Posted in sastra

#1 Yang Perlu Anda Siapkan Sebelum Memutuskan Menjadi Penulis

banyak baca, banyak nulis
banyak baca, banyak nulis

Saya akan memulai tulisan ini dengan petikan dari kehidupan seorang penulis perempuan yang sangat-sangat terkenal. Dia menjadi salah satu tokoh sastra Inggris modern. Dibaca dalam puluhan bahasa, diterbitkan ribuan kali dan masih terus dibeli sampai hari ini. Pada suatu hari menjelang akhir hayatnya, dia pergi ke sungai Ouse dan mengisi semua sakunya dengan batu-batu. Kemudian dia melompat ke dalam sungai dan baru muncul lagi sebagai mayat. Dia penulis terkenal bernama Virginia Woolf.

Pelajaran Pertama: Membuat Ketetapan Hati, Meramu Obat Penangkal Frustasi

Fakta mengenai penulis adalah: kebanyakan orang yang menulis (naskah) novel, naskah tersebut tidak pernah terbit, sedangkan naskah yang berhasil terbit, tidak sampai setengahnya yang berhasil cetak ulang, bahkan, novel yang sudah terpajang di rak-rak toko buku, banyak yang tidak sampai habis terjual. Semua ini menjelaskan pada kita bahwa memilih profesi sebagai penulis tidak seperti memilih profesi yang lain. Peluang menjadi penulis jauh lebih kecil dari pada menjadi pegawai di sebuah perusahaan. Bahkan, jika dibandingkan dengan menjadi guru, peluang menjadi penulis sangat jauh di bawah peluang menjadi guru. Untuk menjadi guru, jika tidak ada satu pun sekolah atau lembaga bimbingan belajar yang mau menerima, Anda masih punya kesempatan untuk membuka kursus di rumah. Tapi penulis, ketika tak ada satu pun penerbit yang mau menerbitkan naskah novelnya, Anda belum menjadi ‘penulis’ walau semenit pun. Jelas, profesi penulis adalah profesi yang tak remeh dan tak mudah dan tak banyak membuka lowongan.

Karena itu, jika Anda berniat untuk menjadi seorang penulis yang dterbitkan naskahnya, ingat, naskah yang bagus saja tidak cukup. Sangat tidak cukup. Yang Anda butuhkan adalah menghasilkan naskah yang luar biasa. Ada sangat banyak naskah yang buruk di luar sana, naskah yang bagus jumlahnya pun melimpah, sedangkan naskah luar biasa, itu yang tidak semua orang bisa menghasilkannya. Maka jadilah bagian dari orang yang sedikit itu. Mengapa naskah yang bagus saja tidak cukup untuk diterbitkan sebuah penerbit? Karena penerbitan adalah sebuah bisnis. Dan dia adalah bisnis yang keras.

Perhatikan perhitungan kasar ini, jika sebuah buku seharga Rp. 45.000, dengan Rp. 15.000 adalah laba yang didapatkan penerbit, dan Rp. 30.000 adalah biaya yang dikeluarkan penerbit untuk memproduksi buku tersebut, maka untuk menerbitkan 3000 eksemplar saja sebuah penerbit harus menginvestasikan uang sejumlah Rp. 90.000.000. itu bukan jumlah yang kecil, kawan! Dan siapakah di dunia ini yang mau melakukan pertaruhan dengan uang 90.000.000? Naskah yang sekedar bagus saja tak ubahnya dengan melakukan pertaruhan tanpa jaminan. Hanya naskah luar biasa yang diharapkan sebuah penerbit.

Karena penerbitan merupakan sebuah bisnis, maka inilah fakta yang paling mendasar: penerbitan bukanlah tentang adil atau tidak, bagus atau tidaknya sebuah naskah, tapi, layak jual atau tidak sebuah naskah. Anda mungkin akan terheran-heran, bahkan sampai marah menginjak-injak es krim mendapati sebuah buku buuuaaguuus ternyata hanya sekali cetak, selanjutnya hilang dari peredaran. Sementara itu, buku yang lain, dengan kualitas yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tapi naik cetak sampai puluhan kali dan best seller. Mengapa itu terjadi? Apakah penerbit sedang berencana menghancurkan kualitas umat manusia? Bukan, bukan begitu, tapi itulah yng dimaksud dengan bisnis. Produk yang mampu bersaing dan laris di pasar, maka produk itulah yang akan terus beredar dan terjual.

Sebagai contoh, ada beberapa buku yang mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang-orang hebat di negeri ini, tapi buku tersebut justeru tidak diterbitkan di sini. Kata mereka, tidak ada penerbit yang bersedia. Alasan dari semua ini sangat jelas, karena buku-buku tersebut terlalu kontroversial (menyinggung keberagamaan, ras, dll.). Sedangkan buku yang terlalu kontroversial bukanlah buku yang bagus untuk diproduksi. Memangnya siapa yang mau mengelurkan puluhan juta rupiah membayar pekerja, membeli kertas, membeli tinta, bayar listrik, memproduksi buku, jika ujung-ujungnya hanya akan digugat masyarakat dan dicekal oleh pemerintah?

Lantas, kalau begini ceritanya, untuk apa bercita-cita menjadi penulis? Tidakkah ini hanya akan menjadi penyia-nyiaan umur saja? Nah, di sinilah letak pembedanya. Jika Anda menjadi penulis dengan tujuan untuk mendapatkan profit yang besar dan ketenaran, saya ingatkan, hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Dan saya tidak tahu apakah ada jaminan bagi Anda untuk mengikuti jejak mereka. Buktikan saja pernyataan saya ini. Buktikan dengan pergi ke toko buku, baca nama-nama pengarangnya dan hitung hanya berapa nama yang benar-benar dikenal masyarakat. Hitung berapa nama yang benar-benar tidak bekerja selain dengan menulis buku. Hitung berapa nama yang membeli mobil atau rumah dengan hanya menulis buku. Hitunglah dan buat sendiri penilaian Anda. Bandingkan hasil tersebut dengan nama-nama yang selain menulis juga nyambi pekerjaan lain. Manakah yang lebih banyak? Oh ya, omong-omong, kendaraan apa yang kupakai setelah menerbitkan novel pertama? Sebuah sepeda onthel bekas. Aku memakainya untuk berangkat mengajar.

Maka, satu-satunya alasan terbaik bagimu yang ingin menjadi penulis adalah sebuah alasan yang tidak akan membuatmu sakit hati dan putus asa. Apakah itu? anda harus menemukannya untuk diri Anda sendiri. Kalau saya, saya menulis karena menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan, ia adalah kegiatan yang memuaskan, kegiatan yang memberi kesempatan bagi saya untuk mempersembahkan suatu karya yang belum pernah ada sebelumnya dan itu sangat berarti bagi kualitas hidup saya, dan mungkin akan menjadi sangat berarti bagi orang lain yang membacanya. Menulislah bukan untuk mengejar materi, tapi untuk memenuhi dorongan diri yang hanya bisa dicapai dengan menuangkan semua buah pikiran Anda. Jika hal-hal seperti itu yang menjadi dasar kepenulisan Anda, Anda akan terbebas dari sakit hati dan kecewa. Bahkan kalau pun semua penerbit di dunia menolak naskah Anda. Mengapa? Karena pada akhirnya Anda bisa mengubah naskah tersebut ke bentuk pdf dan menyebarnya ke seluruh dunia lewat internet. Berbesar hatilah.

Pelajaran Kedua: Mempersiapkan Diri Setelah Berketetapan Hati
Mengapa ada penulis yang berpenghasilan sangat besar sementara, di sisi lain, ada penulis yang kerjanya hanya membangkrutkan penerbitnya? Ini karena ada satu kepantasan yang mengikat setiap penulis. Kepantasan itu adalah: seorang penulis tidak bisa mengharapkan sesuatu dari kerja menulisnya lebih dari seberapa besar usahanya memperbaiki kualitas tulisannya. Penulis dengan kualitas tulisan pada tingkat 1, dan tidak memperbaiki kualitasnya tersebut, maka hasil yang didapatkan pun hanya pada tingkat 1. Sementara penulis yang terus mengasah keahliannya, hingga terus meningkat dan sampai pada titik 100, dia pun akan mendapatkan hasil 100 dari kepenulisannya. Saya sebutkan sebuah nama, JK Rowling. Dengan keahlian menulis yang luar biasa di bidang fiksi fantasi, pada suatu waktu kekayaannya berhasil melampaui kekayaan Ratu Inggris! Karena sebenarnya menulis adalah keahlian. Persis seperti seorang pemahat dengan keahliannya mengukir kayu.

Pada faktanya, banyak penulis yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali dari royaltinya—bahkan ada yang hanya mendapatkan uang muka saja. Lakukan penelitian lagi, berapa banyak dari nama-nama yang Anda temukan di toko buku yang diundang untuk bedah buku? Berapa banyak yang diundnag untuk menjadi pembicara di sebuah seminar? Berapa banyak yang diundang untuk mengisi kelas menulis? Berapa banyak yang membuat kursusan berkenaan dengan kepenulisannya? Hanya sedikit sekali. Untuk itulah keahlian Anda menyangkut tulis menulis harus terus dan terus dikembangkan agar Anda mendapatkan sebanyak yang Anda butuhkan.

Namun demikian, dengan cerobohnya, ada juga orang-orang yang berteriak: menulis itu gampang! Hahaha, percayalah pada saya, jika ada yang bilang menulis itu gampang, Anda baru saja mendengarkan perkataan ‘seorang pendusta!’ Jika memang menulis itu gampang, mengapa buku yang hebat jumlahnya sangat sedikit? Buktinya, sangat sedikti sekali jumlah penulis sekelas Rowling, Chairil, Dicken, Pramudya, Hirata, Stephen King, Marquez, Pamuk, dll. Mengapa itu terjadi? Tentu saja karena menulis tidak gampang. Tidak semua orang bisa mencapai taraf keahlian yang layak untuk membesarkan nama mereka. Dari semua orang yang menulis, tidak semuanya bagus, dari semua penulis yang bagus, tidak semuanya hebat, dari semua penulis hebat tidak semuanya luar biasa.

Bagaimana dengan orang yang berbakat? Saya tegaskan, bakat saja tidak cukup untuk menguasai keahlian menulis. Anda butuh latihan. Karena latihan yang tekun mampu mengalahkan bakat. Ingat rumus 10.000 jam? Seorang penulis Amerika (Malcolm gladwell) merumuskan bahwa salah satu syarat untuk menguasai sebuah keahlian adaah dengan melakukan latihan konsisten selama 10.000 jam. Artinya, jika Anda menghabiskan waktu 4 jam tiap hari untuk memperbaiki kualitas tulisan anda, maka Anda butuh waktu selama TUJUH TAHUN. Selama itulah yang perlu Anda lalui untuk menjadi seorang ahli di bidang tulis menulis. Satu-satunya cara untuk mempersingkat adalah dengan menambah jumlah latihan harian Anda.

Berikut ini beberapa nama penulis dan waktu yang mereka habiskan untuk menerbitkan buku solo perdananya. Perhitungannya dimulai dari tahun ketika mereka mulai belajar / menyukai tulis menulis sampai terbitnya buku solo.
• Binta Al-Mamba (mulai menyukai tulis menulis sejak SD dan menerbitkan novel duet pada 2013. Pada saat itu, Mbak Binta telah menjadi seorang ibu-ibu)
• Afifah Afra (Buku solo pertama terbit usia 21 tahun. Mulai suka nulis umur 7 tahun)
• Eni Martini (mulai mengarang kelas 4 SD, diterbitkan usia 23 tahun)
• Irhayati Harun (tahun 2005 mulai menulis cerpen dan kisah inspiratif, tahun 2012 terbit buku solo)
• Nyi Penengah Dewanti (2011 mulai menekuni tulis menulis, juli 2013 terbit buku solo)
• Lia Herliana (4 tahun proses untuk menerbitkan buku solo)
• Arul Chandrana (mulai menulis sejak kelas 6 SD, menerbtikan buku solo 12 tahun kemudian)

Rata-rata, para penulis di atas membutuhkan waktu di atas lima tahun untuk menerbtikan buku solonya. Lantas, bagaimana dengan Nyi Penengah Dewanti? Bagaimana bisa dia hanya melalui masa tiga tahun untuk menerbtikan buku solonya? Faktanya, sebelum Nyi menjadi penulis solo, dia telah menerbitkan seratus lebih buku antologi. Luar biasa! Penulis muda itu telah mempercepat masa 10.000 jam-nya dengan mengesankan.

Oleh karena itu, jika Anda memang ingin menjadi penulis yang menerbitkan bukunya, teruslah berlatih, teruslah meningkatkan kualitas Anda, teruslah memperbaiki diri. Dengan adanya internet jalan untuk perbaikan jauh lebih terbuka—bukannya lebih mudah—bagi Anda.

Pelajaran Ketiga: Persiapan Untuk Menerbitkan Naskah
Bagaimana cara memperbaki kualitas tulisan Anda? Beberapa penulis besar telah menuliskan tips-tips bermanfaat mereka untuk hal ini. Berikut saya tuliskan:
• Banyak membaca. Hanya dengan banyak membaca Anda bisa meningkatkan kualitas tulisan Anda karena dari bacaan-bacaan tersebut Anda akan mendapatkan limpahan pengetahuan baru. Bahkan, menurut Stephen King, yang lebih bermanfaat bagi seorang penulis untuk belajar adalah buku jelek, bukannya buku bagus. Mengapa? Karena buku jelek membuat penulis yang membacanya menjadi bersemangat, percaya diri, dan tahu apa yang harus dihindari agar tidak menghasilkan buku yang sama jeleknya. Saya percaya pada beliau ( dalam hal mengambil bahan bacaan, termasuk di dalamnya buku-buku di luar bidang Anda untuk meluaskan wawasan).
• Perbanyak menulis; menulis apa saja, khususnya genre yang sudah Anda pilih. Setelah Anda banyak membaca, lanjutkan dengan kegiatan menulis. Menulis dan teruslah menulis. Memangnya apa lagi yang perlu Anda lakukan? Anda seorang penulis, bukan pembunuh bayaran, kan? Bahkan, suatu ketika, ada seorang penulis yang mengisi seminar menulis hanya dengan beberapa kata saja: kalian datang ke sini untuk belajar menulis? Pulang dan mulailah menulis. Sekarang juga!
• Bergabung dengan grup tulis menulis dan belajarlah dari semua orang di sana. Para penulis senior biasanya akan membagikan tips-tips seputar kepenulisan. Anda bisa meraup demikian banyak ilmu di grup-grup tersebut. Bahkan, sebagain besar gratis.
• Baca buku panduan menulis, atau browsing artikel menulis di internet.
• Dapatkan kritik dan saran. Untuk mendapatkan hal ini tentu Anda harus menunjukkan karya Anda pada seseorang / beberapa orang. Karena naskah yang Anda tulis tujuannya untuk dikonsumsi orang lain (pembaca = pembeli), maka penilaian Anda pribadi tidak bisa menjadi jaminan atas kualitas naskah yang Anda tulis sendiri. Anda harus menujukkannya pada orang yang Anda percaya. Dan untuk hal itu pun ada etika yang harus Anda perhatikan: jangan meminta rekan Anda membaca lebih dari tiga bab—sebagian orang membatasi pada tiga puluh halaman. Jika menurut mereka tiga bab—tiga puluh halaman—tersebut bagus, maka Anda punya naskah yang bagus. Selain itu, membaca naskah mentah bukanlah hal yang benar-benar menyenangkan, maka jangan siksa teman Anda dengan terbebani perasaan harus membaca naskah mentah setebal 578 halaman! Berikutnya, jangan membantah orang yang memberi kritik atau saran. Ingat, Anda yang butuh, bukan mereka. Kemudian, tampunglah semua saran tersebut untuk Anda olah guna memperbaiki naskah Anda.
Dan, kalau boleh saya tambahkan:
• Semua tergantung pada Anda. Mungkin ini tips yang paling konyol, tapi ini mungkin juga yang paling benar. Sehebat apapun tips yang Anda dapat, saran yang Anda peroleh, motivasi yang Anda reguk, akhirnya semua kembali tergantung pada Anda untuk menjadikannya bermanfaat atau sia-sia

Sekali lagi saya tegaskan, hanya penulis yang bekerja paling keras dalam memperbaiki kualitasnya yang dapat mencapai penerbitan, bahkan mungkin, kesuksesan. Dan jika kesuksesan itu berhasil Anda dapatkan, nikmatilah selagi ia terjadi. Karena mungkin saja kesuksesan itu tidak bertahan lama. Jangan berharap Anda akan selamanya bersinar. Itu tidak terjadi kecuali pada beberapa orang. Bersiap untuk menghadapi hal yang buruk akan lebih bijaksana. Bisa kita lihat siapa saja penulis yang tadinya sangat terkenal, di kemudian hari, dia tenggelam. Tak terdengar.

Untuk lebih memahami dinamika penerbitan, mari kita lihat sebuah contoh sibuknya penerbitan dari benua tetangga kita sebagai perbandingan. Kita akan menonton peristiwa yang terjadi di Australia. Di Benua Kangguru tersebut, setiap penerbit rata-rata mendapatkan kiriman 4000 – 5000 naskah setiap tahunnya. Itu sama dengan sekitar seratus judul per-minggu.

Masalahnya, penerbitan merupakan bisnis yang bersaing ketat sementara labanya tidak seberapa pesat. Dan tidak ada penerbit yang sanggup membayar banyak orang untuk membaca semua naskah sampai tuntas. BAHKAN, beberapa penerbit tidak melirik naskah yang tidak direkomendasikan. Mereka akan langsung mengembalikan naskah-naskah ‘jomblo’ seperti itu jika disertai perangko. Jika tidak ada perangko? Langsung saja disobek. Jadi, naskah macam apakah yang diperhatikan oleh para penrbit di Australia? Hanya naskah-naskah yang disajikan dengan professional dan mendapat rekomendasi.

Anggaplah naskah yang memenuhi syarat hanya separuh dari total naskah yang masuk, itu artinya, hanya sekitar 2500 judul. Dari jumlah tersebut, sekitar 90% ditolak setelah dibaca halaman pertamanya. Dan dari yang lolos seleksi halaman pertama, 98% akan ditolak setelah bab ke tiga rampung. Maka yang tersisa dari 5000 judul buku hanya sekitar 30 – 50 judul saja. Maka hanya merekalah yang TAMPAKNYA akan mendapatkan nasib baik. TAPI, di tahun-tahun yang baik, buku terbit paling hanya sekitar 10 judul. Pada tahun yang buruk, kurang dari lima yang mungkin akan diterbitkan. Dari 5000 naskah, hanya lima sampai sepuluh naskah yang naik cetak dalam setahun. Itu terjadi di Australia. Bagaimana dengan di negara kita?

Pelajaran dari kisah di atas sangat jelas, bahwa jika Anda memang ingin menerbitkan buku Anda, ingat, pastikan tiga bab pertama Anda benar-benar hebat dan memikat! Dan, itu harus dimulai sejak halaman pertama!

Lantas, bagaimana caranya agar naskah Anda bisa terbit? Temui para penerbit secara langsung. Itu cara yang paling baik sekaligus merepotkan. Hahaha. Untuk bertemu langsung dengan penerbit, atau orang-orang yang bisa membawa Anda pada penerbitan buku, Anda harus berkunjung ke book fair, workshop penulisan, bergabung dengan grup fb penerbit, follow twitternya, atau, cara yang selalu kulakukan: LANGSUNG KIRIM KE EMAILNYA. Yup, nekad aja! Seorang kawan suatu hari menasihatiku, lebih baik naskahmu ‘nganggur’ tiga bulan di meja redaksi dari pada tiga bulan yang sama nganggur di komputermu. Dan memang itulah yang kulakukan dengan novel pertamaku. Dengan terlebih dahulu memantapkan hati tidak akan ‘mati’ untuk ditolak lagi, kukirimkan naskah tersebut.

Akhirnya, setelah beberapa penerbit, dia pun mendapatkan jodohnya bersama Gradien Mediatama, Jogja. Hanya saja, kebanyakan penulis baru selalu ragu dan takut-takut untuk mengirimkan naskahnya. Ingat, jika Anda sudah mengetik naskahnya dengan EYD yang benar, ukuran kertas yang tepat, margin yang disyaratkan, dan jumlah halaman sesuai ketentuan, Anda tidak punya lagi alasan untuk dikhawatirkan. Tinggal ikuti saja peraturan pengiriman naskah penerbit yang Anda tuju, kemudian, KIRIMKAN!

Pelajaran keempat: yang harus dilakukan ketika naskah kita ditolak

Bersambung
Artikel ini disarikan dari: http://www.ian-irvine.com/ dan http://octavianinurhasanah.net/author/octanh/

Advertisements

Author:

tahu sendiri kan, di sini kau akan menemukan rahasia ku, tapi tolong, setelah kau temukan, simpanlah dengan aman bersama dirimu. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s