Posted in think

[ARFAN] Kau Tidak Bisa Membuat Muslim Membenci Islam Dalam Sehari, Tapi Dalam Sepuluh Tahun, Ya

“Ini kerja yang panjang dan karena itu membutuhkan banyak biaya,” ucap Dr. Rotch Hepburn Joseinham. “Kalian tidak bisa membuat muslim membenci agamanya sendiri melalui perkuliahan, kalian tidak bisa membuat muslim tidak peduli kepada sesama muslim dengan perjanjian ekonomi atau pakta keamanan, kalian tidak bisa membuat muslim tidak peduli pada Al-Qur’an dengan menerbitkan buku-buku filsafat, kalian tidak bisa membuat muslim meninggalkan hukum Islam dengan membuat banyak peraturan baru, kalian juga tidak bisa membuat muslim menerima ajaran agama lain hanya dengan iming-iming kerjasama kesejahteraan. Semua itu tidak bisa dilakukan dalam sehari. Ya, waktu sehari tidak akan pernah bisa. Tapi jika kalian melakukannya dalam sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, semua itu bisa terjadi dan aku jamin pasti terjadi.”
Dr. Joseinham mengeluarkan selembar kain dari sakunya, menunjukkannya pada 1500
hadirin. “Swastika. Nazi. Hitler. Beberapa tahun yang lalu, di sini, di kota ini, Herr Hitler memerintahkan bangsanya memburu bangsa Yahudi dan memusnahkannya tanpa bersisa. Sekarang, sepuluh tahun setelah keruntuhan Nazi, bangsa yang sama, mereka justru malu dan benci karena pernah memiliki sejarah hidup bersama Hitler. Dengan waktu sepuluh tahun, sepuluh tahun, kita bukan hanya bisa membuat muslim menjadi sahabat yang patuh kepada kita, tapi juga bisa membuat mereka membenci Islam walau mereka tidak keluar dari agamanya. Dalam waktu sepuluh tahun itu, kita akan menciptakan berbagai bukti untuk mendukung semua perkuliahan, ceramah, propaganda dan kampanye yang kita lakukan. dalam waktu sepuluh tahun, akan kita cabut semua alasan yang mereka gunakan untuk melawan. Dan kita akan dikenal sebagai generasi yang memberikan sepuluh tahun terbaik untuk menyelesaikan pertarungan ribuan tahun. Hanya sepuluh tahun.”
Itu pidato sangat ambisius dan terencana yang disampaikan Dr. Rotch Hepburn Joseinham pada suatu kesempatan di Jerman. Dia meninggal pada tahun 2001, hanya beberapa minggu setelah peristiwa Menara Kembar di New York. Dan Dr. Rotch tahu dia tidak pernah salah sejak berdekade sebelumnya.
***
Pada tahun 90an, seorang juru dakwah terkenal dari Indonesia, yang dijuluki sebagai Pendakwah Sejuta Ummat, pernah mengatakan bahwa seorang muslim selalu memiliki kehendak untuk membela agamanya, Islam. Bahkan seorang pemabuk sekalipun, jika dia melihat Islam menjadi sasaran penghinaan, pemabuk itu akan bangun dan membela agamanya. Itulah yang terjadi pada masa itu.
“Ada sebuah ikatan yang kuat dalam diri setiap muslim. Ikatan yang dibangun sejak sangat kecil, dimulai dari sejak mereka masih bayi dan melihat orang tuanya sholat berjamaah atau bergantian.” Prof. Scott F. Plutard menjelaskan. “Ini ikatan alam. Anda bisa menyebutnya ikatan jiwa. Sesuatu yang selalu disaksikan sejak kecil, berkembang menjadi sesuatu yang dipercaya sebagai bagian dari eksistensi, dan akhirnya diyakini sebagai bagian dari harga diri. Islam, bagi setiap muslim, bagaikan tanah air bagi setiap patriot yang paling setia pada tanah airnya.”
Di seluruh belahan dunia, kesadaran keagamaan ini dimiliki oleh setiap muslim. Anda bisa menemukan karakter ini pada muslim Rohingya, muslim Heze, muslim Albania, muslim Melayu, muslim Afrika, muslim Andalusia, muslim di mana saja. Karena besarnya pengaruh kesadaraan keagamaan ini, banyak para provokator yang meraih keberhasilan dalam menyulut pertikaian hanya dengan memicu kesadaran tersebut; konflik Islam – Hindu di India sepenuhnya memanfaatkan potensi ini. Kedua umat beragama memiliki kesadaran keagamaan yang sama tingginya, bahkan mencapai level sensitive. Pemicu apapun akan membuat mereka meledak dalam chaos yang merenggut ribuan nyawa. Atas nama agama.
Manfaatnya, selama sebuah agama masih memiliki ummat dengan kesadaraan keagamaan tinggi, maka selama itu pula agama tersebut memiliki pembela yang tidak takut terhadap apapun. Selama itu pula agama tersebut terus bertahan.
Pembelaan ini tidak selalu dengan senjata, tentu saja, tapi dengan semua sumber daya dan kecerdasan yang dimiliki pemeluk agama. Anda akan melihat seiring dengan berkembangnya zaman cara-cara pembelaan manusia terhadap keyakinannya terus berubah dan semakin menyeluruh. Perang terbuka (dan formal) atas nama agama hampir tidak kita lihat lagi sejak perang perang dunia pertama, tapi Anda bisa melihatnya hampir di setiap bidang penghidupan—dari pekerjaan sampai label makanan. Dunia memasuki persaingan keyakinan pada level yang jauh berbeda.

1. Sungai Harus Terus Mengubah Daratan
“Dari semua orang yang menghuni planet ini,” tulis Rabi Ben Ghaliy, “muslim adalah yang paling menjengkelkan. Mereka tidak bisa diajak makan semua makanan bahkan walaupun itu sayuran. Mereka ingin tahu dengan apa sayuran ini dimasak, bagaimana sayuran ini didapat, bahan apa yang dipakai untuk membuat piring, sendok, garpu dan pisau. Kalau daging? Mereka lebih menyebalkan dari apapun. Terlebih lagi, mereka sangat menjengkelkan dalam urusan bisnis. Mereka tidak mau mendapatkan keuntungan dengan cara yang paling menguntungkan sekalipun. Kita harus mengajarkan pada mereka bahwa dunia telah berubah. Bahwa peraturan dalam buku mereka sudah usang, dan buku kitalah yang bisa menyelamatkan kehidupan.”

Menyangkut kesetiaan dan pembelaan, selama engkau benar dan bisa menunjukkan pada semua orang bahwa kau benar, selama itu pulalah kau punya jutaan orang untuk berdiri di depan dan di belakangmu untuk mendukung dan melindungimu. Ini prinsip dasar dalam teori penggalangan massa. Keyakinan akan kebenaran yang terkandung di dalam ‘sesuatu’ akan memberikan kekuatan, keberanian dan semangat bagi orang lain untuk terus membelanya. Uang hanya bisa membuat orang bersorak tiga kali, keyakinan, akan membuat orang tak pernah berhenti.
‘Sesuatu’ tersebut bisa berupa apa saja, bisa berupa seorang kandidat gubernur, bisa berupa sebuah teori fisika baru, bisa berupa sebuah film nominator penghargaan besar, bisa berupa sebuah bangunan, dan tentu saja bisa berupa sebuah agama. Anda akan selalu menyaksikan perdebatan sekelompok orang membela pemerintahan presiden A lebih baik dari presiden B karena mereka memiliki keyakinan akan kebenaran yang lebih unggul dari kedua presiden. Yang bisa menghentikan perdebatan itu hanyalah bukti-sebaliknya. Buktikan bahwa presiden B memiliki kebenaran yang lebih banyak, maka pendukung presiden A satu persatu akan berpindah menjadi pendukung presiden B, atau, bisa jadi karena kecewa, sama sekali tidak mendukung siapapun.
Ini akan menjelaskan populernya ungkapan berikut di masyarakat, “ini urusan bisnis, kawan, jangan bawa-bawa agama di sini.” Atau ungkapan lainnya sejenis. Jika Anda menganggap bahwa ungkapan seperti itu dihembuskan sebagai perlawanan terhadap agama, tidak. Itu salah. Kalimat seperti itu tidak akan pernah menang melawan ayat Al-Qur’an yang selalu didengar oleh setiap muslim bahkan sebelum mereka mendengar music kesukaan orang tua mereka. Pada awalnya, kalimat tersebut ditujukan untuk membangun pemikiran baru bahwa: ‘dalil agamamu memang benar, tapi tidak selalu paling benar. Islam yang Anda percaya dan anut memang benar, tapi, hey, ini ada prinsip bisnis baru yang keren! Jika kau menerapkannya kau bisa mendapat keuntungan lebih banyak daripada keuntungan yang ditawarkan prinsip agamamu. Nah, kawan, di antara dua kebenaran tadi, saya pikir kebenaran prinsip ekonomi yang harus kamu terapkan. Sedangkan prinsip ekonomi dari agamamu, kita bisa membahasnya dalam kesempatan berbeda.’
“Seseorang harus selalu memberi kebenaran alternative yang lebih menarik kepada umat Islam, terus dan terus. Lagi dan lagi. Dengan cara itu, sepuluh tahun kemudian, Anda akan terkejut melihat bagaimana umat Islam tanpa sadar telah menempatkan kebenaran baru pada tempat yang lebih tinggi dan lebih kuat daripada kebenaran yang diajarkan agamanya.” Dr. Rotch melanjutkan pidatonya. “Sebarkan pemikiran kebenaran alternative pada semua system hidup Islam. Lakukan mulai dari hal yang paling remeh, dan terus merangkak pada hukum-hukum yang penting. Mulai dari cara makan sampai cara mengatur negara. Jangan menentang atau melawan pendapat muslim yang kau ajak bicara, tapi katakan ‘ini sesuatu yang sama benarnya tapi akan membuat kehidupan kita lebih damai dan modern’, lakukan terus dan terus, lagi dan lagi, perlahan-lahan. Setelah puluhan tahun lamanya, kau akan mendapati umat Islam yang berbeda dari yang kau temui saat pertama kali menerapkan cara ini.”
Proyek ini terus berlanjut dan menyebar di seluruh dunia. Kita bisa melacak jejaknya dari setiap surat kabar dan pemberitaan dari hari ke hari sepanjang puluhan decade. Kau bisa melihat bagaimana masyarakat kita berubah. Tontonlah film keluarga produksi era 80an dan produksi saat ini, lakukan perbandingan. Setiap film yang kau saksikan adalah ide yang ditawarkan menyesuaikan dengan zaman produksinya.
“Ketika sudah terbentuk kesadaran kolektif, atau sekedar pemikiran kolektif, bahwa Islam bukanlah satu-satunya kebenaran, bahwa ada kebenaran lain yang bisa diterapkan dan hasilnya lebih baik, kau telah melapangkan jalanmu untuk tingkatan yang lebih lanjut. Kau telah menghilangkan banyak penentangmu. Satu-satunya cara agar sebuah sungai bisa menjadi lebih besar adalah dengan menjadikan semua daratan di sekitarnya berubah menjadi sungai pula. Sungai tidak bisa mengubah tanah menjadi air, tapi bisa menutupi daratan dengan air.” Dr. Rotch menatap hadirin penuh percaya diri.

2. Ini Menurut Mereka! Bukan Kami
“Tulis kalimat ini: tiga pemuda Colorado diserang di jalanan Beijing, China. Lalu bandingkan dengan ini: tiga warga Amerika diserang di jalanan Beijing, China. Kau bisa melihat perbedaannya? Dengan membawa sebuah pernyataan pada level berbeda akan membawa dampak berbeda pula. Bagaimana jika: warga minoritas Yunnan menuntut hak kebebasan beragama, apakah itu akan membuat seluruh dunia menoleh? Tentunya berbeda dengan kalimat berikut: warga muslim Yunnan menuntut kebebasan beragama. Ini psikologi komunitas paling mendasar yang harus dipahami setiap penulis berita.” Hansel Chen, professor studi perubahan paradigma masyarakat, menerangkan.
Pernahkah Anda memperhatian bahwa banyak halaman utama koran atau judul pemberitaan yang bermain-main dengan subjek beritanya? Karena 80% yang membuat sebuah berita menarik bukanlah siapa subjeknya, melainkan label yang diusung subjek berita. Itu yang akan membawa pengaruh pada setiap pembaca. Dengan menyebut korban pemukulan sebagai warga biasa atau sebagai warga suku tertentu akan memberi dampak yang sangat jauh berbeda. Dengan mengatakan pemicu pemukulan adalah masalah hutang dengan masalah ras akan memberi dampak yang lebih jauh lagi perberdaannya.
“Dengan prinsip ‘batas keterlibatan emosional’ yang sama, lakukan itu pada setiap isu Keislaman. Jangan katakan, ‘umat Islam menuntut penerapan hukum Islam,’ tapi katakanlah, ‘organisasi A menuntut penerapan hukum Islam’. Kemudian mintalah pendapat dari organisasi Islam yang lain mengenai tindakan organisasi A tadi. Anda tidak usah khawatir organisasi Islam kedua akan mendukung permintaan organisasi Islam A. Mengapa? Karena, pertama, tidak ada organisasi berbeda yang sama, kedua, katakanlah karena tidak ada organisasi yang mau disebut sebagai pembebek organisasi lainnya. Yah, disamping banyak alasan lainnya.” Rabi Ben Ghaliy.
Akhir-akhir ini kita semakin sulit menemukan di surat kabar nasional apalagi internasional mengenai pemberitaan yang mengatasnamakan umat Islam. Pemberitaan keorganisasian, atau sektarian, atau  kemadzhaban atau kesukuan yang akan selalu disematkan pada setiap isu yang menimpa umat Islam. Bukankah memang harusnya demikian? Media harus objektif dan tidak melibatkan agama? Tidak, bukan itu masalahnya, kita tidak bisa melihat masalah berdasarkan siapa pelakunya, tapi motif dari terjadinya peristiwa.
“Saat ini, jika kalian menggunakan agama sebagai lead berita, kalian sama saja dengan memancing sorotan seluruh dunia. Tidak untuk saat ini. Sepuluh tahun lagi, atau paling lama lima belas tahun lagi, kalian bisa melakukannya tanpa perlu khawatir.” Ucap Grogestein Pitchswell dalam konferensi jurnalis untuk Israel di Seinn.
Cara-cara mengangkat masalah keislaman sebagai isu keorganisasian terbukti berhasil memecah belah umat agama ini. Terlebih lagi, sudah menjadi ketentuan alam bahwa setiap orang pasti berbeda—begitu pula setiap organisasi. Maka bergeraklah orang-orang tertentu untuk selalu memperbesar perbedaan antar organisasi Islam hanya untuk mengingatkan semua orang Islam bahwa Islam yang mereka anut berbeda dengan Islam kelompok lainnya.
Lihatlah bagaimana selalu terjadi perbedaan pada urusan-urusan yang besar dan rutin terjadi, semua itu tanpa disadari telah mengambil andil besar dalam menanamkan dalam benak generasi muda bahwa Islam yang mereka pegang tidak semuanya sama. Contoh paling mudah selalu terjadi pada bulan Ramadhan. Atau yang agak samar, pergilah ke sebuah masjid besar, lihat cara orang-orang berjamaah, perbedaan pakaian dan cara sholat yang Anda temukan bisa jadi membawa dua kemungkinan: bentuk keragaman pengetahuan fiqh para jamaah, atau, bentuk ekspresi pembedaan diri setiap jamaah. Jangan perdebatkan dua kemungkinan tersebut karena ada orang-orang yang ingin memanfaatkan setiap perbedaan sebagai celah memperbesar perpecahan. Pikirkanlah bagaimana cara mengatasai perpecahan yang direncanakan.
***
Dua hal di atas sudah cukup buruk melukai umat ini. Umat Islam yang berpikir bahwa ada kebenaran-kebenaran lain dalam mengatur kehidupan selain kebenaran Islam tidak akan lagi mau berdiri membela Islam dengan dadanya. Mengapa? Karena pertimbangannya, untuk apa membuat badan terluka jika yang dibela sama baiknya? Tinggal pilih salah satu saja. Dan ketika orang disuruh memilih, apa yang akan dipilih?
“Sodorkan dua pakaian sama bagusnya, yang pertama dengan model tahun 90an, pakaian kedua mengikuti model yang dipakai selebritis terkenal tahun ini, mana yang akan dipilih? Manusia cenderung mengambil sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru. Termasuk dalam hal tatanan untuk mengatur hidupnya.” Hansel Chen menambahkan.
Kemudian, setelah mayoritas masyarakat menerima alternative kebenaran baru, mereka dibuat bingung dengan ragam keislaman yang ada di masyarakat. Nabi umat Islam telah berpesan bahwa semua umat Islam adalah satu tubuh, saling melindungi dan berempati. Tapi kemudian masyarakat melihat bahwa umat Islam ini membingungkan. Islam yang dia anut berbeda dalam sedikit-banyak hal dengan Islam tetangganya. Dia mulai curiga dan bertanya-tanya, apakah tetanggaku ini masih satu tubuh denganku seperti kata sang Nabi, atau hanya anggota badan palsu yang bisa dicopot dan diganti dengan yang baru?
Setiap kali muncul pemberitaan di media, on line atau cetak atau layar kaca, berkenaan dengan isu Islam, maka pikiran pertama yang muncul adalah: kelompok mana yang mengusung isu ini? Jika ternyata kelompok yang berbeda dengan kelompoknya, maka tidak perlu ambil bagian. Ini urusan keorganisasian dan aku tidak ada kaitannya dengan visi misi mereka. Pernahkah Anda melihat hal ini terjadi?
“Jangan membuat masalah dengan kelompok besar, atau dengan tokoh yang sedang diikuti banyak orang,” Gunson F. Clifford, propaganda master-mind, menulis. “Buat mereka senyaman mungkin. Sedamai mungkin. Setenang mungkin. Dan pada saat yang sama buatlah semua kelompok kecil terus bergejolak dan menuntut berbagai macam hal. Jangan khawatir kelompok besar yang kau bela kehilangan pendukungnya, ini bukan plot kudeta negara. Yang akan kau dapatkan adalah kekacauan yang menguntungkanmu. Perlahan-lahan masyarakat akan berpikir bahwa ada golongan pengacau dan tukang mengada-ada di samping kelompok utama yang bisa hidup tenang dan bahagia. Semakin banyak kelompok kecil yang kau provokasi, semakin kau mendekati keberhasilan. Kenapa? Pada akhirnya kau akan mendapati jumlah musuhmu menjadi sangat kecil dan tak berarti. Kelompok besar akan kehilangan anggotanya dan kini hanya memiliki 30% dari total semua orang. 70% sisanya tersebar dalam kelompok-kelompok kecil yang bertebaran dan centang perenang. Jangan khawatir, semua kelompok kecil itu tidak akan pernah bersatu. Mereka terlalu asyik memperbesar perbedaan dan menimbun pikiran bahwa hanya mereka yang benar. Sekarang, kau sudah menang. Kau bisa menekuk mereka semua kapan saja.”

***

3. Make Your Enemies Fight Against Themselves
“Musuh dari musuhku adalah sahabatku, itu cara lama. Kau butuh cara baru untuk memenangkan perang masa kini.” Lanjut Dr. Rotch Hepburn Joseinham. “Membuat umat Islam bertarung dengan umat agama lain membutuhkan dana yang terlalu besar dengan hasil yang tidak terlalu menguntungkan. Kau bisa terlibat terlalu dalam dan itu bisa menjadi boomerang. Tapi, membuat muslim memerangi agamanya sendiri, menyerang sesama muslim, kau malah akan memiliki peluang untuk dianggap sebagai sang pencerah dan penolong. Dan kau menguasai dunia dengan menghemat 50% usaha.”

Bagaimana bisa seorang muslim dibuat membenci agamanya? Atau membenci sesama muslim? Caranya mudah. Bahkan bisa jadi Anda sedang merasakannya. Coba diingat-ingat siapa saja orang / golongan muslim yang tidak Anda suka. Berapa banyak? Anda punya daftarnya?
Semua hal besar yang terjadi di dunia ini mustahil kita pahami setidaknya karena dua hal, pertama, karena kita tidak hadir pada saat orang-orang berpengaruh mengadakan rapat untuk menetapkan keputusan. Kedua, karena kita tidak pernah ambil bagian pada saat rapat sebelum rapat penetapan keputusan tersebut. Ada banyak alasan untuk mencurigai bahwa semua yang terjadi selalu memiliki kisah di balik kisah.
Ada kecurigaan besar dalam setiap kelompok bahwa mereka disusupi. Bahwa mereka telah dibelokkan. Bahwa semua yang mereka lakukan bukannya membawa Islam dan umat Islam pada kebaikan tapi justru semakin mengeruhkan keadaan, mengacau dan menyulitkan umat Islam lainnya. Belum terjadi dalam sejarah dunia sebelumnya di mana sebuah jenis nama akan dicurigai di hampir semua bandara dan pelabuhan setiap negara di seluruh benuah. Stigma berkembang dengan cepat dan membabi buta bagaikan kanker yang tak terkendali. Phobia ini bahkan lebih besar dari pada phobia terhadap nama yang mengandung huruf V pada era Uni Soviet.
Gunson F. Clifford memaparkan, “seperti film, ada yang menyukai kisah romantic ada yang menyukai film perang penuh tembakan dan darah. Manusia dalam kehidupan nyata pun demikian. Ada yang menyukai hidup tenang dan menerima keadaan, ada yang selalu ingin memberontak dan melepaskan peluru. Dalam sebuah kelompok besar, dua karakter tersebut juga ada. Jika kau ingin memecah belah kelompok tersebut, kau hanya perlu memfasilitasi kedua kecenderungan dengan alat yang tepat: pistol dan pena. Maka kau akan menikmati peperangan tanpa perlu melukai kulitmu atau menodai jarimu.”
Semua kelompok radikal bersenjata membuat kita heran dan curiga. Mungkinkah ada keterlibatan negara asing dalam pembentukan kelompok tersebut? Negara asing yang justeru mereka perangi saat ini. Mengapa demikian? Kecurigaan ini tidak akan dipertimbangkan oleh orang-orang yang haus aksi. Begitu pula dengan mereka yang menolak kekerasan, bagaimana bisa mereka dengan mudah menyebarkan tulisannya yang mengajak semua orang untuk menentang kelompok radikal? Padahal media yang mereka gunakan adalah media yang sebelumnya menyudutkan kepercayaannya. Apapun, hasilnya sama, perpecahan.
Maka dengan sendirinya orang-orang akan mengambil kursinya masing-masing. Mereka yang menyukai aksi heroik bersenjata akan berpindah ke kursi milisi, mereka yang menentang akan berpindah ke kursi ‘jurnalis’ dan menulis di mana saja. Tentu saja pengelompokan ini tidak semudah yang tertulis di sini (milisi juga menggunakan pena untuk melancarkan propaganda), tapi kesimpulannya, kemudian muncullah dua kelompok yang bermusuhan walaupun sebenarnya mereka menyembah Tuhan yang sama. Lebih parah lagi, dari kedua golongan besar tersebut, merekapun saling bermusuhan dengan sesamanya. Ini seperti membuat tangan kanan bermusuhan dengan tangan kiri, kemudian masing-masing jari saling menyakiti di tangan masing-masing. Hasil akhirnya, dia akan buntung dengan setiap jari tercabut dari kedua tangannya.
Konsep membagi manusia dalam dua kelompok kecenderungan aksi (bertindak dengan tangan atau lisan) terus dibentuk jauh ke lapisan bawah masyarakat kecil. Maka tindakan kekerasan dengan alasan keagamaan menyebar dari level internasional sampai ke gang-gang sempit tanpa selokan. Penentang seagama pun dengan sendirinya muncul dalam setiap levelnya. Perbedaan ini menjadi perdebatan yang panjang dan tidak habis dan terus memanas karena ujung dari setiap perdebatan adalah: tindakan kami mencerminkan kuatnya iman kami dan lemahnya imanmu. Ketika masalah keimanan sudah menjadi objek yang dilecehkan, kebencian akan muncul dengan cepat dan perpecahan sudah terjadi saat itu juga. Mereka umat yang menyembah Tuhan yang sama dan sama-sama saling membencinya. Jangan lupa, ada orang-orang yang bertepuk tangan tanpa mereka ketahui.
Ini hari-hari yang berat dan sulit, bahkan hanya untuk memikirkan mana yang benar dan tidak sekalipun. Belum pernah kebenaran tampak demikian samar seperti hari ini. Anda akan mendapati ada orang-orang di kedua kubu (kelompok tangan dan lisan) yang berjuang dengan hati ikhlas dan hanya untuk mendapatkan ridha, tapi siapa yang bisa memastikan bahwa sarana yang mereka gunakan adalah sarana yang benar bukan sekedar boneka? Setiap kali muncul kelompok baru, dengan pendapat baru dan visi misi yang baru, semakin terpecah pulalah ‘kawanan’ umat Islam. Kini hampir mustahil bagi kita untuk menemukan seorang pemabuk yang mau berdiri membela Islam, mungkin karena pada suatu ketika mereka pernah dipukul habis oleh kelompok Islam tertentu.
Pada saat yang sama, memang ada masyarakat Islam yang membutuhkan pembelaan fisik dan bersenjata. Mereka tertindas dan harus segera dilindungi dengan kekuatan tangan. Pada saat itulah, mereka yang ingin melihat keruntuhan Islam bertindak, mereka akan menebar kampanye bahwa para pejuang yang membela muslim tertindas tidak ada bedanya dengan kelompok pengacau dan perusak perdamaian.

“Maka pada tahun itu, beberapa decade dari hari ini, lihatlah dengan cermat kelompok Islam yang mana yang paling dibenci dunia, tampilkan mereka berulang kali di media, katakan bahwa mereka melakukan semua kebrutalannya karena agama yang mereka anut, Islam, maka kita akan mendapati muslim yang tidak lagi bangga dengan Islamnya. Yang malu karena label internasional terhadap agamanya. Yang, dengan senang hati, mengikuti kita tanpa perlu repot-repot kita mendatangi rumahnya memberi ceramah, tanpa perlu kita habiskan uang membiayai pendidikannya, atau berdebat lelah dengannya. Hari yang manis itu tidak akan terjadi sekarang, tapi mungkin untuk sepuluh atau beberapa puluh tahun lagi.” Dr. Rotch Hepburn Joseinham.

***
Ini adalah hari yang berat. Di mana kebenaran seperti semut hitam merayap di atas batu hitam pada suatu malam gelap gulita tanpa cahaya. Kau tidak bisa menemukannya kecuali dengan susah payah. Tapi setidaknya, satu hal yang bisa kau lakukan, jangan membuat dirimu atau orang sekitarmu membenci Islam. Atau menjadi bingung akan kebenaran Islam. Atau melihat Islam sebagai paket golongan. Tetaplah berdiri tegak tanpa harus ikut menyumbangkan kebencian, tetaplah bertahan untuk memiliki kasih sayang. Dan jika kau tidak paham, pilihlah untuk diam.
Sungguh kau akan terkejut jika kukatakan bahwa semua usaha untuk mengacaukan umat Islam dilakukan agar ketika tiba saatnya Imam Mahdi hadir di bumi, umat  Islam justru dibingungkan antara dugaan beliau sosok sungguhan atau hanya lelaki gadungan. Tujuannya, bagaimana sang Imam akan melakukan pembelaan jika beliau tidak memiliki pasukan?

“Ketika penolong mereka yang dijanjikan datang, dan aku punya firasat kemungkinan besar dia memang akan datang sebagaimana setiap satu abad akan muncul satu orang hebat, kita harus membuat penolong itu putus asa karena mendapati umat Islam sudah tidak lagi percaya pada kebenaran janji nabinya. Kita buat penolong yang terlambat itu menangisi tugasnya dan sia-sia.” Rabi Ben Ghaliy menutup sermonnya.

***
Catatan: Arfan adalah singkatan dari Artikel Fantasi, yaitu sebuah artikel yang disajikan untuk menyampaikan beberapa fakta dengan media fiksi. Fakta dan khayalan yang melebur di dalamnya hanya bisa disaring dan dipahami oleh pembaca yang membaca banyak materi—tertulis atau terjadi. Atau, Arfan bisa juga diartikan sebagai fiksi yang diceritakan untuk menyelamatkan muka penulisnya dari kritik tajam orang-orang yang lebih suka mengkritik dari pada menulis artikelnya sendiri. Hahaha.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “[ARFAN] Kau Tidak Bisa Membuat Muslim Membenci Islam Dalam Sehari, Tapi Dalam Sepuluh Tahun, Ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s