Posted in sastra

The Guardians of The Ga’hoole, The Capture: Ditulis dengan Detail, Diceritakan dengan Membosankan; sebuah review kritis

GaHooleFilmBookJacket_HIRESJudul Novel: Guardians Of Ga’hoole: The Capture (Seri pertama dari tiga buku, Red.)
Penulis: Kathryn Lasky
Penerjemah: T. Dewi Wulansari
Penerbit: Kubika
Tahun Terbit: 2010
Tebal:338 Halaman
Harga: ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengan siapa pun. Tapi saya akan memberi tahumu bahwa saya membelinya dari penulis sekaligus olshoper, Eni Martini.

Sekilas Cerita
The Capture menceritakan kehidupan seekor burung hantu tyto alba kecil—baru berumur dua ‘minggu—yang diciduk dari sarangnya oleh kawanan penculik utusan St. Aggie. Burung hantu kecil tersebut adalah tokoh utama kita, ia bernama Soren.

Kisah selanjutnya berputar pada keidupan Soren dan tema barunya di tempat penyekapan St. Aggie, seekor burung hantu peri berukuran mini bernama Gylfie. Di sana mereka diwajibkan tidur malam hari sambil mendongak menatap bulan—sebuah perbuatan yang diharamkan bagi burung hantu yang hidup normal. Burung hantu yang diperlaukan demikian pada akhirnya akan kehilangan kewarasannya dan menjadi

semacam zombie yang patuh aturan; tak punya pikiran, hanya mengikuti perintah. Mereka juga diberi pekerjaan-pekerjaan yang sangat tidak burung-hantuwi oleh penguasa St. Aggie. Pada kesimpulannya, St. Aggie adalah sebuah kamp konsterasi yang didirikan untuk membangun tentara linglung guna menghancurkan kerajaan-kerajaan burung hantu lainnya di muka bumi.

Soren bersama Gylfie akhirnya sanggup melarikan diri dengan bantuan Grimble—salah satu pasukan St. Aggie yang masih normal pikirannya. Dari pelarian tersebut, mereka berdua akan bertemu beberapa burung hantu lainnya dan memulai petualangan dalam mencari pasukan burung hantu yang ada dalam kisah-kiah legenda: The Guardians Of The Ga’hoole. Di sanalah kisah buku pertama berakhir.

Novel Yang Membongkar Keyakinan Bertahun-Tahun
Biasanya ungkapan di atas digunakan untuk memuji, tapi kali ini tidak. Saya mengatakannya tidak sebagai pujian.

Selama ini saya percaya bahwa tidak akan ada film yang bisa lebih menarik dibandingkan dengan novelnya, tapi kali ini anggapanku itu telah lapuk dan runtuh tanpa alasan untuk dipertahankan, dan yang melakukannya adalah karya Lasky ini. Versi film dari novel ini jauh lebih menegangkan, menghibur, logis dan mengikat emosi dari pada novelnya. Anda bisa membuktikannya dengan menontonnya, carilah di rental kaset atau download untuk menyaksikan kisah heroic tersebut. Di samping itu, versi filmnya langsung menggabungkan ke tiga buku sekaligus. Sungguh kebiasaan yang tidak pada umumnya. Seperti yang kita ketahui, biasanya pembuat film malah memanjang-manjangkan cerita agar satu buku bisa syuting dua kali.

Saya sepakat dengan langkah yang diambil produser (atau siapapun itu yang bertanggung jawab dalam pemfilmannya). Karena The Capture sendiri sebagai buku pertama tidak menyediakan apa-apa kecuali cerita monoton yang tidak beranjak dari ceruk batu persembunyian pasukan St. Aggie. Jika hanya itu yang difilmkan, para penonton akan tidur bahkan sebelum menit ke 20 habis.

The Capture juga menyajikan adegan-adegan yang kurang menggugah—bahkan saya terkadang merasa mual. Aku menduga Kathryn mendapatkan dorongan sangat kuat untuk menyajikan kisah yang sangat autentik, tapi itu justru melumat selera. Bayangkan, tokoh utama kita diceritakan menikmati irisan daging tikus untuk makan malamnya, atau, sepotong daging ular yang lezat, atau, bulu-bulu tikus masih menempel di daging jatahnya, atau, daging tikus yang lembut. Hhrrr, sayat tidak bisa membayangkan bagaimana saya harus mengimajinasikan adegan santap tersebut. Mengapa Kathryn tidak menggunakan istilah yang lain saja dari pada menyebut ‘membayangkan irisan daging tikus atau tupai kecil yang meluncur melalui tenggorokannya’?

Kualitas yang paling menonjol dari buku ini tentu saja pada kedalaman riset yang dilakukan sang penulis. Ketekunan dan kejelian riset seperti ini mengingatkanku pada seorang kawan penulis, Shabrina WS—saya jamin WS di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan WS Rendra almarhum. Kathryn Lasky benar-benar menguasai dunia per-burung-hantuan. Apa yang pernah kubaca bahwa dia meriset demikian lengkap untuk seri Ga’Hoole bisa kubuktikan dengan memuaskan di novel seri pertamanya. Hanya saja, dia sangat lemah dalam membuat adegan menegangkan, sangat pemalu untuk membuat adegan pertarungan, dan tidak berhasil meyakinkan dengan alami bahwa St. Aggie memang sesuatu yang berbahya bagi dunia burung hantu dalam ceritanya. Maka kisah ini pun berjejalan dengan deskripsi, laporan adegan, pembahasan rencana, penggambaran suasana, dan sedikit pertarunga. Sangat sedikit malah untuk ukuran sebuah novel fantasi perjuangan melawan kejahatan.
***
Terimakasih telah membaca. Anda bisa mengejar saya di twitter @arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s