• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SOMETHING TO THINK

kekosongan itu akan menghitung hari-hari berlalu

kekosongan itu akan menghitung hari-hari berlalu

Seseorang berkata: sangat penting bagi setiap guru untuk percaya bahwa dia bisa membuat perubahan sebelum dia memutuskan untuk menjadi seorang guru. Tapi masalahnya, ketika mereka mulai benar-benar menjadi guru, sangat sedikit yang mengingatkan betapa rumitnya menjadi seorang guru. Betapa keadaan tidak bisa menjadi mudah bagi mereka. Pada akhirnya, mereka kehilangan kepercayaan pada perubahan. Dan itu menjadi akhir bagi segalanya.

Menjadi guru, kau akan memahami bahwa ada lebih banyak hal untuk kau hadapi dari pada untuk kau dapatkan.

Orang yang memilih menjadi guru, menurutku, kurang tepat disebut sebagai orang yang bekerja, mereka adalah orang yang berkorban. Anak-anak bisa saja meninggalkanmu ketika yang kau lakukan hanyalah untuk mendekati mereka, anak-anak bisa saja menertawakanmu ketika yang kau inginkan hanyalah untuk berbagi ilmu, anak-anak bisa saja melawanmu ketika yang kau inginkan hanyalah untuk menenangkan mereka, anak-anak bisa saja membencimu ketika yang kau lakukan hanyalah untuk membuat mereka lebih paham, anak-anak bisa saja berubah begitu liar dan tidak terkendali ketika yang kau inginkan hanyalah ketenangan agar kau bisa mengajar, anak-anak bisa saja meremehkanmu ketika yang kau lakukan hanyalah untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Banyak resiko yang harus kau hadapi di bidang ini.

Di beberapa tempat yang keras, bahkan, kau akan diancam dan diludahi. Bukan oleh rekan mengajarmu, tapi oleh muridmu. Syukurlah adegan itu kini semakin berkurang. Tapi, karena kau orang yang memiliki perasaan, perbuatan muridmu masih saja bisa menyakiti perasaanmu. Memangnya bagaimana bisa seorang manusia membuang perasaannya dan bebas dari sakit hati? Para guru adalah manusia.

Tekananmu bisa menjadi lebih buruk lagi. Di kelas kau menghadapi situasi genting, bisa jadi di kantor pun kau mendapati situasi yang lebih genting ketika atasan atau rekan-rekanmu justeru lebih suka menimpakan kesalahan mutlak di pundakmu, dan masih bisa lebih parah lagi ketika para orang tua justeru melihat anak-anaknya sebagai malaikat yang mustahil salah sementara untuk setiap peristiwa buruk, kau, gurunya, harus selalu disalahkan dan diperkarakan. Kau bisa saja masuk penjara setelah di kelas diludahi, di kantor dimarahi, sementara yang kau lakukan hanya menjewer.

Aku kadang ingin menulis dengan tinta bersinar dan menanyakan ini: jika memang para orang tua begitu bernafsunya untuk menyalahkan guru setiap kali ada kekacauan dengan anak-anak mereka, mengapa masih saja mengirimnya ke sekolah? Seharusnya mereka menjaga mereka di rumah danmenjauhkan dari makhluk guru yang mengerikan itu!

Ada begitu banyak yang harus seorang guru hadapi. Dan mereka butuh untuk saling menguatkan. Pikirkan, guru adalah mesin berhati luhur, bagiamana bisa mesin ini membawa perbuhan jika mereka saja tidak bisa saling menguatkan?

Menyedihkan bukan, ketika semua yang kau lakukan hanyalah untuk membuat perubahan yang baik ternyata sikap yang kau dapatkan justeru perlawanan dan menghindar. Kau bukan nabi, kau pasti merasa kecewa.

Tapi mengapa tetap saja ada orang yang ingin menjadi guru? Mengapa tetap saja ada orang yang bertahan? Mengapa tetap saja ada orang yang terus-terusan datang ke kelas yang tidak menerimanya? Mungkin karena mereka sudah agak gila. Mungkin karena mereka sudah imun. Atau, mungkin, karena mereka masih memiliki kepercayaan bahwa mereka bisa membuat perubahan. Bahwa masa depan masih bisa mereka perbaiki. Bahwa anak-anak, seburuk apapun mereka, setidak tahu diri apapun mereka, tetap layak diberi kesempatan. Memang ini membutuhkah kesabaran, tapi setidaknya, para guru harus tetap bertahan.

Aku sering menghela nafas dan berkata dalam hati, guru yang paling beruntung di dunia bukanlah guru dengan gaji terbesar, tapi guru yang memiliki kelas di mana semua murid berdiri di sampingnya dan dengan suka cita bersama-sama berjuang meraih perubahan gemilang. Di situlah kebahagiaan seorang guru.

NB: Tentu ada juga yang mengajar dengan alasan-alasan yang berbeda. Hanya saja, menurutku, jika mengajar bertujuan demi pencapaian pribadi (melakukan pembuktian diri, mendapatkan materi, meraih derajat lebih tinggi), beban mengajar akan terasa lebih berat lagi. Karena yang menerjangmu bukan hanya murid, guru dan para orang tua, tapi juga dirimu sendiri. Aku pernah membaca sebuah kata mutiara dan tahu itu benar: jika ada yanbg berkata mendidik itu pekerjaan mudah, percayalah, orang itu belum pernah melakukannya.

Be strong, try not to give up

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: