• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

SEPULUH BUKU DAN DUA PENJAGA BERSENJATA

Prolog
[Teman, cerpen ini tidak ada pada umumnya, dia hanya berupa dialog antar para tokoh. Tanpa narasi maupun deskripsi. Lantas bagaimana saya membangun keseluruhan cerita? Setting dan tindakan masing-masing karakternya? Perubahan suasananya? Silakan kau temukan sendiri jawabannya. Mungkin kau akan menyukai cerpen ini, mungkin juga kau akan menertawakannya.
Sebagai pelengkap, di bagian akhir cerita saya mencantumkan beberapa pertanyaan analisis untukmu. Kau bisa ‘bermain-main’ dengannya. Saya akan sangat senang jika kau bersedia menjawab semua pertanyaan tersebut. Tapi, jika kau repot, menjawab satu pertanyaan pun sudah menyenangkan bagiku. Terimakasih.
]

SEPULUH BUKU DAN DUA PENJAGA BERSENJATA
– Tuan, waktu Anda tinggal lima belas menit.
– …
– Tuan?
– Hff… waktuku tinggal lima belas menit sementara aku akan meninggalkan semua ini seumur hidupku. Alangkah tidak adil semua ini.
– Maafkan saya, Tuan.
– tidak apa. Ini bukan salahmu. Memang beginilah pada akhirnya. Kita semua tahu, hanya saja tidak ada yang menduga akan secepat ini datangnya.
– Mm… sudahkah Tuan menyiapkan buku-bukunya?
– Sudah.
– Sepuluh buah?
– Tepat.
– Mereka akan memeriksanya di pelabuhan. Bahkan di tempat terasing pun mereka masih ketakutan pada buku-buku Anda, Tuan.
– Kau tidak pernah tahu betapa menggentarkan kekuatan sebuah buku, Raj. Mereka mendekam di otakmu dan membuatmu melihat dengan cara baru, dengan pemikiran baru, dan rencana-rencana baru. Itu membuatmu bertindak sebagai pribadi yang baru.
– Benar.
– …
– oh ya, Tuan, bolehkah saya tahu apa saja sepuluh buku yang Anda bawa, dan, mm… mengapa memilih buku-buku tersebut.
– Oh Raj, andai saja bisa, andai saja, aku akan membawa semua bukuku walau taruhannya aku hanya boleh membawa sepasang pakaian. Tapi mereka hanya memberiku sepuluh, Raj. Sepuluh.
– Mereka memang pengecut tak bermoral, Tuan. Kejahatan hanyalah sebuah kata-kata jika itu bisa memenuhi keserakahannya. Jadi, buku apa saja itu, Tuan?
– Kau sangat penasaran, Raj. Kau selalu begitu. Kau tahu, itulah yang membuatku begitu salut padamu, sekaligus membuatmu selalu dalam bahaya.
– Hehehe. Saya telah melewati banyak tahun-tahun berbahaya bersama Anda, Tuan.
– Perhatikan, inilah sepuluh buku yang kubawa.
1. Al-Qur’an dan terjemahnya. Aku harus membawa buku ini kemanapun hidup membawaku, Raj. Buku ini memastikan aku tetap di jalan yang benar, dalam keselamatan dan selalu punya harapan. Tidak ada buku yang lebih tangguh dari kitab suci Al-Qur’an.
– Saya bisa membayangkan Anda membacanya di hari-hari yang tenang maupun mengerikan di dekat jendela, Tuan.
– Memang itu yang akan kulakukan, Raj. Ada banyak ayat yang menunggu untuk kurenungkan. Untuk mencerahkanku lagi dan lagi. Berikutnya,
2. Kitab Fiqh. Kadang aku lupa banyak hal, kau tahu sendiri, Raj. Di sana tentu aku tidak punya banyak orang untuk kutanyai mengenai hukum-hukum.
– Sebenarnya, Tuan, di sana tidak akan ada siapa-siapa untuk diajak bicara tentang kebenaran, selain dua penjaga yang selalu membawa senapan setiap kali ada di sekitar Anda.
– Oh ya, kau benar. Aku melupakan poin tersebut, Raj. Nah, apa yang harus kulakukan jika nanti aku lupa dan kebingungan tentang cara beribadah yang benar? Tidak mungkin aku bertanya pada dua keledai bersenjata tentang tata cara sholat gerhana, bukan? Kitab fiqh ini akan menjadi sahabat yang sangat akrab bagiku.
3. Aku akan membawa novel perdanaku, Raj. Pemburu Rembulan. Andai kau tahu berapa lama aku harus berusaha sampai novel ini terbit, Raj, kau akan terkesima. Benar-benar terkesima.
– Empat belas tahun, Tuan. Empat belas tahun. Anda mulai menulis sejak kelas enam SD dan novel tersebut terbit dua tahun setelah Anda lulus kuliah.
– Dari mana kau tahu itu, Raj?
– Anda baru saja menceritakannya dua hari yang lalu, Tuan.
– Oh ya?
– Untuk yang ke… tiga puluh empat kalinya, mungkin.
– Oh, hahaha. Aku lupa, Raj.
– Anda semakin sering lupa akhir-akhir ini, Tuan.
– Jadi, aku akan membawa Pemburu Rembulan ini untuk selalu mengingatkanku bahwa terkadang kita harus bersabar sangat lama untuk mencapai apa yang menjadi intisari diri kita. Pemburu Rembulan akan selalu mengingatkanku bahwa harapan selalu ada walau mungkin dia baru tiba setelah waktu yang lama. Yang penting, kau tidak boleh menyerah, Raj. Kau harus terus berburu walau itu sejauh rembulan.
4. Buku petunjuk cara bertahan hidup di alam liar. Tentu kau tahu alasannya.
– Pilihan yang bagus, Tuan. Tidak ada jaminan Anda benar-benar akan ditempatkan di sebuah rumah—seperti kata mereka—atau hanya di sebuah gubuk lapuk.
– Atau benar-benar di alam liar. Beratapkan pohon besar berlantaikan tanah kasar. Semua kemungkinan terburuk lebih mungkin terjadi dari pada kemungkinan yang agak baik sekali pun.
– Benar Tuan.
– Nah, buku selanjutnya, Raj.
5. Kamus Oxford Advanced Learner’s.
– Kamus, Tuan?
– Ya, kamus. Tepatnya Oxford Advanced Learner’s.
– Tapi… apa yang bisa Anda lakukan dengan sebuah kamus bersama dua penjaga bersenjata?
– Memangnya kenapa, Raj? Aku butuh sesuatu untuk kupelajari agar pikiranku tidak melamun sehingga melumpuhkanku.
– Tentu saja, Tuan. Tapi mengapa kamus? Itu hanya sebuah buku yang… yang menampung kumpulan kata-kata. itu saja.
– Tepat! Kau mengatakannya persis seperti yang kupikirkan, Raj.
– Aku tidak mengerti, Tuan.
– Kata-kata.
– I-iya, tapi… memangnya ada apa dengan kata-kata?
– Apakah ilmu pengetahuan, Raj?
– Ilmu? Itu… mm… segala hal yang kita tahu, yang bisa kita sampaikan pada orang lain dan membuat kita lebih… lebih mengerti.
– Hehehe, kalau begitu pendapatmu, Raj, apa persisnya sesuatu yang kau sampaikan sebagai ilmu tadi?
– Ng… kata-kata?
– Raj, apakah sebutan bagi unsur besi dalam ilmu kimia?
– Ferrum.
– Ferrum, itu sebuah kata, bukan? Apakah planet yang paling besar ukurannya dalam tatasurya?
– Jupiter.
– Jupiter, itu juga sebuah kata. apakah sebutan bagi sistem pemerintahan yang dijalankan oleh sahabat-sahabat Muhammad Sang Nabi?
– Khilafah.
– khilafah, itu juga sebuah kata.
– Ah, saya paham sekarang. Anda benar, Tuan. Anda benar. Bagaimanapun juga, ilmu pengetahuan tetaplah sebuah kata-kata. Dan kamus adalah gudang kata-kata terbesar di dunia.
– Dengan kamus Oxford Advanced Leraner’s yang ukurannya lebih besar dari bantal, betapa banyak ilmu Bahasa Inggris yang bisa kuserap, Raj. Aku bisa bermain dengan ratusan ribu kata dan makna sepuasnya.
– Wow, itu sangat banyak, Tuan. Anda bisa sibuk selama lima tahun.
– Semoga bisa sampai sepuluh tahun, Raj. Dan, siapa tahu angin badai akan membawa seorang asing ketempatku, aku harus bicara dengannya, bukan?
– Hahaha, atau bermain tebak kata, Tuan.
– hehe, kau belum pernah mengalahkanku, Raj, ingat itu. Selanjutnya,
6. Aku akan membawa novel Ziarah.
– Ziarah karya Paulo Coelho?
– Bukan, tapi karya Iwan Simatupang.
– Iwan Sima…
– Simatupang, Raj. Seorang penulis Indonesia, dia telah meninggal bahkan sebelum kakekmu lahir.
– Begitu hebatkah novel itu, Tuan?
– Aku menyuruhmu membacanya pada bulan kedua kau bekerja padaku, Raj!
– Tapi buku itu tampak sangat renta.
– Jadi kau tidak membacanya?
– Aku tidak ingin merusak koleksimu, Tuan.
– Kau benar-benar menghabiskan sepuluh tahun bekerja denganku tanpa membaca Simatupang?
– Jika buku itu rusak aku tidak tahu di mana bisa mencari penggantinya.
– Dasar bodoh! Siapa yang menyuruhmu membaca terbitan aslinya? Cetak ulangnya ada di lantai tiga, di rak nomor tujuh, pada kolom ke 12! Ada tiga eksemplar, Raj!
– Astaga, aku tidak…
– Masih ada dua eksemplar di sana. Bacalah setelah aku meninggalkan tempat ini. Semoga, dengan suatu keberuntungan, kau akan membacanya tepat pada saat aku juga sedang membacanya. Setidaknya, mungkin kita bisa berbagi kegembiraan yang tak tersampaikan.
– Maaf, Tuan. Aku tidak tahu. Tapi aku benar-benar akan membacanya nanti.
– Buku itu sangat luar biasa, Raj. Aku ingat pertama kali mendapatkan buku tersebut aku membacanya sampai lima kali dalam setahun dan selalu mendapatkan makna baru setiap kali menamatkannya. Luar biasa. Kau akan sangat menyukai buku itu.
– Pastinya, Tuan.
– Berikutnya, ini buku yang sangat menghibur, Raj.
7. Baudolino. Kau tahu, Baudolino penuh dengan kisah-kisah yang mengajarimu untuk tidak mudah percaya pada apa yang dipercaya kebanyakan orang.
– Aha! Hahaha, aku tahu itu, Tuan. Aku membacanya dan hal pertama yang kupikirkan setelah menamatkannya adalah, apa yang bisa membuatku yakin bahwa ‘mereka’ benar?
– Hal yang sama juga terjadi padaku, Raj. Itulah yang kemudian membawaku pada semua perlawanan ini. Kita hidup di dunia yang, sayangnya, tidak banyak berbeda dengan dunia Baudolino. Penuh rekayasa dan penipuan. Bedanya, baudolino melakukan kebohongan untuk hal-hal yang bisa kita benarkan, sedangkan ‘mereka’ melakukan kebohongan agar bisa mempertahankan kebodohan masyarakat dan mengeruk keuntungan. Itu cara yang licik.
– Apakah di sana Anda berencana untuk membuat relik atau semacamnya, Tuan?
– Hahaha, kau lucu, Raj. Baudolino ini bacaan yang menyenangkan. Aku membawanya atas nama cinta pada buku yang layak dicintai. Juga agar aku tetap ingat bahwa aku diasingkan karena melawan kebohongan, bukan karena melakukan kesalahan. Selain itu…
– Selain itu, Tuan?
– Well, Baudolino memiliki ketebalan yang menakjubkan. Hampir sempurna. Kau tahu, buku itu sangat nyaman buat bantal. Berikutnya,
8. The Complete Trilogy of 1Q84 karya Haruki Murakami.
– Mengapa buku itu, Tuan?
– Aku tidak tahu, Raj.
– Maksudnya?
– Seseorang mengirimiku buku tersebut. Berbahasa Inggris. Sangat tebal dan aku belum membacanya. Kupikir, di sana aku akan punya waktu yang tepat untuk membaca buku setebal itu.
– Mengapa tidak The Museum Of Innocent karya Orhan Pamuk, Tuan?
– Oh, itu juga hadiah dari seorang sahabat tersayang, Raj. Buku hebat dari penulis hebat.
– Pamuk mendapatkan Nobel pada tahun 2006. Tentu saja dia hebat.
– Kau benar, Raj, hanya saja, buku itu jauh lebih tipis dibandingkan Murakami. Waktu untuk menamatkannya akan lebih singkat. Ingat, bisa jadi bukan tiga puluh tahun aku di sana seperti yang mereka katakan. Mungkin seumur hidup. Aku butuh buku yang sangat tebal untuk kuhabiskan seumur hidup.
– Anda benar, Tuan. Sungguh sangat disayangkan. Belum ada yang dikabarkan pulang dari pulau itu.
– Oh, banyak yang pulang dari sana, Raj. Hanya saja tidak hidup. Hehehe.
– Anda mengatakannya seakan itu sama sekali bukan masalah, Tuan.
– Mengapa harus mempermasalahkannya, Raj? Kalau pun aku kembali sebagai orang mati, aku tidak akan menyesal karena aku tidak akan kembali berhampa diri.
– Maksudnya?
– Kau akan menemukan catatan berharga di antara barang peninggalanku. Jika mereka tidak menemukannya dalam penggeledahan, tentunya.
– Aku… aku masih belum paham, Tuan.
– Buku ke sembilan, Raj. Buku kesembilan. Yang kubawa adalah,
9. Buku tulis.
– Buku tulis? Mereka melarangya, Tuan! Kupikir Anda sudah tahu semuanya. Di pelabuhan mereka akan menggeledah barang bawaan Anda. Dan jika mereka menemukan buku tulis di sana, atau apapun yang mereka larang untuk Anda bawa, mereka akan—
– Tenang, Raj.
– Mereka akan menyiksa, Anda!
– Mustahil, Raj.
– Anda akan mati bahkan sebelum tiga hari.
– Mereka tidak akan melakukannya, Raj.
– Itu yang selalu terjadi pada orang-orang sebelum Anda, Tuan. Tolong dengarkan sa—
– Tidak kepadaku. Aku menggunakan sihir, Raj.
– Sihir?
– Harry Potter.
– Anda bercanda, Tuan?
– Tidak, Raj. Harry bahkan mengalahkan Voldemort.
– Tuan, tolong jangan bawa buku tulis. Itu berbahaya, apakah Anda—
– Apakah Anda jenius? Itu maksudmu? Tentu saja aku jenius. Hahaha.
– Tuan, mereka akan menemukan buku tulis tersebut. Tolong, Tuan…
– Raj, di sana aku pasti akan mendapat sangat banyak pikiran. Sangat banyak kata-kata yang harus kutuangkan. Aku tidak akan sanggup menahannya dalam kepalaku, Raj. Itu akan membunuhku lebih cepat dari pada waktu. Jadi aku harus membawa buku tulis, bagaimanapun caranya. Atau resikonya.
– Tapi Tuan…
– Kau lupa satu hal, Raj. Aku yang mendidikmu selama ini. Sepuluh tahun?
– …
– Kau seharusnya tahu aku jenius. Hehehe. Kau akan tertawa, Raj.
– …
– Aku menyiapkan buku kosong sangat-sangat tebal. Seribu halaman lebih. Kemudian mengganti sampulnya dengan cover Harry Potter dan membungkusnya dengan plastik transparan. Kau akan mengira itu buku baru yang belum dibuka. Para penjaga tolol itu tidak akan menyadarinya, mereka akan mengira itu novel Harry Potter, bukan buku tulis. Hmm?
– APA? Wahahaha! Hahaha! Jenius! Jenius! Tu-Tuan, An-Anda jenius! Anda—
– Sudah kukatakan tadi, Raj. Sudah kukatakan.
– Tuan, maaf, tapi, tadi, a-aku, sangat kha-khawatir.
– Jangan menangis, Raj. Jangan melakukannya di hadapanku. Mereka tidak akan menyakitiku. Tidak kepada lelaki yang telah mengajarimu banyak hal.
– Be-benar, Tuan. Aku—
– Hapus air matamu, Raj.
– I-iya.
– Sekarang!
– …
– Baiklah, kau sudah tahu semuanya. Kutitipkan tempat ini kepadamu. Jika sekarang keadaannya terlalu buruk, lakukanlah kegiatan yang aman, Raj. Kita diam bukan berarti kita kalah, kita hanya mengajarkan pada mereka tentang kesabaran sebuah persiapan. Nanti kau harus kembali menghantam mereka tepat di ulu hati. Seperti yang kulakukan tempo hari. Baik-baiklah mengurusi dirimu, Raj.
– Tunggu, apa buku ke sepuluh, Tuan?
– Aku belum menyebutkannya?
– Belum, Tuan. Semua baru sembilan. Al-qur’an, kitab fiqh, Pemburu Rembulan, buku pertahanan diri, kamus Oxford, Ziarah, Baudolino, Murakami, dan, hehe, Harry Potter ‘Palsu’.
– ARUL! Waktumu habis, cepat keluar, apten menunggu! Kami tak punya waktu seharian.
– Well, Raj, waktuku sudah habis.
– Kalau begitu, segeralah katakan apa buku ke sepuluh yang Anda bawa, Tuan.
– Kau akan tahu, Raj.
– Bagaimana caranya?
– Carilah, Raj. Cari di perpustakaanku.
– Di perpustakaan?
– Memangnya kau pikir di mana lagi, Raj?
– Tapi di sana ada sepuluh ribu buku, Tuan. SEPULUH RIBU!
– ARULLL! Kami tidak punya banyak waktu menunggumu!
– Bukan sepuluh ribu. Hanya 9.990 buku, Raj.
– Itu bukan HANYA, Tuan!
– Nah, kalau begitu kau akan punya banyak waktu untuk berpetualang. Carilah, temukan, dan buku yang tidak ada di raknya yang belum kusebutkan, itulah buku ke sepuluh.
– Tidak bisakah Anda langsung mengatakannya, Tuan?
– Raj, ini ‘buku kesepuluh’. Buku ini akan menyempurnakan hidupmu. Bagaimana mungkin sebuah kesempurnaan bisa kau dapatkan dengan cara yang mudah?
– AKU TIDAK TAHAN LAGI, ARUL! Kau akan kuseret keluar!
The End

Pertanyaan Analisis
1. Ada berapa karakter dalam kisah di atas?
2. Apakah setiap karakter bisa dikenali dengan jelas? Bagaimana cara Anda membedakan mereka?
3. Di manakah setting tempat cerpen di atas? Apakah di sebuah rumah? Apa yang membuat Anda mengira ini terjadi di sebuah rumah?
4. Selama membaca kisah ini, adakah yang mengganggu pikiran Anda?
5. Kisah ini bisa lebih baik jika diapakan?
6. Perbedaan seperti apa yang Anda rasakan antara membaca cerpen konvensional dengan cerpen yang hanya berisi dialog seperti ini?
7. Ada pendapat yang ingin Anda sampaikan?

25 Januari 2014
Arul Chandrana
Twitter: @arulight

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: