• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Bocah larut malam

image

Sudah seminggu Zani menempati rumah kos barunya. Dia menyukai tempat itu karena ketenangannya. Kebanyakan tetangganya bekerja malam hari. Zani bisa belajar tanpa gangguan.

Malam ini, seperti empat malam yang lalu, Zani terbangun saat tengah malam. Dia tidak melihat jam tapi tahu ini pasti sudah sangat larut. Malam demikian sepi, tak ada suara, tak ada gerakan, seakan ia tidak sedang hidup di dunia makhluk hidup. Zani bangun dari dipannya, ingin ke kamar kecil.

Sebagaimana rumah kos sederhana yang lain, di sini hanya ada tiga kamar mandi bersama yang terletak di ujung kompleks. Zani berjalan menuju tempat itu dalam diam. Semua kamar gelap. Tidak ada orang atau penghuninya sudah tidur. Sayup-sayup dia mendengar suara kendaraan di kejauhan.

Butuh enam menit bagi Zani untuk buang air. Menggigil oleh air jeding yang dingin, Zani segera menghambur keluar. Di depannya, tiga kamar dari tempatnya berdiri, seorang bocah perempuan berdiri sendirian. Dia bersandar pada pintu kamar, di tangannya sebuah boneka kusut dan basah.

Ini pertemuan yang ke empat. Zani tak pernah melihat bocah itu sebelum masuk ke kamar mandi, dan dia tiba-tiba saja sudah di sana saat ia keluar. Dia sempat mengajak
bicara bocah itu, tapi dia hanya diam. Zani menduga mungkin bocah itu terbangun dan mendapati orang tuanya belum pulang.

Zani berjalan perlahan. Tak ingin mengejutkan bocah kecil itu. Dari dekat, tampak baju bocah itu agak kotor dan tak pernah berubah dari malam sebelumnya. Rambutnya lepek. Kepalanya tertunduk dan seakan dia menggumam, atau mungkin mendesis. Zani merasakan dingin yang berbeda. Tangannya dan tengkuknya seakan membesar, merinding. Kali ini Zani ingin menyapa gadis kecil itu, mungkin saja dia mau bicara.

“Dik, papa belum pulang ya?” Zani menyapa. Dan bocah itu tetap bungkam, hanya tubuhnya bergerak pelan.
Zani tak menunggu, dia segera berlalu. Merindukan kasur dan selimut. Tapi…
“Kak…” Bocah itu memanggilnya. Zani berhenti, berbalik. “Pegangkan kepalaku…” bocah itu beringsut. Maju satu langkah, kepalanya oleng, dan, separuh tengkoraknya rengkah. Darah merembes dari retakan itu. Dan bocah itu meringis kesakitan. Tangannya menggapai, meminta tolong…
***
Bocah perempuan itu putri salah satu penghuni kos yang meninggal delapan bulan yang lalu. Orang tuanya sedang bekerja saat dia jatuh di kamar mandi dan meninggal di tempat #aruliterature #seninseram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: