• posting perbulan

  • the writer himself

    foto Arul Chandrana

    Penasaran Arul Chandrana? Ini dia makhluknya!

  • suka tulisan Arul Chandrana? silahkan anda berlangganan

  • temukan semua yang kau dambakan

Sajak Badai dan Pintu Kelupaan

Sekelilingku banyak dipenuhi orang-orang yang wajahnya lebih cepat menua dari pada kakek nenek mereka. Beratnya pekerjaan dan jenuhnya pikiran sepertinya menjadi oknum yang paling betanggung jawab. Lebih dari itu, kenyataan bahwa manusia semakin menjadi musuh bagi manusia lainnya telah dengan kasar mencerabut kenyamanan hidup dalam masyarakat. Kehidupan di atas planet bumi semakin berjalan tak nyaman dan menyusahkan.
Aku seperti bisa melihat wajahmu pada keramaian yang menyingkirkan dan takperduli. Luka itu merobek wajahku dan aku tak bisa berpikir bahwa aku akan bertemu denganmu lagi dan ketakutanku adalah bahwa aku tak akan bertemu denganmu lagi. Kau begitu indah, dengan kepahitan yang tersisa, dan semua kata selamat tinggal itu. Aku tak tahu. Aku tak bisa menilainya. Semua terlalu jauh di luar diriku. Seperti kejengkelan yang meledak tapi selalu terbekukan oleh luka. Bukan seperti luka yang biasa kau dengar dari sahabat-sahabat dekatmu, ini luka dari orang asing. Luka dari orang yang tak pernah kau duga akan memberi luka untuk kau kenang.

Denting yang menggigil dari pintu-intu yang terkunci rapat. Pukul lima pagi dan masih kegelapan bersama awan pekat dari jantung malam. Batu keras yang menemuiku dari pinggir jalan dan tak ada yang bisa menemukan cara terbaik untuk melupakannya. Inikah pertanda yang dari dulu sudah kita bagi bersama? Ketika angin dan awan berbisik dam-diam pada pasir yang mengintip kehijaun seberang lautan? Masih kah kau lihat? Ini bukan tentang aku yang sekarat, tapi dirimu yang begitu kehilangan dan kesepian lebih dari sebelumnya. Aku yang batu karang, dan tenggelam perlahan-lahan tanpa arah kemana akan karam. Waktu yang kita tumpahkan, terburai di pantai yang patah berpencaran. Kita yang kelelahan. Dan sunyi yang berduaan. Dan denting yang menggigil dari pintu-pintu terkunci rapat. Membawa kesepian. Membawa kesunyian. Kini aku melihatnya, kejatuhan yang runtuh perlahan-lahan dan segalanya menguap. Hanya denting yang menggigil dari pintu ke pintu yang tak terkunci rapat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: