• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

“The Bucket List: Isilah Kerangjang Kehidupanmu Sebelum Nanti Tiba Saatnya Kau Menendang Keranjang Tersebut”

image

Judul: The Bucket List
Produksi: Warner Bross
Sutradara: Rob Reiner
Penulis Skenario: Justin Zackham
Produser: Craig Zadan, Neil Meron, Alan Greisman, Rob Reiner
Pemain: Jack Nicholson, Morgan Freeman,  Sean Hayes, Rowena Todd
Music: Marc Shaiman

Film ini diawali dengan sebuah eulogy, pidato kematian; atau sesuatu yang seperti itu. Bahwa Edward Perriman Cole meninggal pada Minggu sore, bahwa saat itu langit berwarna biru dan bersih tanpa awan, bahwa dia menjalani hari-hari terakhirnya lebih bahagia dari siapapun di dunia, bahwa, ketika matanya tertutup, hatinya terbuka. Selanjutnya, sebuah pertanyaan diajukan: bagaimanakah cara kita menilai arti kehidupan seseorang? Apakah dari banyaknya orang yang merasa kehilangan atasnya? Apakah dari keimanannya? Apakah dari seberapa banyak cinta yang dia dapatkan? Bahkan ada juga yang menganggap hidup tidak bermakna sama sekali. Dan sang narrator menjawab, kalau menurutku, kau menilai hidup dari bagaimana orang lain menilai dirinya sendiri karena kehidupanmu. Inilah film The Bucket List, ia menggunakan kematian sebagai cara yang indah untuk memulai sebuah awalan.

Banyak orang yang menyatakan kesulitan untuk memulai kisah yang ingin ia tulis. Terlebih, bagaimana cara paling menghentak untuk pertamakali memperkenalkan tokoh utamanya pada pembaca. Untuk itu, Anda perlu menyimak bagaimana cara Rob Reiner, sang sutradara, melakukan perkenalan pertama untuk dua tokoh utamanya.
Carter, diperankan oleh Morgan Freeman, seorang montir yang sedang memperbaiki sebuah mobil antic bersama seorang montir muda di sebuah bengkel tak terlalu ramai. Sambil bekerja, Carter main tebak-tebakan dengan si montir muda. Dia menjawab berbagai pertanyaan sejarah yang diajukan si montir muda—rekannya itu membawa sebuah buku kumpulan ilmu pengetahuan umum untuk membuat pertanyaan. Carter dengan santai dan tepat menjawab setiap pertanyaan. Bahkan dia sampai memberi komentar atas pertanyaan yang membingungkan: siapa penemu radio? Coba Anda jawab, apakah Marconi atau Nikola Tesla? Nah, Anda bisa lihat betapa cerdas cara Rob Reiner menunjukkan pada penonton akan kehebatan Carter menguasai ilmu sejarah.
Edward, diperankan oleh Jack Nicholson, adalah seorang billioner super kaya yang menguasai hampir segala lini bisnis. Bagaimana cara sutradara menunjukkan kekayaan dan kekuasaan Edward? Apakah dengan membuat adegan dia membeli Lamborgini kemudian membuangnya ke tong sampah? Ha-ha, itu konyol. Reiner punya cara elegan yang menakjubkan. Sang sutradara memperkenalkan Edward pada pemirsa saat ia sedang menyeduh kopi, Kopi Luwak— di bungkusnya jelas terbaca tulisan Kopi Luwak Sumatra.
–Hey, apa hebatnya menyeduh kopi luwak? Memang ia kopi termahal di dunia, tapi, itu cuma kopi kan?
Aku belum selesai. Dengarkan, Edward sedang menyeduh kopi luwak di pengadilan, saat itu dia sedang menjalani persidangan akuisisi sebuah rumah sakit. Dengan santai, menggunakan alat pembuat kopi yang berkilauan, Edward menuang kopi panas ke cangkirnya. Kemudian dia mendesak pengacaranya untuk mencicipi sementara itu, ehm, pak hakim berdehem mengawasi tak berdaya. Edward dengan acuh meminta pak hakim untuk bersabar menunggunya menyelesaikan momen ngopinya. Pak hakim menuruti Edward. Nah, bisa kau lihat betapa keren cara Reiner menunjukkan kekayaan dan keberkuasaan Edward?
Carter yang miskin, Edward yang kaya, dipertemukan oleh satu kesamaan yang mahal: kanker. Mereka segera kemudian masuk rumah sakit dan ditempatkan di kamar yang sama. Di sanalah mereka menjalani perawatan, berkenalan, menjadi teman dan akhirnya melakukan petualangan.
–woo woo, tunggu dulu, sobat, kau bilang Edward itu sangat kaya sedangkan Carter adalah si miskin, lantas bagaimana caranya mereka bisa berada dalam satu kamar yang sama? Kalau bukan filmnya, maka resensimu yang tidak masuk akal!
Hey, kau tidak membiarkan aku menyelesaikan ceritaku. Ini sebenarnya senjata makan tuan bagi Edward. Dia yang telah membeli hampir semua rumah sakit di kota tersebut, menetapkan kebijakan bahwa siapa saja yang dirawat di rumah sakitnya, akan mendapatkan pelayanan yang sama—termasuk kebijakan kamar yang sama pula: satu kamar, dua pasien. Edward terpaksa harus bertahan di rumah sakitnya demi mempertahankan citra yang sudah dia bangun. Bahwa pelayanan kesehatan memang harus disetarakan.
–pria kaya yang konyol. Dia pembuat kebijakan yang lebih konyol lagi.
Itu karena Edward tidak pernah sakit sebelumnya. Mana dia tahu jika ada orang sakit tertentu yang sangat membutuhkan satu kamar sendiri bukannya berdua? Dan, apa kau sangat suka menyela cerita orang lain? Diam dan dengarkan ceritaku, oke.
Nah, kemudian mereka pun mulai berbicara, bermain kartu bersama, dan, saling membenarkan selimut ketika salah satunya menggigil kedinginan saat tengah malam. Itu adegan yang sangat menyentuh karena diperankan dua kakek-kakek penderita kanker yang berasal dari strata sosial berbeda. Ketika mereka sudah membentuk suatu ikatan persahabatan, tibalah hari bagi dokter untuk mengumumkan vonis yang harus diterima mayoritas pengidap kanker: halo, enam bulan lagi anda berakhir. Atau paling lambat, setahun.
–bukankah setiap film tentang penderita kanker pasti mencantumkan adegan pembacaan vonis seperti ini? Klise.
Hff, aku anggap tidak mendengar komentar murahanmu tadi. Sebenarnya, tanpa vonis kematian itu, film ini tidak akan pernah sehebat ini. Maka bisa kukatakan bahwa vonis kematian bagi kedua sahabat gaek tersebut adalah jantung dari semua peristiwa hebat yang terjadi kemudian. Karena setelah mendapat vonis tersebut, kedua sahabat itu pun menyusun “Bucket List” mereka. Nah, pada titik ini, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Pernahkah Anda merasa harus melakukan sesuatu tapi, sialnya, anda benar-benar tidak tahu apa yang harus Anda lakukan. Anda sudah siap, tapi anda tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasakan hal itu. Dan ketika menonton The Bucket List, sampai di adegan Edward dan Carter menyusun Bucket List mereka, aku langsung tahu bahwa itulah yang selama ini ingin kulakukan. Itulah sesuatu yang selama ini ingin kutuangkan dalam sebuah cerita. Tapi aku terlambat, tidak mungkin aku menulis kisah yang serupa jika tidak ingin dituduh sebagai pla—
–hey, hey, slow down man. Kau terlalu mengambil ini serius. Tunggu, jelaskan apa itu yang dimaksud dengan Bucket List? Apa yang membuatnya special sampai harus menjadi judul film ini.
Bucket List adalah sebuah perumpamaan. Jika kehidupan diibaratkan sebagai sebuah keranjang, maka suatu saat nanti akan tiba saatnya kau menendang keranjang tersebut. Itu artinya kau telah habis jatahnya di bumi. Nah, sebelum hari itu tiba, kira-kira hal hebat apa saja yang ingin kau masukkan dalam keranjangmu? Maka bautlah daftar hal-hal penting / yang ingin kau lakukan sebelum ember kehidupan mencelat oleh malakul maut. Dalam film ini, karena Carter berkesempatan menyusun daftarnya bersama salah satu orang paling kaya dan berpengaruh di Amerika, daftar dalam Bucket List itu pun sangat luar biasa.
Pertama-tama, dua kakek tua itu melakukan skydiving. Yup, Edward yang sudah 80 tahun,Carter yang sebentar lagi 70 tahun, mereka meloncat dari pesawat, melayang beberapa saat di udara, kemudian, tarik parasut. Morgan Freeman sangat berhasil menampilkan akting seorang pria tua yang ketakutan sejak sebelum melompat ke udara. Akting yang menakjubkan. Dilanjut dengan menyewa sirkuit balap mobil dan melakukan balapan dengan mobil sport klasik, perjalanan ke mesir, duduk di atas piramida dan berbagi cerita tentang putri semata wayang Edward yang membencinya.
–kenapa?
Suatu ketika, suami anaknya memukul wajahnya. Putrinya itu mengadu. Edward ingin bertindak, tapi putrinya menahannya. Megatakan bahwa pertengkaran itu disebabkan karena kesalahannya. Berikutnya, pemukulan yang kedua terjadi, tapi putrinya tak melaporkan kali ini. Edward, sebagai salah satu pria terkaya, menghubungi orang yang menelpon orang yang dapat membungkam suami kasar seperti itu. Maka—
–cukup, apa kau ingin merusak film ini? Kau hampir membongkar setiap adegan menarik di dalamnya.
Kau yang bertanya, idiot!
–aku tidak berharap mendapat jawaban sedetail itu!
Maka diamlah dan dengarkan aku bercerita! Selanjutnya, mereka melanjutkan ke India, mengunjungin makam Taj Mahal dan membahas tentang cinta sejati. Disambung ke Afrika, Tibet, dan Himalaya—sayangnya gagal karena cuaca sedang buruk di puncak.
Jika kau berpikir Bucket List harus berisi hal-hal yang berharga jutaan rupiah, kau salah. Seperti yang ditampikan dalam film, mereka juga memasukkan beberapa kegiatan tak terlalu mahal. Seperti membuat tato, membantu orang asing, dan tertawa sampai menangis. Salah satu daftar yang paling mengejutkan adalah, mencium wanita paling cantik di bumi. Aku sudah khawatir film ini akan kerepotan mencari siapa orang paling cantik di dunia, ternyata, jawabannya adalah…
–tutup mulutmu!
Sekali lagi kau berteriak, televisi ini akan menjadi helm terakhirmu. Kau menyebalkan. Aku pergi.
–hey, tunggu, apa sudah selesai?
Perduli kecebong denganmu.
–hey, hey. Oh, come on. Sekarang di mana aku bisa mendapatkan film ini? Dan, HOOOY, apakah mereka berdua mati atau hanya salah satunya?
***
The Bucket List akan kusebut sebagai sebuah film pembangun jiwa. Dia memberi inspirasi sekaligus kesempatan yang bagus untuk tertawa, juga momen yang iris untuk meneteskan air mata. Setiap dialog para pemainnya mengandung makna yang dalam dan indah. Pengambilan gambarnya juga bagus dan memuaskan. Film ini juga menyajikan banyak contoh yang apik untuk kita ‘adopsi’ dalam memperkenalkan tokoh cerita yang akan kita buat. Dan paling penting, tidak ada adegan zina secara eksplisit yang ditampilkan.
Film ini mmebuatku bertanya-tanya, dengan apa aku akan mengisi keranjang hidupku? Hal hebat apa yang bisa kuidamkan? Aku merenung beberapa saat, dan itu terbawa sampai ke kamar mandi. Lalu aku keluar dengan agak gelisah menyadari aku tidak memiliki cukup banyak ambisi untuk bisa mengisi keranjangku sendiri. Bisa kupastikan padamu, kawan, yang mengerikan itu bukan ketika kau menulis begitu banyak daftar tanpa memiliki satu pun petunjuk apakah suatu hari nanti hal-hal itu bisa terwujud. Itu tidak mengerikan, malah itu sangat menyenangkan. Yang mengerikan adalah ketika kau kebingungan mencari tahu dalam kepalamu sendiri apa saja yang masih cukup kau dambakan di dunia ini. Kau menjadi manusia yang kosong keinginan.
Semua perjalanan hebat yang dilalui Edward dan Carter, juga beberapa perselisihan yang terjadi selama petualangan itu, telah memberi kesan tersendiri kepada masing-masing individu. Carter yang telah menikah empat puluh tahun lebih, pada puncaknya mulai merasa pernikahannya sebagai hal yang rutin, bukan lagi sebagai sebuah petualangan dua kekasih yang selalu terkejut setiap kali mendapati pagi yang datang. Sedangkan Edward, dia yang kaya raya tanpa selalu dikelilingi orang-orang pengejar harta, menjadi muak dengan semua urusan keuangan. Perjalanan itu telah membuat Carter kembali menjadi seorang suami, bukan lagi sebagai pegawai lelaki dalam sebuah pernikahan. Bagi Edward, perjalanan itu membuatnya menemukan kebahagiaan terbaik dari sebuah interaksi dengan manusia yang manusia sesungguhnya, bukannya manusia yang bertujuan mengeruk harta.
Pada akhirnya, Carter meninggal terlebih dahulu. Jasadnya dikremasi dan abunya ditaruh dalam sebuah kaleng biscuit bekas. Kaleng itu dikubur di gunung Himalaya. Beberapa waktu kemudian, Edward pun menyusul.  Semasa Hidup, Edward menyatakan tidak mau dikremasi, tapi akhirnya, Tom, sekretaris pribadi Edward, membawa abu tuannya dalam kaleng serupa milik Carter dan menguburnya di tempat yang sama dengan abu Carter: sebuah bangunan liliput di salah satu puncak pegunungan Himalaya. Dan lagu penutup pun melantun dengan haru. Membuatku berpikir, aku akan mati dan dikubur secara muslim. Tapi selagi aku masih hidup, daftar apa yang mau kumasukkan ke dalam keranjangku? Aku tak tahu. Aku tidak cukup ‘tamak’ untuk merayakan berkah kehidupan ini. Oh, ini membuatku sedikit gelisah, tentu saja.
–ehm, halo, boleh minta file film Bucket List?
PERGIII!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: