• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Resensi Film: The Babadook

image

Ba-Ba-Dook-Dook-Doook: Aku Akan Menggerogotimu Tepat Dari Balik Kulitmu

Sutradara: Jennifer Kent
produser: Kristina Ceyton, Kristian Moliere
penata music: Jed Kurzel
Desainer buku Babadook: Alex Juhasz
Pemain: Essie Davis, Noah Wiseman
Lokasi Shooting: Australia Selatan
Tanggal release perdana: 17 Januari, 2014 (Sundance Film Festival)

Lupakan namamu, lupakan semua panggilan yang kau dapatkan. Lupakan caramu mengenali dirimu karena kini kau adalah orang yang baru. Sekarang namamu adalah Amelia. Amelia. Kau adalah Amelia dan yang sedang kau baca ini adalah kisah hidupmu sendiri.

Hari itu suamimu membawamu ke rumah sakit, kau akan melahirkan anak pertama kalian. Di tengah perjalanan, sebuah mobil menghantam mobilmu. Kaca jendelanya pecah berhamburan. Bertabur di wajahmu. Mobilmu terguling, berputar di jalanan lengang. Kau menjerit. Tapi suamimu tidak berkata-kata. Dia tewas seketika sementara kau
selamat, bersama putramu yang lahir dengan sehat.

Suamimu meninggal pada hari kelahiran putramu. Itulah alasan mengapa kau tidak pernah merayakan hari ulang tahun putramu, karena hari itu hari yang menyakitkan bagimu. Kau merawat putramu seorang diri selama tujuh tahun karena kau selalu berharap suamimu masih menyertai. Saudara dan sahabatmu menyarankanmu untuk beranjak dari masa lalu, melepas ikatan, menjalani hidup yang bergerak menuju masa depan. Kau telah melakukan segala saran mereka, tapi kau masih terus menjaga jarak dari siapapun yang ingin mendekat. Dan perlahan, kau sadar jika kau kelelahan. Putramu melakukan banyak kenakalan. Memukul teman, menakuti sepupu, dan suka membuat senjata rakitan. Putramu semata wayang masih percaya pada monster. Membuatnya masih ngompol tengah malam. Membuatnya sering mendapat mimpi buruk. Membuatnya sering membangunkanmu dari tidur lelahmu. Dan kau memberi nama putramu itu: Samuel.

Kau sedih. Kau juga tertekan. Putramu tidak memiliki banyak teman. Bahkan sepupunya pun tak mau menjadi kawan. Guru di sekolah memanggilmu karena kenakalan putramu. Namun begitu, kau masih dengan sabar menyayangi dan melindunginya. Karena dia adalah putramu. Beban pikiran itu membuat pekerjaanmu merosot. Pelayananmu di panti jompo mendapat sorotan dari atasan. Kau merasa kehabisan tenaga. Namun demikian, saat malam, kau masih harus membacakan dongeng untuk anakmu yang diintai kegelisahan.

Amelia, itu dirimu, apa kau masih ingat semua malam yang kau lewatkan dengan membacakan buku cerita? Kau menyukai dongeng, kan Amelia? Seperti halnya putramu. Tapi justru saat itulah datang Mister Babadook. Melalui buku, pintumu diketuk. Melalui putramu, dia merasuk. Melalui dirimu, dia mengamuk.

Lupakan namamu, lupakan semua panggilan yang kau dapatkan. Lupakan caramu mengenali dirimu karena kini kau adalah orang yang baru. Sekarang namamu adalah Amelia. Amelia. Kau adalah Amelia dan yang sedang kau baca ini adalah kisah hidupmu sendiri.

Malam itu, setelah pada siang hari putramu mengacaukan pesta ulang tahun sepupunya dan melukainya, kau mengijinkan putramu untuk memilih buku dongeng yang akan kau bacakan. Dan di situlah ia berada, sebuah buku dongeng bersampul merah tua, dengan gambar pria bertopi panjang yang seluruhnya berwarna hitam. Kau tidak tahu dari mana buku itu datang, tapi kau tetap harus membacanya karena kau sudah membuat perjanjian. Putramu meringkuk di pangkuanmu dengan tenang, dan kau pun mulai membuka tiap halaman. Perasaanmu mulai tercekam seiring kalimat-kalimat yang kau ucapkan: “ini analah buku Mister Babadook, ia datang saat malam dan pintumu diketuk, dook-dook-dook, ijinkan aku masuk, dook-dook-dook.” Dan sebelum kau menamatkan buku tersebut, putramu meraung-menjerit menangis ketakutan. Kau pun segera membacakan kisah yang lain untuk menenangkan. Dan setelah bocah itu tertidur, kau satu-satunya yang menyadari bahwa rasa takut tidak pernah mundur.

Putramu Samuel telah lama percaya ada monster di bawah tempat tidurnya, tapi kau tidak percaya. Putramu Samuel telah lama membuat senjata pelontar bola untuk melindungimu, tapi kau menganggapnya khayalan semu. Putramu Samuel berjanji untuk melindungimu, dan kau meyakinkan putramu bahwa kaulah yang akan melindunginya, bukan sebaliknya. Benarkah semua yang kau katakan, Amelia? Jawab aku, Amelia. Karena kini kau telah berkenalan dengan Mister Babadook, dan kau telah membaca bukunya yang terkutuk. Kau akan mendengar malam ini pintu rumahmu diketuk, sementara matamu tak bisa terpejam walau tubuhmu meringkuk, dia ingin masuk, Amelia. Dia ingin masuk. Kau bisa mendengarnya dalam kantuk: dook-dook-dook.

Amelia, ingat, ingat, di kantor polisi, kau melihat Mister Babadook. Saat berkendara, makhluk itu menggaruk kap mobilmu. Makhluk itu mempermainkan pintu-pintu di rumahmu. Dan saat malam dia datang mengendap dengan suaranya yang menyeramkan. Kau ketakutan. Maka kau pun merobek dan membuang buku Mister Babadook yang sebelumnya sekedar kau sembunyikan. Tapi buku itu kembali lagi. Tergeletak di atas mejamu. Robekan halamannya telah disatukan, dan kisahnya berubah semakin menakutkan. Buku itu menceritakan bahwa Mister Babadook akan semakin kuat justeru pada saat kau semakin menolak. Buku itu menantangmu, Amelia. Buku itu akan merasukimu dan menggerogotimu tepat dari bawah kulitmu. Lalu kau akan berubah. Kau akan mematahkan leher Samuel, kau akan memotong lehermu sendiri.

Apa kau ingat betapa takutnya dirimu saat itu, Amelia? Kau membakar buku itu. kau bakar hangus buku Mister Babadook. Kemudian berderinglah teleponmu. Kau mengangkatnya, berkata halo, lalu terdengar suara dari seberang: Ba-Ba-Dook-Dook-Dooookkk…

Lupakan namamu, lupakan semua panggilan yang kau dapatkan. Lupakan caramu mengenali dirimu karena kini kau adalah orang yang baru. Sekarang namamu adalah Amelia. Amelia. Kau adalah Amelia dan yang sedang kau baca ini adalah kisah hidupmu sendiri. Apakah kau masih ingat bagaimana dirimu menghadapi Mister Babadook, Amelia?

***

The Babadook adalah film Australia karya perdana sutradara Jennifer Kent. Sebagai sebuah karya perdana yang release pada tahun yang sama dengan releasenya flm horror Annabelle, ini adalah prestasi yang luar biasa. Mengapa? Karena orang biasanya akan membandingkan film-film horror lainnya dengan satu yang paling diantisipasi kehebatannya. Untuk tahun 2014, Annabelle lah jagoan yang dinantikan. Namun demikian, The Babadook justeru berhasil melewati semua itu, bahkan di IMDB score The Babadook lebih tinggi daripada Annabelle. Saat tampil di Sundance Film Festival, The Babadook berhasil menarik simpati dan mendapat banyak pujian.

Kengerian yang dibangun Kent tak tergambarkan. Begitu pula dengan musiknya, mencekam dan membuatmu terbayang-bayang. Tidak ada cara bagiku untuk menjelaskan padamu betapa seramnya film ini selain memintamu untuk membayangkan menjadi Amelia, tokoh utama dalam film ini.

Bagian berikutnya yang menurutku jeli, adalah keputusan dalam mengambil para actor. Di film ini tidak ada pemain yang memiliki wajah terlalu cantik atau terlalu tampan. Wajah yang para pemainnya adalah wajah kebanyakan manusia: biasa saja. Terlihat jelas jika seluruh tim ingin menyajikan film horror yang mengandalkan kekuatannya pada cerita, bukan pada umpan kecantikan / ketampanan para pemainnya. Amelia (diperankan oleh Essie Davis) benar-benar tampak seperti seseorang yang bisa jadi salah satu tetangga kita. Khusus untuk Samuel (diperankan Noah Wiseman), dia sungguh anak kecil dengan wajah menyebalkan yang bisa tampil menarik simpati sekaligus membuat kita benci.

Aku tidak tahu apakah film ini tayang di bioskop Indonesia atau tidak. Jika tidak, kau bisa menikmati film ini dengan membeli DVDnya atau mendownload dari internet. Ini salah satu film yang layak untuk kau tonton, bukan hanya karena bagusnya, tapi juga karena pesan penting yang dia sampaikan dengan gamblang: jika kau mendengar ketukan pintu saat tengah malam, kau tak pernah tahu apa yang ada diluar kamarmu. Dook-dook-doook, ijinkan Babadook masuk…

Arul Chandrana
Twitter: @arulight

One Response

  1. takut ah nontonnya, ntar gak bisa tidur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: