Posted in sastra

Tips Menulis: Beberapa Penyebab Naskah (Selalu) Ditolak Penerbit

surat ini menghancurkan hatimu, bukan?
surat ini menghancurkan hatimu, bukan?
Berikut ini saya tunjukkan beberapa kemungkinan mengapa sebuah naskah ditolak oleh penerbit. Bisa jadi salah satunya adalah penyebab yang terjadi pada kita. Walau sebenarnya kemungkinan penolakan bisa jadi sangat beragam—melampaui jumlah yang akan saya sebutkanberikut, tapi kemungkinan-kemungkinan yang akan saya sampaikan ini adalah kemungkinan yang paling jamak terjadi. Anda bisa melakukan evaluasi setelah ini.

1. Si penulis memang tidak bisa ‘nulis’; ini berkaitan dengan imajinasi, kreatifitas, dan yang paling mendasar: kemampuan berbahasa—EYD, tatabahasa, pemilihan kosa kata, dll.
2. Si penulis mengirimkan naskah mentahnya tanpa mau repot-repot mengedit terlebih dahulu, padahal tidak ada satu penulis professional pun yang melakukan kecerobohan seperti itu. Ketika Anda menyelesaikan sebuah naskah, jangan langsung mengirimnya ke penerbit. Biarkan dulu menganggur selama beberapa hari (lima hari adalah pilihan yang bagus). Kemudian baca lagi naskah tersebut. Rasakan bagaimana ia di lidah dan pikiranmu. Perbaikilah naskah Anda dan setelah layak barulah kirim ke alamat penerbit.
3. Jalan cerita atau karakter dalam novel asal comot dari novel yang sudah ada, acara televisi, film, atau games. Jika Anda melakukan hal ini, Anda bukan hanya akan ditolak mentah-mentah, tapi juga ‘ditandai’ sebagai penulis plagiat. Itu artinya, karir Anda mendekati kiamat. Sangat berhati-hatilah dengan urusan ini. Banyak penulis yang tercoreng nama dan karirnya setelah ketahuan melakukan ‘pencurian’ dari buku yang lain.
4. Kualitas naskah yang buruk. Bagaimana buruknya sebuah novel? Buruknya itu bisa jadi karena beberapa factor berikut: novel hanya berisi peristiwa-peristiwa tak bermakna bukanya sebuah kisah utuh, mengangkat isu yang sensitive (SARA) atau ngawur, atau terlalu kental unsur keagamaannya sehingga lebih terkesan seperti buku khotbah dari pada novel. Semua factor tersebut adalah hal-hal yang tidak akan dilirik oleh penerbit. Anda tentu saja boleh bersemangat dalam menulis, tapi ingat, tulisan Anda diharapkan bisa terbit dan terjual. Jika Anda melakukan salah satu dari kemungkinan di atas, siapa yang mau beli novel Anda? Penerbit pun akan menolak.
5. Berisi adegan-adegan kejam nan sadis, memfitnah seseorang atau institusi, mengandung adegan porno, kurang ajar, terlalu aneh untuk bisa dipahami, dll;
6. Dikirimkan ke penerbit yang tidak cocok. Misal, novel mengangkat setting kebudayaan Anda kirimkan ke penerbit buku-buku komputer! Hahaha.
7. Jadwal penerbitan sedang penuh sementara daftar tunggu pun sudah panjang.
8. Pembaca tidak sedang meminati tema naskah yang Anda usung. Misal, jika ada dua buku, yang satu membahas tentang permainan kasti dan satunya lagi tentang sepakbola, mana kira-kira yang lebih dipilih penerbit?

Oleh karena itu, perhatikan baik-baik poin-poin tersebut sebelum Anda memutuskan untuk menyusun sebuah buku. Anda harus yakin dan mempunyai bukti bahwa yang akan Anda tulis lolos dari celah-celah penolakan di atas.

Ketika Mendapatkan Kontrak Penerbitan Buku
Jika Anda adalah seorang penulis pemula, yang belum pernah sekalipun menerbitkan buku, atau baru menerbitkan dua-tiga judul yang tidak terlalu laris, dan sekarang Anda mendapatkan tawaran kontrak penerbitan, saran saya, LANGSUNG TANDA TANGANI. Saya harus menulisnya dengan huruf kapital karena saking pentingya saran terebut.

Sebagai pemula, atau penulis buku yang tidak begitu laris, Anda belum dikenal oleh pembaca, Anda belum memiliki basis massa, tidak ada orang yang akan bertanya-tanya buku Anda selanjutnya, dengan demikian, Anda otomatis dianggap tidak penting oleh penerbit. Maka jika Anda berbuat rewel, memberikan syarat ini itu, meminta perubahan ini itu, meminta janji ini itu, aduh, kemungkinan besar si penerbit akan berdehem sebelum kemudian berkata: Saudara Penulis Pemula, Anda sangat rewel sekali ya, dengar, saya batalkan tawaran saya. Saya akn beralih pada sepuluh orang lainnya yang sedang menunggu tawaran dari saya. Dan seketika itu juga Anda kehilangan kesempatan. Masalahnya, jarang sekali kesempatan datang dua kali.

Namun demikian, itu bukan berarti Anda harus bertindak membabi buta, langsung menanda tangani surat kontrak tanpa membaca dan mempelajari. Carilah seseorang yang mengerti soal industry buku dan kontrak penerbitan buku. Mintalah pendapatnya, tanyakan padanya apakah draft kontrak tersebut cukup adil bagi Anda dan calon penerbit Anda. Apalagi jika Anda merasa sangat yakin naskah yang Anda ajukan adalah naskah yang hebat. Rasanya berat jika naskah hebat tersebut harus berakhir dengan nilai yang kecil dan ternyata masih juga belum best seller.

Oh ya, karena itulah saya sarankan, kirim naskah Anda kepada penerbit mayor terlebih dahulu. Jika gagal, pindahlah ke penerbit yang di kedudukannya ada di bawahnya, begitu seterusnya sampai tercapai 40 penerbit. Jika memang penasihat Anda mengatakan kontrak penerbitan tersebut cukup adil, langsung saja Anda terima dan tanda tangani surat kontrak tersebut. Hal penting lainnya yang perlu diingat, pada penerbitan buku pertama, Anda sebaiknya lebih berharap kepada ‘menetapkan status kepenulisan’, jangan langsung menargetkan perolehan materi yang melimpah ruah. Karena Anda akan kecewa berat ketika menerima royalty.

Tentang Uang Muka Atau Besaran Royalty
Mengapa saya tidak menyarankan Anda untuk terlalu memerhitungkan keuntungan material atas buku pertama Anda? Karena, menerbitkan buku perdana dari seorang penulis ‘tanpa nama’ bagi sebuah penerbit sama dengan melakukan ‘perjudian’ yang sangat riskan. Resiko yang harus ditanggung penerbit tampak lebih besar dari pada kemungkinan laba yang mereka dapatkan. Bayangkan, jika Anda seorang penulis baru, menulis buku tentang kisah perjuangan pendidikan dan terbit pada bulan Agustus, TERNYATA, pada bulan yang sama Andrea Hirata juga menerbtikan buku barunya! Buku Anda dan Andrea dipajang di toko buku yang sama. Di rak berbeda. Kira-kira, pembeli lebih cenderung mendatangi rak penulis yang mana? Nah, itulah yang saya sebut sebagai resiko. Setiap genre novel sudah ada ikon-nya, sedangkan penulis baru adalah makhluk asing yang tak seorang pun tahu kualitasnya. Bagi pembaca, lebih bailk membeli buku penulis yang sudah dia kenal daripada harus gambling membeli karya penulis baru yang tidak dia tahu recordnya. Maka jika Anda mendapatkan tawaran kontrak, itulah rejeki Anda, kesempatan besar Anda, ambil dan rayakan.

Dengan demikian, uang muka yang diberikan penerbit, atau besaran royaltinya, biasanya disesuaikan dengan taksiran penjualan sebuah naskah—namun tak jarang ada pula penerbit yang tidak memberi uang muka. Jika naskah Anda dinilai tidak akan terjual sangat laris—dengan berbagai pertimbangan—maka uang muka dan royalty Anda tidak akan terlalu besar jumlahnya. Tapi, ketika Anda sudah menjadi sosok yang menjual, uang muka yang Anda dapatkan akan mengejutkan semua tetangga Anda yang jadi PNS level A sekalipun. Hahaha. Mungkin, ding.

Lantas apa yang harus Anda lakukan dengan pendapatan yang ‘tidak seberapa tadi?’ well, tolong jangan habiskan untuk hal-hal yang kurang berguna. Seperti, dikeluarkan untuk makan-makan, beli pakaian, ganti sepatu, mengecat rambut, dsb. Tapi gunakanlah uang itu untuk PROMOSI BUKU ANDA. Apa? Untuk promosi? Yup, karena tidak ada orang lain yang akan melakukan promo serius bagi buku Anda selain Anda sendiri. Bagaimana dengan penerbit? Tidakkah mereka melakukan promo juga bagi naskah kita? Jangan lupa, penerbit tidak hanya menerbitkan buku Anda, kan? Mereka menerbitkan beberapa pada saat yang sama dan ada banyak yang harus dikerjakan. Bahkan mungkin mereka punya beberapa judul yang harus diurus dengan serius—biasanya itu buku-buku yang menjanjikan. Bahkan, kadang, ada beberapa buku yang dipromosikan penerbitnya hanya selama seminggu! Maka ini tugas Anda untuk membuat buku Anda popular. Anda yang akan menjadikannya dikenal dan dicari masyarakat. Anda orang tua buku tersebut, Anda pula yang akan membesarkannya. Dan, tentu saja, manfaatnya akan kembali kepada Anda.

Alasan lain untuk tidak berharap bayaran yang besar untuk buku perdana adalah: Anda sangat mungkin sekali untuk membangkrutkan penerbit. Hahahaha. Maaf untuk kalimat yang menjengkelkan tapi benar itu.

Perhatikan, sebuah buku yang terbit diharapkan akan terjual laris, tentu saja. Caranya? Dikirimlah buku tersebut ke toko-toko buku konvensional—khususnya di negara kita, pembelian langsung ke toko buku masih lebih popular dari pada pembelian on line. Tapi, jika buku Anda tidak terjual laris, toko buku akan segera mengembalikannya ke penerbit. Ingat, sebuah buku tidak selamanya dipajang di etalase / rak. Paling tidak sebuah buku punya jatah satu bulan untuk nampang. Jika dalam masa pajang tersebut penjualannya tidak baik, dia akan segera di usir bulan depan. Buku yang lain akan segera mengambil tempatnya.

Nah, ketika buku sudah dikembalikan ke penerbit, maka peluang buku tersebut untuk terjual akan menjadi jauuuuuh sangat kecil. Itu artinya, buku tersebut telah menjelma menjadi “produk gagal”. Dan jika buku Anda membuat sebuah penerbit bangkrut, bisa dipastikan, Anda akan dijauhi oleh penrbit tersebut. Jika kabar itu menyebar ke penerbit yang lain, ehm, mereka akan ketakutan mendengar nama Anda.

Berbeda dengan pembayaran kecil untuk buku perdana. Jika ternyata buku perdana Anda terjual laris, penerbit akan segera merasakan untungnya. Karena pengeluaran yang diberikan dengan cepat segera tertutupi. Secara naluriah, seseorang akan merasa ia sudah beruntung. Hey, itu artinya buku Anda menempati posisi pembawa keberuntungan. Dan jika ternyata buku tersebut dicetak ulang dan lagi-lagi mendapatkan laba, bisa dipastikan Anda akan dicintai penerbit tersebut dan diminta untuk menulis lagi buatnya. Bukan Anda yang mengajukan naskah ke dua, tapi mereka yang meminta. Selamat, Kawan.

Namun demikian, Anda pun tak boleh menjual naskah Anda terlalu murah. Standar royalty penulis—sejauh yang saya tahu—adalah 8% dari laba. Jika Anda mengatakan pada penerbit bahwa pembayaran 2% saja sudah cukup, itu sama dengan bunuh diri! Maksudnya, semakin kecil pembayaran yang Anda minta, mencerminkan kecilnya rasa percaya diri Anda terhadap naskah Anda sendiri. Jika sebuah penerbit ‘membeli’ buku dengan murah, mereka sama saja tidak mengorbankan apapun, akibatnya, promosi tidak akan maksimal. Karena bagi penerbit, penjualan kecil saja sudah bisa menutupi segala pengeluaran produksi buku murah tersebut. Nasib buku Anda akan diremehkan dan tidak dihargai. Biasanya, semakin mahal sebuah buku dibeli, semakin besar pula promosinya—tapi itu tidak terjadi pada semua orang, jangan lupa itu. Di lain pihak, jika Anda menjual naskah Anda dengan harga biasa, tapi dengan kerja keras Anda berhasil membuat buku itu laku di atas perkiraan penerbit, Anda akan menjadi makhluk yang mereka cintai sepenuh hati. Penerbit menyukai para penulis yang bekerja keras.
***
Terbang bersama saya di Twitter @arulight
tulisan ini disarikan dari Ian Irvine, kunjungi ia di sini untuk sumber yang lebih lengkap.

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

One thought on “Tips Menulis: Beberapa Penyebab Naskah (Selalu) Ditolak Penerbit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s