• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Tegak dan Rubuh

E’lung beruntung terlahir dari keluarga paling kaya di desanya dan memiliki otak yang lumayan. Haji Jo’e beruntung karena memiliki anak yang lumayan pintar dan akan menjadi ayah pertama yang memiliki putera melanjutkan sekolah setelah SMA di Jawa. Mereka bahagia. Penduduk se desa bangga. Kepulangan E’lung pada liburan tahun pertamanya disambut meriah. Dia tampak terdidik dan bisa bicara dengan bahasa yang tak pernah dipakai saat khotbah, bahkan tidak juga oleh kepala desa. Orang-orang percaya E’lung akan menggantikan lurah saat ini suatu hari nanti. Tahun ke dua, E’lung pulang bahkan sebelum liburan datang. Tubuhnya kurus dan matanya cekung. Bicaranya tak lancar dan pikirannya tak lurus. Seringkali dia gemetaran sambil meracau tak sadar. E’lung dihancurkan oleh narkoba.

Puluhan butir kelapa ia
tenggak airnya pada minggu pertama kepulangannya. Semua itu demi menetralisir racun dalam darahnya. Butuh dua bulan bagi Haji Jo’e untuk mendapatkan lagi anak semata wayangnya. Setelah itu, kehidupan kembali berjalan tak seperti asal mula: ayah yang sibuk bekerja dan anak yang kehilangan rasa percaya diri. Beberapa kali E’lung meminta ijin orang tuanya untuk kembali kuliah tapi Haji Jo’e selalu memperlakukannya dengan sama: menatap tajam kedua matanya dan dengan tegas mengatakan tidak enam menit kemudian. Itu terjadi selama setahun. Itu terus terjadi setelah seribu butir lebih kelapa yang E’lung minum. Itu terjadi karena Haji Jo’e tahu dari mata putranya dia belum terbebas dari narkoba.

Tahun berikutnya, pada bulan pebruari, Haji Jo’e mengijinkan E’lung kembali ke Jawa. Separuh penduduk desa mengantarnya ke satu-satunya dermaga di pulaunya. Perpisahan itu mengharukan. Dan harapan itu sangat diteguhkan. Ketika sudah kembali ke rumah dan Haji Jo’e tinggal berdua dengan isterinya, dia berkata.
“Mungkin E’lung tidak akan pernah kembali, Bu.”
“BAPAK?”
“Dia selalu memohon untuk kembali ke Jawa, bukan karena dia ingin melanjutkan kuliahnya, tapi karena narkoba telah merenggut jiwanya. Bagaimanapun, dia akan mati menderita.”
“Bapak…”
“Setidaknya kau tak perlu tahu bagaimana dia meregang nyawa. Berdoalah semoga suamimu ini salah.” #aruliterature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: