• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

RELENTLESS: Dipuji Dengan Berlebihan, Ditulis Dengan Lebay, dan Kejeniusan yang Tidak Masuk Akal; sebuah review kritis.

novel yang tanpa ampun

novel yang tanpa ampun

Judul Novel: Relentless (Tak Kenal Ampun)
Penulis: Dean Koontz
Penerjemah: Nina Setyowati
Penerbit: PT. Ufuk publishing house
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 549 Halaman
Harga: ini buku yang tak ternilai. Bukan karena harganya yang mahal, tapi karena ini hasil tukar menukar dengan salah satu anggota BAW yang entah sekarang di mana keberadaannya. Ada yang tahu kabar Mbak Sarah Amijaya?

Sekilas Cerita

Kuingatkan, saya bukan pembuat sinopsis yang baik. Bisa jadi saya akan merusak kisahnya, atau membocorkan bagian rahasianya (seperti bahwa ternyata musuh utama novel ini tidak memiliki kekuatan supranatural seperti yang ingin dijebakkan oleh si penulis), atau justeru akan mengubahnya menjadi lain cerita. Jadi ijinkan saya menyajikan ringkasan ini dengan cara yang mungkin paling aman. Untuk synopsis yang lebih baik Anda bisa mencari di Google

Relentless mengisahkan seorang penulis muda bernama

Cullen Greenwich—biasa dipanggil Cubby—yang memiliki seorang istri, Penny, seorang putra jago komputer berusia 6 tahun, Milo, dan seekor anjing yang saya lupa jenisnya apa bernama Lassie. Cubby baru saja menerbitkan novel terbarunya. Novel yang disambut baik oleh pembaca sebagai karya berikutnya yang tidak seburuk karya sebelumnya. Dan, untuk pertama kalinya, Cubby direview oleh salah satu kritikus sastra paling berpengaruh di Amerika, Shearman Waxx (tentu saja Shearman ini penjahatnya, doble x di akhir namanya sudah terdengar seperti nama pembunuh gila berdarah dingin).

Demikian kuat pengaruh Shearman dalam literasi Amerika sampai-sampai ada anggapan seorang penulis belumlah dianggap ada sebelum dia direview oleh Shearman. Dan sekarang Cubby direview oleh Sang Paus Susastra. Cubby senang, karena dia belum tahu bahwa review Shearman bukanlah untuk memujinya, melainkan untuk membantainya. Novel baru tersebut, yang berjudul One O’clock Jump, dicela dan dinista dengan cara paling keji yang mustahil akan dilakukan oleh kritikus berakal sehat. Cubby ingin melawan serangan brutal dan dzalim tersebut, tapi isteri dan kawan-kawannya menyarankan Cubby untuk diam dan tidak mengacuhkan. Tentu saja Cubby tak perlu menyerang balik, karena segera setelah itu, Shearman memburu Cubby dan keluarganya dengan membawa senapan berperedam. Pembantaian lewat review hanyalah awal dari pembantaian sesungguhnya. Lebih mengerikan lagi, ternyata itu bukan yang pertama kali. Sebelum Cubby, telah ada beberapa novelis yang dibantai lewat review sebelum kemudian dibunuh dengan cara kejam: dirinya dan keluarganya. Polisi tidak berani mengusut pembunuhan yang dilakukan sang kritikus. Maka Cubby tidak bisa melapor atau melawan selain melarikan diri.

Nilai lebih novel ini terletak pada materi yang diusung yang sungguh tidak biasa. Bukannya menceritakan penulis yang diteror oleh hantu dari novel yang ia tulis sendiri, melainkan penulis yang diteror oleh seorang kritikus sastra tingkat nasional, yang karyanya dijadikan pegangan perkuliahan universitas-universitas besar, yang dianggap sebagai salah satu tokoh yang menentukan standar budaya bangsa, tapi malah ternyata seorang pembunuh berdarah dingin. Koontz juga berhasil menyajikan kisah menggugah, tentang bagaimana keluarga adalah bagian yang sangat penting dalam kehiudpan setiap manusia. Keluarga yang akan selalu menjadi benteng perlindungan setiap kali kita menghadapi serangan mematikan. Dari membaca buku ini, saya jadi ingin menertawakan siapa saja yang menelantarkan keluarganya. Dia telah bangkrut bahkan sebelum sempat mendapat upah pertamanya.

Anehnya, Novel Ini Disampaikan Dengan Cara Yang Konyol

Salah satu tips menulis suspense yang pernah saya dapatkan berbunyi: jangan menyelingi adegan menegangkan yang sedang Anda tulis dengan materi-materi yang tidak berhubungan dengan situasi yang sedang Anda bangun—apalagi yang bacaannya justru terasa mellow atau wikipedik. Apalagi, jika keterangan tak nyambung itu Anda selipkan di antara dialog. Sayangnya, Dean Koontz mengabaikan mantra ini. Selagi dia menulis adegan-adegan perburuan atau pengejaran, atau dialog-dialog menegangkan, dengan cerobohnya dia justeru berceramah di tengah-tengah adegan! Ketika dialog kemarahan sedang terjadi, dia justru menyisipkan keterangan-keterangan tidak berguna setelah tanda petik. Seperti yang dia lakukan di bab 41. Seharusnya dia cukup menulis:

“… bla bla bla?” Tanya Cubby sengit, alih-alih Koontz malah menambahi dengan pembahasan analisa psikologis megenai jenis-jenis respon orang terhadap ungkapan seperti yang memicu pertanyaan Cubby barusan.

Ini bunuh diri. Maka saya banyak menskip paragraph panjang yang berjejalan di antara dialog-dialog. Atau penjelasan berlebihan di antara degan-adegan menegangkan. Relentless menjadi novel 500 halaman tercepat yang pernah kubaca, tidak sampai tiga hari penuh. Akibatnya, karena  saya terus-terusan menskip bagian-bagian yang mengandung khotbah, eh, ternyata saya tidak kehilangan satu poin pun dari keseluruhan cerita. Bisa disimpulkan, Koontz si penulis internasional itu telah terjerumus kedalam hasrat tak terbendung untuk mengumbar lumut kata-kata yang dia simpan di tempat-tempat terbocor dalam dirinya.

Berikutnya, Koontz juga kurang berhasil menyajikan pribadi-pribadi ketakutan yang terancam oleh kematian. Mungkin untuk sosok Cubby dan Penny masih bisa diterima jika mereka tidak terlalu panik. Mereka orang-orang dewasa, suami istri yang sama-sama penulis, dibesarkan dalam keadaan yang mengangkrabkan mereka dengan bahaya. Cubby menyaksikan pembataian 30 anggota keluarganya, Penny tumbuh dikeluarga yang bekerja sebagai peledak bangunan tua dan hidup ala militer. Akantetapi, tidak demikian dengan putra mereka, Milo.

Bocah enam tahun itu adalah anak rumahan, sekolahnya home schooling, tidak punya banyak teman, tidak bersentuhan dengan orang jahat, walaupun memang dia sangat jenius—ahli computer berusia 6 tahun! Dan Koontz menggambarkan Milo ini sama sekali terbebas dari ketakutan atau kepanikan khas yang pasti dialami anak kecil. Benar-benar tidak tertekan. Benar-benar tidak seperti anak kecil seharusnya. Ketika orang tuanya panik, dan dia harus dibawa kabur kemana-mana, menyaksikan rumahnya meledak, dihujani tembakan, sikapnya tetap saja cool. Bukankah normalnya anak usia enam tahun akan mulai cerewet danmenangis di sepanjang jalan? Menanyakan banyak hal dan protes minta berhenti di tempat apa saja asal tidak kabur tanpa tujuan? Saya sampai menduga jika dalang sebenarnya adalah si Milo. Bisa dibilang, Koontz telah menciptakan sosok jenius premature dengan pengendalian diri yang lebay serta nol persen kemampuan untuk memahami keadaan dan terlalu terampas oleh mainan.

Tapi semua kejanggalan itu menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan adegan yang terjadi berikutnya: Milo yang baru berumur enam tahun, bereksperimen menggunakan PC atau laptop orang tuanya atau mainan Game Boy, berhasil menciptakan mesin teleportasi. Ya mesin teleportasi. Aku ulangi, TELEPORTASI. Mesinnya itu bisa mengirim anjingnya sampai jarak 20 kaki, bahkan pada akhirnya anjing itu sanggup mengubah dirinya sendiri menjadi berkemampuan teleportasi tanpa bantuan alat. Astaga! Ini kemana logika yang dia pakai? Memang ini kisah fiksi, tapi kisah fiksi harus menggunakan logika yang dibangun dalam novelnya. Contoh, untuk novel Harry Potter, jika ditengah-tengah novel diceritakan bahwa computer bisa lebih hebat dari sihir, maka logika novel tersebut gagal, karena dari awal pembaca sudah disuguhi keajaiban sihir. Lha ini, dari awal pembaca disuguhi rasionalitas, bahkan sangat berpijak pada kehidupan nyata. Selanjutnya, yang berhasil dilakukan Milo dengan mainannya jauh lebih mengagumkan. Mesin teleportasi belum seberapa dibandingkan dengan berikut ini: menggunakan video game yang sudah dia otak-atik dan bekas botol tempat garam yang diisi entah apa, Milo SANGGUP MEMUTAR WAKTU, menghidupkan yang mati. Ya, dia sanggup menciptakan alat itu, dengan bahan yang sepele, dan dia baru berumur enam tahun! Tanpa laboratorium tanpa computer canggih. Memang diceritakan Milo mendapatkan beberapa peralatan militer yang didapatkan sang kakek dari pasar gelap, tapi, itu Cuma peralatan militer biasa. Koontz pasti sudah keterlaluan dalam mengkhayalkan kebohongan.

Saya sebenarnya sudah tidak terlalu percaya dengan endorsement yang biasanya diberikan oleh New York Times, Library Journal, Publisher Weekly, Los Angeles Times, atau yang lain-lainnya di sampul belakang sebuah novel. Mereka seringkali memuji buku-buku dengan kalimat-kalimat sangat tinggi—tak jarang pula hanya dengan satu kata. Tapi ternyata, sering kali isi buku tersebut tidak lebih membingungkan dari sebuah buku fisika kuantum yang tak mungkin kupahami dan mustahil dinikmati. Jadi ketika salah satu pujian di cover belakang menyatakan: …tidak akan mempercayai lagi hal-hal yang selama ini kita percaya, saya sepakat dengan penulis pujian tersebut. Yaitu saya semakin tidak percaya pada pujian media asing yang tercantum di cover belakang atau depan sebuah novel. Saya lebih percaya pada pujian yang diberikan Shabrina Ws, Linda Satibi, Ade Anita, Octaviani Nur Hasanah, Riawani Elyta, Dhani Pratiknyo, atau teman-teman BAW lainnya.

Dari sekian tokoh yang Koonz munculkan untuk menghidupkan Relentless, saya justeru terpaut dengan Shearman Waxx. Tentu Anda masih ingat dia itu kritikus sadis, pembunuh berhati iblis, yang menulis review dengan kekejaman tentara nazi. Dengan semua itu, Waxx ditampilkan sebagai kritikus bermulut pedas. Sangat pedas malah. Dan dunia sastra membutuhkan orang-orang bermulut pedas agar setiap ‘sambal’ sastra yang dilahirkan para penulis memiliki kekuatan rasa yang mengagumkan.
***

Follow saya di Twitter @arulight

Advertisements

4 Responses

  1. pertama, aku baik-baik saja aruuul;p
    selanjutnya…..harus kukatakan aku lebih suka reviewmu ketimbang novel knoontz inih:)

    • mbak Sarh, selamat datang, senang bisa berkomunikasi lagi dengan jenengan. terimakasih untuk barter novel ini, saya belajar banyak dari iini

  2. Arul tajam euy kupasannya. Jujur to the point. Bagusnya kau sering2 bikin resensi. Biar aku jadiin referensi sebelum beli buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: