gerbang Trinil menawarkan sudut pandang baru yang sangat sangat tidak terduga, bahwa manusia purba pithecanthropus sebenarnya adalah para alien itu sendiri. aku yakin bahkan menteri pendidikan pun tidak pernah terbayang akan ide tersebut—tapi bukan berarti hal ini membuat Riawani Elyta atau Syila Fatar sang penulis buku berhak untuk kita angkat menggantikan menteri pendidikan yang sedang menjabat, itu urusan dari presiden, bukan?

Hal baru lainnya dari novel ini adalah—siapa yang sudah menebak? Ngacung—tragedi rumah tangga yang menimpa tokoh utamanya. Mulai sekarang, semua kisah kawin paksa atau pahitnya poligami tidak akan terasa demikian pahit lagi. Bahkan, andai kata kau mendapatkan peran tokoh yang dipaksa menikah dengan Ucok Baba (dalam hal ini kata kau hanya merujuk pada pembaca perempuan) dalam sebuah novel setebal 75 halaman, itu masih lebih baik dan lebih sesuai dengan hukum agama atau hukum positif dibandingkan dengan nasib yang dihadapi dik Areta.

Selain dua hal yang saya sebutkan barusan, ada banyak lagi hal baru dan mengagumkan dari novel Gerbang Trinil yang ditulis beberapa peresensi buku lainnya. Aku tidak akan menulisnya di sini karena itu berarti aku mensabotase dan membuat peluang pengunjung blog mereka berkurang—aku tidak sejahat pithecanthropus, kawan. Kau bisa buktikan kata-kataku ini dengan mengadu pada Mbah Google (mengapa ya semua orang kok suka mengadu sama Google?)

Namun demikian—nah kan, ada namun demikian—ada bebeerapa hal yang ingin kukomentari di sini. Tapi aku harus berhati-hati untuk menulisnya, bukan karena aku tidak ingin menuis hal yang tajam mengenai buku ini, tapi karena jika aku menulisnya maka semua usahaku untuk membuatmu penasaran dengan buku ini akan sia-sia. Hahaha. Jadi, well, ini membuatku bingung sekarang. (aku benar-ebnar berhenti beberapa menit memikirkan bagaimana caranya menuliskan protesku untuk buku ini).

Ah, begini saja, kau pernah menonton film Predator versus Alien? Kalau gak salah garapan sutradara Ridley Scott. Tonton film itu. Berikutnya, apakah ada dianatara kalian yang penasaran bulan madu antara bocah SMA dengan manusia purba sebesar Hulk Hogan? Come on, man, kau pastilah sekantong pithecanthropus kalau sampai penasaran terhadap hal seperti itu. Tidak ada kisah bulan madu di novel ini, wakakaka. Tapi solusi yang diberikan oleh penulis akan mengingatkanmu pada hdsgkfvfbujgfuyefoibeo.

Dan, eng… aha, ini dia yang ingin kukatakan dengan terbuka, aku kurang mengerti dengan ukuran waktu yang berjalan dalam bagian akhir novel. Dimulai dari malam ketika Areta me-jkhvbdgfjsuhfkg sampai ketika Andri menjenguk areta di rumah sakit di akhir novel. Berapa lama memangnya acara study banding di Jogja berlangsung jika disejajarkan dengan ukuran waktu selama Areta terjebak di gbuyfteuvyfie? Terakhir, ini lebih kepada saran daripada protes untuk kedua penulis, ehm, mengapa tidak ada adegan tokoh utama atau tokoh pendamping—atau bila perlu salah satu dari para pithecanthropus—sedang membaca buku karya Arul Chandrana? Terdengar agak aneh bukan untuk diriku sendiri?

Tamat

Temui penulis resensi ini di Twitter @arulight atau di rumahnya yang belum di bangun di tepi salah satu pantai New Zeland abad pertengahan.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

3 thoughts on “Resensi Novel Gerbang Trinil; Sebuah Gerbang (lebih tepatnya dua buah) Yang Tidak Membawamu (Hanya) Ke Trinil

  1. Oh iya, bung muchtar benar. Mbak Siti tidak pernah dipaksa oleh orang tuanya. Tapi dia melakukan pernikahan itu dengan rela. Semua itu dia lakukan untuk membayar hutang orang tuanya pada datuk maringgih

    Bung muchtar, untung kamu meluruskan kesalahan fatal di atas. Untung sekali. Terima kasih, bung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s