Posted in ehon, nebula, think

Perubahan dan Yang Tak Terjadi

Melihat begitu banyak buku yang sudah dibeli tapi belum terbaca, aku tercenung. Beberapa pikiran datang, sebagian sudah lama berdentam dan sekaranglah saatnya ia untuk mengemuka. Well, aku sedang berusaha mengembalikan kebiasaanku menulis selain menulis novel yang akhir-akhir ini tampaaknya menguap dari pikiranku. Aku kehabisan ide, kau tahu? Dulu, atau beberapa bulan yang lalu, ehm, mungkin tepatnya setahun yang lalu, aku bisa mendapatkan ide untuk sebuah esai hanya dengan melihat seekor kucing melompat ketakutan karena bocah SD berlari mengejar layang-layang. Sekarang, bahkan peristiwa sebesar kematian tak sanggup menggerakkan jariku. Setidaknya, ini mempertegas bahwa memang di dunia ini tidak ada yang absolut kecuali satu hal.

Dan dalam usaha mengembalikan kebiasaan produktif itu, aku memeriksa lemari di kamarku yang lama dan sekali lagi mendapati jumlah bukuku

jauh lebih banyak dari pada pakaianku. Jumlah yang tidak berubah sejak empat tahun yang lalu. Semua pakaianku hanya menempati seperempat dari semua ruangan lemari. Ironisnya, belum semua buku itu terbaca. Sebagian malah masih utuh dengan bungkus plastiknya, atau, belum sampai tamat dibaca. Well, memang tidak ada yang absolut di dunia ini kecuali satu hal.

Mengapa aku membeli semua ini tapi tidak menghabiskan mereka? Itu pertanyaanku. Dan mengapa aku tidak tergoda untuk segera melahap mereka? Tanyaku selanjutnya. Bukankah semua ini didapatkan dari uang kerja yang melelahkan serta hadiah dari hati yang ikhlas? Dulu sewaktu SMP aku bisa menghabiskan buku setebal empat ratus halaman dalam tiga hari. Sekarang aku butuh lebih dari sebulan untuk itu. Otakku pun segera menghitung waktu dan merencanakan keinginan.

Waktu yang kubutuhkan untuk buku-buku ini adalah beberapa hari dalam masa liburan yang tenang. Yap. Dan, well, masih beberapa bulan lagi untuk mencapai masa liburan. Setelah masa kerja yang amat melelahkan tentunya. Sedangkan keinginan yang kurencanakan adalah, untuk tidak memeliki keinginan membeli buku apapun lagi. Melawan kebiasaanku yaang kalap setiap kali mellihaat buku tebal dengan harga dua puluh ribu ke bawah. Well, bukankah memang tidak ada yang absolut di dunia ini selain satu hal?

Demikian, aku memikirkan hal berikutnya, yaitu menulis apa saja—benar-benar apa saja—untuk diposting di blog. Semua hanya untuk meledakkan kembali daya ‘terinspirasi’ yang dulu pernah begitu menguasai diriku. Jika kucoba untuk mengetahui penyebabnya, mungkin karena tanpa sadar aku telah menetapkan diri untuk hanya menulis novel dan meninggalkan segala macam bentuk tulisan lainnya. Ini seperti yang terjadi pada puisi dan pantun. Dulu aku begitu tekun menulis puisi dan, terkadang, pantun. Semua yang kualami akan lahir sebagaai puisi. Bait-bait itu begitu merajalela dalam pikiran dan kebiasaan. Namun, ketika sedikit demi sedikit aku menyadari bahwa puisi semakin lama semakin terbatas ‘wilayahnya’, aku pun perlahan-lahan meninggalkan berpuisi. Beralih pada cerpen. Dan mulailah hari-hari di mana aku menulis demikian banyak cerpen paada, khususnya pada masa-masa kuliah. Dan ketika kemudian aku menyadari bahwa cerpen pun memiliki ‘wilayah’ yang jauh di bawah novel, aku mulai meninggalkan cerpen. Perubahan-perubahan itu terjadi sepanjang waktu. Kadang aku menyadarinya. Tapi yang baru saja kusadari adalah ternyata perubahan dalam nuansa menulis tidak hanya sebatas itu. Banyak kebiasaan menulis lainnya yang juga turut berubah. Itu menegaskan pada kita bahwa memang tidak ada yang absolut di dunia ini kecuali satu hal.

Mari bicarakaan hal yang lain. Pertama kali aku membaca Enid Blyton pada saat masih SMP. Dan itulah satu-satunya buku karyanya yang kubaca. Setelah itu, tidak ada lagi. Entah dari mana sepupuku mendapatkan buku tersebut. Aku menumpang baca dan berulang kali menamatkannya—seperti yang biasa kulakukan pada setiap bacaan bagus. Aku menyukai cara bercerita Enid yang tak biasa. Tentu saja! Selama itu aku hanya membaca bacaan-bacan berlabel Dinas P dan K yang disumbangkan pemerintah untuk perpustakaan-perpustakaan daerah, dan hampir buku-buku tersebut usianya lebih tua dariku. Yang kuingat, dari buku Enid tersebut aku membaca kisah pembuang sampah di tempat piknik dan kemudian dihukum oleh para peri penghuni temat pikinik, sampahnya dikembalikan ke pekarangan si jorok saat tengah malam. Juga kisah tentang anak gadis yang menyelamatkan seekor kodok bermata cemerlanng. Kemudian dia menaruh kodok tersebut di kebun dan menjaga kebunnya dari hama. Hari ini, sepuluh tahun lebih sejak hari itu, aku kembali memegang Enid Blyton. Tadinya aku mengira akan berpisah selamanya dengan karya-karya Enid lainnya, tapi ternyata tidak. Aku menemukannya lagi dalam sebuah penjualaan online tak terduga. Buku tersebut mengisahkan petualangan kelompok sapta siaga dalam membongkar misteri pencurian anjing-anjing mahal. Dan, usia cetakan buku tersebut lima tahun lebih tua dariku memang di dunia ini tidak ada yang absolut kecuali satu hal.

***

Aku ingin memulai suatu cara baru dalam menulis di blog. Dan artikel ini akan menjadi yang pertama melakukannya. Apakah itu? Aku akan memposting tulisan-tulisanku dalam format after and before. Artinya, pembaca akan menemukan sebuah artikel yang terdiri dari versi editan dan versi awal. Versi editan yang lebih rapi dan resmi, akan tampil di awal, sedangkan versi aslinya menyusul di bawahnya. Dengan skema ini Anda bisa melihat betapa penting editing sebagai puncak akhir dari sebuah kegiatan menulis, Anda bisa mengamati perubahan ede, penambahan dan pengurangan dalam tulisan. Semoga dengan metode ini Anda yang ingin mempelajari tulis menulis bisa mendapatkan manfaatnya.

Berikut adalah draft asli dari artikel ini, saya ketik di ponsel android dan menghasilkan lebih banyak typo dari pada yang bisa dilakukan seorang juru ketik pemula:

Melihat begitu banyak buku yang sudah dibeli tapi belum terbaca. Well,aku sedang rusaha mwwngembalikan kebiasaanku meenulis seaaon meenulis nivell uaang llhir-akhir ini tampaaknya menguall dari likiranki. Aku kehabisan ide, kaau tahu? Dulu,atau bebeerapa bulan yaa g lallu, ehm, munon ssetahun yaa g laalu, aku bisa mendapaat ide ntuk menulis ssebiah aartik dean haanyaa mellohqat seekor kucong melompat keetakkutan kaarena bocah sd beerlaari meengejar laya g-layang. Sekarang, bahkan peristiwa sebeesar kemaatian tidak menggerakkan jariku. Setidaknya ini memeppeertegas bahwa mema g si suniaa ini tidak aada yaang absolut kecuali ssaru haal.
Dan dalaam usahaa meengmmbalikan kebiasaan produktif itu, aku memerikxsa lemari di kaamarku yang lama dan sekalli laagi mendapaati jumlah bukuku jauh lebih banyak dari pada pakaaiaanku. Semua paakaianku hanya menempati sepeerempt dari semua riangan lemari. Ironisnya, belum semua buku itu twrbaxa. Sebaagian malah masih utuh dengan plastiknya, atau, belum tamat dibaca. Well, memang tidak ada yaang absolut di dunia ini kecuali satu hal.
Mengapaa aku meembeli semmua ini dan tidak mennghabiskan mereka? Itu pertanyaanku. Dan menngapaa aku tidak terhoda untuk sehera melahap mereka? Tanyaku selanjutnya. Bukankah semua ini adallaah uanng dari keerja yang meleelahhkaan dan haadiah dari hati yaang ikhlas. Otakku pun segera mennghitung waktu dan meerencanaakaan keinginan. Wakktu yang kubuthkan adalaah beeberapaa saat dalaam maasa liburan. Yap. Dan, well, itu maasih beeberppa bulaann lagi. Setelah maasa kerja yaang amaat melellahkan tentunya. Sedangkan keinginann yankurwncanakaan adallah, untuk tidak memebeli buku apaappun lagi. Melawan eebiasaanku yaang kalaap setiap kaali mellihaat buku tebal dean haargablima belaas ribu ke baawah. Well, bukankah memang tidak ada yang absolut di dunia ini seaaon satu hal?
Demikian, aku memmikirkan hqal berikutnya, yaitu meenulis apaa saja–benar-bemaar alaa saja–untuk diposting di blog. Semua hannya untuk meledakkan kembali daya terinspirasi yang dulu peernah begitu meebgasai diriiku. Jika kucpba unk meengetahui penyebab.ya, mungkin karena tanpa sadar aku telah menetappkan untuk hanyaa menulis novel dan menninggalakkan segalaa maacam benntuk tulisan laainnya. Ini sepeerti yang terjadi paada puisi dan paantun. Dulu akku begitu tekun mennulis puisi dan kadang pantun. Semua yang kualaami akaan lahir sebagaai puisii. Bait-bait itu begitu mennhuasai likiran dan kebiasaanku. Namun, ktika sedikit demi sedikit mennyadari bahhwa puisi semaakkin lamaa semaaki terbatas wilayahhnyaa, aku pun me ni ggalkan berpuisi. Beralih paada cerpen. Dan mennulis demikia.n banyak cerpeen paada maasa kuliah. Dan ketika kemudian aku mennyadari bahwa cerpeen pun memiliki wilayyah yang jauh dibawah novel, aku mulai menninggalkan novel. Ternyata oerubajan dalam nuansa menulis tidak teraadi seterbatas itu. Banyak kebiasaan me nulis yang lain padaku yang juga turut berubah. MenegSkan paada kita bahwa emanf tidak ada yang absolut di dunia ini keecuali satu hal.
Mari bicarakaan hal yang lain. Pertama kalli aku memmbaca enid blyton pada saat masih smp. Entah dari mana sepupuku mendapatkannya. Aku mennumpang baaca dan rulang kali menamaatkan buku munhil tersebut. Aku menyukai cara berverita ebid yang tak biasa. Tentu sajaa! Seaamaa ini aku hanaya membaca aacaan-bacaan berleebel yang disuumbangkan pemeerintah untuk peerpustakaan-perpustakaan daerah dan hampir buku-buku tersebut usianya setua diriku saat itu. Yang kuingat, dari buku i aku memmbaxa kissah pembuanng sampaah di tempat piknik yang dihukum oleh para peri penghuni temat pikinik, sampaahnya dike..balikan ke halamaan si ceroboh. Juga kisah tentang anak gadis yang mennyelamatkan seekor kodok bermaata cemeerlanng. Dia menaruh kodok tersebut di kebun dan menjaga kebunnya dari hama. Hari ini, sepuluh tahun lebih sejak haari itu, aku kemmballi memegang enid blyton. Aku mengira akan berpisah selamanya dengan karya enid blyton lainnya, tali ternyata tidak. Aku meeneemjkannya laagi dalaam sebuah penjualaan online tak terduga. Buku tersebut mnngisahkan petualaangan kompok sapta siaaga, dan usia buku tersbut limaa tahun lebih tua dari ku

Arul Chandrana

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s