Posted in sastra

Shaman’s Blood Note: Contoh Terbaik Untuk Membuat Novel yang Lebih Buruk; sebuah review kritis

tangan pembunuh
tangan pembunuh
Judul Novel: Shaman’s Blood Note
Penulis: Lee Sin Hye
Editor: Shin Je Woo
Penerbit: Zettu
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 167 halaman
Harga: saya lupa belum menanyakan pemiliknya.

Seilas cerita
Mengisahkan Bong Choi, seorang novelis muda yang sedang naik daun dengan novel-novel thrillernya. Berkebalikan dengan Relentless, musuh utama dalam Shaman adalah hantu yang keluar dari novel yang ditulis tokoh utamanya.

Demi menghasilkan kisah yang luar biasa, Bong membuat perjanjian dengan iblis (kayaknya) untuk memberikan kekuatan pada karakter novelnya sehingga sanggup memikat para pembaca. Rencana tersebut berhasil. Orang-orang merasakan ketegangan pada level yang berbeda dari novel-novel Bong Choi.

Tak dinyana, salah satu karakternya—tokoh utama cewek—jatuh cinta pada Bong dan ingin menikah dengannya. Bong Choi tentu saja tidak mau menikah dengan tokoh rekaannya sendiri, walaupun sosok tersebut bisa keluar dari layar computer (mengingatkan anda pada kisah The Ring, bukan?). Maka Bong pun membunuh karakter tersebut dengan kematian yang mengerikan—untuk adegan ini, Lee menulis si cewek keluar dari layar laptop untuk mengedit kisah kematiannya yang ditulis Bong. Usaha karakter novel tersebut gagal, Bong Choi berhsil menyelesaikan adegan kematiannya. Dan hilanglah cewek tersebut dari kamar Bong. Tapi kisah tidak selesai di situ, arwah si tokoh yang dimatikan bangkit dan meneror Bong serta membunuh semua yang terlibat dalam kehidupan si penulis muda.

Didesak oleh keadaan yang semakin gawat, Bong pergi ke desa tempat praktek Shaman masih dilaksankan untuk

membantunya memasuki dunia arwah. Bong dibantu oleh sebuah keluarga Shaman turun temurun dan akhirnya mendapatkan si anak gadis, Mi Cha.

Berlebihan, memalukan, terbongkar dan sungguh mukjizat buku ini bisa terbit
Jika Anda menganggap sadism dan kekejian adalah hiburan yang memuaskan jiwa, novel berjudul Shaman’s Blood Note (selanjutnya disebut SBN) ini memiliki kover yang akan sangat memuaskan. Kovernya didominasi dengan gambar telapak tangan yang terkulai dengan berlumuran darah, di dekatnya ada sebilah pisau besar yang juga berumuran darah. Kita tahu sebuah pembunuhan tak berbelas kasihan baru saja terjadi. Dan penerbit buku tersebut—atau mungkin juga pengarangnya—menyimpulkan bahwa kesadisan yang ditampilkan di kover akan membuat orang membeli SBN. Saya tidak terlalu menghargai keputusan tersebut.

Tapi jika Anda ingin menyaksikan sadism yang sesungguhnya, Anda harus membuka halaman berikutnya. SBN dengan sangat berlebihan dan gagal total menunjukkan pada pembacanya betapa ia ingin mengelabui mereka. Novel tersebut sangat berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai sebuah novel Korea. Sebagai sebuah karya asing yang diterjemahkan. Sebagai sebuah buku yang menjadi hebat karena berasal dari luar negeri. Mengapa demikian? Perhatikan, mulai dari penulis, cover designer, layout, dan editor, semuanya berama Korea! Tapi semua isi dari buku ini menunjukkan betapa ia buatan tetangga kita saja. Aku tidak menemukan di pikiranku apa yang menjadi alasan tindakan ini.

Atau, karena novel ini mengusung semangat Koreanisasi, apakah memang begitu yang selayaknya dilakukan demi membangun imej ke-Koreaan? Saya, secara pribadi, juga merasa kasihan pada si penulis, Lee Sin Hye itu. Penerbitnya sama sekali tidak memberinya halaman untuk mengucapkan terimakasih kepada orang-orang dekatnya, atau satu halaman persembahan untuk orang-orang terkasihnya. Bahkan halaman biodata penulis pun tidak ada! Apakah hal ini karena penerbit tidak ingin ketahuan bahwa SBN adalah karya orang local? Aku yakin begitu, karena tidak mungkin ada orang bernama Lee Sin Hye yang mengucapkan terimakasih kepada orang bernama Paijo atau Entong Bin Sarmadi. Tidak ada satu pun tanda untuk mengetahui jati diri penulis. Padahal menurutku, buku yang tidak menghargai penulisnya sendiri adalah anak durhaka. Kurang lebih begitu. Atau memang begitu.

Dan, kalau Anda ingin mengetahui sesuatu yang melebihi kesadisan, maka Anda harus mulai membaca halaman pertama dari novel ala korea tersebut. Kata pertama di halaman pertama bab pertama adalah “Bruukk”. Pada baris sebelas tertulis “Brett!” Dan pada baris ke delapan belas tercatat “Pretaaakk!”

Astaga, seperti itukah bunyi-bunyian dari Korea? Itu bunyi kegilaan! Lebih dari itu, halaman pertama yang terdiri dari 21 baris sangat penuh dengan kalimat-kalimat ‘tell’, berjejalan bagai ternak tak berdaya yang dipaksa untuk tampil memikat. Hasilnya, kegagalan berat dalam usaha untuk menghibur pembaca.

Lee berhasil dengan telak mengkombinasikan deskripsi yang memancing penyakit rematik (sebagai contoh, penulis menuliskan: “mengepungnya dengan begitu gamblang” untuk mengatakan bahwa si tokoh utama berada di tengah-tengah padang pasir) dengan kata-kata yang menumpulkan imajinasi: “tak ada pohon ataupun seceruk oasis manapun pada hamparan itu”. kemudian, dengan sebuah logika yang teramputasi, Lee menulis kalimat ini: ia (si tokoh utama) membukanya (gulungan kertas, Red.) dengan hati-hati. Kemudian ganti garis dan menulis satu kata saja sebagai penekanan pada tindakan membuka dengan hati-hati: Brett!

Hoy, sejak kapan bunyi brett adalah bunyi untuk membuka kertas dengan hati-hati? Sejak kapan? BRETT? Bahkan komik paling tidak laris sekalipun tidak akan melakukan kesalahan fatal tersebut. Di semua buku, terbitan manapun, karya penulis siapapun, BRETT akan digunakan untuk melambangkan bunyi kegiatan yang dilakukan dengan cepat dan atau kasar, bukan hati-hati! Berikutnya, masih di halaman pertama, Lee memamerkan dengan terlalu lupa daratan betapa ia justeru semakin menumpulkan kualitas bukunya sendiri. Dia menulis PRETAAAKK setelah memberitahukan pembaca bahwa kulit tokoh utamanya terasa perih akibat sengatan matahari. Apakah kulit orang Korea yang perih akan mengeluarkan bunyi? Pretaak sebagai contoh? Pada akhirnya, Lee menyudahi halaman pertama bukunya dengan kalimat tak berselera yang dengan ceroboh dicelupkan kedalam pewarna hanya untuk membujuk pembaca agar percaya bahwa dia baru saja menulis kalimat yang mengesankan: mengantarkan kemerindingan yang begitu sayat di tengkuknya.

Saya membuka halaman kedua dengan sangat curiga bahwa buku ini telah ditakdirkan untuk membuatku lebih bersemangat. Ternyata benar. Pada halaman enam, dalam satu baris dia menulis hanya satu kata: Syuuuhhh… baris ketujuh tokoh utamanya mengeluarkan sepotong suara: “Haaahh!”. Dan pada baris kedelapan, dengan mengandalkan indera yang bahkan tidak akan digunakan anak usia TK pada umumnya, dia menulis: Hhh… hh.. hhh…

Astaganaga! Ini kecelakaan macam apa yang sedang melanda kita? Anda jangan menduga bahwa penulis kita, Lee Sin Hye ini, sedang menulis adegan dewasa, tidak, tapi dia sedang menceritakan tokoh utama yang tercekam sendirian di padang pasir. Lantas apa maksudnya dengan symbol bunyi syuuuhhh? Dan lebih gila lagi, apa maksudnya dengan hhh… hh… hhh…? Apakah jumlah huruf “h” (3-2-3) mewakili suatu isyarat aliran hitam tertentu? Ternyata yang kata orang demam Korea telah merusak dunia music Indonesia bukanlah kerusakan yang seberapa dibandingkan dengan buku yang kubaca.

Berikutnya, saya akan menulis daftar untuk mempermudah pemahaman bagi halaman ke dua:
Baris ke 12: Bluaaak.. pretaaakk…
Baris ke 15: Cruaatt!

Lalu dia menyudahi halaman dua dengan ini: “meninggalkan luka menganga dengan daging dan darah yang liat. Bong Choi syok melihat luka spontan itu. Ia menjerit histeris.” Nah, saya heran, apa yang membuat daging dan darahbisa disebut liat?

Halaman ketiga, Lee belum juga pulih dari keadaan kesurupannya. Ini daftar crat crit crot yang dia buat:
Baris kedua: Wuughh!
Baris keenam: Woaamm!
Baris ketujuh: Bretaaakk!
Baris kedelapan: Wuuughhhh…
Baris ke 13: “Aaaarrrkkhh…”
Malapetaka bunyi-bunyian itu memuncak di baris ke 14: Kreaaott.. blagh!

Selanjutnya, novel ini bertaburan bunyi-bunyian komikal yang digunakan dengan sembrono tanpa mempertimbangkan bagaimana cara telinga bekerja, bagaimana psikologi pembaca bereaksi, dan bagaimana sebuah kisah seharusnya bercerita. Lee jelas-jelas menjadi pembaca komik yang membawa ketersesatan dalam novelnya. Oh ya, apakah yang berteriak KYAAA hanya orang Jepang atau juga orang Korea? Di novel ini, tak peduli laki atau perempuan, mereka berteriak KYAAAAAA.

Sejujurnya, novel ini tidak memiliki kelemahan, karena yang dia miliki adalah kelemahan yang parah. Dia penuh dengan tell untuk adegan-adegan yang seharusnya akan sangat baik untuk ditunjukkan pada pembaca. Belum lagi, cara monotonnya dalam menggunakan “bruuk, croot, wuugghh, duor, dll” untuk menujukkan kengerian, benar-benar terdengar putus asa. Adegan-adegan horror juga dia tebar dengan semena-mena. Hampir setiap halaman ada adegan horornya dan akibatnya, semua itu terdengar seperti lelucon yang kadaluarsa.

Pada akhirnya, protes terberatku adalah pada bagian akhir novel, Bong Choi dikisahkan selamat dan dapat pacar baru (Mi Cha) yang kemduian menjadi isterinya. Halo, bagaimana mungkin seorang penulis bisa berpihak pada penjahat asal dan menjadikannya sebagai si beruntung yang live happily ever after? Semua terror maut yang terjadi sepanjang kisah novel berasal dari keserakahan Bong Choi, dia yang membuat perjanjian dengan iblis dan memancing kemarahan setan dalam bukunya. Semua orang baik di sekitarnya tewas gara-gara egoisme kepenulilsannya, tapi pada akhirnya dia hidup enak jauh dari api neraka sementara semua orang di sekitarya tewas menderita. Bahkan seorang pembacanya pun ikut jadi korban!
***
Seseorang berkata jika saya terlalu ‘kritis’ dalam resensi ini dan harus membuatnya lebih halus. Saya memutuskan untuk tidak melakukannya. Dengan demikian, saya telah memberikan persetujuan bagi Anda untuk menanggapi sekritis yang Anda kehendaki terhadap review ini. Anda boleh mengatakanku sebagai resensor tidak berpengetahuan karena memang kenyataannya saya tidak banyak tahu, Anda boleh mengatakan saya berwawasan sempit mengenai budaya pop karena memang kenyataannya saya membaca sangat sedikit berkenaan dengan hal tersebut. Anda juga bisa mengatakan saya sebagai penulis review ugal-ugalan karena memang saya tidak begitu paham bagaimana aturan menulis review yang baik dan benar. Dan daftar pembolehan ini masih akan berlanjut panjang. Satu hal yang ingin saya sampaikan pada Anda, adalah, bahwa saya sedang melakukan apa yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel Dean Koontz, Relentless, yaitu jujur dalam mengungkapkan pikiran. Karena sebuah buku hanya bisa berkembang jika bersedia menerima kejujuran orang-orang jujur yang ada di sekitarnya. Tapi, oh ya, hehehe, berkenaan dengan review yang saya buat ini, sebenarnya saya edang berperan sebagai tokoh utama Relentless tapi memiliki kepribadian musuh besarnya.

Terimakasih telah membaca. Anda bisa mengejar saya di twitter @arulight

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s